DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)

DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)
Keputusan yang Salah


__ADS_3

Shindy kembali menghampiri Bu Wayan yang sedari tadi dia tinggalkan.


"Maaf buk, tadi saya lagi ngejar seseorang. Tapi sampai depan orangnya udah pergi." ujar Shindy berusaha menjelaskan


"Jangan lari-lari. Kamu itu kan masih hamil muda. Bahaya buat janin." ujar Bu Wayan menasehat


Shindy tersenyum. "Iya Bu. Ayo kita pulang."


Tangan Shindy terulur untuk menggandeng Bu Wayan. Meski rasa penasarannya belum hilang, dia berusaha menyembunyikan semuanya dari Bu Wayan. Shindy memanggil taksi yang memang biasa menunggu di halaman rumah sakit. Shindy membantu bu Wayan memasukkan perlengkapan mereka ke bagasi dan naik ke dalamnya untuk pulang ke rumah.


Perjalanan itu memakan waktu singkat, hanya 15 menit mereka sudah tiba kembali di rumah. Pak Wayan datang membantu mereka untuk membawa barang-barang.


"Syukurlah kalau gek selamat. Kami semua sempat khawatir pas gek dibawa ke rumah sakit, tangannya udah berdarah-darah." sambut seorang ibu dengan kebaya putih


"Iya, maafkan saya sudah merepotkan kalian semuanya. Saya janji hal ini tidak akan terulang lagi." ucap Shindy mencoba menenangkan mereka


"Jangan begitu lagi ya gek. Nggak baik." ujar ibu rambut panjang yang waktu itu menolongnya dari Rama


"Iya buk."


"Kami masuk dulu ya. Biar Shindynya juga bisa istirahat." pamit Bu Wayan membubarkan kerumunan tetangga.


Shindy kembali menuju kamarnya. Dia merindukan rumah ini, meski hanya dia tinggali sendiri. Pak Wayan meletakkan tas berisi pakaian Shindy di ranjang. Juga beberapa makanan ringan sisa semalam.


"Kamu, istirahat ya. Kalau butuh apa-apa jangan sungkan minta tolong sama kita. Rumah kami dua rumah dari sini. Yang ada patung di depannya itu loh." ujar Bu Wayan mengusap lembut bahu Shindy


"Terima kasih bibi."


Bu Wayan menoleh ke arah Shindy dan menatap Pak Wayan secara bergantian.


"Nggak apa-apa bu. Dia juga manggil saya paman." terang Pak Wayan


"Bibi nggak keberatan kan saya panggil begitu?" tanya Shindy


"Saya senang malah kamu anggap sebagai bibimu sendiri." ucap Bu Wayan dengan senyum di wajahnya


"Ya sudah. Kita tinggal dulu ya." Pak Wayan mengakhiri obrolan mereka


Shindy terdiam sejenak sampai dua orang itu benar-benar meninggalkannya. Shindy membuka lagi sepucuk surat yang Ivan tuliskan. Membaca setiap kata dan mencoba memahami situasinya.


"Ivan bisa menulis surat, tapi dia tidak bisa menemuiku. Apa memang dia dilarang untuk bertemu denganku? Dan pria itulah yang mengantarkan surat ini, berarti kemungkinan Ivan ada bersamanya. Aku harus ke rumah itu sekarang!" Shindy mengambil dompet kecil miliknya. Masih ada beberapa lembar uang ratusan yang tersisa.


"Uang ini cukup untuk ongkos dan biaya hidupku selama beberapa hari ke depan. Aku akan mencari kerja setelahnya."


Shindy bangkit dan mengganti pakaiannya. Setelan merah muda dengan celana bahan panjang membuat tubuhnya tampak proporsional.


Shindy berjalan ke luar kamar, menoleh sebentar ke arah dapur, ternyata hasil kekacauan waktu itu sudah dibereskan. Shindy tersenyum simpul entah pada siapa. Kakinya kembali melangkah keluar dan menuju ke pangkalan tukang ojek di pertigaan jalan utama. Setelah menawar harga yang pas, Shindy meminta tukang ojek itu untuk mengantarnya. Selama perjalanan, pandangannya tak lepas dari jalanan, kalau-kalau dia melihat sesuatu yang kiranya bisa dijadikan petunjuk. Namun, dia tidak bertemu siapapun.


"Mbak, benar ini jalan rumahnya. Ini kebun Mbak!" tukas tukang ojek itu sambil menunjuk ke arah depan

__ADS_1


"Benar Mas. Rumah itu memang ada disana, terpencil." Lagi-lagi orang yang mengantarnya kemari, bertanya demikian.


Tukang ojek itu melanjutkan perjalanannya. Hingga tiba di halaman rumah yang gosong sebagian itu. Bangkai mobil rusak tak terurus masih dalam posisi yang sama. Shindy mengamati sekitar, rerumputan yang terbakar itu masih berwarna kehitaman dengan abu yang berterbangan tertiup angin.


"Tunggu disini sebentar ya Pak." tukas Shindy berjalan menuju pintu depan.


Shindy mengetuk pintu itu sambil berusaha mendorong untuk membukanya.


"Ck.. Terkunci. Tapi, ada pintu juga di belakang. Mungkin saja, itu terbuka."


Shindy memutari rumah kecil itu dan menemui pintu belakang dalam keadaan yang sama. Shindy beralih pada kedua jendela di samping rumah. Jendela itu tampak berdebu dan tidak terawat. Shindy mengusap sedikit dengan tangannya. Benar saja, kotoran itu menempek di kedua tangannya. Shindy melongok, berusah mengintip adakah orang di dalam sana. Namun gelapnya kaca riben yang terpasang, menghalangi niatnya. Hanya kegelapan yang tampak di depan matanya.


"Ya sudahlah, berarti mereka memang tidak singgah ke sini sejak hari itu. Aku akan mencoba ke rumah satunya lagi." Shindy berjalan menjauhi rumah itu.


Tanpa dia sadari, seorang laki-laki berdiri di depan jendela menatap ke arah Shindy yang tengah berboncengan dengan seorang pria tua.


"Gadis bodoh itu tidak menyerah juga! Dan aku harus tertahan disini bersama lelaki sialan ini. Menyedihkan." Rama berjalan keluar kamar.


Perlahan kedua mata Ivan terbuka. Memandang sedih ke arah jendela kamar yang besar.


"Kau baik-baik saja Shin?" gumamnya tanpa suara


Sepeda motor itu berjalan cukup lambat, hingga hampir jam tiga sore untuk tiba di kota tujuan Shindy. Sebuah limousin hitam terparkir di halaman. Juga sebuah jeep putih dengan kaca terbuka ada di halaman rumah Rama.


"Ada mobil, berarti ada orangnya!" pekik Shindy kegirangan.


Segera setelah memberi beberapa lembar uang, Shindy pun menekan bel rumah. Suara nyaring bel terdengar, beberapa kali Shindy mencoba namun tak ada respon. Hingga ketika Shindy hendak mengetuk pintunya, pintu itu terbuka. Seorang pria tampan yang menemuinya dan Ivan waktu itu ada di depan matanya.


Seringai lebar Tommy tunjukkan pada Shindy.


"Kali ini apa yang membawamu kesini? Tampaknya kau belum menyerah juga." tukas Tommy merasa heran atas kegigihan Shindy


"Saya... Saya hanya ingin mencari informasi tentang keberadaan Ivan." ujar Shindy jujur


"Kau lebih mengkhawatirkan pria itu daripada suamimu sendiri?" seloroh Rony yang datang dengan santainya


"Maaf tapi aku.."


"Masuklah dulu. Tidak baik jika tamu dibiarkan berdiri di luar terlalu lama." Ujar Tommy membuka pintunya lebar-lebar.


Shindy pun duduk di ruang tamu dengan sofa mewah yang ditata sedemikian rupa agar menjadi nyaman.


"Kau tidak takut kehilangan nyawamu Nona Shindy?" pertanyaan sadis terlontar dari mulut Rony


Senyuman aneh pun juga tampak di wajah Tommy.


"Maaf tapi saya tidak ingin membuat keributan. Saya hanya ingin mencari tahu keberadaan Ivan. Hanya itu saja. Setelah kalian memberitahukannya, saya akan pergi dan tidak akan kemari lagi." ujar Shindy


"Itu pun kalau kau bisa keluar dari sini hidup-hidup!" ucapan tajam kembali Rony lontarkan

__ADS_1


"Jangan menakutinya Ron. Kenapa tidak, kita beritahu saja dia?" ujar Tommy melirik ke arah Rony


Entah apa maksud dari lirikan itu. Yang jelas Rony merespon dengan smirk menakutkan khas miliknya.


"Dia ada di kamar atas nona Shindy. Aku yakin, kau sudah tahu kamarnya." ujar Tommy


Senyum bahagia mengembang di bibir Shindy.


"Bolehkah aku menemuinya?" tanya Shindy


"Ron, tolong antarkan Nona ini dulu selagi aku bersiap-siap." ujar Tommy berjalan ke belakang lebih dulu


"Ayo!" ajak Rony


Mereka berdua berjalan dengan jarak yang cukup jauh. Shindy masih menampilkan senyum terindahnya sambil mengikuti Rony yang mulai menaiki tangga. Ekor matanya menangkap bayangan Bowo yang tengah makan dengan rakusnya.


"Menjijikkan." batin Shindy


Rony membuka kamar Ivan sambil berteriak, "Ada yang ingin bertemu denganmu Van?"


Namun tak ada sahutan dari dalam kamar. Tanpa curiga Shindy berlari menuju kamar itu.


BRUK.. Pintu kamar tertutup, Shindy terkunci di dalam bersama Rony.


"Di.. Mana Ivan?" Shindy bertanya dengan panik


"Menurutmu, dimana dia?" Rony kembali bertanya dengan terus mendekati Shindy


"Jangan mendekat! Atau aku akan menusukmu!" Shindy mengangkat tempat lilin dari tembaga yang ada di nakas.


"Lakukan saja!" tantang Rony melepaskan jas mahalnya


PRANG.... Shindy memukul keras ke arah Rony. Alih-alih merasa kesakitan. Rony justru mengunci kedua tangannya di atas dan membanting tubuhnya ke kasur. Shindy meringis kesakitan karena pendaratan yang tidak sempurna itu. Kedua kaki Shindy terkunci oleh apitan kaki Rony. Dengan sigap Rony melepaskan dasinya dan mengikat kedua tangan Shindy pada sandaran kasur.


"Lepas.. Lepaskan aku!" ujar Shindy meronta


"Tidak, sebelum tuan Tommy datang." Rony menarik kedua kaki Shindy dan mengikatnya ecara terpisah, hingga kaki itu terbuka lebar di bawah sana.


"Sudah kau siapkan?" Tommy masuk ke dalam kamar dengan piyama mandinya. Celana pendek yang menutupi bagian bawahnya tampak sesak oleh sesuatu.


"Tinggalkan dia Ron. Aku yang akan memulai permainan ini." ujar Tommy melepas piyama mandinya.


"Tidak.. Jangan lakukan itu! Lepaskan aku!" Teriakan Shindy hanya mengundang tawa bagi Tommy


Rony membiarkan pintu kamar tertutup dengan dia yang berjaga di depan.


"Kau sendiri yang menyerahkan tubuh indahmu kesini, Nona Shindy." Ciuman hangat yang menjijikkan mulai merambat di ceruk lehernya.


"Berhenti! Jauhkan mulut kotormu itu!" teriak Shindy berusaha menghindari Tommy, namun kondisi tubuhnya yang terikat membuat Shindy tidak bisa berbuat apa-apa.

__ADS_1


Setelannya sudah tanggal dan jatuh di lantai hanya kain penutup harta berharganya saja yang menempel di tubuhnya.


"Aku tidak heran, kenapa Ivan dan Rama beetarung memperebutkanmu. Ternyata kau cukup menggoda nona Shindy."


__ADS_2