DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)

DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)
Sosok Familiar


__ADS_3

Lelaki itu hanya tersenyum, dengan posisi demikian jarak keduanya tidak terlalu jauh. Shindy menatap lekat pria di hadapannya. Wajah itu, pernah menjadi bagian dari hidupnya. Pernah sesekali dia rindukan karena ketulusan dan kebaikannya.


TIN.... Suara klakson yang keras dibunyikan dari dalam mobil putih yang Andrian kendarai tadi. Shindy menjauhkan dirinya, menatap sosok wanita yang duduk di sebelah kemudi dengan tatapan tak ramah.


"Andrian, kamu.. Juga tinggal di Bali sekarang?" tanya Shindy


Andrian mengangguk.


"Itu istriku." Andrian memperkenalkan wanita yang masih betah duduk di dalam mobil.


"Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Andrian mengamati ke arah kaki Shindy yang membengkak.


"Nggak kok, biasa bawaan hamil. Hehe." Shindy berusaha menjelaskan situasinya


"Maaf Mbak, kamu nggak apa-apa kan?" sela ibu yang tadi dia tolong


"Saya nggak apa-apa, Ibu nggak apa-apa kan?" tanya Shindy


Ibu itu membalas dengan sebuah gelengan kepala.


"Mari mampir sebentar ke rumah saya. Untuk sekedar ngeteh bareng Mbak." ajakan ibu itu


Shindy menoleh kembali ke arah Andrian.


"Aku juga mau pulang kok, aku baru sampai juga disini pasti istriku ingin segera istirahat." terang Andrian


"Ya sudah Aan. Aku pergi dulu ya. Sekali lagi makasih ya! Salam buat istrimu." ujar Shindy mengakhiri pertemuannya kala itu


Shindy diajak masuk ke sebuah mobil yang menjemput ibu-ibu tadi. Ada seorang sopir di dalamnya yang sudah menunggu. Dari dalam, Shindy bisa melihat Andrian masuk kembali ke dalam mobilnya. Mobil itu bukanlah mobil yang sama saat mereka bersama dulu. Penampilan Andrian pun terlihat jauh lebih baik sekarang. Shindy yakin Andrian bisa baik-baik saja setelah dia tinggalkan.


"Mbak, kenal sama orang tadi?" tanya ibu-ibu di sebelahnya


"Iya Bu. Dia teman saya." ujar Shindy


"Owh, kenalkan saya Wiwit." ibu itu mengulurkan tangannya


"Shindy Bu." Shindy menjabat tangan Bu Wiwit


"Ini punya kamu ya?" Bu Wiwit menyodorkan amplop yang tadi sempat Shindy jatuhkan


"Oh iya Bu. Terima kasih ya." Shindy melontarkan senyumannya


"Sama-sama, coba kalau kamu tidak menolong saya tadi. Pencopet itu sudah mengambil tas saya. Padahal kan, saya baru saja ambil uang di Bank untuk mengurus sertifikat tanah." ujar Bu Wiwit


"Lain kali, biar sopir ibu yang menemani kemana pun. Jangan keluar sendiri, bahaya Bu." Shindy melirik sebentar ke arah spion. Tampak sopir itu mengamatinya dari sana. Shindy mengalihkan pandangannya dan kembali fokus pada Bu Wiwit


"Iya Mbak. Ngomong-ngomong kamu sedang hamil begini kok sendirian aja. Suamimu kemana?" tanya Bu Wiwit


Shindy menggeleng. "Saya nggak tahu Bu. Suami saya pergi tanpa pamit." Memang itulah kenyataannya Rama kabur setelah dikeroyok warga di rumah Ivan. Setelah itu, Shindy tidak pernah lagi melihatnya.

__ADS_1


"Terus kamu tinggal dimana?" tanya Bu Wiwit


"Saya ngekos Bu. Jadi ini saya berusaha cari pekerjaan buat biaya hidup sehari-hari. Apalagi kan saya harus mempersiapkan kelahiran anak saya." terang Shindy


"Kamu bekerja dalam keadaan hamil begini?" tanya Bu Wiwit memastikan


Shindy mengangguk. Mau bagaimana lagi, sedang ponselnya pun sudah lama hancur. Komunikasi dengan kedua orang tuanya sudah terputus. Di tambah, dia hanya sendirian sekarang. Ivan dan Rama pun entah dimana. Shindy tidak mau memikirkannya lagi. Dia sedang ingin fokus pada hidupnya sendiri. Juga bayi yang dikandungnya.


"Begini saja. Kamu kerja saja di tempat saya. Di toko kue. Kamu bisa jadi tenaga perbantuan di sana. Itu pun kalau kamu bersedia." tawar Bu Wiwit merasa iba dengan nasib yang dialami Shindy


"Serius Bu? Tapi, toko kue ibu dimana?" tanya Shindy


"Dekat sini aja kok. Hasan, antar saya ke toko ya!" pinta Bu Wiwit pada sopirnya


Tampak sopir itu memutar arah. Menuju ke jalanan yang sama dengan kos-kosan Shindy. Hanya saja untuk sampai di kos, Shindy harus berjalan kaki melewati gang-gang kecil.


Sebuah toko roti dengan dinding kaca yang luas di seberang jalan mulai terlihat. Hanya ada dua pekerja disana, yang sedang kerepotan melayani pelanggan.


"Rame ya Bu?" tanya Shindy memandang lurus ke arah toko kue itu


"Iya, mari saya kenalkan dengan pegawai saya." Bu Wiwit lebih dulu masuk ke toko roti. Shindy pun menyusul masuk.


"Imelda." panggil Bu Wiwit yang tengah berdiri di dekat meja kasir.


"Iya Bu." balas perempuan cantik yang kira-kira seumuran dengan Shindy.


"Kenalkan ini Shindy. Dia akan membantu kalian mengurus toko kue ini." terang Bu Wiwit memperkenalkan Shindy


"Shindy."


"Kira-kira kapan kamu mulai bekerja Shin?" tanya Bu Wiwit


"Besok Bu, saya bisa bekerja besok." jawab Shindy semangat


"Ya sudah, besok kamu kesini jam 8 pagi. Karena kita buka setengah sembilan. Kamu harus datang lebih awal. Ngomong-ngomong kamu ngekos dimana?" tanya Bu Wiwit


"Itu buk, di gang kecil sebelah mobil Ibu." Shindy menunjuk ke arah jalan masuk gang tempat mobil Bu Wiwit parkir


"Owh, kamu kos di tempat Bu Ajeng?" terka Bu Wiwit


Shindy mengangguk.


"Pas banget ya! Itu teman lama saya. Ya sudah nanti saya sekalian mampir ke kos kamu ya!" ujar Bu Wiwit


"Imelda, tolong kamu jelaskan apa saja yang perlu dilakukan Shindy selama bekerja disini." pinta Bu Wiwit


"Siap bu. Mari ikut saya." Shindy mengekor pada Imelda. Dengan perlahan Imelda menjelaskan detail pekerjaan yang akan Shindy lakukan. Karena dia baru pertama kali bekerja di toko roti, Imelda tidak memberikan tugas yang berat. Shindy pun merasa nyaman dengan sikap ramah Imelda. Tak heran sebentar saja, mereka bisa menjadi akrab.


"Bagaimana Shin? Bingung nggak?" tanya Imelda

__ADS_1


"Nggak kok. Besok kalau aku bingung, aku langsung tanya kamu aja!" ujar Shindy


"Siap deh kalau gitu. Besok jangan sampai telat ya! Soalnya kalau weekend suka rame." terang Imelda


"Iya aku usahakan kok."


...****************...


Sementara sekembalinya Andrian ke dalam mobil, tatapan tajam Retha tidak beralih sedikit pun dari suaminya. Entah karena bawaan hamil, atau karena pertemuan singkat Andrian dan Shindy tadi membuat mood Retha menjadi tidak baik.


"Kenapa sayang? Kok gitu nglihatinnya!" heran Andrian


"Gimana perasaannya setelah nostalgia sama mantan?" pertanyaan sindiran itu Retha lontarkan


Andrian melirik sekilas ke arah istrinya. Kedua tangannya bersedekap di depan dada dengan tatapan ke luar jendela seolah sengaja menghindari tatapan Andrian.


"Kamu cemburu ya?" terka Andrian


"Nggak! Ngapain!" tegas Retha


"Terus kenapa?" tanya Andrian sengaja menggoda istrinya


"Ck! Kamu nggak malu ya peluk-pelukan gitu di tempat umum. Dilihatin banyak orang Mas, apalagi lama banget tatap-tatapannya! Terpesona?" cerocos Retha tanpa jeda


Andrian tergelak. Benar rupanya, istri tercintanya tengah cemburu.


"Maaf, lain kali nggak gitu lagi deh. Tapi kalau ketemu, sekedar ngobrol sama ngopi boleh kan?" goda Andrian


Retha memelototi Andrian. Tapi pria itu justru hanya tertawa dengan sikap istrinya.


"Kenapa ketawa? Nggak ada yang lucu juga!" ucap Retha kembali menatap ke depan


"Jangan marah-marah dong sayang. Kasihan dedeknya, nanti kaget loh." Andrian mengusap pelan perut datar Retha.


"Gara-gara papanya sih nggak pernah peka!" cibir Retha


Andrian tersenyum, menepikan mobilnya sebentar guna menenangkan sang istri.


"Jangan marah, kan aku punya kamu. Lagipula, kita mau jadi orang tua. Nggak baik berantem karena masalah sepele kayak gini." ujar Andrian mengusap pelan rambut hitam Retha


"Aku nggak suka Mas terlalu deket sama Mbak Shindy!" ujar Retha mengerucutkan bibirnya


Cup.. Ciuman gemas Andrian menyapa bibirnya itu.


"Janji nggak lagi deh." Andrian mengangkat jari kelingkingnya.


"Awas kalau bohong!" Retha menautkan jari kelingkingnya juga


Andrian mencium puncak kepala Retha. Retha pun membalasnya dengan sebuah kecupan ringan di pipi suaminya.

__ADS_1


"Udah nggak marah lagi nih?" tanya Andrian


"Au ah!"


__ADS_2