DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)

DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)
Akhir Cerita


__ADS_3

Shindy berlari dengan cepat, kaki jenjangnya melompat ke arah kerumunan petugas. Tangan Shindy menggapai bayi mungilnya yang terlempar ke udara. Tommy yang tidak terima pun menembakkan sebuah peluru ke arah bayi itu.


GREP.. Shindy terduduk bersimpuh. Punggungnya mengeluarkan darah. Kedua tangan Shindy masih memeluk erat bayinya yang menangis.


"Anakku sayang. Tenanglah. Ibu ada disini." gumam Shindy


Seketika Tommy pun diborgol dan diamankan, beserta dengan anak buahnya yang masih hidup dan beberapa wanita yang disekap di lantai atas. Suara gaduh pun terdengar. Namun Shindy masih ada di posisinya. Tangannya terulur, membelai bayi perempuan yang tengah menyusu padanya.


"Terima kasih Nak, sudah mengijinkan mama melihatmu. Meski mungkin untuk yang terakhir kalinya." ujar Shindy menahan sesak di dadanya


Benar, tembakan terakhir Tommy tadi tepat mengenai punggungnya. Hanya berjarak beberapa milimeter dari pusat kehidupan Shindy.


"Maafkan mama, yang terlambat menolongmu tadi. Mama benar-benar takut, jika tidak bisa melihatmu lagi dan mengucapkan selamat tinggal dengan benar." Shindy mengecup dalam kening putrinya


Seketika tubuhnya lemas. Seperti kehilangan daya hidupnya. Tubuh kurus Shindy pun terbaring dengan bayi yang masih ada dalam gendongannya. Sayup-sayup terdengar suara seseorang memanggil. Pandangan Shindy mulai mengabur. Tak lama kemudian, Shindy terpejam.


"Tolong Pak! Teman-teman saya tertembak." teriak Andrian sambil mengangkat putri Shindy yang kembali menangis.


Tenaga medis pun berdatangan, bersamaan dengan sirine ambulans, beberapa mayat dan orang-orang yang terluka pun dievakuasi. Andrian masih memandang wajah bayi di hadapannya, mengecupnya perlahan. Seolah membayangkan, bagaimana perasaannya nanti ketika menjadi seorang ayah. Ada air mata haru yang mengalir di pipinya. Merindukan istrinya dan menantikan buah hatinya yang akan lahir beberapa bulan lagi. Andrian mendekap bayi itu dan mencoba menenangkannya, lalu bergabung bersama yang lain untuk kembali ke rumah.


BEBERAPA SAAT SEBELUM KEJADIAN


Andrian dan Retha tengah berjalan keluar dari bandara, karena tidak mempunyai tujuan maka sepasang suami istri itu berinisiatif menelepon Ivan.


"Pucuk dicinta ulam pun tiba" gumam Andrian menunjukkan nomor Ivan yang tengah memanggilnya


Terjadilah percakapan singkat yang meminta Adrian menghubungi polisi. Andrian telah menerima titik lokasi yang akan Ivan tuju. Andrian pun bergegas memanggil taksi dan membuat laporan ke kantor polisi terdekat sebelum akhirnya kembali ke rumahnya.


Wajah resah Retha tidak lagi bisa disembunyikan, tatkala mendengar penuturan Andrian tentang peristiwa mengerikan yang sebelumnya terjadi pada Shindy dan Ivan. Kini tangannya tak berhenti mencengkeram lengan Andrian dan menempelkan tubuh mungilnya.


"Jangan kesana ya Mas!" tukas Retha dengan tatapan memohon


"Sayang, aku harus kesana untuk menolong mereka. Memastikan bayi itu dalam keadaan baik-baik saja. Itu yang paling penting." ujar Andrian membelai rambut istrinya


"Bagaimana jika kamu nggak selamat? Aku dan bayi kita.." kalimat Retha tergantung begitu saja, namun derai air mata mulai membanjiri kedua pipinya

__ADS_1


"Ssssst sayang. Aku janji, nggak akan ada apapun yang terjadi. Petugas kepolisian kan ikut membantu. Jadi, aku aman." ujar Andrian mengusap kedua pipi Retha yang basah


"Tapi mereka penjahat yang berbahaya An, kamu lihat kan pas mereka menghadang Shindy dan Ivan di jalan? Kamu datang sama banyak polisi, tapi mereka lolos." ujar Retha mengingatkan tragedi yang menghancurkan mobilnya


"Sayang, yang ikut dalam misi ini jauh lebih banyak daripada dulu. Dan karena ini kasus yang rumit, pasti mereka punya persiapan yang lengkap." tukas Andrian masih berusaha menenangkan sang istri


"Tapi mas kalau mereka tetap kalah?" tanya Retha lagi


"Ada kamu Tha, dan do'a yang selalu kamu panjatkan. Aku pasti selamat kok. Demi kamu dan anak kita nanti." Andrian mengelus perut Retha yang membuncit.


"Disini, anak kita akan menjadi saksi. Perjuangan kita menyelamatkan orang lain." bisik Andrian pada Retha


Retha meneteskan kembali air matanya, terharu dengan sikap manis dan lembut dari suaminya itu. Andrian mengecup singkat kening Retha.


"Aku pasti kembali sayang. Buat kamu." ujar Andrian sekali lagi


Retha pun mencium sekilas pipi suaminya. Lalu membiarkan suaminya masuk ke dalam mobil polisi dan meninggalkan halaman rumah Retha. Sementara dua polisi muda berjaga di depan dan belakang rumah.


Andrian menarik napas dalam-dalam. Berusaha mempersiapkan diri atas segala kemungkinan yang terjadi.


Jalanan yang gelap dan sepi mulai terlihat di depan. Dengan rumput liar setinggi paha yang memenuhi hutan pinus yang lebat. Pepohonan besar di kiri kanan jalan, membuat suasana semakin menakutkan. Ditambah saat mobil polisi itu mematikan lampunya hanya untuk menstabilkan keadaan. Suara-suara aneh beserta teriakan terdengar dari bangunan besar yang dikelilingi tembok tinggi.


Andrian melangkah perlahan. Mencoba membuka pagar besi yang tidak terkunci itu. Tatapannya mengarah pada seorang pria tua yang terluka, tengah bersandar pada dinding. Kondisinya tampak mengenaskan, dengan lumuran darah dan luka disana sini.


"Pak, apa anda masih sadar?" tanya salah seorang petugas pada Surya.


"Tentu. Aku masih terjaga. Mungkin sebentar lagi, aku juga akan mati kehabisan darah." gumam suara serak Surya


DOR... Suara tembakan terdengar beberapa kali. Membuat para petugas membentuk formasi pengepungan di sekitar area rumah.


"Mas, tolong bawa tandunya kemari!!" teriak Andrian pada tenaga medis yang ada


Beberapa orang mengerumuni Surya. Surya hanya tersenyum simpul sebelum akhirnya pingsan. Andrian ikut melacak ke sumber suara tembakan. Tampak beberapa mayat tergeletak dengan luka tembak di tubuh mereka. Juga terlihat sekelebat bayangan orang yang berlari ke arah belakang.


"Itu, ada yang lari keluar." tunjuk Andrian ke arah Tommy yang tengah menggendong seorang bayi

__ADS_1


Tembakan peringatan dibunyikan beberapa kali. Namun, penjahat itu justru tertawa dan menantang para petugas yang ada. Andrian bergerak perlahan, memangkas jarak antara dia dan Tommy.


BRAK.. Suara jendela yang terbuka mengalihkan pandangan Andrian. Bersamaan dengan itu, kedua matanya menangkap sosok Shindy yang hanya mengenakan kemeja kebesaran milik Ivan. Sementara Ivan bertelanjang dada dengan penuh luka di tubuhnya.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" pikiran Andrian melayang entah kemana.


"Benarkah Shindy mengulangi kesalahan yang sama seperti saat bersama Rama dulu?" pikir Andrian.


"Bod*h! Bisa-bisanya aku berpikir begitu. Ini masalah serius." gumam Andrian


Ivan berlari ke arah Tommy, guna menyelamatkan sang bayi. Namun tembakan Tommy mengenainya hingga tubuh itu tersungkur di tanah. Teriakan Shindy kembali terdengar. Dengan tangisannya, Shindy mendekat ke arah tubuh Ivan yang terbaring.


Fokus dengan adegan memilukan di hadapannya. Andrian justru dikejutkan kembali, dengan aksi Tommy yang melempar bayi itu ke atas. Rengekan kecil itu terdengar begitu keras. Tampak olehnya, Shindy melompat untuk menggapai bayinya, meski punggungnya harus menjadi sasaran empuk peluru Tommy


"Shindy!" pekik Andrian sama sekali tidak menduganya.


Andrian berniat mendekati mereka, namun beberapa petugas mencegahnya.


"Berbahaya Mas! Lebih baik tunggu saja disini. Biar kami yang menyelesaikannya." terang salah satunya


Andrian terharu melihat moment ibu anak yang tengah berpelukan. Bahkan samar di kegelapan malam, Shindy tengah menyusui bayi mungil itu dalam dekapannya. Tak lama, setelah tertangkapnya Tommy dan beberapa anteknya yang masih hidup. Tubuh kurus Shindy terkulai tak berdaya. Menyisakan bayi kecil yang menangis kehausan di dadanya.


Andrian lekas menggendong bayi itu. Wajah panik sang bayi, diusapnya perlahan dengan ibu jarinya


"Aku akan membawamu pulang gadis baik." ujar Andrian mengecup bayi Shindy beberapa kali


Berkilo-kilo meter dari TKP, Margaretha, selaku istri dari Andrian tengah menunggu kepulangan suaminya dengan gusar. Suara sirine polisi bergantian terdengar semakin mendekat ke arah rumahnya.


Retha menghambur keluar rumah, mendapati halamannya yang mulai ramai.


"Mas Andrian!" panggil Retha mencari sosok tegap suaminya


Celingukan dari mobil satu ke mobil yang lain. Pintu samping mobil hitam itu terbuka. Menghadirkan sosok yang dia cari sebelumnya.


"Mas Andrian."

__ADS_1


__ADS_2