DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)

DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)
Menyusup


__ADS_3

"Shindy!" gumam Ivan menurunkan pistolnya


"Jangan menembakku." Shindy menghampur ke pelukan Ivan


"Kau tidak tahu, betapa sulitnya aku bisa sampai kemari kan?" Nafas Shindy tersengal. Ivan menoleh ke arah gerbang yang masih terbuka sedikit.


"Gadisku ini, semakin tangkas saja." ujar Ivan mengecup pelan kening Shindy


"Pak Surya!" tunjuk Shindy tatkala Rony mengarahkan pistol ke kepalanya


"Biarkan saja, kita harus selamatkan bayimu dulu." ujar Ivan


"Tidak! Dia sudah membantu kita. Jadi tugas kita juga untuk menjaganya." ujar Shindy


Ivan tersenyum. "Kau akan tahu maksudku nanti.


"Rony, Tuan Tommy memintamu berjaga di dalam. Dia yakin penghianat itu akan masuk dan merusuh di sana." terang seorang pria bertubuh kekar yang baru saja keluar dari pintu utama


Tampak dari pakaiannya, dia bukan orang sembarangan. Sama seperti Rony, posisinya sebagai anak emas Tommy memudahkan Ivan untuk bisa melakukan ini.


"Kalian berdua, ikutlah mereka." tegas Michael sambil menarik keras kemeja Surya ke atas.


"Bunuh dia Michael!" ujar Rony


Michael mengeluarkan pisau tajam miliknya. Sedikit menekankan ke arah leher Surya. Hingga ujungnya menimbulkan goresan.


"Tuan memintaku bermain-main dulu!" ujar Michael memutar ujung pisaunya mengelilingi leher Surya


"Ivan, lihat dia. Aku akan kesana." ujar Shindy


"Jangan! Mereka belum masuk." cegah Ivan


"Tapi Pak Surya?"


Rony dan kedua anak buahnya pun masuk. Menutup pintu utama yang menjulang tinggi. Membiarkan Michael mengatasi Surya seorang diri. Michael mengangkat tubuh tua itu dan hendak membawanya keluar namun tiba-tiba. Stun Gun Shindy menyetrumnya hingga tubuh tua itu terjatuh dari genggamannya.


"Aaaaargh. Mati saja kau tikus kecil." erang Michael mengarahkan pistolnya


Namun kedatangan Ivan yang menodongkan pistolnya membuat Michael tertawa.


"Kawan lama. Inikah yang membuatmu membangkang? Gadis kecil peninggalan Rama!" tawa Michael semakin keras


"Aku bukan gadis kecil yang ditinggalkan siapapun." Shindy menekankan kembali senjatanya hingga Michael merasa lemas. Jatuh terduduk di sebelah Surya.


"Aku juga merasakannya tadi Michael." gumam Surya perlahan

__ADS_1


"Michael, urus pak Surya. Biar kami yang masuk ke dalam." ujar Ivan


"Apa kau yakin tidak butuh bantuan?" tanya Michael sedikit meremehkan keadaan Shindy yang memegangi perutnya


"Datanglah ketika dibutuhkan! Aku mempercayaimu." ucapan Ivan menimbulkan binar bahagia di kedua mata Michael. Michael yang akhirnya bisa terlibat misi langsung dengan bodyguard kebanggaan Tommy ini, segera berdiri. Menjabat tangan Ivan dengan penuh keyakinan.


"Terima kasih, telah memberiku kesempatan ini." ujarnya


Ivan mengangguk, kemudian meraih tangan Shindy untuk mengendap ke samping rumah. Berniat masuk melalui celah jendela kamar. Karena Ivan yakin, Jane dan bayi itu ada di dalam sana.


Ivan merambat ke samping dinding. Penerangan temaram, membantunya untuk penyamaran. Bahkan dua penjaga yang ada di samping pun tidak menyadari keberadaan mereka. Ivan melihat jendela yang terbuka. Lampunya menyala, disertai suara sumbang yang tengah menyanyikan lagu nina bobok.


"Dia disini. Putriku ada di dalam." pekik Shindy bahagia.


Ivan membekap mulutnya untuk tidak bicara. Ivan menoleh ke dalam jendela. Tampak Jane menyadari sesuatu. Jane meletakkan bayi Shindy di kasur lalu berjalan mendekati Jendela. Sementara Ivan sudah bersiaga di depan jendela, untuk mengancam Jane.


Terdengar Jane menarik gerendel jendela, dengan sigap Ivan menarik tangannya dan pisau tajam Ivan tepat berada di tenggorokannya.


"Jangan berteriak, atau ku pastikan kepalamu terpisah dari tubuhmu malam ini." bisik Ivan membuat Jane ketakutan


"Mundur." titah Ivan membuat langkah Jane menjauhi jendela.


Shindy membuka jendela itu dan membiarkan tubuh Ivan lebih dulu. Diikuti langkahnya, yang masuk secara perlahan juga. Namun sayangnya, kakinya tersangkut hingga menimbulkan suara.


Dengan cepat Shindy menarik kakinya dan menutup jendelanya.


"Kita ketahuan Ivan!" tukas Shindy


"Gendong bayimu Shin. Akan ku bantu kau keluar dari sini." tukas Ivan


DOR... Suara tembakan terdengar dari arah luar. Bersamaan dengan pecahnya kaca jendela Jane yang menghambur berserakan. Seorang pria berpakaian hitam menodongkan pistolnya ke arah Ivan. Pun halnya penjaga satunya yang mengarahkan pistolnya pada Shindy.


"Ivan, inikah yang membuatmu bertindak sejauh ini? Kau mendambakan keluarga bahagia bersama janda dan anak perempuannya?" Ledek salah seorang penjaga.


"Jangan banyak bicara, atau ku bunuh istri majikanmu ini." ujar Ivan


"Tolong letakkan senjata kalian." pinta Jane ketakutan. Air mata beruraian di kedua pipinya. Wanita cantik itu terlihat tertekan dengan intimidasi Ivan


"Jika kau berani membunuhnya, maka akan ku bunuh juga gadis ini beserta anaknya."


DOR.. Penjaga itu menembak lantai. Shindy yang terkejut pun berteriak. Meringkuk di lantai sambil menggendong anaknya.


"Tolong biarkan kami pergi. Setidaknya, biarkan Ivan membawa bayiku." pinta Shindy berlutut di hadapan pria yang menodongnya


"Drama macam apa ini?" suara berat seseorang terdengar dari balik pintu.

__ADS_1


Suara tepuk tangan beberapa orang pun terdengar setelahnya. Menyaksikan adegan ini, Ivan merasa geram. Apalagi melihat Shindy bersimpuh dengan tangisan pilunya.


"Bodoh!" Ivan menusukkan pisaunya ke leher Jane hingga wanita itu menjerit kesakitan.


DOR... Penjaga itu menembakkan pelurunya ke arah tangan Ivan hingga pisaunya terjatuh. Tubuh Ivan menerjang penjaga itu, dan dengan cepat membalikkan keadaan menodongnya.


"Bunuh saja semuanya Ivan. Aku tidak membutuhkan penjaga bod*h seperti mereka." ujar Tommy berjalan mendekat ke arah Shindy


"Aku sudah pernah merasakannya. Dan bahkan setelah melahirkan pun kau masih tetep mempesona." bisik Tommy menjulurkan lidahnya pada ceruk leher Shindy


Shindy masih menunduk menahan semua amarahnya. Mengingat ada sebuah pistol yang menunjuk ke arahnya. Dia takut, pemberontakannya akan berakhir dengan kematian.


"Baj*ngan" umpat Ivan menembak penjaga di hadapannya. Juga penjaga yang menodong Shindy. Dua orang itu terkapar tak bernyawa. Dengan cepat Ivan menerjang ke arah Tommy. Namun tendangan keras Rony membuatnya terpental.


"James! Bawa bayi ini, dan biarkan gadis ini ikut denganku Scott!" Teriak Tommy pada bawahannya


James merampas kembali bayi Shindy yang mulai menangis. Sementara Scott menarik kasar tubuh Shindy agar ikut dengannya.


"Mau kau bawa kemana mereka?" teriak Ivan berusaha bangkit untuk mengejar


Namun lagi-lagi tendangan keras Rony mengenai kepalanya. Tubuh Ivan kembali ambruk. Pukulan demi pukulan Rony mengenainya. Ivan meringkuk, berusaha melindungi diri. Ivan menangkap arah gerak Rony yang akan mengeluarkan pisaunya. Tiba-tiba DOR.. Sebuah peluru melesat mengenai lengan Rony.


"Aarrrrrgh."


"Kita sama-sama kehilangan satu tangan. Ini baru bisa dikatakan seimbang." Ivan berdiri, menendang kasar tubuh Rony hingga ke luar jendela. Ivan berlari keluar kamar. Mengabaikan Rony yang masih shock dengan serangannya. Ivan mengejar Scott yang menarik kasar tubuh Shindy menuju ke sebuah kamar. Ivan melemparkan pisau kecilnya tepat di punggung Scott.


Scott pun mengerang, lalu berbalik menyerang Ivan. Shindy pun tidak tinggal diam menyetrumkan sisa-sisa listrik di stun gunnya. Tubuh Scott menegang. Bersamaan dengan itu, Ivan menikam tepat di jantung Scott hingga pria itu pun roboh.


"Kerjasama yang bagus." Sebuah pistol Tommy tempelkan di kepala Shindy.


"Kita buat kesepakatan Ivan." tukas Tommy


"Bawa pergi bayi itu, tapi tinggalkan ibunya." ucap Tommy sambil mengunci leher Shindy dengan lengannya


"Selamatkan putriku Van. Tinggalkan aku." ujar Shindy


"Kita harus pergi bersama Shindy. Kau tidak tahu apa yang baj*ngan ini rencanakan!" tukas Ivan


"Hanya dua nyawa yang boleh keluar dari tempat ini. Kau boleh memilihnya Ivan!" ujar Tommy


"Jika boleh ku tambahkan satu. Aku ingin menjadikan kematianmu, untuk di kenang sepanjang abad oleh anak buahmu!" ujar Ivan dengan seringaian di bibirnya


"Begitukah? Bagaimana jika kau dulu yang mati?"


BRAAAK

__ADS_1


__ADS_2