
Shindy berguling ke samping. Nyaris saja timah panas itu mendarat di tubuhnya.
Dor..
Tembakan kedua diluncurkan, kali ini dia bisa menghindar. Dengan sigap Shindy melepaskan heels dari kakinya. Tepat ketika tembakan ketiga akan diluncurkan, kedua heels itu melayang ke arah Rony. Shindy sedikit mendapat celah, dia berusaha bangkit dan berlari, namun sebuah dekapan dari pria besar seperti Bowo kembali menghadangnya.
"Aku menangkapnya Tuan." teriak Bowo senang
Shindy menggigit keras lengan berotot milik bowo.
"Aaaaargh." Bowo melepaskan pelukannya.
Shindy melanjutkan langkah mendekati pintu. CEKLEK.. Tidak dikunci, Shindy bergegas berlari menuju ke arah taman bunga. Berniat bersembunyi di antara rimbunan bunga krisan yang tumbuh subur di halaman.
DOR.. DOR.. DOR..
Suara tembakan yang memekikkan telinga kembali terdengar. SRING... Sebuah peluru melewati betisnya, meninggalkan sedikit goresan yang mengalirkan darah. Shindy membekap mulutnya Shindy. Jika dia bersuara sedikit saja, maka Rony akan menemukannya.
"Dia kabur Tuan." suara Rony terdengar dari kejauhan
"Biarkan saja dia menikmati kebebasan sejenak Ron. Tapi jika kau menangkapnya lagi, akan ku buat dia berlutut memohon ampun padaku!" tukas Tommy
Terdengar pintu rumah tertutup dengan keras. Shindy menunggu beberapa saat, sebelum berani mengintip keluar.
__ADS_1
"Mereka sudah masuk. Syukurlah aku selamat." ucap Shindy berjingkat mendekati pagar.
Shindy membuka dan menutup pagar dengan sangat pelan, nyaris tanpa suara. Shindy lalu berjalan terseok menuju ke perkampungan warga.
Lututnya yang penuh dengan tanah menjadi pusat perhatian warga. Apalagi kakinya polos tanpa sandal dengan darah menetes di sepanjang betisnya. Shindy menuju ke pangkalan ojek, bersyukur dia tidak lupa membawa tas kecil tempatnya menyimpan uang.
"Pak, tolong antar saya ke sini ya!" Shindy menunjukkan selembar kertas berisi alamat rumah Ivan
Segera setelah tukang ojek melihat tulisan itu, Shindy pun naik di boncengan dan mereka bergegas pulang. Sepanjang perjalanan, Shindy sama sekali tidak membuka percakapan. Pikirannya kalut dengan tatapan kosong yang membingungkan. Dia nyaris mati karena kecerobohan yang dibuatnya sendiri. Namun, tidak bisa dipungkiri Shindy merasa sedikit lega telah membalas perbuatan busuk Tommy padanya.
Tanpa sadar, sepeda motor itu telah berhenti di depan gang. Setelah memberikan selembar berwarna merah Shindy tertatih memasuki gang. Di depan rumah Ivan tampak Pak Wayan dan Bu Wayan tengah cemas menantinya. Bagaimana tidak, Shindy pergi tanpa sepatah kata pun dan baru kembali di malam selarut ini.
"Kamu darimana saja?" tanya Bu Wayan menarik pelan lengan Shindy
"Kakimu kenapa?" tanya Pak Wayan menyadari luka gores di betis Shindy
"Owh ini.. Jatuh, Shindy jatuh sewaktu naik ojek." bohong Shindy
"Ya ampun, hati-hati kalau berkendara. Lagian kamu habis darimana? Kenapa pergi nggak bilang-bilang?"Cemas Bu Wayan
"Sudah Bu, suruh masuk dulu saja. Ini lukanya diobati di dalam sambil istirahat." ucap Pak Wayan berusaha memapah tubuh Shindy
Shindy berjalan sedikit pincang, entah kenapa rasa nyeri saat jatuh tadi baru terasa. Shindy berbaring di kasur setelah berhasil mencuci bersih kakinya. Dengan telaten Bu Wayan memberikan ramuan tradisional untuk luka gores di betis Shindy.
__ADS_1
"Lain kali jangan begini. Kami khawatir. Kamu kan satu-satunya yang kami anggap keponakan kami. Jika kamu hilang juga.." Bu Wayan tidak sanggup melanjutkan kalimatnya
Shindy tersenyum lalu mengusap pelan lengan Bu Wayan.
"Maaf ya Bi. Shindy janji, nggak akan seperti ini lagi." tukas Shindy
"Ya sudah, ini tadi saya masak semur daging. Dimakan ya. Saya tinggal dulu. Biar kamu bisa istirahat." tukas Bu Wayan seraya bangkit dari duduknya
"Terima kasih banyak Bi, Paman." ucap Shindy tulus
Shindy kembali sendirian. Masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dialaminya. Obat herbal dari tumbuhan yang menempel di lukanya mulai bereaksi, rasa perih mulai Shindy rasakan. Shindy meringis sambil mengurut pelan pergelangan kakinya yang mulai membengkak. Tersirat sebuah penyesalan di hatinya. Rasa takut mulai muncul seiring dengan berbagai peristiwa yang dia alami belakangan ini.
Tiba-tiba air mata menetes di kedua sudut matanya. Rasa lega karena bisa kembali dengan selamat menguat di benaknya. Jika saja dia tidak sigap berpindah tadi. Mungkin besoknya dia akan ditemukan dalam keadaan tak bernyawa. Shindy sudah memikirkannya matang-matang. Dia harus segera pergi dari sini. Karena jika tidak, Rama dan para pengikut Tommy yang lain pasti bisa menemukanmya dengan mudah. Apalagi mengingat ancaman Tommy tadi, tubuh shindy bergidik ngeri. Shindy mengusap kedua pipinya yang basah, lalu menarik selembar kertas dan menuliskan sesuatu.
"PAMAN DAN BIBI, MAAFKAN AKU JIKA HARUS PERGI TANPA BERPAMITAN. TAPI AKU TIDAK BISA JIKA TERUS SEPERTI INI. AKU SELALU TAKUT DAN MERASA TERANCAM JIKA SEDANG SENDIRI BEGINI. AKU TIDAK PERNAH MENEMUKAN KETENANGAN SEJAK PERTAMA MENGIKUTI JEJAK SUAMIKU KE BALI. TAPI AKU PUN TIDAK BISA TINGGAL DISINI LEBIH LAMA LAGI. ADA HAL PENTING YANG HARUS KU URUS. DAN SATU LAGI, MADE MASIH HIDUP. KITA SAMA-SAMA TERTIPU OLEH SUAMIKU WAKTU ITU. JADI AKU MOHON DENGAN SANGAT PAMAN, CABUTLAH PELAPORANKU DI KANTOR POLISI DAN SAMPAIKAN SALAMKU PADA MADE, JIKA DIA KEMBALI NANTI."
Shindy mulai mengemasi barang-barangnya. Tak lupa membawa selembar foto Ivan beserta keluarganya dan memasukkannya ke dalam koper. Shindy pun melihat sisa uang di tasnya. Tidak lebih dari 500 ribu.
"Aku harus mencari kontrakan atau kos yang murah. Setelah itu aku akan bekerja. Aku harus tetap hidup, untuk anakku ini." ujar Shindy mengusap perutnya yang sedikit membuncit.
Shindy berjalan keluar rumah. Gang di sekitarnya sudah sepi. Shindy menarik kopernya menuju ke pertigaan utama. Shindy memanggil salah seorang tukang ojek dan meminta tolong untuk mencarikannya kos yang murah di kota itu. Tepat sebelum sepeda motor itu berjalan, Shindy terfokus membaca tulisan di minimarket yang beberapa hari lalu dia lihat bersama Ivan.
"Semoga aku bisa diterima kerja disini besok." gumam Shindy penuh harap
__ADS_1