
Shindy sampai lebih dulu di gerbang kos yang terbuka setengahnya. Tampak Bu Ajeng tengah berbicara dengan salah seorang penghuni kos yang lain.
"Gek sudah pulang? Nggak kehujanan kan?" tanya Bu Ajeng menyadari kedatangan Shindy
"Saya permisi dulu Bu." pamit seorang gadis yang berbincang dengan Bu Ajeng tadi
"Iya Gek." sahut Bu Ajeng singkat
"Bu, kenalkan ini Rama, suami saya." terang Shindy mendapati wajah penuh tanya dari Bu Ajeng tatkala Rama memasuki halamannya.
"Oalah, ini to suami kamu. Udah selesai Mas bepergiannya?" tanya Bu Ajeng dengan tersenyum
"Sudah Bu. Pekerjaan saya sudah selesai. Sekarang saya akan ada di samping istri saya sampai dia melahirkan nanti." terang Rama mencoba merangkul Shindy. Namun sayangnya tangan Rama ditepis oleh Shindy.
"Memang seharusnya begitu Mas. Shindy kan sedang hamil, nggak baik sering ditinggal sendirian." tukas Bu Ajeng
"Ini memang salah saya Bu. Saya yang terlalu sibuk ngurusin kerjaan." ujar Rama tanpa rasa bersalah.
Shindy berdecih, masalah kerjaan? Mengedarkan barang haram itu? Batinnya
"Bu, boleh nggak suami saya menginap disini? Biaya kosnya nambah nggak apa-apq Bu." ujar Shindy
Tampak Bu Ajeng menimbang-nimbang, mengingat ini adalah kos-kosan putri. Dia tidak bisa sembarangan memasukkan lelaki di kosnya.
"Apa kamu aja yang ikut tinggal di rumahku? Aku sudah belikan apartemen yang nyaman untuk kita sayang!" ujar Rama dengan nada manisnya
"Baiknya begitu Gek. Ini kan kosan cewek. Saya agak khawatir dengan reputasi kos-kosan ini. Apalagi jika kamu membawa laki-laki untuk menginap. Ya meskipun itu suami kamu sendiri." ujar Bu Ajeng mengutarakan keberatannya
Shindy menghela napas, dia belum bisa sepenuhnya percaya pada Rama. Itulah alasan Shindy enggan ikut ke apartemennya.
"Ya sudah Bu, biar suami saya pulang saja! Saya masih ingin tinggal disini." terang Shindy
"Nggak bisa gitu sayang! Kita kan udah menikah, masak iya harus tidur jauh-jauhan lagi! Bu, saya akan bayar berapapun asal saya diijinkan tinggal bareng istri saya ini. Tolonglah Bu. Istri saya kan lagi hamil, dia pasti kesulitan tinggal sendirian." pinta Rama dengan ekspresi sedih yang dibuat-buat
Muak Shindy menatap drama suaminya itu, entah kenapa dia sendiri belum menemukan jawaban atas segala perlakuan Rama yang berubah.
"Tapi, tidak bisa lama-lama ya. Hanya 2 malam saja!" ujar Bu Ajeng
"Baik Bu, dalam dua hari saya akan yakinkan istri saya untuk ikut dengan saya!" ujar Rama sambil mengeluarkan beberapa lembar uang
__ADS_1
"Ini untuk biaya tambahan selama saya menginap disini Bu!" sombongnya seolah ingin menunjukkan betapa kayanya Rama
Shindy menatap tak suka pada Rama. Dia memilih untuk diam dan mengikuti permainan apa yang kali ini ingin Rama mainkan. Rumah-rumahan?
"Ini saja cukup." Bu Ajeng mengembalikan dua lembar uang ratusan.
"Terima kasih ya Bu. Kami permisi dulu." pamit Shindy
Shindy mengajak Rama masuk ke dalam kamarnya. Setelah berhasil mengunci pintu, Shindy berbalik dengan kedua tangan di depan dada.
"Katakan! Apa tujuanmu sekarang Ram? Kenapa kau memintaku kembali?" tanya Shindy
Rama terhenyak, istrinya tidak sebodoh yang dia kira. Rama hanya tersenyum, melanjutkan drama rumah tangga yang sedari tadi dia perankan.
"Aku hanya ingin menjagamu. Memastikanmu aman dan baik-baik saja! Sama seperti yang dilakukan suami pada umumnya kan?" balas Rama santai
"Bagaimana jika aku tetap tidak mau?" tanya Shindy
"Aku akan tetap kemari, membujukmu dengan berbagai cara yang aku bisa. Sampai kau memaafkanku." ujar Rama seraya bangkit menghampiri Shindy
"Aku kesini punya niat yang baik Shin. Tolong pikirkan juga bayi kita, akan berbahaya berpergian sendiri di luar sana, jika Tommy dan para anteknya sedang mencarimu begini." ujar Rama mencoba memberi alasan
"Bagaimana sayang, mau pulang malam ini?" tanya Rama sekali lagi
"Tidak! Aku akan memikirkannya sampai besok. Sekarang gantilah bajumu, aku punya kaos oversize di lemari. Pakailah itu dan tidurlah selagi aku mandi!" ucapan tegas Shindy tak terbantahkan.
Rama masih duduk di kamar Shindy. Otak piciknya mulai berpikir, agar Shindy mau ikut dengannya lagi. Tiba-tiba senyum aneh menyungging di bibirnya. Rama bergegas keluar kamar dan meninggalkan kosan Shindy.
Shindy yang baru selesai mandi, melihat kamarnya telah kosong, Shindy bergegas keluar kamar. Dengan balutan piyama dan handuk di kepalanya, Shindy berjalan menuju ruang tamu, Bu Ajeng bahkan sudah tidak ada disana. Shindy menatap ke arah luar, pintu pagar sudah ditutup meski gemboknya masih terbuka.
"Syukurlah kalau dia sudah pergi. Semoga Rama tidak akan kembali kesini lagi." guman Shindy merasa senang akan kepergian suaminya.
Shindy berbalik ke arah kamar. Direbahkannya tubuh itu di kasur. Lelah yang mendera membuatnya ingin segera tidur. Baru beberapa saat terlelap suara ketukan pintu kamarnya terdengar. Shindy menutup telinganya dengan guling. Lama kelamaan ketukan itu berubah menjadi gedoran kasar.
"Shindy istriku.. Buka pintunya sayang. Aku bawakan makan malam untukmu." suara serak khas orang mabuk terdengar dari luar
Shindy memilih tak menggubrisnya dan ingin melanjutkan tidur. Hingga suara seorang gadis terdengar.
"Heh kamu kok disini? Ini kan kos perempuan. Lagipula ini sudah tengah malam, nggak sopan sekali gedor-gedor gitu!"
__ADS_1
"Apa kamu? Aku ingin mengantar makan malam untuk istriku. Ini... Ini kamarnya." balas Rama semakin keras menggedor pintu
"Duh gimana sih? Susah ngomong sama orang mabuk ya! Niken panggilin Bu Ajeng sana!" teriak perempuan yang lain
"Heh! Jangan berani mengusirku ya kalian, aku sudah membayar lebih pada ibu kos kalian! Aku akan tinggal disini sampai istriku mau pulang denganku." ujar Rama
"Bawa pergi aja istrimu! Gak perlu ganggu anak kos yang lain juga!" maki seseorang dengan kasar
"Kau!"
"Aaaaaa.." beberapa teriakan gadis membuat Shindy mau tidak mau turun dari ranjangnya.
"Mas, lebih baik mas pulang saja. Dan kembali lagi besok. Lagipula sedari tadi istrimu tidak membuka pintu. Mungkin dia sudah tidur." terang Bu Ajeng berusaha menenangkan Rama yang mengamuk.
"Nggak! Aku mau bersama istriku." kekeh Rama
Shindy membuka pintu dengan raut wajah suntuknya. Menatap Rama yang tampak kacau dengan sebotol m*i*ras di tangannya, Shindy hanya bisa menghela napas.
"Shindy sayang, aku merindukanmu." Rama bergerak sempoyongan ke arah Shindy. Memajukan bibirnya dan berniat memeluk Shindy. Namun Shindy menghindar ke samping, hingga tubuh Rama tersungkur di lantai.
"Gek, maaf bukannya saya mau ikut campur. Tapi sebaiknya kamu ikut dengan suami kamu. Karena tidak baik jika suami istri tinggal terpisah seperti ini. Apalagi kamu ini sedang hamil loh." ujar Bu Ajeng menjelaskan
"Tapi, saya masih ingin tinggal disini Bu. Lagipula kos ini dekat dengan tempat saya bekerja." tukas Shindy
"Tapi, suami kamu udah ganggu anak kos yang lain! Kamu nggak dengar dia teriak-teriak sama gedor-gedor pintu!" cibis seorang gadis tomboy memprovokasi
"Iya, kok bisa ya kos ini kemasukan laki-laki. Padahal sebelumnya nggak ada loh kasus kayak gini." imbuh Niken tak suka
"Gek, maaf ya. Sepertinya ibu tidak bisa membiarkan kamu tinggal disini lagi. Sikap suami kamu sudah sangat mengganggu. Ibu kira dia akan baik-baik saja dan hanya di kamarmu tadi. Ternyata ini di luar dugaan saya." terang Bu Ajeng
Shindy termenung. Ditatapnya sekali lagi, Rama yang tengah meracau tidak karuan. Kesal sebenarnya, ketenangan yang dia cari harus terusik karena tabiat buruk suaminya lagi.
"Tolong saya ya Gek. Ikutlah pindah ke rumah suamimu. Besok pagi, akan saya kembalikan kelebihan uang sewanya." tegas Bu Ajeng
Shindy hanya menghela napasnya pasrah. "Baiklah Bu. Sebelumnya saya minta maaf sama kalian, ini diluar dugaan saya juga." terang Shindy
"Kalau gitu, kamu jaga suamimu biar nggak buat keributan lagi. Kita-kita mau tidur! Jangan gara-gara akhlaknya yang nggak baik, kita semua jadi terganggu." ucap gadis tomboy itu berjalan masuk ke kamarnya lagi.
Shindy menutup pintu kamarnya, setelah semua orang pergi. Sementara Rama tersenyum samar melihat semuanya.
__ADS_1
"Akhirnya kau menurut juga. Bukankah, akan lebih mudah bagiku jika kau ikut denganku? Kau masih saja gadis bodoh yang ku nikahi dulu! Kau bahkan tidak tahu, apa rencanaku di balik semua ini."