DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)

DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)
Kepulangan Shindy


__ADS_3

Tanpa sengaja, Shindy menjatuhkan ponsel Andrian. Air matanya meleleh, seketika panggilannya dan Ivan terputus. Shindy menatap kosong ke arah depan. Tidak lagi bisa berekspresi apapun, hidupnya sudah tidak berguna lagi sekarang. Bayinya belum ditemukan, bahkan papanya baru saja dinyatakan meninggal. Apa belum cukup baginya bersabar menghadapi cobaan hidupnya selama ini?


"Shindy! Kamu kenapa? Shindy!" pekik Andrian untuk kesekian kalinya sambil terus menggoyangkan badan Shindy


"Mbak! Mbak nggak apa-apa kan? Mbak Shindy!" timpal Retha yang juga ikut berteriak melihat Shindy terdiam seperti patung.


"Shindy?" Andrian yang penasaran pun segera menghubungi kembali nomor Ivan


"Halo Van? Apa yang terjadi?" tanya Andrian begitu panggilannya tersambung


"Aku terlambat. Papanya tidak selamat."


Kini respon yang sama Andrian tunjukkan. Tubuhnya masih berdiri kaku dengan tatapan kosong ke arah Shindy. Pak Anton sudah seperti ayah baginya, dia banyak membantu kesulitan hidup Andrian semasa dirinya masih kuliah dulu. Andrian termenung, sama sekali tidak bereaksi atas cubitan dan teriakan istrinya yang mulai menangis.


Tiba-tiba sebuah kalimat terlontar dari bibir Shindy.


"Aan, tolong antarkan aku ke bandara. Aku ingin melihat papa untuk terakhir kalinya."


Kedua pasang mata itu menoleh. Masih dengan keadaan berduka, tanpa sadar Andrian memeluk tubuh rapuh mantan kekasihnya itu. Mengusap pelan rambutnya dan membiarkan dada bidangnya menjadi tempat Shindy menumpahkan air mata.


"Sabarlah Shin. Mungkin ini sudah jadi kehendak Tuhan. Kita tidak bisa menolaknya, kita hanya bisa berdoa untuk papamu. Agar beliau tenang dia alam sana." ucap Andrian


Shindy semakin mengeraskan suara tangisnya. Hingga beberapa orang yang lewat di depan ruangan sesekali menengok karena penasaran. Tampak Shindy mengurai pelukannya.


"Antarkan aku ke bandara Aan. Aku ingin memeluk mama dan menghiburnya. Mama pasti sangat sedih." ujar Shindy menatap kedua mata Andrian


"Aku akan mengantarmu Shin. Tenanglah. Sekarang biar ku pesankan tiket penerbangan tercepat untuk hari ini." ucap Andrian tanpa ragu


Retha yang juga ada disana, memilih meninggalkan ruangan dengan wajah muruh. Kaki kecilnya melangkah menuju toilet dan berniat menumpahkan kesedihannya disana. Hatinya merasa sakit, melihat suaminya masih begitu peduli pada mantannya. Bahkan tidak sekalipun, Andrian meminta pendapatnya untuk mengambil keputusan.


Andrian masih sibuk dengan ponselnya tatkala Shindy menarik lengannya untuk mengajaknya bicara.


"Dimana istrimu Aan?" tanya Shindy menyadari Retha tidak ada disana


Andrian meletakkan ponselnya. Kebingungan karena istrinya pergi tanpa mengatakan apapun.

__ADS_1


"Sebentar Shin, aku akan mencarinya. Aku sudah memesan tiket untuk kita berdua. Kita akan berangkat malam ini." tukas Andrian meski kondisinya dan Shindy belum pulih benar


"Berdua? Bagaimana dengan istrimu?" tanya Shindy


"Aku akan mengantarnya pulang lebih dulu. Dia hamil besar, jadi ku rasa dia tidak perlu ikut. Aku takut terjadi apa-apa dengan kehamilannya nanti." terang Andrian


"Bukan itu maksudku Aan. Jika kau ikut denganku, apa kau tega meninggalkannya sendirian? Dia sedang hamil!" balas Shindy


Andrian terdiam sesaat untuk mencerna perkataan Shindy.


"Dia sudah terbiasa ku tinggal sendirian Shin jika aku bekerja. Lagi pula, kamu nggak mungkin kesana sendiri. Kamu belum sembuh, aku nggak tega Shin." balas Andrian seolah tidak mempermasalahkan hal itu


"Aan, meninggalkan dia pada saat kau bekerja, dengan meninggalkan dia dan pergi denganku adalah hal yang berbeda. Apa kamu nggak mikir perasaannya juga?" terang Shindy


Andrian tampak berpikir sebentar.


"Sudahlah, pergi sekarang! Cari istrimu, aku khawatir." titah Shindy dan entah kenapa Andrian langsung bergegas keluar untuk mencari Retha


Andrian bertanya ke beberapa orang yang dia temui. Bahkan masuk ke ruang KIA yang sempat porak poranda kemarin. Rumah sakit itu tidak terlalu luas, namun gadis mungil sepertinya masih sulit ditemukan. Andrian berjalan tertatih tatkala ngilu di perutnya kembali dia rasakan. Andrian terduduk sebentar di kursi tunggu dekat toilet. Tiba-tiba dia mendengar suara tangisan wanita dari dalam toilet. Andrian masuk secara perlahan, membuka biliknya satu per satu. Dan, benar saja, tampak Retha tengah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Tha, Margaretha. Kamu nggak apa-apa kan?" Bodoh, bisa-bisanya dia bertanya begitu.


"Kenapa mencariku? Sudah puas memeluk gadis cantik Mas itu?" balas Retha sengit


"Apa maksudmu? Aku hanya..." Andrian menyadari, dia telah melakukan sebuah kesalahan.


"Maafkan aku Tha, aku kelepasan. Aku benar-benar tidak tega melihatnya menangis, apalagi..."


"Tapi Mas tega membuatku menangis!" bantah Retha


"Tidak sayang, tidak sama sekali. Aku hanya ingin menenangkannya, baiklah aku salah. Maaf. Jangan bersedih terus, kasihan anak kita nanti." ujar Andrian berusaha membujuk Retha


"Pergilah, lakukan apapun yang Mas inginkan. Jangan perdulikan aku. Jika menurut Mas, dia lebih membutuhkan Mas. Tinggalkan aku sendiri!" ujar Retha menolak untuk berbaikan


"Jangan seperti ini sayang. Aku tidak ingin meninggalkanmu, baiklah ku turuti apa maumu. Aku akan membatalkan ikut bersama Shindy. Aku akan memesankan taksi untuknya saja tolong jangan marah sayang." ujar Andrian entah kenapa ikut menangis

__ADS_1


"Mas mau melakukannya, untukku? Semudah itu?" tanya Retha dengan mata yang masih berkaca-kaca


"Apapun sayang. Sebentar aku batalkan dulu tiketnya." ucap Andrian mengotak atik ponselnya


"Jangan Mas!"


Andrian menoleh heran ke arah Retha.


"Pesankan satu tiket lagi untukku, aku sangat merindukan tante. Aku juga ingin ikut kesana." ucap Retha


"Tapi sayang, kamu sedang hamil besar. Pamali jika bepergian jauh." cegah Andrian.


"Nggak apa-apa Mas. Asal dengan Mas, aku baik-baik saja. Kalian belum sembuh, aku takut kalian kenapa-napa." ucap Retha


"Benarkah karena itu? Bukankah kamu sedang cemburu?" selidik Andrian sambil menggoda istrinya


"Ya sudah tidak usah dipesankan! Pergilah sana. Aku akan pulang sendiri." marah Retha seraya mendorong Andrian


Dengan sigap, Andrian memeluk istrinya itu. Mengecup gemas kedua pipinya yang chubby.


"Aku mencintaimu sayang." ucapnya lirih


"Ayo kembali, kita harus berkemas." ajak Retha


Malam itu juga, setelah membawa Shindy singgah sebentar di rumah mereka untuk makan malam. Mereka bertiga mengambil penerbangan pukul 19.40. Andrian sudah memesan taksi untuk mereka. Setelah meminta sang sopir memasukkan tas ke dalam bagasi. Andrian mempersilahkan Shindy duduk di sebelah Retha. Sementara dirinya di depan bersama sopir.


"Ini penerbangan pertamaku. Semoga aku tidak mabuk." gumam Retha yang sebenarnya ditujukan pada Andrian


"Jika mabuk, bilang saja ya. Aku membawa minyak kayu putih dan permen." tawar Shindy mencoba mengakrabkan diri


Retha hanya tersenyum. Perjalanan mereka terasa cukup lama karena saling diam selama di mobil. Setibanya di bandara, tanpa sengaja Andrian menggandeng tangan Retha dan meninggalkan Shindy sendirian di belakang. Sontak Shindy kembali menatap sendu ke arah mereka.


"Mas, dilihatin Mbak Shindy." Ujar Retha mengingatkan


Andrian beralih ke arah Shindy dan menarik tangannya. Hingga dua wanita itu berada dalam rengkuhannya. Retha dan Shindy saling bertatapan. Entah apa artinya itu, Shindy hanya tak mau ambil pusing. Andrian bahkan sudah mengabari Ivan untuk menjemput mereka satu jam lagi begitu sampai.

__ADS_1


Ivan yang berdiri di depan pintu kedatangan mulai terasa jenuh, harusnya mereka sudah sampai. Ivan terpaksa menunda pemakaman Pak Anton hanya karena menunggu kedatangan Shindy. Kini dia duduk sambil menghabiskan sisa rokok di tangannya. Dari arah depan datang seseorang yang berlari ke arahnya.


"Ivan..."


__ADS_2