DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)

DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)
Tidak Salah Ingat


__ADS_3

Shindy kembali ke ruangannya bersama dengan Pak Wayan. Tangannya yang bebas membuka botol kecap itu dengan mudah. Tunggu! Dimana infusnya, jangan bilang kali ini jarumnya masuk lagi ke dalam kulitnya. Shindy mengamati sejenak pergelangan tangannya. Tidak ada jarum. Mungkin terjatuh. Pikirnya.


"Saya mau pulang dulu. Mau jemput istri saya untuk gantian jaga kamu disini. Kamu nitip apa?" tawar Pak Wayan ramah


"Camilan boleh?" tanya Shindy


"Nanti saya bawakan. Jangan keluar seperti tadi. Saya khawatir." tukas pak Wayan


"Saya sudah baikan kok. Saya akan tetap disini paman sampai Bu Wayan datang." ujar Shindy dengan seulas senyum


Pak Wayan pun meninggalkan Shindy sendirian. Raut muka ceria miliknya seketika berubah menjadi guratan gusar.


"Bagaimana ini, pria itu tidak bisa diajak kerja sama . Ck.. Apa aku memang harus mencabut laporannya, tapi jika aku melakukannya, polisi akan menganggapku main-main. Apalagi sudah jelas bukti kebakaran itu di depan mata. Aku bisa terkena masalah." gumam Shindy


"Kalau aku membiarkannya diproses secara hukum, pasti.. Aku akan mati." Shindy tertunduk sedih. Benar kemarin dia menginginkan kematian untuknya, tapi sekarang dia ingin hidup. Setidaknya dia harus tetap baik-baik saja sampai Ivan kembali. Meski kebenaran dari surat yang tertulis itu masih dipertanyakan. Shindy tetap berusaha mempercayainya.


"Aku harus mencari tahu lagi. Aku tidak bisa menyerah begitu saja, aku harus tahu posisi Ivan dan Rama. Semoga luka ini cepat pulih, aku tidak sabar menyelidiki dua rumah itu." Shindy masih bermonolog dengan dirinya sendiri.


Bubur dingin yang sudah tercampur dengan kecap terabaikan begitu saja. Kini di otaknya hanya terpikir rencana-renacana untuk menemukan jawaban atas segala teka-teki yang ada.


Bu Wayan datang tepat saat jam kunjung pasien berakhir. Dia datang seorang diri dengan berbagai buah dan camilan di tas kainnya. Langkahnya menyusuri kawasan rumah sakit yang mulai sepi. Di tengah lorong Bu Wayan merasakan seseorang tengah menguntitnya. Bu Wayan menengok ke belakang. Tidak ada siapapun selain beberapa perawat yang sibuk dengan urusannya.


"Seperti ada yang mengikuti, tapi siapa?" Bu Wayan mempercepat langkahnya.


BRUK.. Seseorang menabrak kasar ke arahnya hingga bawaannya terlepas.


"Hei, hati-hati kalau jalan." pekiknya


Pria itu tak memperdulikannya, dia terus berjalan dengan topi hitam dan naik ke tangga evakuasi.


"Bu Wayan, kok baru datang? Pak Wayan nggak ikut?" Tanya Shindy begitu Bu Wayan masuk ke ruangannya.


"Jam besuk sudah habis, jadi Pak Wayan tidak bisa masuk. Ini pesanan kamu, kuenya rusak tadi ditabrak orang pas jalan kesini." terangnya dengan wajah cemberut


"Ya ampun. Tapi Bu Wayan nggak apa-apa kan?" tanya Shindy cemas.


"Saya sih nggak apa-apa. Cuma itu rotinya jatuh." Tunjuk Bu Wayan pada sekotak brownies bertopping yang sudah berantakan.


"Nggak apa-apa kok Bu, masih bisa dimakan ini. Terima kasih ya Bu." Shindy mengambil sendok bekas buburnya tadi dan mulai makan kue di tangannya.


Bu Wayan hanya tersenyum menatap gadis di depannya itu. "Kamu persis seperti Mitha keponakan saya. Suka makan cokelat waktu ngidam dulu."


Shindy hanya tersenyum tipis. "Anggap saja saya keponakan Bu Wayan. Ya, meski saya nggak bisa menggantikan Mitha setidaknya bisa mengobati rasa rindu ibu."


"Kamu, tinggal saja di rumah Made Nak. Lagi pula rumah itu kosong sekarang. Saya berharap, pembunuhnya segera ditemukan dan jasadnya bisa dimakamkan secara layak." tukas Bu Wayan menitikkan air mata.


"Sabar ya Bu. Saya juga berharap begitu."

__ADS_1


Meskipun saya tahu, Ivan belum meninggal. Setidaknya jika Rama tertangkap, semua kejahatannya pada keluarga Ivan bisa dipertanggung jawabkan. Lanjut Shindy dalam hati.


Rama mempercepat langkahnya, hingga dia menabrak seseorang di lorong. Namun pria itu sama sekali tidak peduli dengan ibu-ibu yang menurutnya sangat mengganggu. Rama berjalan naik ke tangga evakuasi. Membuka paksa pintu itu dengan kakinya.


Dua orang di hadapannya, melihatnya dengan tatapan mengintimidasi.


"Kenapa kau terus bersikap bodoh?" pertanyaan bernada dingin itu terdengar.


"Maaf tuan saya tidak berpikir dengan jernih." tukas Rama dengan kepala tertunduk.


"Dimana otakmu?" tanya Tommy dengan wajah serius


Rama terdiam sambil terus menunduk.


"Katakan dimana otakmu!"


BUG... Bogem mentah mengenai perut Rama beberapa kali. Rama terduduk di roftoop dengan kesakitan.


"Berapa kali ku katakan, kau tidak boleh membunuhnya! Kau bahkan sudah melukainya dua kali, kau juga membuat Bowo terluka parah. Bisnisku terhambat karena kebodohanmu." Maki Tommy


Sebuah tendangan melayang di kepala Rama. Rama tersungkur dengan pelipisnya yang terluka.


"Aku tidak mau tahu, kau harus bertanggung jawab. Kau rawat Ivan sampai sembuh agar dia bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik. Kau mengerti Rama?" ujar Tommy dengan nada tinggi


"Iya.. Aku mengerti tuan." ujar Rama ketakutan


Tangan kanan Rony mencengkeram kerah baju Rama dan memaksanya berdiri. Tangan itu mendorong Rama ke arah tangga evakuasi dan membuatnya menuruti perintah Tommy.


Rama berjalan bagaikan tawanan yang siap di eksekusi, mengikuti Tommy dan dikawal oleh Rony yang tidak melepaskan cengkeramannya. Mereka bertiga melesat meninggalkan rumah sakit dengan limousin hitam milik Tommy. Berusaha menghilangkan jejak dari penyelidikan polisi.


"Jika kita kembali ke rumah itu, bagaimana jika polisi masih menyelidikinya?" tanya Rama ketakutan


"Maka hanya kau yang akan dipenjara. Akui semua perbuatanmu, dan mendekamlah disana. Juga, jangan sesekali mencoba membongkar bisnisku pada mereka, atau kematian mengerikan akan kau alami!" balas Tommy seolah tak peduli


Rama hanya diam. Tak lagi berani menolak atau berkomentar. Hidupnya, karirnya sudah diujung tanduk. Kini, dia hanya bisa bergantung pada Tommy.


****************


Shindy tengah duduk bersandar pada bantal, tatkala dokter melakukan pemeriksaan pagi itu.


"Kondisinya sudah bagus. Untuk luka jahitan luarnya sudah kering. Tinggal pengobatan dari dalam. Mbak sudah bisa pulang hari ini." tukas dokter itu dengan senyuman di bibirnya


"Saya perlu cek kandungan juga nggak dok? Soalnya kan beberapa hari ini saya konsumsi obat-obatan." tanya Shindy


"Sebaiknya begitu, atau Mbak bisa periksa dulu ke KIA sebelum pulang." tawar dokter itu


"Baik dok. Setelah ini saya kesana." ujar Shindy

__ADS_1


Dokter itu mengangguk sopan ke arah Bu Wayan dan pergi meninggalkan ruangan Shindy.


"Bu Wayan, saya mau ke periksa kehamilan dulu. Bu Wayan nunggu disini atau ikut?" tanya Shindy


"Ikut saja ya. Daripada saya sendirian nunggu Pak Wayan."


Dua wanita itu berjalan beriringan menuju ruang KIA. Beruntungnya ruang antrian tidak terlalu banyak. Shindy duduk di ruang tunggu dengan antrian no. 8 yang dipegangnya. Shindy masih sibuk dengan nomor antrian itu, tatkala seseorang yang masih dibungkus perban didorong melewatinya menuju ke bagian depan rumah sakit.


BUK... Kantong cairan infus itu terjatuh. Suara itu menarik perhatian Shindy. Tampak perawat bergegas memungutnya dan kembali memasangkan di tiangnya. Tangan kanan pasien itu terkulai ke samping. Sebuah tanda lahir berupa tahi lalat ada di punggung tangannya.


"Itu.. Seperti pernah lihat. Tapi dimana?" gumam Shindy mengamati pasien itu.


"Nomor delapan." panggilan dari perawat mengalihkan perhatian Shindy.


Shindy pun bergegas masuk dan melakukan pemeriksaan. Shindy berbaring di ranjang dengan posisi terlentang. Baju pasiennya sedikit diangkat. Gel dingin itu kembali dia rasakan menyentuh permukaan kulit perutnya. Sebuah alat digerakkan di atasnya. Tampak bayangan bergerak seperti denyutan di layar. Berkedut teratur seirama dengan detak jantungnya. Shindy tersenyum mengamati buah hatinya yang tumbuh dengan sehat.


"Janinnya sehat ya. Usianya sudah 16 minggu. Dijaga terus ya pola makannya, istirahat juga harus cukup. Jangan stress dan banyak pikiran ya Mbak." tukas dokter itu sambil meletakkan kembali tranducer ke tempatnya.


"Dok, saya mau konsul." ujar Shindy turun dari ranjangnya.


"Iya silahkan Mbak."


"Beberapa hari ini saya dirawat, saya pakai infus juga minum beberapa obat. Apa tidak apa-apa untuk kehamilan saya?" tanya Shindy


"Boleh jika obat yang diminum sesuai anjuran dokter. Tetapi jangan terlalu sering ya. Lebih baik jaga kesehatan agar tidak sering sakit." saran dokter itu


"Baik dok."


"Ini saya kasih resep vitamin untuk penguat kandungan ya. Tolong ditebus dan diminum teratur." ucap dokter itu mengakhiri perbincangan mereka


Shindy keluar dari ruang KIA, bersama Bu Wayan mereka berniat kembali ke kamar inap sebelumnya untuk berberes. Namun, pasien yang tadi dilihatnya sudah dipindahkan di kursi roda dekat ruang administrasi. Ada seorang pria yang tak asing baginya berdiri dan membayar seluruh biaya perawatan pasien. Shindy mengamati dengan detail orang yang berdiri di ruang informasi itu.


"Itu.." Shindy berniat menghampiri mereka. Entah kenapa dia begitu penasaran dengan pria yang duduk di kursi roda.


Shindy berlari mengikuti mereka, meninggalkan Bu Wayan di lorong. Semakin Shindy mengejar, pria itu semakin cepat mendorong. Seolah sengaja menghindari Shindy.


BUG.. Seseorang menabrak Shindy dan Shindy pun terduduk.


"Maaf ya Mbak. Saya asyik main ponsel tadi." ucap seorang wanita dengan anak kecil dalam gandengannya


"Nggak apa-apa kok Mbak. Saya juga salah. Saya lari nggak lihat jalan." Shindy kembali menoleh ke arah pria tadi.


"Kemana mereka?" Shindy terus menguntit hingga ke parkiran depan. Sambil celingukan mencari sosok pria yang seperti dikenalnya tadi.


"Ck.. Nggak ada. Ya sudahlah." Shindy berbalik masuk ke dalam rumah sakit.


Sementara pria yang dicarinya ternyata masih berdiri dengan memegang kursi roda di samping tembok UGD.

__ADS_1


"Rony, aku sudah di depan. Tolong bawa mobilnya kemari."


__ADS_2