
Dokter Adi berlarian bersama dengan perawat yang mendatanginya. Sedangkan Rama masih berdiri dengan santainya menatap ke arah bayi dalam inkubator itu. Rama mengeluarkan ponselnya, mengambil beberapa gambar dan mengirimkan pada tuannya. Dengan santai Rama keluar dari ruang NICU, kakinya melangkah menuju ke halaman depan rumah sakit. Dia berniat mengambil imbalan sesuai yang Tommy janjikan untuknya.
Tak butuh waktu lama, mobil yang Rama kendarai sampai di persinggahan yang dulu dia tempati. Beberapa mobil terparkir disana, juga satu mobil yang tak asing baginya. "Bowo" dia sudah sembuh?
Rama melangkah masuk dan disambut hangat oleh kawan besarnya itu. Mereka beriringan menghampiri Tommy yang tengah menyesap anggur merah di tangannya.
"Sesuai yang tuan harapkan. Bayiku perempuan." tukas Rama mengawali pembicaraan
"Lalu, kapan kau bisa membawanya padaku?" tanya Tommy
"Dokter bilang setelah 2 minggu, sampai kondisi bayi itu membaik." terang Rama
"Dia prematur?" terka Tommy
"Benar tuan. Shindy mengalami pendarahan, jadi bayinya harus dikeluarkan sebelum waktunya." ujar Rama santai
"Duduklah dulu. Mari bicara sambil .." Tommy melemparkan sebungkus rokok beserta koreknya pada Rama
Rama menyulut api dan menghisap gumpalan tembakau itu dengan mulutnya.
"Aku akan memberimu 50 juta saat kau membawa bayimu kemari." tukas Tommy dengan entengnya
Rama tersenyum, merasa bisa mengisi pundi-pundi keuangannya lagi.
"Aku punya penawaran yang bagus untukmu!" ujar Tommy meletakkan gelasnya
"Jika kau bisa menghabisi Anton Rahardja beserta keluarganya, maka aku akan memberimu yang lebih banyak lagi. Aku tidak bisa mengandalkan Ivan belakangan ini. Dia. Menjadi sensitif dan tidak tegaan. Entahlah! Mungkin dia jatuh cinta pada gadismu itu!" ujar Tommy memberi isyarat agar Rony mendekat
"Bawakan barang itu untuknya!" titah Tommy dan hanya dibalas anggukan oleh Rony
"Berapa yang akan ku dapatkan Tuan? Kurasa membunuh mertuaku sendiri tidaklah sulit." ujar Rama memandang remeh tugas yang diembannya
__ADS_1
"Jangan sombong Ram! Dia bukan orang biasa. Dia akan selalu diikuti oleh penjaga dan pengawal! Belum lagi, koneksinya dengan petinggi disana tidak bisa diragukan lagi. Mungkin kau akan kesulitan menghadapinya." ujar Tommy
"Tidak masalah tuan, aku pernah tinggal sebentar di rumah itu. Jadi, aku tau celah untuk melakukannya." ujar Rama
"Baiklah. Lakukan dengan segera. Aku tidak sabar menunggu hakku kembali." tukas Tommy menyalakan cerutunya
"Dimana gadismu itu Ram?" tanya Bowo
"Dia di rumah sakit. Dokter bilang dia kritis, tapi aku belum menengoknya lagi tadi. Kau merindukannya?" seloroh Rama seolah mengerti maksud Bowo
"Apakah boleh?" tanya Bowo dengan tatapan m*sumnya.
"Setelah dia keluar dari rumah sakit, aku akan menyerahkan gadis itu pada kalian sebagai bukti kesetiaanku pada tuan Tommy." jawab Rama dengan entengnya
"Bagus! Ron berikan bonus tambahan untuk Rama!" ujar Tommy
Rony kembali dengan dua benda aneh berbungkus kertas coklat dan sebotol cairan bening lengkap dengan suntiknya. Rama menerima dengan senang hati dan langsung menggunakannya saat itu juga. Tanpa sungkan, Rama menyandarkan kepalanya pada bantalan sofa. Merasakan sensasi aneh dari benda cair di tangannya. Candu yang begitu menyenangkan baginya.
"Tidak bisa dipercaya!" gumam Ivan.
Ivan menarik dirinya masuk ke dalam kamar. Dengan perlengkapan seadanya, Ivan keluar menuju balkon. Menatap sekilas ke arah halaman samping. Jarak dari lantai dua tidak begitu jauh. Setelah berancang-ancang cukup lama, akhirnya Ivan melompat dari balkon dan berguling beberapa kali di halaman.
Ivan berlari ke depan dan membuka gerbang dengan sangat pelan. Setelah berhasil mendapatkan taksi, dia berniat menuju rumah sakit untuk mencari Shindy. Tidak mudah memang, mengingat Rama tidak menyebutkan nama rumah sakitnya. Beberapa kali Ivan kembali dengan tangan kosong hingga tiba di rumah sakit tempat Shindy dirawat.
"Pasien nifas atas nama Shindy dirawat di ruang ICU. Sebelah sana." terang karyawan bagian informasi
Ivan berlari ke arah yang ditunjukkan. Beberapa kali menoleh mencari tulisan ICU, dan tiba pada sebuah pintu dengan kaca besar di depannya. Kakinya mendekat, melihat sekilas dari kaca itu, tampak bayi-bayi kecil sedang dirawat di dalam ruang inkubator. Ivan membelokkan langkahnya, menghampiri sebuah box bayi perempuan dengan tulisan *Putri Nona Shindy*
Ivan mengelus pelan kaca inkubator itu, setetes air matanya jatuh. Bayi ini, mengingatkan pada keponakannya yang malang dulu. Putra pertama Mitha yang bahkan tidak sempat dilahirkan ke dunia.
"Kau.. Cantik nak. Sangat cantik. Persis seperti ibumu." ucapnya dengan air mata beruraian. Ivan mengagumi sejenak bayi mungil itu sebelum akhirnya teringat dengan tujuannya kemari.
__ADS_1
Ivan mencari kembali ruang ICU, hingga sempat bertabrakan sebentar dengan seorang pria yang tidak dia kenali.
"Maaf." ucap Ivan sambil menganggukkan kepalanya
"Tidak apa-apa." ucap lelaki itu sambil memapah seorang perempuan hamil juga
"Apa kau tau letak ruang ICU?" tanya Ivan
"Owh, sebelah sana" tunjuk lelaki itu.
"Terima kasih." balas Ivan bergegas menuju ke arah yang ditunjuk lelaki itu.
RUANG ICU. Ivan menguatkan hatinya dulu sebelum membuka ruangan. Hingga tampak seorang gadis yang dia kenali terbaring dengan bermacam alat di tubuhnya. Air matanya kembali lolos. Menatap nanar ke arah Shindy yang sudah sepucat mayat. Ivan mendekatinya perlahan. Tubuh kurus itu tampak menyedihkan baginya.
"Shindy.. Inikah kau? Kenapa kau bisa sampai seperti ini? Apa kau kesakitan?" tanyanya pada Shindy yang bahkan masih terpejam
"Aku sudah melihat putrimu, dia cantik seperti dirimu. Bangunlah Shin, lindungi putrimu. Jangan sampai Rama membawanya pada Tommy. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya, dan padamu juga. Aku ingin membawamu lari Shin, tapi melihat kondisimu. Aku tidak yakin bisa melakukannya." ujar Ivan dengan tangis sesenggukan.
Ivan mengusap kepala Shindy beberapa kali. Merasakan helaian rambut wanita yang disayanginya dan sejak lama dia rindukan.
"Tommy memberinya perintah, untuk membunuh papamu dan semua keluargamu. Jadi, aku harus lebih cepat menemukan mereka. Agar aku bisa menyelamatkannya. Aku tidak ingin, kau bernasib sama sepertiku Shin. Hidup tanpa siapapun, rasanya.. Menyakitkan." Ivan menumpahkan segala yang dia pendam dengan baik selama ini.
Memang dia tampak keras dan kejam di luarnya. Tapi jauh di dalam hatinya, dia sosok yang lembut dan penyayang. Yang mungkin tidak semua orang menyadarinya.
Ivan mengecup kening Shindy sekilas.
"Aku harus pergi sekarang Shin. Sebelum semuanya terlambat. Cepatlah sembuh. Aku mencintaimu."
Ivan meninggalkan secarik kertas berisi nomor ponselnya. Berharap ketika Shindy bangun, dia akan menghubunginya. Ivan keluar ruangan sambil terus mengusap pipinya yang basah.
Tanpa dia sadari, Shindy yang sudah sadar sepenuhnya mendengar semua yang dia katakan. Shindy membuka matanya, berusaha bangun dari posisi tidurnya. Setelah berhasil melepas alat dari mulutnya, tampak kedua tangannya mengepal dengan kuat. Tatapan tajam disertai dengan air mata penyesalan menghiasi wajah cantiknya.
__ADS_1
"Aku tidak akan memaafkanmu Ram! Kau harus merasakan penderitaan yang selama ini aku rasakan! Kau bahkan berani melemparkan kesalahanmu pada Ivan, yang jelas ada di pihakku. Kau harus menanggung semuanya kesalahanmu ini!"