DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)

DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)
Terbongkarnya rahasia


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Rama dan Shindy sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing. Entah kenapa pernyataan Rama barusan membuat isi otak Shindy menjadi tak karuan. Rasa takut dan cemas bercampur menghancurkan hatinya perlahan. Rencana Tommy untuk membunuh papanya, juga Ivan lah yang akan melakukannya. Shindy tidak berdaya, bahkan dia tidak bisa menghubungi keduanya. Bertemu pun tidak pernah sama sekali. Ponsel dia juga tak punya. Shindy termangu cukup lama, hingga tak menyadari mobil putih itu sudah terparkir di bawah apartementnya.


"Kau tidak mau turun? Kalau begitu, tidurlah di dalam mobil." tukas Rama keluar dari mobil dan mengunci pintu


"Buka Ram! Aku harus keluar!" teriak Shindy


Rama membukakan pintunya.


"Lain kali, jangan terlalu banyak berpikir." tukas Rama berjalan mendahului Shindy


Shindy berjalan gontai menuju lift. Menekan angka yang sama dengan Rama dan kembali ke apartement mereka. Shindy masuk ke dalam kamarnya untuk merebahkan diri. Kepalanya terasa pening.


"Tidurlah dengan segera. Aku akan siapkan susumu di dapur. Setelah itu, aku pergi bekerja!"ujar Rama di depan pintu kamar Shindy yang masih terbuka


"Jangan minum-minum lagi Ram. Aku tidak kuat dengan baunya!" pesan Shindy dengan mata setengah terpejam


"Memangnya siapa dirimu? Sudah berani mengaturku ya sekarang?" ledek Rama


"Kau melakukan itu dengan kasar saat mabuk, aku hanya takut bayiku terluka." jelas Shindy


"Jangan beralasan! Kau sendiri juga menikmatinya!" ucap Rama berlalu pergi


Shindy menarik selimut tebalnya, sama sekali tidak berniat mandi karena seluruh tubuhnya terasa remuk. Kehamilannya yang masuk bulan ke tujuh, menyebabkan dirinya selalu merasa lemas dan malas. Apalagi, jika berdiri terlalu lama, kaki Shindy akan semakin bengkak dan nyeri.


"Aku tidak tahu, ternyata hamil akan semerepotkan ini. Tapi, sudahlah. Nantinya akan terbayarkan jika anakku bisa lahir dengan selamat." Shindy bermonolog pada bayangan dirinya di cermin. Perutnya sedikit membulat. Kadang-kadang gerakan halus begitu terasa saat malam hari seperti ini.


Shindy berniat keluar kamar, untuk meminum susunya sesuai dengan yang telah Rama katakan. Namun belum sampai di dapur, samar Shindy mendengar suara Rama berbicara pada seseorang.


"Tenanglah Tuan. Gadis itu, aman bersamaku. Dia dalam pengawasanku dan selalu menurutiku. Ku dengar usia kehamilannya jalan tujuh bulan. Jadi dua bulan lagi, aku akan memberikan bayinya padamu sesuai dengan yang sudah kita sepakati." ucapan itu terdengar lantang dari mulut Rama sendiri


Shindy merosot di lantai, "Jadi ini niatmu membawaku kembali Ram? Kau akan, mengambil anakku dan memberikannya pada Tommy? Nggak! Tidak akan ku biarkan."


Shindy segera bangkit menuju kamarnya, berniat mandi sembari menunggu Rama pergi dari apartemennya. Shindy berniat kabur, karena bagaimanapun keselamatan bayinya adalah prioritasnya sekarang. Shindy mendengarkan langkah kaki Rama dari dalam kamar mandi. Rama tampak masuk ke kamarnya sebentar, entah apa yang dia lakukan. Lalu langkah terburu terdengar menjauh dari kamarnya.

__ADS_1


Shindy keluar kamar mandi dan memakai pakaian hangat. Hodie tebal dengan kantong besar di depan cukup hangat untuk dirinya keluar di malam selarut itu. Hampir pukul 11 malam. Shindy mengendap menuju ke pintu keluar apartemen. Setelah mengamati tidak ada siapapun, Shindy keluar dari dari sana. Lorong apartemen itu tampak sepi. Dari arah berlawanan, tampak Rama sedang berjalan ke arahnya. Shindy membalikkan badannya dan berlari menggapai lift sebelah selatan. Rama berusaha membuka pintu kamarnya saat Shindy menunggu pintu lift terbuka.


Ketika Shindy masuk ke dalam lift, Rama juga masuk ke dalam apartementnya. Shindy menunggu dengan gusar untuk lift sampai ke lantai bawah. Segera setelah pintunya membuka, Shindy berlari keluar dan mencegat asal ke arah taksi online yang lewat. Shindy menangkap sosok Rama yang berlari mengejarnya.


"Lebih cepat Pak, bawa saya kemanapun asal saya bisa pergi jauh dari sini." tukas Shindy yang juga tidak punya tujuan


Taksi itu melaju membelah jalanan yang mulai sepi. Penerangan lampu jalan dimatikan satu per satu, hanya lampu kuning dan sorotan cahaya dari teras wargalah yang masih menyala.


"Kita mau kemana Mbak?" tanya sopir itu untuk kesekian kalinya.


Sedari tadi, Shindy hanya berputar-putar saja. Shindy berpikir keras, dia bahkan tidak tahu daerah Bali. Tiba-tiba dia teringat jembatan kuning tempat Ivan mengajaknya dulu.


"Aku ingin ke jembatan kuning Pak." tukas Shindy


"Oalah, Yellow Bridge ya. Kenapa tidak bilang dari tadi?" kesal pak sopir lalu membalikkan arah mobilnya


Shindy menyiapkan beberapa lembar uang begitu sampai di tempat yang dia inginkan.


Hembusan angin pantai menerpa tubuhnya. Dingin. Suasana sepi membuat Shindy sedikit lebih tenang. Shindy berjalan pelan ke arah jembatan. Berdiri di tengah menatap lurus ke langit. Cahaya keemasan dari bulan dipantulkan ke riakan air laut yang jernih. Tak terasa air matanya menetes. Tidak menyangka mempertahankan anaknya akan sesulit ini, Shindy harus kehilangan kebahagiaannya, membayar sangat mahal dengan penderitaan dan kesakitan yang selama ini dia alami.


"Sampai kapan Tuhan, aku hanya ingin bisa hidup tenang bersama bayiku. Kenapa rasanya susah sekali? Sedang aku pun jauh dari orang tuaku. Tidak ada Ivan, teman yang bisa membantuku melewati semua ini. Punya suami pun, dia seperti itu. Aku harus bagaimana?" guman Shindy menatap nanar pemandangan indah di depannya.


Tiba-tiba perutnya terasa kram. Shindy mengaduh sambil terus memegangi perutnya yang kencang. Sepertinya bayi itu mulai bisa merasakan kesedihan Shindy. Shindy terduduk lemas di jembatan, dengan keringat dingin bercucuran dari pelipisnya. Shindy berusaha menahan sakit di perutnya.


"Bertahanlah sayang. Tolong jangan seperti ini. Sa...kit." keluh Shindy seraya menangis


"Mama, papa. Ini benar-benar sakit." guman Shindy


"Disini kau rupanya!" sepasang sepatu sneakers tampak di depan Shindy.


Shindy mendongak ke atas, untuk memastikan siapa pemilik sepatu itu.


"Rama.." gumamnya pelan.

__ADS_1


"Kau! Kenapa kau terus kabur dariku? Dasar menyusahkan!" maki Rama menarik kasar lengan Shindy


"Arrrgh.. Sakit." Shindy masih terduduk memegangi perutnya


"Kau.. Apa yang kau lakukan disini? Kita harus pulang! Kau sedang hamil, kasihan bayimu jika dia terus berada di luar saat cuaca sedang dingin begini." omel Rama


Shindy menatap tajam ke arah suaminya.


"Kenapa kau begitu peduli, bayi ini kedinginan atau tidak? Apa sekarang kau menginginkan bayimu ini? Tapi, untuk apa? Kau jelas menolaknya di awal kehamilanku! Lalu kenapa berubah pikiran?" ucapan Shindy sengaja memancing Rama. Shindy ingin mendengar langsung dari suaminya tentang niat busuk yang didengarnya tadi.


"Meski dia bukan anakku! Tapi kau adalah istriku, dan anak itu akan menjadi tanggung jawabku." ucap Rama sekenanya


"Dia anakmu Ram! Anak kandungmu! Darah dagingmu sendiri, lalu kenapa kau dengan kejam berniat menjualnya!" teriak Shindy tak kuasa menahan emosinya


Rama membelalakkan matanya. Dahinya berkerut menunjukkan keheranan atas ucapan Shindy.


"Kau kaget? Pasti kau bertanya-tanya kan kenapa aku bisa tahu semua rencanamu? Cukup Ram! Kau boleh bersikap tidak adil padaku, menghancurkan hidupku sesukamu! Tapi jangan harap kau bisa berbuat semaumu pada bayiku!" maki Shindy


Rama tidak terpengaruh pada ucapan Shindy. Dia justru berjongkok di hadapannya yang masih duduk di lantai jembatan.


"Baguslah kalau kau sudah tahu, jadi pastikan kau menjaganya dengan baik. Agar bayi itu bisa selamat, bila perlu korbankan saja nyawamu yang tidak berguna itu." balas Rama tanpa memikirkan perasaan Shindy sedikit pun.


"Kau.." Shindy membiarkan air matanya kembali lolos. Sakit hatinya semakin bertambah.


"Aku tau maksudmu memaksaku menikahimu, kau malu hidup bersama kekasihmu yang tidak seberapa kaya itu kan. Dengan kau yang punya segalanya, dia bukan apa-apa bagimu. Jadi kau merencanakan semuanya dengan matang, kau hamil dengannya dan datang padaku meminta pertanggungjawaban untuk menutupi gengsimu itu. Tapi sudahlah, setelah kupikirkan kembali. Anak h-a-ram itu berguna juga." ujar Rama panjang lebar


"Kau kejam Ram! Kau tidak punya hati! Bisa-bisanya kau menyebut anakmu sendiri sebagai anak h*a*ram! Sedang dia adalah anak kandungmu, percaya atau tidak aku hamil denganmu!" pekik Shindy meluapkan segala kesedihannya


"Berhentilah omong kosong dan ayo pergi dari sini." ujar Rama mencoba membantu Shindy berdiri.


Namun Shindy tak mampu mengangkat tubuhnya. Dia kembali terduduk dengan teriakan kesakitan. Darah segar mengalir di sela pahanya. Mata Rama membulat sempurna.


"Tidak.. Jangan sampai kau keguguran."

__ADS_1


__ADS_2