
Shindy menggeleng.
"Kau tidak bisa menyetir, tapi kau mengemudi mobil merah itu sendiri! Bisa saja kan kau yang menabraknya waktu itu? Kau saja hampir menabrakku." ujar Ivan dengan tatapan tajamnya
"Tidak.. Demi Tuhan bukan aku." elak Shindy
"Lalu kenapa kau bilang kau pernah menabrak orang? Hah!" teriak Ivan
"Duduklah dulu Van. Biar ku jelaskan semuanya?" ujar Shindy berusaha meredam emosi Ivan
"Apa yang akan kau jelaskan? Bahwa ibuku mati karena kau tabrak? Begitu kah!" bentak Ivan
"Tidak.. Ku mohon dengarkan aku. Duduklah. Mari kita bicara." Shindy kembali berkata.
Tampak Ivan menghela napas. Ia memejamkan mata sejenak.
"Maafkan aku. Aku terbawa suasana Shin." tukasnya
Ivan duduk di ranjang Shindy. Berhadapan dengannya.
"Hari itu, aku melihat Rama mencuci mobilnya. Aku melihat cairan merah mengalir turun ke tanah. Aku sempat curiga jika dia telah membunuh orang. Lalu, Rama masuk ke kamarku. Dia memberikan sebungkus nasi padaku. Dia bercerita, dia baru saja menabrak seorang ibu dengan sengaja. Dia menyebut nama ibumu. Bu Nyoman. Aku benar-benar terkejut. Aku mencoba melawannya tapi.. Aku hanya seorang wanita hamil yang lemah." Shindy memberi penjelasan
"Bu Nyoman pernah bercerita soal Mitha kakakmu, dia bilang kakakmu keracunan makanan. Tapi entah kenapa aku merasa yakin, kakakmu dibunuh oleh orang yang sama." ujar Shindy
Ivan terdiam. Hanya mengangguk tanpa menjawab apapun.
"Kau tidak terkejut?" tanya Shindy
Ivan menggeleng. "Aku sudah tahu, Rama juga korban. Seseorang telah menembak orang tuanya tepat di depan mata. Rama mengira aku yang melakukannya, aku ada disana. Aku juga memegang pistol yang sama. Tapi.. Bukan aku yang menembaknya."
"Jadi, orang tua Rama sudah meninggal?" gumam Shindy
"Kau tidak tahu? Kau istrinya! Bagaimana kau tidak tahu tentang keluarga suamimu?" tanya Ivan keheranan
"Ku pikir dia berbohong dan menyembunyikan orang tuanya di suatu tempat. Kasihan juga dia. Pria yang malang." ujar Shindy
"Aku sempat mencarimu di rumah yang lama, tapi aku tidak menemukanmu. Barang-barangmu masih di sana. Tapi kau tidak ada." ujar Ivan
"Rama membawaku ke rumah baru. Rumah di tengah perkebunan. Aku tidak tahu apa nama daerahnya. Yang jelas rumah itu terpencil. Harus melewati ladang tebu yang luas." ujar Shindy mencoba memberi penggambaran.
"Lalu, siapa yang kau tabrak?" tanya Ivan tiba-tiba
"Rama. Aku menabraknya sewaktu dia menghalangiku untuk kabur. Tapi, anehnya dia baik-baik saja. Aku dikurung beberapa hari disana, sampai hari ini aku bisa bebas." terang Shindy.
__ADS_1
"Tinggalah disini sementara. Kau akan aman bersamaku." tukas Ivan dengan seulas senyum
"Terima kasih Van."
Ivan melangkah keluar. Sebelum menutup pintu, sebuah pertanyaan muncul di benaknya.
"Kau sudah makan?"
"Belum. Aku membeli jagung tapi tertinggal di mobil Rama." ujar Shindy
"Ikutlah ke dapur. Akan ku buatkan sesuatu." ajak Ivan.
"Aku.. ingin makan keju." ujar Shindy tiba-tiba. Dorongan kuat dalam dirinya mengisyaratkan apa yang ingin dia makan.
"Keju?" Ivan tampak berpikir sejenak. "Kau pernah makan mac and Chese?"
Shindy mengangguk senang.
"Tunggu sebentar, biar aku cek bahan-bahannya." Ivan membuka kulkas hanya ada sayuran segar tanpa ayam ataupun keju.
"Mau makan di luar?" tawar Ivan dengan senyum di bibirnya
"Boleh."
Ivan mengeluarkan kembali sepeda motornya. Shindy duduk di jok belakang. Tanpa sadar tangannya melingkar memeluk Ivan. Ivan hanya tersenyum, membawa Shindy ke sebuah jembatan kuning dengan hiasan lampu di sepanjang tiangnya.
"Sudah pernah kesini?" tanya Ivan sambil memarkirkan motornya.
"Belum. Ini pertama kalinya, aku lebih sering ke luar negeri. Tapi belum pernah ke Bali. Jujur aku takjub." ungkap Shindy
Ivan menggenggam tangan Shindy, mengajaknya berjalan melewati jembatan panjang itu. Riakan air pantai di bawahnya tampak berkilauan diterpa cahaya bulan.
"Ini romantis." ujar Shindy memandang ke arah langit yang bertabur bintang.
Hembusan angin menerpa rambut panjangnya. Senyuman Shindy tampak mempesona di bawah sinar lampu. Tanpa sadar Ivan tersenyum, hanyut dalam lamunannya.
"Van, bisakah kita lebih sering pergi ke tempat seperti ini? Aku ingin menghapus segala kenangan menyedihkan sejak aku menikahi Rama." ujar Shindy
"Tentu. Aku akan selalu menemanimu." balas Ivan
"Aku, sangat berharap. Kau bisa berhenti dari pekerjaanmu Van. Pekerjaan itu, terlalu beresiko. Kau bisa berurusan dengan polisi. Juga, apa kata pamanmu jika dia tahu keponakannya seorang pengedar?" Shindy mengutarakan ganjalan di hatinya.
"Lagi pula. Siapa lagi yang akan kau perjuangkan? Maaf tapi.. Seluruh keluargamu sudah pergi. Kau tidak lagi punya alasan kuat untuk ini kan? Soal dendammu pada Rama, bisakah kau membalasnya dengan cara lain? Aku.. Tidak ingin kau menjadi pembunuh sepertinya Van." lanjut Shindy mulai menitikkan air mata.
__ADS_1
"Aku bukan pengedar. Aku hanya sopir Shin. Memang beberapa tugas yang diberikan terlalu berbahaya, namun aku tidak bisa berhenti sekarang. Meski bukan karena Rama, aku punya alasan lain." terang Ivan
Shindy menatap kedua mata Ivan. Pria itu jujur. Wajahnya lugas dan pernyataan yang terlontar terdengar tegas tanpa keraguan.
"Katakan, apa alasanmu kali ini?" tanya Shindy
Ivan berbalik menatap ke arah air yang bergelombang.
"Aku punya hutang, baru saja aku meminta gajiku selama setahun untuk membiayai operasimu." ujar Ivan
Shindy tertegun. Pria di depannya adalah orang lain, namun pengorbanannya melebihi suaminya. Rama lebih sering menyakitinya, tanpa pernah berpikir bagaimana perasaannya.
"Aku akan membantumu melunasi hutangmu Van. Aku akan bekerja untukmu!" ujar Shindy
Ivan menatap Shindy tak percaya.
"Kau sedang hamil, pikirkan saja bayimu. Aku akan cari caraku sendiri." ujar Ivan merasa tak enak
Shindy menggeleng. Kedua tangannya menggenggam jemari Ivan.
"Hutangmu ada karena menyelamatkanku. Jadi, aku juga harus bertanggung jawab melunasinya. Lagipula, membayangkanmu terlepas dari tugas mengerikan itu saja sudah memberiku semangat baru!" ujar Shindy
Ivan terdiam, terlintas sebuah pikiran aneh di otaknya. Hal yang mengganggunya selama beberapa hari terakhir.
"Shin, aku ingin bertanya? Apa kau, mengenal ini?" Ivan menunjukkan sebuah foto di ponselnya
"Papa! Dia papaku!" pekik Shindy senang
"Bagaimana kau bisa mendapatkannya?" tanya Shindy
"Tidak.. Aku hanya.. Lupakan." Ivan berniat menghentikan pembicaraannya
"Apa kau menyelidiki keluargaku Van? Kau berniat mengantarku pulang?" terka Shindy
Ivan terdiam. Pikirannya kacau, bagaimana bisa dia membunuh ayah kandung Shindy, sedang Shindy bahkan memperjuangkan segalanya untuk Ivan.
"Aku tahu kau orang baik Van. Terima kasih, sudah mencari tahu tentangku." ujar Shindy mengambil kesimpulan sendiri
"Apa yang kau lakukan, jika seseorang membunuh keluargamu?" tanya Ivan dengan hati-hati
"Apa kau, juga akan membunuhnya?" tanya Ivan lagi
Shindy menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Terlalu mudah jika pembunuh itu mati. Dia akan terbebas dari rasa bersalahnya, dia akan tenang dalam kedamaian tanpa menebus perbuatannya." ujar Shindy
"Jika seseorang dengan sengaja melukai bahkan membunuh keluargaku, maka aku akan membuatnya merasakan sakit yang sama. Agar dia tahu, bagaimana rasanya ditinggalkan oleh orang yang paling dia sayangi. Aku sendiri yang akan mengantarkan kematian pada orang itu. Kematian dalam kehidupan yang penuh kesedihan. Akan ku berikan neraka untuknya selagi masih ada di dunia."