
Shindy masih saja menangis. Dalam diam dia berharap ada seseorang yang menolongnya. Do'a dan sumpah serapah sudah dikeluarkan dari dalam hatinya. Entah bagaimana lagi, dia bisa lari dari keadaan ini.
Tatapan mesum dari pria jenggot di sebelahnya membuatnya muak. Shindy mengalihkan pandangannya ke arah jendela mobil. Tubuhnya lelah. Lengannya bahkan masih terasa nyeri. Luka yang belum sembuh kini berdarah lagi. Juga ditambah ngilu pada rahangnya yang sedari tadi disumpal kain.
"Kau milikku gadis cantik." lelaki itu mulai menyentuh pahanya
Shindy menjauhkan dirinya sambil terus meronta hingga kepalanya terbentur kaca mobil. Seketika, tangan Shindy yang terikat menyentuh knop pintu mobil. Tidak dikunci. Mobil Rama terhenti di lampu merah.
Ceklek.. Pintu itu terbuka. Tubuh Shindy menggelinding keluar. Shindy berusaha bangun. Kakinya melompat-lompat. Melewati celah mobil untuk sampai ke tepi jalan. Beberapa orang yang terkejut memutuskan untuk keluar dari mobil. Sebentar kemudian jalan menjadi macet.
"Gek, nggak apa-apa?" tanya seorang ibu berkebaya putih.
Ibu itu melepas sumpalan di mulut Shindy.
"Tolong lepaskan ini Bu." pinta Shindy menunjukkan ikatannya
"Jangan kabur gadis bodoh!" teriak Rama dari dalam mobilnya
Lampu hijau menyala. Kendaraan yang berebut jalan telah menghalangi pandangan Rama. Sesampainya di seberang jalan, Shindy sudah tidak ada.
"Sial! Gadis itu kabur! Aaaaargh!" amuknya
"Tangkap pria ini! Dia penculik!" teriak salah seorang pemuda
"Lepaskan! Dia istriku! Aku akan membawanya ke rumah sakit, tapi dia tidak mau! Itu sebabnya aku mengikatnya!" ujar Rama mencoba menenangkan keadaan
"Bohong! Dia tidak mungkin ketakutan jika kau bersikap baik padanya!" imbuh seorang pedagang
"Tangkap saja dia! Serahkan ke kantor polisi." ujar Ibu yang menolong Shindy tadi
"Lepas! Lepaskan aku." teriak Rama
"Hentikan! Dia temanku, aku yang akan mengurusnya!" ujar pria berjenggot yang baru keluar dari mobil
"Kau juga! Tangkap dia juga!" teriak Ibu tadi
Beberapa warga mengepung Rama dan Pria berjenggot itu.
__ADS_1
"Sial!" umpat Rama kesal
Sementara Shindy sudah lelah berlari. Tubuh kurusnya terduduk di sebuah gang kecil menuju pura. Perutnya terasa lapar. Malam sudah semakin larut, tubuhnya masih menggigil di jalanan. Shindy memaksa kakinya kembali berjalan. Hingga tiba di sebuah warung sederhana yag masih buka.
"Buk, saya mau makan." pinta Shindy menyandarkan punggungnya di dinding
"Gek, kok sendirian malam-malam gini. Gek tinggal dimana?" tanya penjual itu ramah
"Saya..." Shindy terdiam "Saya lupa." bohong Shindy
"Gek ini habis jatuh ya. Tangannya sampai patah gini, pasti gek lupa ingatan ya?" terka penjual itu
Shindy hanya mengangguk pelan.
"Saya buatkan mie sama telur ceplok dulu ya gek. Tunggu sebentar."
Shindy bisa sedikit bernapas lega. Rama dan pria berjenggot itu tidak lagi menemukannya. Shindy menselonjorkan kakinya. Tangannya mengusap pelan perut datarnya.
"Kuat ya anak Mama. Setelah ini, Mama janji akan membawamu ke tempat yang lebih baik. Mama akan jaga kamu Nak." ujar Shindy dengan air mata yang menetes.
Terharu karena janin itu masih bersamanya, sekaligus miris mengingat beberapa waktu yang berlalu tanpa ketenangan di hidupnya.
"Terima kasih." Shindy menyeduh kuah kental berwarna kuning itu. Gurih dan lezat. Shindy menyendok telur itu dalam satu suapan. Tak lupa menyeruput kembali kuah kaldu dari mie instan di hadapannya.
"Gek ini mau kemana?" tanya pemilik warung itu
"Saya.. Tidak tahu daerah sini Buk. Rencana saya ingin menginap, tapi saya tidak tahu dimana tempatnya." ujar Shindy
"Tidur sini saja dulu ya Gek. Besok saya antar Gek cari kos-kosan dekat sini." ujar ibu itu
"Apa boleh buk?" tanya Shindy
"Tentu boleh Gek. Mari saya antar ke dalam."
Shindy ikut masuk ke dalam rumah ber cat putih itu. Bangunan otentik yang khas dengan ukiran di pintu dan jendelanya. Lampu hias terletak di tengah ruangan dengan lampu pijar di empat sisinya. Shindy mengikuti langkah pemilik warung. Shindy terdiam, menatap sebuah foto keluarga yang terpajang di sana. Ibu pemilik warung itu dengan seorang laki-laki memakai udeng putih sedang tersenyum ke arah kamera. Di depannya duduk dua anak kecil, laki-laki dan perempuan.
"Ini, sepertinya aku pernah melihatnya." gumam Shindy mengamati sosok anak kecil di foto itu
__ADS_1
"Gek, sebelah sini kamarnya." Ibu itu membuka lebar pintu kamar paling belakang.
"Ini, kamar anak saya dulu. Sudah lama kosong. Kamu bisa tidur disini." ujar Ibu itu
Shindy masuk ke dalam kamarnya, sebuah foto wanita berwajah manis dengan sanggulan dan semanggi bertengger di kepalanya duduk bersebelahan dengan laki-laki yang dia kenali.
"Ivan? Laki-laki ini Ivan?" tanya Shindy menatap lekat laki-laki itu
"Ini Made anak bungsu saya. Dia sudah lama merantau, sejak kakaknya meninggal. Dia tidak pernah pulang lagi." ujar Ibu itu sambil mengusap foto kedua anaknya
"Made? Ini Ivan buk.." ujar Shindy memastikan.
"Iya namanya Made. Entah dimana dia sekarang. Ponselnya tidak pernah bisa dihubungi." ujar Ibu itu lagi
Shindy terdiam. Kemudian dia teringat dengan dompet yang Ivan berikan tadi. Shindy membuka dompet itu, tampak berlembar uang ratusan ribu tertata rapi di dalamnya. Sebuah foto berukuran kecil sama persis dengan yang dilihatnya di depan.
Shindy mengeluarkan kembali bermacam kartu yang tersusun di dompet Ivan. Sebuah kartu identitas bernama Made Abipraya dengan foto Ivan di dalamnya.
"Jadi, Ivan..." gumam Shindy tiba-tiba teringat kondisi Ivan yang tertusuk pisau.
"Saya harus ke rumah sakit Santa sekarang Buk." pinta Shindy setengah berlari ke arah pintu
"Jangan gek! Bahaya. Kamu lihat itu jam berapa? Nggak baik, anak gadis keluar malam-malam." ujar ibu itu menghentikan Shindy
Shindy menoleh ke arah jam dinding pukul dua dini hari.
"Istirahat dulu Gek. Besok biar saya minta adik saya antar Gek ke rumah sakit ya!" ujar ibu itu lagi
Shindy hanya menghela napas. Tubuhnya juga sudah lelah. Dia hanya ingin tidur di ranjang dan mengistirahatkan badannya.
"Kalau kamu perlu apa-apa panggil saya saja ya Gek. Nama saya Nyoman." ujar wanita itu
"Terima kasih banyak Bu Nyoman. Maaf saya banyak merepotkan." tukas Shindy
"Tidak apa-apa gek. Saya tinggal dulu ya!" ujar Bu Nyoman
Shindy merebahkan dirinya di atas ranjang. Kedua matanya perlahan terpejam. Kantuk yang sedari tadi di tahannya sudah tak kuasa ditolaknya lagi.
__ADS_1
"Akhirnya ketemu juga! Kena kau gadis bodoh!"