DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)

DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)
Terlambat


__ADS_3

Meski Ivan berkendara dengan kecepatan tinggi, namun jarak antar Pulau memangkas habis waktunya untuk tiba di rumah Shindy dengan segera. Pun halnya pencarian memusingkan, yang membuatnya kesulitan karena baru pertama kali menginjakkan kakinya di kota ini. Setelah berkutat dengan peninjau lokasi 12 jam lamanya, akhirnya Ivan tiba di sebuah rumah besar dengan pagar menjulang yang sangat kontras dengan bangunan di sekitarnya. Ivan sengaja memarkirkan mobilnya di depan lahan kosong tak jauh dari rumah itu. Ivan melihat sekilas jam di ponselnya. 02.55 dini hari. Tidak mungkin baginya, mengganggu waktu istirahat orang tua Shindy dan memilih tidur dulu malam itu. Besok pagi-pagi buta, dia akan memberi tahu mereka.


Sementara kediaman Rahardja sudah diributkan oleh kegelisahan sang Mama yang merasa telah kehilangan anak gadisnya. Bahkan Pak Anton pun telah melaporkan kepergian Shindy yang tiba-tiba tanpa bisa dihubungi sampai detik ini.


"Tenanglah Ma. Dia pasti akan ditemukan. Lagipula dia pergi bersama suaminya." terang Pak Anton


"Tapi mama merasa dia bukan pria yang baik Pa." ujar Bu Wulan


"Dia sendiri yang berulah hingga terjebak dalam pernikahan itu. Biarkan dia dewasa dan menanggung semua akibatnya." tabiat keras Pak Anton tampak tidak berubah sedikit pun


Bi Ningsih tampak sibuk menyeduh kopi tuannya, ketika panggilan nyaring Bu Wulan terdengar. Dengan tergopoh perempuan paruh baya itu berjalan ke depan. Seorang pria tampak keluar dari persembunyiannya, menaburkan bubuk dalam kertas putih dan mengaduknya bersama kopi hitam milik Pak Anton.


Bi Ningsih yang tanpa curiga membawa senampan kopi dan kue itu ke depan. Bi Ningsih melihat sekelebat pria yang dia kenali lewat dari samping rumah. Berniat menengoknya sebentar, namun panggilan sang majikan kembali bergema.


Dari pintu belakang, Ivan masuk ke dapur. Setelah sempat melihat sosok Rama yang masuk ke halaman rumah itu, kecemasan melandanya. Ivan sudah mengitari seluruh bagian luar rumah, namun Rama tak juga ditemukan. Hingga dia sampai ke dalam rumah ini dan kepergok oleh Bi Ningsih.


"Siapa kamu? Kenapa kamu ada di sini?" tanya Bi Ningsih


"Aku.. Kemarilah. Biar aku jelaskan." tukas Ivan menarik Bi Ningsih menjauh


"Aku Ivan, temannya Shindy." Ivan memperkenalkan diri untuk kali pertama


"Bohong! Nona Shindy tidak punya teman laki-laki. Dia sering keluar bersama teman ceweknya." sergah Bi Ningsih


"Tolong dengarkan dulu Bi. Shindy ada di Bali sekarang, dia sedang tidak baik-baik saja. Dia disakiti dengan suaminya, bahkan bayinya dijual ke orang lain. Dan sekarang suaminya ada di sekitar sini berniat membunuh papanya." terang Ivan langsung pada intinya


"Kamu ini ngomong ngawur! Mana ada yang berani membunuh Pak Anton? Sinting kamu!" omel Bi Ningsih masih tidak percaya dengan perkataan Ivan


"Begini saja. Bawa saya menemui Pak Anton se.."

__ADS_1


Kalimat Ivan terhenti lantaran pekikan keras Bu Wulan terdengar dari depan.


"Ada apa itu?" tanya Bi Ningsih menatap heran ke arah Ivan


Mereka berdua bergegas ke depan, mengikuti asal suara tadi.


"Tuan, Bangun!" pekik Bi Ningsih mendapati majikannya tengah kejang di lantai dengan mulut yang berbusa.


Ivan dengan segera menengok ke sekitar dan mendekat ke arah gelas kopi yang sudah diminum setengahnya.


"Aroma ini.." Rama telah lebih dulu sampai dan meracuni minuman Pak Anton


Seketika Ivan berbalik ke arah dua wanita yang menangis histeris.


"Kita bawa ke rumah sakit sekarang!" ujar Ivan sambil berusaha mengangkat tubuh Pak Anton


"Siapa kamu!" pekik Bu Wulan


"Kita akan bicarakan nanti. Keselamatan suami anda lebih penting Bu." terang Ivan membawa paksa tubuh Pak Anton yang masih melotot tajam dan tampak kesakitan itu


"Katakan Bi Ningsih, siapa pria itu?" Bu Wulan masih kekeh menanyakan perihal Ivan


"Dia teman non Shindy Nyonya." balas Bu Ningsih


"Maaf menyela, ayo kita bawa Pak Anton ke rumah sakit. Sebelum terlambat." ujar Ivan lagi


Bu Wulan menarik diri dan mengambil tas di kamarnya. Begitu juga Bu Ningsih yang berteriak memanggil suaminya untuk membantu mengangkat tubuh Pak Anton.


Mereka bergegas ke rumah sakit. Selama perjalanan napas Pak Anton tersengal. Nyaris kehabisan napas karena busa putih terus keluar dari mulutnya disertai darah dari hidungnya. Samar terdengar, Pak Anton menyebut sebuah nama.

__ADS_1


"Tom... My."


Ivan terdiam, benar adanya jika Pak Anton mengenal Tommy. Pasalnya tidak mungkin Tommy membunuh papa Shindy tanpa alasan. Ivan menambah laju kendaraannya agar cepat sampai. Setelah sampai di IGD, tampak Pak Anton mulai kehilangan kesadaran. Tubuhnya terkulai lemas, saat Ivan bersama Pak Parmin memindahkannya ke ranjang. Para tenaga medis pun membawanya masuk ke ruang penanganan.


Bu Wulan menangis histeris, ketika suaminya dinyatakan meninggal karena keracunan. Dengan tidak terima, beliau mencaci maki ke arah Ivan yang dituduh sebagai pembunuh. Ivan hanya diam, tidak berniat menyanggah karena percuma menjelaskan saat kondisi Bu Wulan seperti ini.


Tak lama berselang, jenazah Pak Anton kembali dibawa keluar. Bu Wulan yang mulai sedikit tenang menempel pada badan suaminya yang mulai mendingin. Rasa kehilangan yang dalam tampak dari wajah beliau. Ivan tertegun sejenak, kembali teringat masa dimana Bu Nyoman, menangisi kepergian ayahnya kala itu. Sama seperti Bu Wulan sekarang.


"Tolong, bantu pindahkan jenazah suamiku agar bisa segera dimakamkan dengan layak." ucap Bu Wulan akhirnya


Ivan segera membantu Pak Parmin dan tenaga medis untuk memindahkan tubuh Pak Anton dengan ambulan. Ivan mengendarai mobilnya sendiri bersama Pak Parmin, mengikuti dari belakang. Terlambat baginya, menyelamatkan Pak Anton. Harusnya semalam dia masuk saja ke dalam rumah untuk memperingatkan mereka. Namun tidak ada lagi takdir yang bisa diubah. Kembali, Ivan tidak bisa memenuhi janjinya apda Shindy.


"Mas ini siapa? Kenapa bisa tahu, jika kopi Tuan beracun?" tanya Pak Parmin membuyarkan lamunan Ivan


"Saya Ivan, temannya Shindy. Saya kemari untuk memberitahu kedua orangnya, Shindy yang meminta saya menyelamatkan mereka. Tapi, saya terlambat." ucapan ambigu Ivan mengundang berbagai pertanyaan dari diri Pak Parmin


"Jika memang Mas ini mengenal Nona Shindy. Coba hubungi dia sekarang, saya harus memastikan harus mempercayai Mas atau tidak!" ujar Pak Parmin


Ivan menepikan mobilnya, segera mencari kontak Andrian di deretan nomor telepon. Tut.... Tut....


"Halo Van? Bagaimana, apa Pak Anton selamat?" tanya Andrian dengan sedikit kegaduhan disana


"Halo Ivan. Apa kau menemukan rumahku? Apa papa dan mamaku baik-baik saja? Kenapa tidak memberi kabar segera?" rentetan pertanyaan itu Shindy lontarkan dengan panik


Seketika mulut Ivan terkatup rapat, tak sanggup mengatakan kenyataan pahit yang menimpa papanya.


"Non, Non Shindy. Ini saya Parmin." Dengan sengaja, Pak Parmin merebut ponsel Ivan


"Iya Pak, bagaimana kabar mama dan papa? Tidak terjadi sesuatu yang buruk kan?" tanya Shindy terdengar nyaring

__ADS_1


"Nona, Tuan Anton... Telah meninggal."


__ADS_2