DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)

DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)
Sebuah Fakta


__ADS_3

Shindy memeluk tubuh jangkung di hadapannya. Ivan yang terperanjat hanya bisa terdiam tanpa mampu berkata-kata. Membiarkan Shindy larut dalam tangisannya adalah pilihan terbaik saat itu. Nyaris setengah jam mereka ada di posisi yang sama, ucapan Andrian melepaskan tautan antara keduanya.


“Maaf ini sudah malam, kita harus segera pulang.” Ujar Andrian


“Maaf.” Satu kata itu terlontar dari bibir Shindy


Ivan menarik koper besar yang dibawanya, sembari merangkul tubuh ringkih itu mengarah ke parkiran.


“Sepertinya kita salah mobil Mas. Itu jendela belakangnya kok nggak ada.” Ucap Retha menoleh ke arah Andrian


“Tidak, ini mobil kalian. Maafkan aku, waktu itu ..” ucapan Ivan terhenti


“Aku yang akan menggantinya Aan, setelah pemakaman papa, kita ke bengkel dan memperbaikinya.” Sela Shindy


Suami istri itu saling berpandangan. Heran juga bertanya-tanya, bagaimana kaca mobil itu bisa pecah sampai tak tersisa.


“Ehm, maaf ayo kita masuk. Kita harus segera pulang kan?” ucap Ivan


“Ah, iya. Biar aku di belakang bersama istriku.” Tukas Andrian


Shindy duduk di sebelah kursi kemudi. Matanya sembab karena terlalu banyak menangis. Ivan mengendarai mobilnya keluar dari lingkungan bandara.


“Shindy, semalam aku sampai di rumahmu setelah sempat salah jalan berkali-kali. Aku melihat rumahmu sepi, bahkan lampu jalannya sudah dimatikan jadi ku pikir lebih baik aku menunggu tidak jauh dari sana.” Ujar Ivan memulai pembicaraan


Shindy menoleh sekilas lalu kembali menatap ke jalanan.


“Pagi tadi aku terbangun karena ku dengar seseorang membuka gerbang rumahmu. Mobil papamu dikeluarkan, oleh sopirnya. Lalu aku berniat turun dan memberitahu mereka, tapi aku justru melihat Rama memanjat tembok samping rumahmu lewat pohon mangga di tegal sebelah. Aku jadi semakin panik. Sehingga aku ikut masuk lewat jalan yang sama.” Lanjut Ivan


Shindy masih tak merespon ucapan Ivan.


“Namun anehnya, aku tidak menemukan Rama di sana. Aku sudah mengelilingi rumahmu, tapi Rama tidak ada.  Sampai aku terpaksa menyelinap ke dapur lewat pintu belakang dan bertemu dengan bibi yang sedang membuatkan kopi. Aku sempat curiga dengan minuman itu, tapi aku tidak punya bukti untuk menjelaskannya. Dan mamamu memanggil bibi itu untuk membawa kopinya ke depan. Dan..”


“Cukup! Aku tidak mau dengar lagi. Aku Lelah Van, biarkan aku beristirahat.” Potong Shindy yang melempar pandangannya ke arah lain.

__ADS_1


Ivan terdiam, menatap kedua mata Shindy yang mulai terpejam. Ivan hanya bisa menghela napasnya. Ivan menengok sekilas dari kaca depan, dua orang di belakangnya sudah pulas.


“Maafkan aku.” Hanya satu kata itu yang mampu Ivan ucapkan.


Ivan melajukan mobilnya, memasuki gerbang tol penghubung agar cepat sampai ke tujuan. Matanya masih terjaga sepenuhnya, selain karena dia mengemudi. Kalutnya pikiran membuatnya enggan untuk tidur. Mobil itu membelok sebentar ke rest area. Ivan melepaskan jaket tebalnya dan menutupi tubuh ramping Shindy yang sudah terlelap. Bibirnya mengecup pelan dahi Shindy.


“Maafkan aku Shin. Maaf aku sudah gagal memenuhi janjiku.” Gumam Ivan yang tanpa sadar didengar oleh Shindy. Air mata itu lolos melewati pipinya.


“Aku akan menemukan suamimu, untuk membalaskan semua kesedihanmu selama ini Shin. Takkan ku biarkan dia lolos begitu saja! Meski aku harus berakhir di penjara karena menghabisinya, akan tidak peduli lagi.” Gumam Ivan kembali pada posisinya.


Shindy memperbaiki posisi tidurnya, takut Ivan melihat air matanya yang terus menetes. Jalanan yang lengang membuat Ivan berani menambah kecepatannya untuk cepat sampai.


Sambutan hangat dari Bu Wulan membawa Shindy masuk ke ruang tamu, jenazah Pak Anton sudah terbujur di atas dipan kayu dengan kain jarik yang menutupinya. Air mata Shindy luruh begitu saja. Kakinya berjongkok mendekati sosok papa yang sangat disayanginya itu.


“Papa, ini Shindy, Shindy pulang Pa, tolong bangunlah. Jangan tinggalin Shindy seperti ini Pa. Shindy takut.” Racauan Shindy melengkapi duka dari keluarga besar Pak Anton


“Dia dibunuh Shin. Dia di racun. Mama sudah lapor polisi, besok jenazah papamu akan dibawa untuk diautopsi.” Ujar Bu Wulan


Bu Wulan terdiam. “Dia dibunuh Shin. Jika pembunuhnya tidak ditangkap, dia pasti akan terus mengincar kita. Bisa-bisa kita yang jadi korban selanjutnya.” Bentak Bu Wulan dengan tatapan yang mengarah pada Ivan


Shindy mengikuti pandangan Bu Wulan, Benar saja Ivan baru sampai setelah mengantar Andrian dan Retha tadi.


“Dia! Dia yang membunuh papamu, tapi berlagak seperti penolong. Nyatanya dia yang pertama tahu, kalau ada racun di kopi papamu!” Tuduh Bu Wulan


Pandangan orang-orang yang melayat mengarah pada Ivan. Namun Shindy hanya terdiam tanpa tanggapan.


“Tangkap saja dia Bu! Bawa ke kantor polsi, suruh dia mengakui perbuatannya!” usul salah seorang warga


“Jika aku memang penjahatnya, kenapa aku masih berdiri disini. Harusnya aku sudah lari sedari pagi tanpa meninggalkan jejak apapun!” sanggah Ivan dengan tatapan menyedihkan


“Lalu darimana kamu tahu, ada racun dalam kopi suamiku?” teriak Bu Wulan


“Itu…” Ivan bingung hendak menjelaskan bagaimana

__ADS_1


“Kau tidak bisa menjawabnya kan?” lanjut Bu Wulan menyudutkan Ivan


“Cukup! Biar aku yang menyelidikinya sendiri besok! Sekarang, aku ingin beristirahat dulu.” Ujar Shindy dengan wajah datar.


“Pak Parmin, ikat dia dan jangan sampai kabur. Dia harus tetap disini, sampai hasil autopsi suamiku keluar!” titah Bu Wulan


Shindy menoleh ke arah. Dengan pasrahnya Ivan menyerahkan kedua tangannya untuk diikat menjadi satu. Pun Halnya dengan kedua kakinya yang diikat pada kaki kursi. Kedua matanya menatap sendu ke arah Shindy. Ada perasaan tak tega yang Shindy rasakan, namun dia memilih untuk mengabaikannya.


“Non.. Nona Shindy!” pekik Bi Ningsih membangunkan majikannya


Shindy membuka matanya perlahan, Bi Ningsih dengan segelas susu hangat di tangannya tampak sedang duduk di sisi lain ranjang.


“Maafkan Bibi mengganggu pagi-pagi non. Teman non dibawa ke kantor polisi.” Terang Bi Ningsih


“Apa!” Shindy terbangun tiba-tiba hingga kepalanya sedikit berputar


“Sebenarnya, kemarin Bibi sempat melihat Den Rama Non lewat di samping rumah. Tapi, mau bibi samperin, Bibi keburu dipanggil sama Nyonya.” Terang Bi Ningsih


“Rama? Rama beneran ada di rumah ini?” tanya Shindy memastikan


“Bibi juga nggak yakin Non, nggak mungkin juga kan dia kesini Lah Wong Non Shindy aja nggak disini.” Balas Bi Ningsih


Shindy terdiam, teringat kata-kata Ivan semalam yang mengatakan juga melihat Rama masuk ke dalam rumah ini.


“Non! Kok bengong! Ini susunya diminum dulu.” Ujar Bi Ningsih


“Taruh aja di meja Bi. Saya harus mandi dan menyusul ke kantor polisi.” Terang Shindy seraya turun dari kasurnya.


“Tapi non, kata Nyonya, Nona tidak boleh ikut campur.” Cegah Bi Ningsih


“Tapi, dia papaku Bi! Aku harus tahu kebenarannya!” balas Shindy


“Tidak ada yang perlu kamu cari tahu Shin. Tetaplah di rumah menunggu jenazah papamu dipulangkan. Berbahaya jika kau dekat dengan laki-laki itu!”

__ADS_1


__ADS_2