
Rama dengan kondisi yang sama-sama terluka berjalan masuk ke ruang KIA. Ivan menatap tajam pria di hadapannya itu.
“Ku rasa kau beruntung hari ini, kau hampir saja mati di tangan Rony!” gumamnya mendekat ke arah Ivan
“Kau ini suaminya Shindy kan? Kenapa bisa ada disini? Kalian saling mengenal?” tanya Andrian mengungkapkan keheranannya
“Bukan urusanmu!” ucap Rama dan Ivan hampir bersamaan
“Tidak ada waktu lagi, karena kau sudah tahu rencanaku. Aku akan menghabisimu sekarang juga.” Ancam Rama mengarahkan sebilah pisau lipat ke arah Ivan
Sontak Retha dan bidan itu pun beteriak panik.
“Keluarlah dulu sayang.” Pinta Andrian
“Nggak Mas. Ini bahaya, ayo kita pergi dan lapor security!” ajak Retha
“Tidak, aku harus melerainya. Jangan sampai mereka saling membunuh disini.” Sergah Andrian
“Bu Bidan, tolong ajak istriku keluar.” Ujar Andrian
“Baik Pak. Kami akan panggil pihak keamanan untuk segera datang.” Ujar Bu Bidan
Andrian mengangguk mengerti, perlahan dia mendekati kedua laki-laki yang tengah adu kekuatan itu. Ivan terbaring di lantai, di bawah apitan kaki Rama yang berusaha menusukkan pisau lipat di leher Ivan. Andrian melirik sekitarnya, mengambil sebuah kursi plastik dan memukulkannya dengan keras ke punggung Rama. BRAK.. Kursi itu pecah menjadi beberapa bagian. Rama yang merasakan nyeri di seluruh punggungnya berbalik menyerang Andrian dengan beringas.
“Kau! Beraninya kau!” Rama menggoreskan ujung pisau itu, ke lengan Andrian. Seketika tangannya berdarah. Andrian mengerang kesakitan sambil mundur perlahan.
Rama mengarahkan kembali pisaunya ke leher Andrian, berniat menikamnya sampai mati dan mengakhiri segalanya. Namun lagi-lagi, Ivan melindunginya. Tangan Ivan menghadang Rama dan memelintir tangannya ke belakang.
“Kau, seharusnya sadar. Kau sudah punya segalanya Ram. Kau punya Shindy, kau punya anak perempuan yang cantik. Kenapa kau masih saja membuat masalah!” maki Ivan dengan amarahnya
“Shindy sudah melahirkan?” dengan tanggap Andrian bertanya
“Kenapa Andrian? Kau terkejut? Apa kau ingin melihat bayimu?” sahut Rama
__ADS_1
Ivan melepaskan cekalannya, terkejut dengan pertanyaan yang Rama lontarkan.
“Dia bukan anakmu? Apa itu sebabnya, kau tidak pernah menginginkannya dan memperlakukan Shindy dengan sangat buruk?” Ivan ternganga tak percaya
“Kau, pria yang menghamili Shindy?” tanya Ivan berbalik arah ke Andrian
Melihat sebuah kesempatan, Rama mengarahkan pisaunya dan JLEB.. Ivan mundur beberapa langkah, mendapati Andrian terluka dengan pisau lipat yang tertusuk di pinggangnya.
“Mas Andrian.” Teriak Retha yang masuk bersama dengan dua security yang menangkap Rama.
“Mas, Mas Andrian bangun!” pekik Retha dengan tangisnya yang memilukan
Ivan mengangkat tubuh Andrian dan membaringkannya di ranjang. Segera bidan itu berlari memanggil dokter untuk meminta pertolongan. Ivan yang merasa harus bertanggung jawab atas apa yang menimpa Andrian, segera mendorong ranjangnya ke ruang penanganan. Retha tak henti-hentinya menangis, hingga akhirnya Ivan pun merasa iba. Gadis ini masih muda dan dalam keadaan hamil, namun suaminya harus menjadi korban kekerasan Rama.
“Maafkan aku.” Ucap Ivan lirih
PLAK.. Tamparan keras mendarat di pipi Ivan.
“Ini gara-gara kamu! Kalau aja kamu, nggak datang pasti Mas Andrian nggak akan kayak gini.” Ujar Retha menyalahkan Ivan
“Siapa walinya?” tanya dokter yang keluar dari ruang penanganan
“Saya. Saya istrinya dok, Bagaimana kondisi suami saya?” tanya Retha
“Dia harus segera dioperasi. Tusukannya cukup dalam, jadi kami meminta persetujuan kepada pihak keluarga untuk melakukan tindakan.” Tukas dokter itu
“Lakukan Dok. Asal suami saya bisa selamat.” Ujar Retha
“Baik. Mohon tanda tangan di sebelah sini.”
Retha membubuhkan tanda tangannya di atas lembaran kertas itu. Lalu, Andrian dibawa ke ruang operasi. Ivan duduk di sebelah Retha yang masih saja menangis. Tanpa memperdulikan lukanya yang masih mengalirkan darah, Ivan memilih untuk menjaga gadis ini dulu sampai suaminya sembuh.
“Maaf Mas, sebenarnya kalian ini kenapa? Sampai harus berantem gitu, memangnya ada masalah apa?” tanya Retha tiba-tiba
__ADS_1
“Masalah yang rumit. Lelaki yang tadi datang, dia berniat menjual anaknya sendiri. Dia juga bersikap kejam pada istrinya. Aku hanya tidak tega dan ingin membantunya. Tapi, pria itu justru tidak terima dan ingin membunuhku.” Ujar Ivan berterus terang
“Meskipun begitu, Mas nggak berhak ikut campur dalam rumah tangga mereka kan?” ujar Retha
Ivan terdiam, membenarkan ucapan gadis di sebelahnya.
“Apa istri orang tadi, juga dirawat disini?” tanya Retha
“Iya, dia baru saja operasi kemarin. Bayinya juga masih disini.” Terang Ivan
Retha tak menyahuti lagi. Beberapa jam kemudian, dokter keluar dan mengatakan jika operasi Andrian berjalan baik. Andrian segera dipindahkan ke ruang ICU yang tanpa Retha sadari bersebelahan dengan ruangan Shindy.
Keesokan harinya, ketika Ivan berniat menjenguk Shindy dan Andrian. Dia dikejutkan oleh kegaduhan dari kamar NICU. Ivan berlari panik mendekati kerumunan itu.
“Ada apa ini?” tanya Ivan
“Lihat Mas, Mbak itu kasihan. Bayinya hilang.”
Terang salah seorang perawat
Ivan membelah kerumunan, benar saja tampak Shindy berteriak histeris sambil memegangi kotak bayinya yang telah kosong.
“Shindy!” panggil Ivan berusaha menyadarkannya
“Bayiku, aku belum melihatnya Van. Tapi bayi itu sudah tidak ada!” pekiknya histeris
“Malangnya kau Shin.” Ucap Ivan menarik tubuh Shindy dalam dekapannya. Meskipun dia tahu siapa pelaku di balik semua ini. Dia memilih untuk bungkam sampai Shindy cukup tenang untuk diajak bicara.
Shindy menangis sesenggukan di dalam pelukan itu, pelan-pelan Ivan membawanya kembali ke ruang inapnya. Shindy didudukkan di kasurnya kembali. Seluruh selang di tubuhnya telah terlepas. Ivan yakin Shindy mencabutnya paksa, pagi tadi.
“Minumlah dulu Shin” ujar Ivan menyodorkan segelas air pada Shindy
“Bayiku Van. Dimana dia? Aku belum melihatnya, aku belum memeluknya. Aku baru melahirkannya kemarin, tapi hari ini bayi itu sudah menghilang.” Racau Shindy sambil terus menangis
__ADS_1
Retha dan Andrian yang mendengar isakan Shindy pun merasa penasaran. Mereka menyingkap tirainya untuk melihat keadaan. Betapa terkejutnya mereka melihat siapa yang ada di hadapannya.
“Shindy!”