DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)

DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)
Rahasia Ivan


__ADS_3

"Kau..." Shindy mundur selangkah


Sosok pria di depannya terus mendekatinya. Kakinya yang berbalut sepatu kulit mahal membawa pria itu ke arah Shindy berdiri. Langkah panjang itu hanya berjarak kurang dari semeter. Shindy menelan ludahnya kasar. Lelaki yang dia hindari sampai berlarian kesana kemari justru sedang menunggu di rumah suaminya.


"Bagaimana jika, lukaku dibalas dengan luka yang sama?" Tampak Tommy mengeluarkan sebuah garpu dan memainkannya di jemari kanannya


Shindy yang ketakutan, semakin bergerak mundur. Pria itu hanya menyeringai ke arahnya lalu menuju pada Rama yang berdiri tidak jauh dari Shindy.


"Kau yang harus mewakili gadis itu untuk merasakannya!" Tommy melayangkan garpu itu ke arah Rama.


Seketika Shindy mendorong tubuh Rama hingga mereka terguling bersama di lantai. Suara tepuk tangan terdengar begitu keras. Tawa mengerikan milik Tommy pun menggema di telinga Shindy.


"Luar biasa. Kau melindungi suamimu? Padahal baru beberapa hari yang lalu kau memberikan dirimu secara cuma-cuma hanya untuk mendapatkan informasi tentang Ivan. Sekarang, apa perasaanmu sudah berubah?" rentetan kalimat itu membuat kepalanya pening


Rama menatap tajam ke Shindy.


"Kau memberikan dirimu? Pada siapa? Pada tuan?" pertanyaan bernada dingin itu semakin membuat Shindy ketakutan


"Ti.. Tidak Ram. Mereka menjebakku!" sergah Shindy


"Apa bisa disebut menjebak jika dia datang sendiri ke rumah itu?" ujar Tommy


Rama menggelengkan kepalanya. Dengan senyum meremehkan dia bangkit dari posisinya. Shindy masih tersungkur di lantai. Baru saja dia menyelamatkan suaminya, Rama justru bersikap tidak baik padanya.


"Kau masih saja mu*ra*han!" olok Rama kasar


"Rony, mari kita pergi. Biarkan mereka menyelesaikan urusan rumah tangganya." ujar Tommy disertai tawa


Rony melemparkan benda cair dalam botol kecil ke arah Rama. Rama menangkapnya dengan mudah. Rony menepuk pelan bahu Rama seraya berbisik di belakangnya.


"Pastikan dia tidak kabur lagi. Ingat, kesepakatanmu dengan Tuan Tommy, tidak bisa diubah lagi!" ujar Rony


Rama hanya mengangguk mengerti. Dia tak menoleh pada Rony. Hanya saja, dia mendnegar semua yang Rony katakan.


Rama berjalan ke arah Shindy. Tangannya mengulur ke bawah.

__ADS_1


"Mari biar ku bantu." tawar Rama mencoba bersikap manis lagi


Dengan ragu Shindy menggapai tangan Rama. Dalam sekali hentakan, Rama menarik Shindy hingga jatuh ke pelukannya. Lalu tak lama setelahnya, Rama mendorong kembali tubuh Shindy ke lantai. Shindy mengaduh kesakitan, merasakan kakinya tidak mendarat dengan benar.


"Ups. Maaf sayang. Sepertinya aku terlalu kasar mendorongmu. Kemarilah biar ku bantu lagi." tukas Rama kembali mengulurkan tangannya


Shindy tidak lagi merespon ucapan Rama. Dia hanya menatap marah ke arah suaminya yang tidak pernah berubah. Harusnya dia sadar itu, tabiat iblis sang Rama. Akan selamanya singgah di tubuhnya.


"Boleh aku tanya sesuatu, kenapa kau mengorbankan tubuhmu demi musuhmu sendiri?" tanya Rama


Shindy tampak berpikir. Benar. Kenapa dia memutuskan kembali pada Rama? Sedang Shindy pun tau, tidaklah mungkin Rama berubah secepat itu.


"Harusnya kau membelaku yang sudah menolongmu! Bukan malah mencari tau tentang pria baikmu itu!" seloroh Rama dengan tangan di kedua sakunya


Shindy mengernyit. Masih tidak paham dengan situasi yang dihadapinya.


"Musuhmu adalah Ivan. Dan aku datang untuk menyelamatkanmu darinya. Apa kau tidak sadar? Kalau diam-diam, Ivan hanya memanfaatkanmu?" ucap Rama


"Kau bohong! Dia orang yang baik. Dia menolongku, bahkan disaat kau dan temanmu itu mencoba menyakitiku!" bentak Shindy sedikit meralat ucapan Rama


"Ck.. Sebenarnya kau ini lugu atau bodoh sih? Dia baik padamu, agar bisa mengorek informasi tentang papamu. Anton Raharja!" terang Rama


Rama hanya menyeringai, rencananya berhasil. Jika Shindy tahu target Ivan yang sebenarnya. Maka sudah pasti Shindy akan kembali mempercayainya.


"Dia mencari informasi tentang papaku, untuk memulangkanku kan?" tanya Shindy mulai merasa resah


"Dengarkan aku, sayang. Jika dia bermaksud memulangkanmu, kenapa tidak dari dulu saja? Dia bahkan membawamu pulang ke rumahnya kan? Kau sendiri bahkan tidak curiga!" ujar Rama memegang kedua bahu Shindy


"Cepat katakan! Untuk apa Ivan mencari tahu tentang papa?" tanya Shindy mulai tidak sabaran


"Tommy memberinya tugas penting sekarang. Dia sedang mempersiapkan dirinya untuk tugas itu. Ivan diperintahkan untuk membunuh papamu!" tegas Rama


Shindy membulatkan matanya. Mulutnya menganga tak percaya, dengan kenyataan yang baru saja Rama lontarkan. Benar, jika Ivan berniat baik padanya kenapa tidak dari dulu mengantarnya pulang. Kenapa harus membiarkannya mengalami semua ini.


Rama tersenyum penuh kemenangan. Merasa bahwa ucapannya masih mempengaruhi Shindy, maka akan mudah bagi Rama melakukan rencananya.

__ADS_1


"Lalu, kenapa Tommy harus membunuh papaku?" tanya Shindy yang mulai melemah


"Akan ku ceritakan lain waktu! Aku ada urusan yang lebih penting dari itu!" ujar Rama dan meninggalkan Shindy begitu saja.


Shindy terduduk kembali di lantai. Tidak hanya dia, keluarganya pun mengalami nasib yang buruk. Shindy terus merasa segala kesialan hidup masih betah menghampirinya. Shindy mengerang frustasi. Tangisnya kembali pecah. Shindy meraung sejadinya menyesali pilihan hidupnya. Andai.. Hanya kata Andai..


...****************...


Shindy terbangun dari ranjang kingsize yang semalam dia tiduri. Tubuhnya terasa sakit dengan kondisi kaki yang masih membengkak. Perutnya yang sedikit menyembul memberikan sedikit kekuatan untuknya. Shindy mengusap pelan anaknya yang sudah mulai berdenyut halus di dalam sana.


"Kita harus mencari cara Nak. Apapun itu, kita harus mencegah Ivan membunuh kakek." ujar Shindy


Shindy turun dari ranjang, dengan sandal kuning kesayangannya. Shindy keluar dari kamar. Lampu ruangan masih menyala, menandakan suaminya belum juga terbangun. Segera Shindy mematikan lampu dan berjalan ke arah dapur, berniat mengambil minum.


Aroma alkohol menusuk indera penciumannya, Shindy mendapati botol-botol minuman berserakan dengan tubuh seseorang teronggok di lantai dapur. Shindy mencoba mendekat dan membalikkan pria itu.


"Rama! Kenapa sih kau masih saja minum? Ish merepotkan saja!" gumam Shindy setelah menyadari suaminya mabuk berat semalam


"Bangun Ram!" Shindy menepuk-nepuk pipi suaminya.


"Ram bangun!" Shindy bahkan meneriaki tepat di telinga Rama, namun dia tidak bergerak sedikit pun.


Shindy pun inisiatif mengambil segelas air dari kran dan berniat mengguyurnya. Belum sampai setetes air jatuh, tangan Rama mencengkeram pergelangan tangan Shindy. Alhasil, air dalam gelas itu malah tertumpah pada tubuh Shindy.


"Kau sudah bangun?" tanya Shindy menyadari kedua mata itu terbuka perlahan


"Aku tidak pernah tertidur barang sehari pun Shindy." Rama mendudukkan dirinya. Pandangannya menggelap. Mendapati piyama tipis Shindy yang basah, lekukan indah tubuh istrinya pun terlihat.


"Apa kita bisa memulainya lagi?" tanya Rama dengan tatapan anehnya


"Apa maksudmu?" Shindy balik bertanya


Tanpa menunggu jawaban, Rama menerjang ke arah Shindy. Tubuh Shindy terdorong kasar ke lantai dan Rama menindihnya.


"Jangan Ram! Lepaskan! Aku tidak mau melakukannya jika kau dalam keadaan mabuk begini!" tolak Shindy berusaha memberontak

__ADS_1


"Aku tidak pernah mabuk Shin. Aku bisa minum sebanyak apapun tanpa khawatir akan mabuk setelahnya. Sangat berbeda denganmu, yang langsung hilang kesadaran hanya dengan sekali teguk." ujar Rama menarik kasar kemejanya hingga kancing bajunya terlempar kemana-mana


"Kau masih istriku Shin. Tidak peduli seberapa mu*rah*annya dirimu, kau masih sah melayaniku!"


__ADS_2