
Shindy melihat lelaki itu berjalan mendekati jendela, membuka engselnya dan berlari keluar. Tubuh padat itu dengan cepat melompat ke arah taman samping. Ekor mata Shindy menangkap bayangan pria itu yang samar-samar menjauh.
Tok.. Tok.. Tok..
Shindy terkejut dengan ketukan dan panggilan bertubi-tubi dari depan rumah. Shindy terpaksa membukakan pintu untuk petugas.
"Kami akan memeriksa kamar ini." tukasnya
Shindy hanya mengangguk dan minggir, memberi akses pada polisi itu untuk masuk ke dalam kamar Rama. Shindy melanjutkan pencariannya di kamar Ivan. Kamar itu tampak kosong, tidak ada satu barang pun yang tertinggal selain sebuah foto kecil yang dulu pernah dilihatnya.
"Ivan.. apa benar kau sudah meninggal? Rasanya sulit sekali percaya.." Shindy mendekap foto itu seraya membiarkan air matanya terus mengalir.
Sakit dalam hatinya seolah enggan untuk sekedar menerima berita pahit ini, jujur jauh dalam hatinya Shindy sama tertariknya dengan Ivan. Namun meski begitu Shindy sadar betul posisinya sebagai seorang istri. Selain itu, kejadian naas ini tidak lagi bisa menghadirkan sosok Ivan di sisinya .
"Aku ingin pulang. Aku nggak sanggup sendirian seperti ini." gumam Shindy di sela tangisnya
Mata sembab milik Shindy tercetak begitu jelas, paman Ivan yang khawatir bergegas mendatanginya begitu mobil polisi itu tiba di rumahnya.
"Bagaimana? Ada sesuatu yang ditemukan?" tanya paman Ivan
Shindy menggeleng.
__ADS_1
"Kami akan terus menyelidikinya Pak. Selain itu jika saudara Rama sudah ditemukan, kami akan melakukan interogasi." ujar petugas itu
"Aku ingin masuk dulu Pak. Aku lelah." ungkap Shindy lalu memandang sekilas pada kerumunan warga.
Shindy membiarkan pintu rumah Ivan terbuka. Rumah ini, entah kenapa menjadi begitu dingin. Shindy melangkah masuk ke dalam kamar Ivan. Shindy mengamati sekitarnya, kamar yang begitu rapi dengan banyak foto yang terpajang di dindingnya.
"Ivan.. Ternyata kau pria mengagumkan." gumam Shindy menyentuh beberapa medali yang tergantung di kamar Ivan. Shindy mengamati foto saat Ivan menjadi juara salah satu olahraga silat tingkat nasional. Juga foto Ivan bersama dengan teman satu bandnya.
"Ivan.." teriak Shindy merasa frustasi.
Shindy terduduk lemas di lantai, dengan air mata yang kembali membasahi pipinya. Hatinya terasa sakit melihat orang yang begitu peduli padanya harus berakhir mengenaskan seperti ini. Shindy memukuli lantai dengan kepalan tangannya.
"Aku ingin pulang, tapi aku bahkan tidak punya ponsel, tidak mengingat nomor hp papa dan mama. Jika aku terus disini, aku .. Aku akan semakin merasa bersalah pada keluarga ini. Bu Nyoman, Mitha, bahkan Ivan sudah meninggal karena perbuatan suamiku. Aku harus bagaimana?" Shindy masih saja bermonolog di dalam kamar Ivan
"Tidak.. Aku tidak layak hidup seperti ini. Aku.. Tidak berguna bagi siapapun juga. Aku bahkan tidak bisa menolong Ivan, yang sudah membantuku. Aku tidak bisa melawan kekejaman suamiku dan memilih meratapi nasibku. Aku... Tidak ingin hidup lagi." gumam Shindy di ujung kesedihannya.
Shindy menatap perutnya yang datar. Perlahan Shindy mengusapnya dengan air mata yang berlinang.
"Maafkan mama ya Nak. Kau tidak akan sempat melihat dunia ini, kita akan pulang bersama dengan orang-orang baik yang pernah menolong mama." ujar Shindy lirih
Kedua mata Shindy beralih ke arah dapur. Shindy mencoba bangkit, berjalan perlahan mendekati dapur. Tangannya mengulur mengambil sebilah pisau berujung runcing yang ada di dalam mug. Shindy mengamati sejenak pisau itu. Kemudian beralih ke arah pergelangannya. Ya, mengoyak nadinya akan membuatnya meninggal dengan cepat. Setidaknya itu yang pernah dilihatnya di film-film.
__ADS_1
Shindy mengarahkan pisau itu ke tangannya sendiri.
"Maaf ya Nak, Ini akan terasa sedikit sakit." tukas Shindy pada janin yang sedang bertumbuh di rahimnya.
Shindy memejamkan matanya, berusaha menghalau segala ketakutannya akan kematian.
"Ini tidak akan lama. Lebih baik mati daripada harus hidup seperti ini. Aku lelah."
SRIIING.. Pisau kecil itu membelah kulit pergelangan Shindy. Darah segar mengucur dari tangannya yang terluka.
"Aaaah..." Shindy mengeluh merasakan pedih di tangannya.
Shindy menatap cairan merah pekat itu mulai membasahi lantai. Shindy berjalan terhuyung dengan luka yang menganga di depan matanya. Pandangannya kabur, kepalanya berdenyut dengan kencang. Perlahan tubuh itu limbung. Kedua tangan Shindy tergeletak begitu saja. Samar terdengar kegaduhan masuk ke dalam rumah Ivan. Shindy sempat melihat beberapa orang mendekat ke arahnya sebelum semuanya menggelap.
Shindy dibawa ke rumah sakit oleh beberapa warga. Wajah pucatnya semakin menguatkan bukti kalau Shindy sudah banyak kehilangan darah. Luka di tangan itu tampak mengerikan. Shindy masuk melalui UGD dan segera ditangani oleh seorang dokter.
Bersamaan dengan itu, seorang laki-laki terdorong masuk ke dalam ruang operasi dengan ventilator di mulutnya. Kedua orang itu sedang bertarung melawan kematian. Shindy dengan luka di tangannya, dan Ivan dengan luka bakar yang mengerikan.
Sementara di tempat yang sama, Rony sedang memandang keduanya sambil menggelengkan kepalanya. Tampak tangannya terangkat memegang ponsel di telinganya.
"Aku sudah menemukan jawaban yang Tuan minta."
__ADS_1