DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)

DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)
Penolakan Sang Istri


__ADS_3

Andrian yang baru kembali dari pemakaman, kini sudah disuguhkan dengan wajah masam sang istri.


"Tha." panggilnya dengan lembut


Retha melengos, menghindari suaminya yang masih kelelahan.


"Kamu kenapa?"


"Gimana kondisi mantanmu itu Mas? Apa dia masih menangis dan berharap belas kasihanmu?" ucapan sinis Retha mengejutkannya.


"Apa maksudmu Tha?"


"Mas! Aku bisa lihat dengan jelas gimana kamu begitu peduli sama dia. Kemarin waktu dia di rumah sakit, kamu lebih milih jagain dia. Nolongin dia, daripada nemeni aku. Istri kamu yang sedang hamil besar begini!"


"Sekarang pun, kamu lebih milih datang ke acara pemakaman papanya, saat aku masih marah sama kamu. Emangnya sepenting apa sih, dia buat kamu?"


Andrian menarik napasnya dalam. Sejak kembali ke kota ini, istrinya menjadi pemarah. Jarang sekali mereka bisa mengobrol akur seperti dulu.


"Sayang, tenangin diri kamu ya. Emosi itu nggak baik buat ibu hamil dan calon anak kita." Andrian mencoba tetap tenang sambil mengusap pelan perut buncit istrinya.


"Jangan sentuh anakku Mas!" Retha menepis kasar tangannya


"Jawab aku Mas, apa kamu masih punya rasa sama Shindy?"


Andrian terperangah, kenapa pertanyaan itu harus muncul di saat seperti ini.


"Apa kamu, masih berharap untuk bisa kembali sama dia? Setelah tahu, dia menjadi janda."


Andrian menggelengkan kepalanya.


"Tha, aku nggak pernah sedikit pun berpikir buat ninggalin kamu. Apalagi untuk balikan sama Shindy. Aku cuma sebatas menghargai Pak Anton dan istrinya karena merekalah, aku bisa di posisi sekarang." tukas Andrian


Retha masih menatap tajam ke arah suaminya. Melihat tatapan memohon yang tulus itu, Retha pun sedikit luluh.


"Baik. Anggap saja untuk sementara, aku percaya. Tapi setelah ini, aku tidak mau mendengar lagi, kamu membantunya Mas." balas Retha


Andrian terdiam. Jelas sang istri tengah marah besar sekarang, sulit meyakinkan ibu hamil ini jika level kecemburuannya sudah separah ini .Apalagi, instruksi Ivan yang mengajaknya ke Bali malam ini belum bisa Andrian sampaikan.


"Aku mau mandi Mas. Gerah." pamit Retha beralih ke kamar mandi.

__ADS_1


Sementara Andrian sibuk mengetik pesan pada Ivan, bermaksud untuk menunda keberangkatan mereka sampai esok hari. Setidaknya sampai kemarahan istrinya mereda. Namun, Ivan justru menyanggupi untuk meminta izin secara baik-baik pada Retha. Andrian belum menanggapi lagi isi pesannya. Hatinya kalut. Di satu sisi kehamilan dan kondisi Retha sangat rentan sekarang. Jika dia stress atau berpikir berlebihan maka akan tidak baik bagi dirinya. Namun, jika dia tidak membantu Shindy menemukan putrinya, maka dia akan merasa bersalah juga.


Andrian memutuskan untuk masuk ke dalam kamar. Merebahkan diri sambil menunggu istrinya keluar dari kamar mandi untuk beristirahat bersama. Pandangannya menerawang, membayangkan Shindy akan seorang diri menghadapi penjahat sekelas Tommy. Dan teringat kembali seluruh budi baik Anton Rahardja yang telah meminjamkan modal usaha pada ibunya setelah menjadi single parent.


"Aku harus tetap pergi. Apapun yang terjadi, setidaknya inilah caraku membalas budi." gumam Andrian


"Kamu nggak akan pergi kemana pun Mas!" ujar Retha yang tengah mengeringkan rambutnya yang basah


Andrian menghela napas.


"Kecuali denganku!" ujarnya duduk di sisi suaminya


"Kamu mau kembali kapan?" tanya Andrian


"Berapa hari Mas Andrian cuti?" Retha bertanya balik


"Harusnya 3 hari Tha. Tapi.." Andrian ragu melanjutkan kalimatnya


"Tapi kenapa Mas?"


"Malam ini, Ivan mengajakku berangkat. Dia akan melanjutkan pencarian putri Shindy." ujar Andrian pelan


"Shindy lagi! Shindy lagi! Kenapa sih Mas? Baru aja kita baikan, sekarang kamu sudah bahas dia lagi." teriak Retha


"Jika kamu tetap nekad pergi malam ini. Maka hubungan kita berakhir Mas!" ujar Retha dingin.


Retha berlari keluar kamar dan membanting pintu dengan keras. Andrian hanya bisa menghirup napas dalam-dalam. Bingung menentukan sikap. Andrian pun bangkit, hendak menghampiri sang istri namun pintunya justru dikunci dari luar. Beberapa kali, Andrian berteriak minta dibukakan. Namun Retha tidak kunjung membukanya.


"Sudahlah." Andrian pun memilih mengalah. Terserah jika nanti Ivan datang untuk memaksanya, dia tidak akan pergi tanpa izin istrinya.


Seharian sudah, Andrian terkunci tanpa makanan dan juga minuman. Baterai ponselnya pun hampir habis dan chargernya ketinggalan di luar. Tubuhnya masih terbaring. Belum berniat mandi atau sekedar mengganti baju. Lelah. Tak berhasrat sama sekali untuk melakukan apapun.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Menampilkan sosok istri mungilnya yang masih cantik di balik dress tipisnya.


"Retha.." panggilnya lirih


"Mandilah Mas. Ayo kita makan bersama. Aku sudah masak oseng bunga pepaya dan ikan teri." ujar Retha dengan mata sembabnya


Andrian pun menghampiri istrinya. Merengkuh dalam pelukannya.

__ADS_1


"Maafkan aku sayang. Aku sadar, aku sudah egois dan bersikap nggak adil sama kamu." ujar Andrian mengecup puncak kepala Retha.


"Maafin aku juga Mas. Udah marah-marah nggak jelas tadi." balas Retha sambil memainkan kancing baju suaminya


"Ayo kita mandi bersama. Setelah itu kita makan malam." ajak Andrian menatap mata bulat yang masih memerah itu


"Mas.."


"Hmm."


"Jangan pernah tinggalin aku ya!" ujar Retha dengan nada manjanya


"Nggak sayang. Never." balas Andrian mencium kembali kening Retha


"Ayo."


Di kediaman Anton Rahardja. Shindy tengah bersiap untuk pergi. Seluruh pakaiannya bahkan sudah dikemas rapi. Juga beberapa gepok uang yang dikantongi ke dalam tas selempangnya.


"Jangan tergesa-gesa Shin." tukas ibunya yang masih dalam suasana berkabung


"Shindy harus segera menemukan cucu mama. Apapun yang terjadi. Sekalipun Shindy harus mati. Shindy akan lakuin Ma!" ucap Shindy


"Tidak akan ada yang mati Shin. Kamu harus hidup demi anak dan ibumu. Biar aku yang menjagamu nanti." sahut Ivan yang berdiri di ambang pintu


"Bukankah ini terlalu cepat Shin? Mengingat kalian yang hampir terbunuh malam itu. Mama nggak bisa bayangin, gimana kalian harus berhadapan lagi sama orang jahat seperti mereka." ujar mama Shindy mulai beruraian air mata.


"Mama tenang saja. Ada Ivan bersamaku." Ucap Shindy dengan penuh keyakinan.


"Tidak akan ku biarkan siapapun menyentuh Shindy, tante. Dan akan ku pastikan mereka berdua, kembali dengan selamat." imbuh Ivan


"Ini tidak akan lama Ma. Shindy janji akan segera kembali." ujar Shindy meski dia sendiri tidak yakin, apa dia masih bisa kembali ke rumah ini.


"Ya sudah kalau memang itu sudah menjadi tekad kalian. Mama akan mendo'akan agar Tuhan melindungi kalian dan membawa kalian dalam keadaan selamat." ujar mamanya sambil memeluk Shindy dengan erat


"Shindy pamit ya Ma." Shindy mencium punggung tangan ibunya sambil berpamitan.


Sementara Ivan bersiap di dalam mobil dengan beberapa persenjataan yang dia kumpulkan dari rumah Rama. Shindy pun duduk di sebelahnya.


"Shin, boleh aku bilang sesuatu?" tanya Ivan tiba-tiba

__ADS_1


Shindy menoleh dan memberi anggukan kecil.


"Jika aku berhasil membantumu, keluar dari masalah ini. Maukah kamu menikah denganku?"


__ADS_2