DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)

DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)
Menghindar


__ADS_3

Shindy kembali dengan aktivitasnya. Setelah melepas lelah semalaman kini dia harus kembali datang ke toko kue. Sengaja dia berangkat lebih awal karena tengah mengidam sesuatu. Bayinya menginginkan nasi campur dengan telur utuh. Shindy keluar dari gang dan menghampiri salah seorang tukang ojek. Sesuai petunjuk Bu Ajeng, Shindy meminta pak ojek mengantarkannya ke daerah tersebut.


Butuh hampir setengah jam untuk sampai. Karena memang beda wilayah. Shindy bergegas turun dan meminta pak ojek menunggu di luar. Antrian panjang sedang mengerumuni penjual nasi campur disana. Shindy ikut duduk di kursi plastik yang disediakan. Cukup lama dia menunggu hingga tiba gilirannya membawa sebungkus nasi campur lengkap dengan telur bulat. Puas hati Shindy mendapat apa yang dia inginkan. Saat berbalik, matanya menatap sebuah limousin yang tak asing berhenti di seberang jalan. Kaca depan terbuka setengahnya. Mata Shindy membulat sempurna. Rony dan tuan br*ngseknya Tommy sedang mengamati keadaan di sekitarnya dari dalam mobil. Entah apa yang mereka cari. Shindy berlari menuju tukang ojek itu dan segera mengenakan helm. Dengan khawatir, Shindy meminta pak ojek untuk mengebut.


Rony menatap siluet gadis yang tengah diincar sang Tuan dari spion.


"Sudah ku duga. Dia belum keluar dari sini Tuan." ucapnya sambil terus mengamati Shindy yang semakin menjauh.


"Apa kita perlu mengejarnya?" tanya Rony.


"Apa aku harus menjawabnya? Dia harus membayar mahal untuk lukaku ini." balas Tommy memegang perut kirinya yang pernah ditusuk garpu oleh Shindy.


Rony memutar mobil dan bergerak perlahan mengikuti Shindy. Shindy yang menyadari hal itu meminta pak ojek berubah haluan. Berusaha mengalihkan pengejaran Rony. Pak ojek itu pun masuk melewati gang-gang kecil. Namun selalu berhasil di hadang beberapa kali oleh Rony. Saat mobil Rony hendak mencapainya, Pak Ojek membelokkan motornya masuk ke dalam pasar.


"Pak, jarak pasar ini dengan kos Bu Ajeng nggak terlalu jauh kan?" tanya Shindy


"Kalau jalan kaki cuma 10 menit." terang Pak Ojek


"Ini ongkosnya ya Pak. Sampai sini saja mengantarnya." Shindy celingukan mengawasi keadaan kalau-kalau ada yang mengikutinya kemari.


Shindy mengendap diantara penjual pakaian. Sedikit bersembunyi sambil berusaha keluar dari pasar. Shindy menoleh sekali lagi ke arah depan dan belakang. Masih aman. Shindy berlari menuju gerbang utara pasar. Namun tepat di persimpangan, tampak Rony berjalan ke arahnya dengan tatapan tajam. Shindy pun berbalik arah.


"Berhenti!" teriak Rony


Beberapa orang tampak kebingungan mendengar teriakan itu, apalagi kini Rony berlari menerjang beberapa pedagang yang menghalangi jalannya. Shindy yang kepanikan tidak punya jalan lain. Segera dia masuk ke salah satu bilik toilet karena arah yang dia lewati adalah jalan buntu. Langkah kaki terdengar mendekat. Satu demi satu pintu toilet yang tertutup di tendangnya. Ada yang menyahuti dari dalam, ada yang terbuka karena memang kosong. Shindy menahan napasnya. Takut jika ketahuan, maka dia akan tertangkap.


"Keluar kau!" teriak Rony sambil menendang pintu kamar mandi sebelah


Shindy terus menangis dalam diam. Jantungnya berpacu tak karuan. Ditambah kram di perutnya yang terasa menusuk. Denyutan semakin keras terasa menjalar di perut bagian bawahnya. Shindy yang ketakutan setengah mati, hanya bisa berdiri di belakang pintu.


BRAK... Pintu kamar mandi itu terbuka, Shindy yang masih berada di belakang pintu terpaksa berjingkat dan menahan napas.


"Sial dimana dia?" gumam Rony

__ADS_1


Shindy menyadari, Rony tengah berdiri di ambang pintu. Dengan sekuat tenaga, Shindy mendorong keras pintu kamar mandi hingga Rony tersungkur ke luar. Shindy bergegas keluar dan lari dari sana.


"Hei gadis bodoh berhenti!" teriak Rony yang berusaha bangun dari posisinya


Shindy kembali berlari sambil terus menahan rasa sakit di perutnya kini dia bersembunyi di balik meja penjual daging. Aroma amis menusuk hidungnya, mual kembali dia rasakan. Shindy yang masih berjongkok, merasakan seseorang melongok dari atas meja tempatnya bersembunyi.


"Kena kau gadis bodoh!" tukas Rony


Sontak Shindy berdiri dengan tiba-tiba hingga kepalanya membentur wajah Rony.


"Aaargg." tampak hidung Rony berdarah


Shindy pun merasakan pening akibat benturan tadi. Shindy terus berlari hingga keluar dari pintu gerbang utara. Sialnya, mobil limousin Tommy terparkir disana. Shindy pun berlari ke arah samping. Dengan setengah kepayahan, dia memaksakan kakinya untuk menyeberangi jalan.


"Berhenti!" teriak seseorang.


Shindy menoleh ke belakang. Tommy, dia sudah ada di seberang sana sambil memegangi perutnya. Disusul oleh Rony yang masih merasa kesakitan dan mencoba ikut menyeberang.


"Bertahanlah sayang. Kita akan sembunyi di depan sana." Shindy berbicara pada anak yang di kandungnya. Shindy masuk ke celah dinding kios yang tutup. Meski agak kesulitan karena perutnya yang membuncit, akhirnya dia berhasil berada di sisi lain kios itu.


"Tidak mungkin wanita hamil bisa berlari secepat itu." sergah Tommy


"Apa mungkin.." Langkah Rony mendekat ke arah Shindy


Shindy berjingkat perlahan menjauhi celah dinding yang dia lewati tadi. Hingga tiba di tempat pembuangan akhir yang kumuh dan kotor


"Hoek.." Shindy memuntahkan isi perutnya


"Disana! Dia disana!" teriak Rony


Shindy yang sudah tidak sanggup berlari hanya pasrah. Dia terduduk sambil memgangi perutnya yang masih terasa sakit. Tiba-tiba sepasang tangan menariknya dari belakang.


"Diamlah sebentar."

__ADS_1


Suara itu, Shindy sangat mengenalnya. Shindy mendongakkan kepalanya. Betapa terkejutnya dia, mendapati Rama sudah ada di depannya.


"Ram.." Rama membekap mulut Shindy


"Tenanglah! Biar mereka pergi dulu." ujar Rama dengan jarak yang sangat dekat dengan Shindy.


"Ron, ayo kita pergi dari sini. Kita akan mencarinya lagi besok!" tukas Tommy dari kejauhan.


"Tapi Tuan.."


"Sudahlah, lupakan sejenak gadis itu. Lukaku pendarahan lagi karena berlari tadi. Kita harus ke rumah sakit." titah Tommy


Rony berbalik arah, setelah sempat menoleh sebentar ke bayangan seseorang di belakang box sampah.


"Kali ini kau bebas, lain kali aku tidak akan melepaskanmu!" gumam Rony sambil berlari menghampiri Tommy yang kesakitan.


Rama menarik lengan Shindy untuk keluar dari persembunyiannya. Shindy menepis kasar tangan suaminya itu. Lelah terasa di seluruh tubuhnya, kenapa dia selalu menjadi santapan empuk bagi pria br-ngsek seperti mereka. Ibarat kata baru keluar dari mulut harimau sudah masuk ke mulut buaya.


"Aku lelah Ram. Bisakah kau melepaskanku?" pinta Shindy sambil memegangi perutnya.


"Kenapa aku harus melepaskanmu? Aku sudah mencarimu kemana-mana sayang. Aku.. Sangat mengkhawatirkanmu." ujar Rama terdengar lembut


Shindy menatap heran ke arah Rama. Tidak biasanya Rama berkata lembut seperti itu.


"Maafkan aku sayang, mungkin aku terlalu menyakitimu. Aku ingin menebus semua kesalahanku." pinta Rama seraya menggenggam tangan Shindy


Shindy menarik kembali tangannya.


"Aku, tidak akan termakan buaianmu lagi Ram! Kau masih sama dengan Rama yang dulu. Kau hanya manis di luar tapi pahit di dalam. Kau adalah iblis yang dibungkus dalam wujud manusia. Aku tidak akan pernah mau kembali padamu lagi!" tegas Shindy


Di luar dugaan Rama justru tersenyum. Tidak memaki atau memarahinya seperti biasanya. Lagi-lagi Shindy kembali dibuat heran olehnya.


"Aku tahu nggak mudah buat kamu maafin aku. Tapi, aku akan terus nunggu kok." ujar Rama dengan senyum di bibirnya.

__ADS_1


"Aku.. Nggak punya waktu untuk ini Ram. Aku harus pergi." Shindy tertatih menjauhi Rama. Dia teringat tanggung jawabnya bekerja di toko kue Bu Wiwit. Dia yakin teman-temannya pasti sudah menunggu.


"Aku akan lakukan apapun, agar kau kembali padaku Shindy Paramitha. Akan ku tunjukkan padamu suami sejati itu seperti apa? Hanya setelah bayimu lahir ke dunia ini." batin Rama dengan senyum evil yang menatap senang kepergian Shindy


__ADS_2