
"Kau! Ramaaaa!" teriak Ivan berlari mengejar lelaki yang kini di hadapannya.
Rama berbalik arah, melewati gang-gang kecil yang cukup untuk satu orang. Beberapa kali lengan Ivan terbentur tembok. Rama masih dengan seringaian di wajahnya berlari ke arah pasar. Aksi pengejaran itu berhasi memporak porandakan dagangan mereka. Rama berdiri di sebuah meja dan melempar sebuah botol kaca ke arah Ivan
PYAR.. Ivan menepis dengan kedua tangannya.
"Kau pria lemah!" olok Rama yang terjatuh dengan mudahnya dan lanjut menghindar.
Ivan terus mengejar Rama, kembali melewati lorong kecil yang mengarah ke sebuah apartemen. Rama masuk ke dalam parkiran bawah tanah dan berniat menutup rolling dor di belakangnya.
BRAK.. Kaki Ivan lebih dulu mencegahnya. Ivan merayap masuk ke dalam parkiran. Kini pintu itu sudah tertutup sepenuhnya. Ivan berlarian sambil mengamati sekitarnya.
"Keluar kau! Ram! Akan ku habisi kau sekarang juga!" Teriak Ivan.
BUG.. Rama melompat ke atap sebuah mobil.
"Bukankah ini seru? Kita saling mengejar untuk berusaha membunuh! Mari kita buktikan kau atau aku yang tumbang lebih dulu!" ujar Rama dengan senyuman licik di wajahnya
"Turun kau bodoh!" Ivan ikut melompat ke atas mobil. Namun Rama dengan sigap melompat ke atap mobil lain. Rama melesat ke ujung parkiran.
Ivan berjalan perlahan. Sambil mengendap melihat setiap bawah mobil guna memastikan posisi Rama. Ivan tiba di mobil terakhir, tidak ada langkah kaki terdengar.
TING... Ivan menoleh ke belakang. Sebuah kunci Inggris terlempar dari celah mobil. Ivan berjalan perlahan menuju asal suara.
"Ke*p*r*t!" Rama menerjang tubuh Ivan hingga saling berguling. Lengan kekarnya mengunci leher Ivan hingga urat nadi Ivan mulai terlihat.
"Aargh.." keluh Ivan yang hampir kehabisan napas.
DUG.. Siku Ivan tepat mengenai perut Rama. Rama mundur beberapa langkah. Terhuyung melepaskan cengkeramannya.
"Kau telah membunuh kakakku! Kau menghabisi keluargaku. Aaaaa!" Sebuah tendangan kasar mengarah ke dada Rama. Rama terpental beberapa meter.
"Uhuk.." Cairan kental berwarna merah keluar dari bibirnya.
"Kau.. Menghabisi keluargaku lebih dulu! Kau kira apa alasanku melakukannya hah? Kau juga seorang pembunuh Van!" teriak Rama
Ivan terdiam. "Aku.. Aku tidak.."
FLASHBACK
__ADS_1
Rama dan Ivan sedang bertarung. Pukulan demi pukulan terdengar gaduh di dalam apartemen itu. Ivan tengah emosi melihat kematian kakaknya disebabkan oleh perbuatan Rama. Rama terguling, belum sempat berdiri kaki panjang Ivan berhasil mengenai kepalanya. Muncratan darah berceceran dimana mana.
"Cukup sudah! Nyawa harus dibalas Nyawa! Kau harus mati!" Ivan mengarahkan pistolnya ke arah Rama.
"Jangan! Jangan bunuh anakku!" teriak mama Rama yang berusaha mencegah Ivan
"Kami hanya tinggal bertiga Nak. Tolong hentikan perbuatanmu! Maafkan kesalahan anak kami!" pinta papa Rama sambil terus memeluk istrinya
Orang tua mana yang tega jika anak semata wayangnya dihabisi di depan matanya.
"Aku tidak akan memaafkanmu." gumam Ivan
DOR.. DOR.. Dua tembakan melesat. Bukan ke arah Rama. Peluru itu mengenai kedua orang tuanya. Satu di dada kiri papanya dan satunya lagi di kepala mamanya.
"Tidaaaaak!" Rama berteriak sekencangnya memeluk tubuh orang tuanya yang mulai ambruk
"Tidak. Aku aku.. Aku tidak membunuh mereka." Pistol di tangan Ivan terlepas. Tembakan itu berasal dari belakangnya, gedung sebelah.
Suara sirine polisi terdengar bersahutan. Ivan terpaksa pergi agar tidak tertuduh sebagai pelaku. Meninggalkan raungan Rama yang mendendam atas tragedi malam itu.
FLASHBACK END
Rama mengambil kunci Inggris yang dia lemparkan tadi. SRINGG...
"Kau harus mati!" Kunci Inggris itu dipukulkan kuat-kuat ke arah Ivan.
BRAK.... Sebuah bangku melayang mengenai tubuh Rama. Kepingan kayu berjatuhan bersamaan dengan tumbangnya Rama. Rama tergeletak dengan darah bercucuran di kepalanya.
Bukan Ivan yang melakukannya.
"Dua orang bodoh ini lagi. Sampai kapan kalian berhenti membalas dendam satu sama lain? Mereka sudah mati, seberapapun kalian berusaha. Yang mati tetaplah tidak akan kembali. Kenapa kalian berdua harus menyia-nyiakan waktu yang Tuan berikan hanya untuk hal tak penting ini?" ujar Rony melepas masker hitam di wajahnya.
BREK... Sekumpulan kertas menghambur di hadapan Ivan.
"Daripada kau seperti ini, tidakkah lebih baik kau selidiki siapa targetmu? Kau..."
Sebotol cairan berwarna bening terlempar di dekat Rama.
"Fokuslah pada penjualanmu! Bekerja samalah sesuai dengan apa yang tuan kita inginkan. Berhentilah bermain-main seperti ini. Jangan sia-siakan nyawa kalian." Rony berbalik meninggalkan dua orang yang tengah kebingungan.
__ADS_1
Ivan menatap ke arah Rama yang masih terkapar.
"Kau bisa bangun?" tanya Ivan pada Rama
"Hah! Sekarang kau mengkhawatirkanku?" tanya Rama meledek
"Tidak! Aku takut kau mati secepat ini. Tidaklah sepadan jika kau mati di tangan orang lain!" Ivan mendekati Rama dan membisikkan kalimat itu.
Ivan berjalan mengikuti Rony di belakang.
"K*pa*at!" Teriak Rama.
Beberapa antek Tommy datang membawa tandu. Tubuh Rama diangkat dan dibawa pergi.
"Bereskan kekacauan ini. Jangan sisakan satu pun barang bukti. Rusak semua cctv yang ada disini!" perintah Tommy yang turun dari lift.
Mereka bekerja sama untuk membersihkan genangan darah milik Rama. Juga serpihan kayu yang rusak di sekitarnya. Tak lupa mengambil kembali kunci Inggris yang Rama lemparkan.
"Kalian tidak boleh saling membunuh, sebelum aku sendiri yang memerintahkannya." ujar Tommy bicara pada keheningan malam.
Ivan keluar dari parkiran dengan sempoyongan. Bukan karena serangan Rama yang membuatnya gentar, melainkan ingatan masa lalu yang membuatnya merasa bersalah. Rama menghabisi keluarganya karena dia berpikir, Ivanlah yang membunuh orang tuanya.
"Aaaaargh! Kenapa jadi seperti ini. Aku bahkan tidak tahu siapa yang menembak mereka." gerutu Ivan.
Ivan kembali ke rumahnya mengendarai motor miliknya. Mobil merah itu masih disana, hanya Shindy dan kerumunan warga sudah tidak ada di tempatnya.
Ivan kembali masuk ke gang kecil yang mengarahkan ke rumahnya.
"Kau habis dari mana?" tanya pamannya begitu Ivan sampai di depan rumah
"Dimana gadis itu?" Ivan bertanya balik
"Di kamar Mitha." ujar sang paman
Ivan masuk dan langsung menuju kamar yang pamannya maksudkan.
BRAK.. Shindy terlonjak kaget.
"Aku bertanya sekali lagi, apa kau yang sudah menabrak ibuku?"
__ADS_1