DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)

DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)
Kesempatan Kedua


__ADS_3

"Mereka berdua memang benar saling mencintai. Jadi Tuan akan lebih baik jika Rama saja yang menyelesaikan misimu." ujar Rony dengan senyum samar


"Awasi terus mereka. Laporkan keadaannya. Satu lagi, kita gunakan mereka sebagai alat untuk memancing emosi Rama."


Rony hanya tersenyum miring. Tangannya memasukkan ponsel ke dalam sakunya.


Suara monitor terdengar bersahutan. Di ruang ICU, Shindy masih belum sadarkan diri. Beberapa jahitan berbalut perban menghiasi tangan kirinya. Juga infus dan tranfusi darah yang bertengger pada kedua lengannya. Deru napasnya kembang kembis mengikuti pergerakan dadanya.


Di sampingnya tampak seorang pria bertopi hitam tengah menyelipkan sapucuk surat di nakas.


"Semoga, kau tetap hidup setelah ini. Setidaknya biarkan nyawamu berguna untuk mempermudah rencanaku." gumam pria itu lalu keluar dari kamar rawat Shindy.


"Kamu, siapa kamu?" hardik paman Ivan ketika berpapasan dengan Rony


"Tenanglah, aku hanya penyampai pesan. Permisi." Rony tampak tenang dan kembali memasang maskernya


Meski curiga paman Ivan tidak berniat mengejarnya. Baginya cukup sekali membiarkan Shindy seorang diri seperti tadi pagi. Dia takut kejadian yang sama akan terulang untuk kedua kalinya.


Sementara di ruang PACU, seorang pria dengan luka bakar yang parah di lengan, dada dan juga kaki kanannya tengah dalam kondisi kritis. Kondisinya tidak jauh beda dengan Shindy. Hanya saja, seluruh tubuhnya terbungkus seperti mumi.


Pintu ruangan terbuka, Rony masuk dengan setelan hitam khas miliknya. Rony duduk di sofa tunggu sambil memandangi rekannya yang hampir tak selamat.


FLASH BACK ON


Rony yang mendapat perintah bergegas ke rumah baru Rama. Dari informasi yang dia dapatkan, Ivan tengah menuju sarang sang bandit. Rama, pembunuh berdarah dingin tanpa perasaan. Dia sedang menyadarkan dirinya dari beberapa botol alkohol yang semalam diminumnya. Tentunya bersama Rony dan rekan yang lain. Rony menyelinap masuk melalui pintu depan yang tidak dikunci. Setelahnya dia berdiri di depan jendela kamar depan.


"Kau." teriak Ivan menyadari kehadiran seseorang.


Rony berlari ke arah pintu kamar kedua dan menguncinya dari dalam. Tidak ingin Ivan menyadari posisinya, Rony memilih berdiam diri di kamar belakang.


BRAK.. Suara dobrakan pintu terdengar. Langkah kaki memasuki rumah. Namun tidak ke arahnya melainkan masuk ke kamar yang terbuka. Rony menyadari jika Rama membuka paksa pintu belakang yang sudah tersegel. Rama berlari ke arah kebun tebu dengan ransel berisi barang haram itu, berniat melarikan diri.


Dari jendela berjeruji, Rony menyaksikan pertengkaran mereka. Rama menceburkan diri ke sungai, karena dari segi kekuatan, Ivan lebih tangguh darinya. Rony tersenyum menyaksikan aksi heroik memperebutkan seorang wanita hamil di hadapannya. Baginya ini adalah tontonan yang menarik.


Hingga saat Rama berhasil menendang keras kepala Ivan, Rony sudah ingin keluar dari persembunyiannya. Namun, gerakan tiba-tiba Rama yang menyalakan rokok dan menjatuhkan tepat di depan Ivan yang tersungkur membuatnya terhenti.


Kobaran api itu meyakinkan dirinya untuk segera menolong Ivan. Meski Ivan tampak baik dan menyenangkan jauh di dalam hatinya terpendam jiwa iblis yang lebih kejam dari Rama. Itulah yang menjadikan Ivan, menjadi anak emas bagi Tommy.


Rony membuka paksa pintu depan rumah Rama, lalu berlari menerobos panasnya api, dan mengangkat tubuh Ivan yang setengah terbakar. Tanpa berpikir panjang, Rony mengangkat tubuh kekar Ivan dan melemparkannya ke dalam sungai. Seketika api yang melahapnya padam.

__ADS_1


Rony ikut terjun ke air, kembali memapah tubuh Ivan yang setengah sadar itu ke pinggir sungai. Ivan terbatuk dengan luapan air keluar dari bibirnya.


"Shindy.. Tolong selamatkan Shindy." gumam Ivan dengan mata terpejam


Rony tengah menelepon seseorang, meminta tuannya mengirikan sopir ke rumah itu. Rony menjaga tubuh tak berdaya itu dengan baik. Sembari mendengarkan dengan jelas, satu nama yang selalu Ivan lontarkan. "Shindy"


FLASH BACK END


Rony berjalan mendekati Ivan, dia tahu betul meski dalam keadaan seperti ini, pasien koma bisa mendengarkan apapun yang orang bicarakan di sekitarnya. Rony mendekatkan bibirnya pada telinga Ivan.


"Segeralah bangun dan selamatkan gadis yang kau cintai. Pulihlah dengan cepat komandan perang tuan Tommy." bisikan Rony mendapat reaksi berupa gerakan jemari kanan Ivan


"Lain kali aku harus menstimulus dirimu lebih sering lagi. Aku harus memastikan dendammu terus menyala. Karena setelah Rama membunuh Anton Raharja, kaulah yang harus menghabisinya." gumaman jahat itu terdengar di telinga Ivan.


Meski tidak bisa membuka matanya, Ivan tampak mengepalkan jemarinya tanpa Rony sadari. Rony meninggalkan kamar Ivan dan keluar begitu saja.


*RUANG ICU*


"Aku ada dimana? Indah sekali. Bunga dandelion, mereka berterbangan seperti kapas. Mataharinya hampir terbenam, senja yang indah. Tapi ini dimana?" Shindy berlarian seorang diri.


Tidak ada siapapun disana, Shindy berjalan menyusuri tanaman liar yang tumbuh subur di sekitarnya. Langkah itu membawanya pada sebuah pohon dengan dahan kering tanpa daun. Seperti pohon tua yang mati. Ranting pohon itu menjulang tinggi dengan liukan yang indah.


"Ivan" pekik Shindy


Ivan tersenyum. Melambaikan tangannya untuk Shindy.


"Kemarilah." panggil Shindy


Tiba-tiba tanah yang menjadi pijakan Ivan bergetar, tanah itu runtuh bersamaan dengan jatuhnya pepohonan dan bebatuan disana.


"Tolong Shin. Tolong aku!" teriak Ivan


"Bagaimana caranya Van?" Shindy tampak kepanikan


"Lompatlah kesini. Tarik tanganku Shindy." teriak Ivan yang masih menggantung di ranting pohon.


"Aku harus bisa. Demi Ivan." Shindy berlari menjauhi jurang untuk mengambil ancang-ancang dan.. Shindy melompat ke arah Ivan. Namun nyaris tangan Shindy menyentuh Ivan. Tubuhnya terjatuh ke bawah jurang.


"Tidaaaak!"

__ADS_1


Sindy membuka kedua matanya. Keringat dingin mengucur dari kedua pelipisnya. Tubuhnya gemetar. Dia terguncang. Entah mimpi atau halusinasi yang baru saja dia alami. Shindy terengah-engah. Napasnya terasa sesak. Shindy berusaha menggapai-gapai ke arah Paman Ivan yang tengah tertidur di sofa.


"To.. Tolong." Saking lemahnya, suara Shindy tidak terdengar.


"To.. Long." Shindy berusaha lebih keras.


Debaran di jantungnya makin menjadi. Tubuh itu masih bergetar. Tenggorokannya terasa kering. Shindy butuh minum.


"To.. Long..."


Tampak ada pergerakan dari paman Ivan. Namun kedua matanya masih terpejam. Tampaknya paman Ivan hanya mengubah posisi tidurnya.


"To.." Tangan Shindy terulur. Tubuhnya sedikit terangkat ke samping. Luka jahit yang masih basah terantuk pegangan ranjang. Shindy meringis menahan sakit. Shindy memaksa dirinya untuk mengambil gelas di nakas, namun tidak sesenti pun gelas itu tersentuh.


BUG.. Tubuh Shindy terguling ke lantai. Jarum infus dan jarum tranfusi pun masuk ke dalam pembuluh darahnya.


Akkkkh..


"Shindy." panggil paman Ivan yang terbangun mendengar suara Shindy yang kesakitan.


Paman Ivan membantunya kembali ke ranjang.


"Tunggu sebentar, saya panggilkan dokter dulu." ujar paman Ivan panik melihat jarum infus masuk ke dalam lengan Shindy


Kedua selangnya tak lagi tersambung. Justru lengannya tampak bengkak karena insiden yang baru saja terjadi.


Shindy menatap kosong ke arah nakas. Menyadari sebuah kertas terselip di bawah gelas minumnya. Shindy berusaha menggapainya.


Hiduplah dengan baik Shin. Makanlah teratur dan istirahatlah yang cukup. Jaga bayi yang ada dalam kandunganmu. Biarkan dia hidup seperti yang seharusnya. Jangan pernah berpikir untuk menghilangkan nyawa bayi yang tidak berdosa ini. Juga, jangan pernah berpikir untuk bunuh diri lagi. Aku akan kembali jika sudah saatnya nanti. Sementara saat aku tidak ada, jangan pernah pergi kemanapun sendiri. Aku hanya mampu menuliskan ini, agar kau tidak merasa bersalah dan kehilangan diriku. Aku masih hidup Shin. Aku hanya sedang menyelesaikan tugasku. Jangan beritahukan hal ini pada siapapun, karena itu dapat membahayakan keselamatanmu.


Ivan


"Ivan.. Benarkah Ivan masih hidup? Pantas saja polisi tidak menemukan jasadnya." gumam Shindy dengan air mata menetes.


Lega luar biasa. Dia bahagia melihat isi surat di tangannya. Ketakutannya tidak terjadi. Rasa syukur membuncah di dadanya. "Terima kasih Tuhan. Terima kasih telah melindunginya untukku."


"Berjalan sesuai rencana." Smirk menakutkan menghiasi wajah garang seseorang yang menyaksikan perbuatan Shindy dari luar.


"Akan ku ciptakan drama yang indah untuk kalian. Selamat menikmati."

__ADS_1


__ADS_2