
"Shin! Keluar! Makanan Ivan sudah siap." panggil Rama sambil terus menggedor kamar Shindy.
Shindy memaksa membuka matanya yang masih lengket karena kantuk.
"Sebentar." ujarnya lirih
Gedoran itu semakin keras seolah memaksa untuk masuk. Shindy segera bengkit dan membukakan pintu. Setengah mengucek matanya, Shindy menghampiri Rama.
"Kau tidur?" tanya Rama
Shindy mengangguk pelan.
"Aku tidak membawamu kemari untuk menjadi tuan putri di rumahku. Sekarang cepat makan dan bersihkan rumah ini!" bentak Rama
Shindy yang terkejut membelalakkan matanya. Dia baru menikmati tidur siangnya dan sudah disambut dengan makian kasar suaminya. Shindy beranjak keluar kamar dan setengah berlari ke arah dapur. Matanya yang masih mengantuk, membuatnya menabrak seseorang.
BRUK.. Tubuhnya jatuh. Kedua matanya tampak buram. Seorang pria besar ada di hadapannya.
"Gadis yang manis, mau kemana kok buru-buru." goda Bowo sambil berjalan ke arah Shindy
Shindy yang masih tergeletak di lantai, mundur teratur. Aura mes*m tampak di wajah Bowo. Dug. Tubuhnya menabrak kaki seseorang. Shindy mendongak. Ya, itu suaminya Rama. Shindy bergegas bangun dan berdiri di belakang suaminya, seolah minta perlindungan.
"Tidak ada yang bisa melindungimu, jika suamimu saja sudah menyerahkanmu gadis b*doh!" teriak Bowo
"Pergilah, dia sudah membayar sewa untukmu!" ucapan Rama begitu dingin
"Apa maksudmu?" Shindy berjalan menjauhi dua orang di hadapannya
"Kau takut?" tanya Rama yang semakin mendekat
"Kau sudah menjualku? Pada laki-laki br*ngs*k ini!" tuding Shindy pada Bowo
"Aku bukan lelaki br*ngs*k b*doh!" Bowo hendak melayangkan pukulannya. Namun sebuah tangan menangkisnya.
"Makanan sudah siap. Jika dibiarkan terlalu lama, ikan bakarnya akan dingin. Tidak akan nikmat lagi!" tukas Ivan sambil mencengkeram tangan Bowo
"Cuih! Ada yang sok jadi pahlawan disini!" olok Rama
"Jika kalian tidak mau makan, biar aku dan dia saja yang habiskan." ujar Ivan membantu Shindy berdiri
__ADS_1
"Wo, anak buahmu mulai menaruh hati pada istriku. Apa yang harus kita lakukan padanya?" teriak Rama sambil menatap marah ke arah Ivan
"Hajar saja Ram!" ujar Bowo
Tatapan tajam Ivan mengarah pada kedua laki-laki di hadapannya. "Lakukan semau kalian, dan aku akan lakukan apa yang aku mau!"
Ivan mengeluarkan sebilah pisau lipat dari saku celananya. "Aku pembidik yang bagus, kalian tahu itu kan? Aku juga bisa membunuh kalian kapanpun dengan benda kecil ini."
Bowo dan Rama saling berpandangan.
"Sepertinya, kita harus makan." tutur Shindy untuk mencairkan suasana
"Ayo ke dapur." ajak Ivan yang hanya dilirik tajam oleh Rama
"Kita harus tahu Wo, apa rencana anak kecil itu! Jangan sampai dia menggagalkan rencanaku untuk mendapatkan bayi Shindy!" ujar Rama
"Aku akan bicara pada Tommy agar segera menariknya pergi dari sini." ujar Bowo entah apa yang dia rencanakan.
Ivan menarik sebuah kursi untuk Shindy. Juga mendekatkan nasi putih yang masih mengepulkan asap dan seekor ikan bakar.
"Apa kalian sering seperti ini? Aku merasa, sejak kita berangkat, kalian tidak pernah akur." ujar Shindy menuangkan sambal tomat di piringnya
"Jangan menyalah artikan sikapku, sebagai sebuah kebaikan. Aku hanya melakukan apa yang menjadi tugasku." ujar Ivan
"Tugas?"
"Iya, tugasku untuk mencari tahu, hubungan kalian yang sebenarnya. Dan apa aku bisa memanfaatkanmu untuk membalas dendam pada Rama." balas Ivan dalam hati
"Kita nikmati makan siang ini Ram! Sepertinya, adik kecil kita ini sudah memasak dengan enak." sahut Bowo yang tiba-tiba datang
Shindy tak senang melihatnya dan kembali fokus pada makanannya. Meski tidak bisa dipungkiri, banyak teka-teki yang belum tersusun di otaknya. "Apa tugas Ivan? Dan kenapa Ivan, Rama dan lelaki besar itu saling membenci sama lain? Aku harus melakukan sesuatu. Pertama, aku harus tahu dulu apa isi koper hitam yang dimasukkan ke ruang kerja Rama. Dengan begitu aku akan tahu, pekerjaan Rama yang sebenarnya."
"Woy! Makan, jangan ngelamun!" bentak Ram
Shindy mengerjapkan matanya. Dia terkejut dengan bentakan Rama. Tanpa menjawab apapun Shindy melanjutkan makannya.
"Aku cuci piring dulu." Pamit Shindy membawa piring kotornya ke westafel.
"Jangan lupa, bersihkan rumah ini juga!" ujar Rama
__ADS_1
Shindy hanya menanggapi Rama dengan anggukan. Setelah meletakkan piring bersihnya, Shindy berjalan menuju depan rumah Rama. Dia melihat ada gantungan sapu di gudang samping saat masuk tadi. Shindy mengambil sapu yang paling ringan, karena rumah ini dua kali lebih besar dari rumahnya sepertinya Shindy akan mati kelelahan.
"Aku harus mulai dari mana?" Shindy melongok ke dalam gudang. Ada alat penyedot debu dan beberapa kain pel yang tergantung disana. Shindy mengambil semuanya dan kembali masuk ke dalam rumah.
Shindy mulai membersihkan karpet ruang tamu, menyapu lantainya, mengelap setiap inci meja ruang tamu dan deretan hiasan dinding yang terpajang. Tiba-tiba tertangkap di telinganya, sebuah percakapan Rama dan Bowo.
"Barang itu sudah ku letakkan di tempat yang aman. Kau hanya harus memastikan pintu ruanganmu selalu terkunci. Jangan sampai istri b*dohmu itu tahu semuanya!" pesan Bowo
"Kau tenang saja, dia ada dalam kendaliku. Aku akan gunakan bayi h*ram itu untuk mengacamnya!" ujar Rama
"Apa yang aku tidak boleh tahu?" gumam Shindy terhenti dari kegiatannya
"Woy!"
Shindy terlonjak karena bentakan Rama yang tiba-tiba. Jantungnya berdetak tak karuan. Jika seperti ini terus, mungkin Shindy bisa mati muda.
"Bisakah kau berhenti berteriak Ram? Kau selalu mengejutkanku." protes Shindy
"Apa hakmu untuk memprotesku Shin? Apa kau kira kau tuan rumah disini?" tanya Rama sakratis
Shindy menghela napas.
"Setidaknya, jaga intonasi bicaramu. Aku sedang hamil Ram. Tidak akan baik untukku dan bayiku jika selalu dalam tekanan." ujar Shindy memberanikan diri untuk bicara
"Bonekamu sudah pandai bicara Ram!" ujar Bowo
Tangan Rama terulur. Menarik kasar dagu Shindy hingga Shindy harus mendongak kesakitan karenanya.
"Tutup mulutmu itu, atau aku akan membuatmu tidak bisa bicara selamanya!" balas Rama menghempaskannya kasar
"Buatkan kopi untuk kami!" titah Rama
Shindy membawa alat kebersihannya ke belakang. Dia berniat menuju dapur untuk membuatkan kopi. Shindy merebus air di panci. Menyiapkan dua cangkir kosong dan mulai meracik kopi hitam yang Rama minta. Terbesit rasa penasaran yang luar biasa, saat Shindy menatap pintu ruang kerja Rama.
Shindy melangkah pelan ke arahnya. Ruangan itu terletak di pojokan dapur. Seperti gudang yang difungsikan untuk ruang kerja Rama. Shindy semakin mendekati pintu dengan cahaya remang di sekitarnya. Tidak ada jendela di sekitarnya. Hanya saklar lampu kecil yang ada di sisi kanannya. Shindy terus mengendap sambil celingukan memastikan tidak ada orang disana.
"Aku harus tahu, apa isi tas hitam itu?" Shindy memegang kenop pintu. Ceklek.
"Tidak dikunci." Shindy membuka perlahan pintu kayu jati yang sedikit berat.
__ADS_1
GREP.. "Sedang apa kau disini?"