
Suara bass Ivan mengejutkan Shindy. Kedua matanya mengerjab tak percaya. Baru saja dia bermimpi indah bersama Andrian. Kini justru pria lain lah yang menjadi sandarannya.
"Maaf. Aku hanya teringat moment kecil." ujar Shindy menunduk malu
"Sudahlah. Kita harus bergegas. Waktu kita terbatas." ajak Ivan meraih tas kecil yang dia letakkan di bawah kakinya
Shindy pun mengikuti dari belakang. Dua orang itu sudah berada di bandara, menunggu jemputan yang sudah Michael janjikan untuk mereka. Sengaja Michael mempersiapkan semuanya, karena hari ini dia berniat membantu Ivan untuk memberontak pada tuannya.
Sebuah Paj*ro putih berhenti di hadapan mereka.
"Made, masuklah." tukas sopir berusia senja itu dengan kaca mata tebalnya
"Made? Kamu masih mengingatku dengan baik Pak Tua. Ku dengar, kamu baru saja pensiun." ujar Ivan memasukkan beberapa koper ke dalam bagasi.
"Usia menyelamatkanku dari jeratan Tommy. Aku tidak akan pernah lupa, cara dia melumpuhkan istriku. Made, bagaimana pun kau tumpuanku hari ini. Nasibku bergantung padamu." ujar pria tua bernama Surya tersebut
"Aku akan berusaha menghancurkannya malam ini. Segala yang aku dan Shindy alami, harus dia bayar dengan mahal." gumam Ivan. Aura kemarahan tampak jelas di matanya yang tajam.
"Istrimu cantik." puji Surya membukakan pintu belakang untuk Shindy.
"Istri Rama. Dia belum sah bercerai, hanya statusnya kini sudah menjadi janda." terang Ivan ikut naik ke dalam mobil.
"Kau menghabisi Rama?" tanya Surya
Ivan menggeleng. "Mereka yang menghabisinya. Hanya untuk menghilangkan jejak, nyawa pengedar itu harus berakhir dengan sadis. Miris sekali."
Surya tersenyum. Iblis kejam dalam diri Ivan telah kembali. Dengan begini keyakinannya bertambah. Ivan akan memenangkan pertempuran kali ini.
"Biar aku hubungi Andrian untuk menjemputmu begitu dia sampai di Bali." ujar Ivan mengetik beberapa nomor di ponselnya
"Aku ikut denganmu! Bahkan jika harus mati sekali pun, asal aku bisa melindungi bayiku. Aku rela. Setidaknya aku bisa melihatnya kembali, walau hanya sekali saja." balas Shindy
"Seyakin apa kau padaku Shindy?" tanya Ivan
"Nyawaku ada di tanganmu Van. Seyakin itu aku mempercayakan keselamatanku dan bayiku." ujar Shindy menatap serius ke arah Ivan
Tampak Ivan tersenyum. Wajahnya mendekat ke arah Shindy, memangkas jarak diantara keduanya.
"Bolehkah?" tanya Ivan menatap bibir semerah Cherry yang Shindy miliki
__ADS_1
Shindy memejamkan matanya. Tanpa aba-aba Ivan mengecup singkat bibirnya. Hanya sekilas, hanya sebatas ingin menguatkan lewat kontak fisik yang mereka lakukan.
"Aku berjanji, akan menjagamu sampai akhir hidupku Shindy."
Bagai de javu, kejadian seperti ini pernah terjadi sebelumnya. Shindy ingat betul, saat sebelum mereka mengalami kecelakaan. Shindy tampak tegang. Tiba-tiba Ivan meraih jemarinya. Membiarkannya saling bertaut untuk menyalurkan kehangatan.
"Kau gugup?" tanya Ivan
"Hanya takut, jika terjadi sesuatu pada bayiku. Dan bagaimana jika dia tidak bisa ditemukan?" cemas Shindy
"Kita pasti menemukannya. Pak tua, kau tahu letak lokasi yang ku kirimkan bukan?" tanya Ivan
"Aku lebih tahu yang Tommy sembunyikan daripada dirimu Made. Jangan ikuti titik yang Michael berikan. Itu jebakan. Sebaiknya kita ikuti ke mana mobilku membawamu!" ujar Surya menambah laju kendaraannya
Ivan menyeringai. Sudah bisa menebak kemana arah mobil ini berjalan. Tiba-tiba ponselnya berdering. Tampak Andrian memanggilnya.
"Aku sudah sampai di bandara Van. Apa yang harus aku lakukan?" tanya Andrian di seberang sana
"Pulangkan dulu istrimu. Biarkan dia beristirahat dengan tenang dan akan ku kirimkan titik lokasi keberadaanku. Telepon polisi dan ajak mereka bersamamu." ujar Ivan
"Baik. Apa aku perlu meminta beberapa untuk menjaga istriku di rumah?" Andrian tampak cemas dengan kondisi Retha yang tengah mengandung.
"Apa istrinya tengah mendrama lagi?" tanya Shindy yang tiba-tiba menjadi kesal karena mendengar kekhawatiran Andrian.
"Hormon kehamilan. Itu wajar. Percepat Surya! Kita tidak punya waktu lagi." ujar Ivan
Ivan membuka tas selempang yang dia bawa. Mengeluarkan dua buah pistol untuk kemudian diisi dengan peluru. Tak lupa menyelipkan belati kecil pada ikat pinggangnya.
"Pakai ini Shin. Buka jaketmu, letakkan ini di dalamnya." ujar Ivan menyodorkan rompi anti peluru pada Shindy
Ivan pun melepas kemejanya asal. Menunjukkan bentuk tubuh sempurna yang telah dilatih bertahun-tahun. Bergegas dia kenakan rompi yang sama untuk melindungi diri. Lalu kembali mengenakan kemejanya.
"Surya, perlukah kau memakai ini?" Ivan menyodorkan satu lagi untuk temannya
"Aku sudah terlalu tua untuk bermain seperti ini Van. Tapi baiklah, demi istriku aku akan terus hidup." ujar pria tua itu.
Mobil yang mereka kendarai telah masuk jauh ke dalam hutan. Surya menghentikan mobilnya, bahkan mematikan semua lampunya untuk penyamaran.
"Markas lama kita ternyata masih difungsikan. Hahaha." seloroh Ivan membuka pintu mobil.
__ADS_1
"Penjara berbentuk mansion bagi mereka yang ditawan. Ku dengar banyak gadis cantik yang terkurung sebagai mainan Tommy dan anak buahnya." ujar Surya yang juga memasukkan sebuah pistol di belakang bajunya
"Kau harus mengambilnya sebagai bonus Pak tua!" canda Ivan sambil melangkah maju untuk memantau keadaan.
"Shindy kemarilah." Ivan meraih tangan Shindy yang tidak membawa apapun.
"Tetaplah di belakangku. Jangan berteriak atau bergerak tiba-tiba. Jika kau takut, pukul atau gigit saja aku. Asal jangan bersuara apapun." jelas Ivan
"Apa aku tidak boleh membawa apapun?" tanya Shindy
"Bawa ini!" Sebuah bubuk merica dalam tabung kecil Surya sodorkan
"Aku bukan gadis lagi Pak Surya. Harusnya kamu memberiku senjata yang lebih ganas." gerutu Shindy
Gelak tawa Surya terdengar. Dengan cepat Ivan membungkam mulut kakek tua itu agar tidak ketahuan.
"Bawa ini Shin." sebuah alat berbentuk kotak yang mengalirkan listrik. Stun Gun. Begitulah Ivan menyebutnya.
"Tekan tombolnya saat kau terdesak. Kenakan pada orang yang mengganggumu." ujar Ivan
SRRRT.. Aaaaa.. Keluh Surya begitu Shindy menyetrumnya
"Maaf Pak Surya, aku hanya ingin memastikan apa ini bekerja dengan baik." gumam Shindy
"Wanitamu ini sangat berbahaya Made. Auww.." gumam Surya berusaha bangun dari posisinya
"Kita berangkat." Ivan memberi komando
Membelah rerumputan liar dan ilalang yang tinggi. Ivan, Shindy dan Surya bermaksud menyergap lewat tembok samping markas. Dimana minim sekali penjagaan karena dikelilingi oleh hutan. Tidak akan ada yang mengira ada bangunan di tengah belantara seperti itu. Ivan mengendap-endah sesekali mengarahkan senter kecil di tangannya ke arah kiri dan kanan. Memastikan keadaaan aman. Mereka berjalan berurutan tanpa mengeluarkan suara.
Cit cit cit.. Suara decitan tikus tengah melewati kaki Shindy begitu saja.
"Aaaaaaa." Pekik Shindy terkejut
Dengan cepat, Ivan menutup mulutnya. Ivan menajamkan pendengarannya. Samar-samar ada pergerakan di sekitarnya. Suara langkah kaki beberapa orang. Gumaman pelan mulai terdengar. Ivan menarik Shindy dan Surya untuk mundur dan beralih ke sisi lain, menjauhi asal suara. Namun saking tegangnya, tanpa sadar alat kejut Shindy mengenai lengan Surya.
"Arrrgh." keluhnya
"Disana!"
__ADS_1