DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)

DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)
Pemakaman Anton Rahardja


__ADS_3

"Rama ditembak? Tapi kenapa jasadnya tidak ada?" tanya Adrian


Ivan menggeleng. Sulit baginya menjelaskan, seberapa licik kelompok Tommy. Ivan terdiam, pikirannya menerawang. Bingung harus berbuat apa.


"Aku kehabisan cara." tukas Ivan menggelengkan kepalanya


"Van, aku tidak bisa membawa Shindy ke Bali. Setidaknya jangan berdua. Istriku sedang hamil besar. Aku tidak mau dia berpikiran yang tidak-tidak." terang Adrian


Ivan tersenyum. Paham betul dengan maksud perkataan Adrian.


"Kita akan berangkat bertiga. Dua atau tiga hari lagi setelah pemakaman Pak Anton." tegas Ivan


"Tapi kondisimu?" tanya Adrian


"Jangan khawatirkan aku, bayi Shindy lebih penting. Setidaknya jika aku harus mati, aku mati dengan cara terhormat. Bukan sebagai anak buah penjahat." ujar Ivan tersenyum


Adrian mengangguk paham. Kini pikirannya yang berkecamuk, setah kejadian mengerikan yang menimpa dua orang ini, bagaimana dia bisa menjelaskan pada Retha untuk kepergiannya ke Bali. Sedang kondisi mobilnya yang rusak parah saja, Adrian belum menemukan alasan yang tepat. Adrian menghela napas. Tidak menyangka akan ikut terlibat dalam skandal ini. Kini dia hanya bisa berharap, ada jalan keluar terbaik agar hidupnya kembali tenang seperti dulu.


Ponsel Adrian kembali berdering, Adrian meminta ijin untuk keluar ruangan. Benar saja! Retha tengah mencemaskannya.


"Mas, aku lihat berita kecelakaan di TV. Kamu nggak apa-apa kan? Aku lihat mobil kamu ringsek!" terang Retha


"Owh itu..." Andre terdiam apa perlu menjelaskan yang sebenarnya terjadi atau berbohong saja. Jika dia mengatakan yang sebenarnya, mungkin kepergiannya ke Bali akan ditolak mentah-mentah oleh istrinya. Tapi jika dia berbohong dan Retha tahu hal ini dari orang lain. Dia akan menjadi uring-uringan lagi.


"Mas.." bentak Retha yang tak juga mendapat penjelasan dari suaminya


"Itu.. Ivan dan Shindy kecelakaan. Tapi sekarang mereka sudah aman kok. Ivan sudah sadar." terang Adrian berniat menceritakan masalah ini nanti setelah tiba di rumah.


"Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Retha khawatir


"Nggak kok! Aku ke lokasi setelah kecelakaan terjadi. Lagipula mobilku kan Ivan yang bawa. Kamu tenang ya Tha. Jangan berpikir berlebihan." ujar Adrian


"Cepat pulang Mas. Jangan terlibat urusan apapun lagi dengan Shindy! Aku nggak mau terjadi sesuatu sama kamu." ujar Retha


"Soal itu..."


"Permisi, apa bapak adalah walinya nona Shindy?" tanya seorang perawat

__ADS_1


Adrian menoleh. Dengan masih memegang ponsel di telinganya. Dia menjawab. "Iya sus."


"Nona Shindy sudah sadar, dia mencari anda Pak." terang perawat tersebut.


"Baik sus. Saya akan segera kesana." balas Adrian


"Owh, jadi sekarang kamu walinya Shindy mas?" pertanyaan bernada rendah itu terdengar dari ponsel


"Sayang, aku yang bawa mereka ke rumah sakit. Kalau bukan aku yang jadi walinya siapa lagi?" tanya Adrian


"Pulang sekarang Mas! Aku nggak mau tahu!" tukas Retha mulai menunjukkan kecemburuannya


"Tapi.. Siapa yang jagain mereka? Kamu nggak kasihan?" tanya Adrian


"Kamu nggak kasihan Mas sama aku? Aku ini lagi hamil besar Lo!" balas Retha


"Iya aku tahu tapi.."


"Telepon mamanya Shindy, suruh dia jagain ke rumah sakit. Shindy itu cuma mantan kamu Mas. Dia bukan tanggung jawabmu lagi! Cepat pulang atau aku nggak bakal bukain pintu buat kamu!" telepon dimatikan sepihak


Adrian menghela napasnya kasar. Belum bicara saja, Retha sudah tidak mau dengar apalagi kalau.. Sudahlah pikir Adrian bergegas masuk ke ruangan tempat Shindy dirawat.


"Kamu udah aman sekarang Shin." balas Adrian duduk di sisi ranjang Shindy


"Belum. Bayiku masih belum ketemu." ujar Shindy


"Aku sudah lapor polisi, aku yakin mereka akan melacak para penjahat itu dan menemukan bayimu." ujar Adrian menenangkan


"Aku nggak yakin. Setelah mengalami banyak hal sulit ini, aku rasa nggak mudah menemukan mereka. Mereka punya banyak tempat persembunyian dan pastinya..."


"Sssst jangan berpikir terlalu banyak. Kamu fokus buat penyembuhan saja dulu."ujar Adrian


"Kamu memang orang baik An. Aku udah salah milih pasangan hidup dan akhirnya hidup aku jadi seperti ini. Mungkin, ini karma karena aku udah nyakitin kamu." Shindy terisak


"Udahlah, lupain aja. Nggak usah ingat-ingat lagi. Ada hal yang lebih penting dari itu semua. Dan aku janji bakal bantuin kamu sampai akhir." dengan bodohnya Adrian mengucapkan kalimat itu tanpa berpikir panjang.


Shindy mengangguk. Adrian mengusap sisa air mata Shindy yang berjatuhan.

__ADS_1


"Jangan nangis lagi. Aku nanti pulang sebentar ya. Aku akan telepon mamamu buat jagain disini." terang Adrian


"Harus banget ya pulangnya? Aku masih takut An." ujar Shindy memegang lengan Adrian agar tidak pergi


"Harus Shin. Istriku minta aku buat pulang. Dia butuh bantuan juga, aku permisi dulu ya!" pamit Adrian.


Shindy menatap lesu punggung Adrian yang semakin menjauh. Sesal sudah tiada gunanya lagi sekarang.


...****************...


Kediaman Anton Rahardja, jenazah korban pembunuhan itu telah tiba di kediamannya. Sambutan penuh tangis terdengar begitu memilukan dari orang-orang terkasih. Tak terkecuali Shindy yang sangat menyayangi papapnya harus merelakan. Peti mati itu diletakkan di tengah ruangan. Setelah didoakan dan seluruh keluarga berkumpul, peti itu dibawa ke pemakaman. Ivan yang turut hadir hanya bisa merangkul dua wanita lemah itu untuk menguatkan mereka. Kondisinya sudah lebih baik , meski lukanya belum kering sepenuhnya. Namun bukan Ivan namanya jika harus terpuruk karena luka seperti itu.


Adrian juga hadir di pemakaman, seorang diri. Setelah sempat beradu mulut dengan istrinya dia akhirnya bisa datang ke acara ini, meski sedikit terlambat.


"Sorry Shin aku telat." terangnya merasa tak enak


Shindy hanya menggelengkan kepala.


"Ayo An, masuk ke mobil. Jenazah mau diberangkatkan." ajak Ivan.


Adrian pun masuk ke mobil yang sama dengan Ivan. Merasa iba dengan keadaan Shindy yang tampak kacau. Ingin rasanya dia ikut membantu, meski apapun resiko yang terjadi nanti.


"Gimana An, kamu sudah memberitahu istrimu?" Ivan mengawali pembicaraan


Adrian menggeleng.


"Dia marah sewaktu tahu aku yang mengantar kalian ke rumah sakit. Juga soal mobil itu, dia ngancam jika aku terus ikut campur dalam masalah Shindy maka.." Kalimat Adrian terhenti


"Dia bakal ninggalin kamu?" terka Ivan


Adrian mengangguk.


"Lupakan saja soal itu An. Biar aku yang mengantar Shindy sendiri. Jangan sampai rumah tanggamu ikut berantakan gara-gara ini." jelas Ivan


"Nggak!" tolak Adrian.


"Pak Anton banyak bantuin aku dulu, mungkin ini saatnya aku balas budi. Aku bakal tetep ikut apapun resikonya nanti, aku akan menanggung semuanya." tegas Adrian

__ADS_1


Ivan tersenyum, tidak menyangka dengan respon pria di sebelahnya itu.


"Setelah pemakaman, persiapkan diri kamu An. Kita berangkat malam ini."


__ADS_2