
"Rama.." ujar Shindy meletakkan tisu dari genggamannya
"Merindukan suamimu? Kemarilah sayang, peluk aku!" kalimat penuh drama terucap begitu saja oleh Rama
"Tidak, pergilah Ram. Aku.. Ingin disini." Shindy mundur perlahan
"Kau ingin disini? Bersama siapa? Arwah gentayangan dari mereka yang sudah mati. Hah! Lucu sekali.." tukas Rama dengan tawanya
"Ivan belum mati. Dia akan segera kembali." tukas Shindy
"Owh, pria baikmu itu ya! Bagaimana caraku menjelaskannya ya? Ck.." ujar Rama memancing pertanyaan dalam benak Shindy
"Dimana Ivan, Ram? Kenapa kau pulang dengan motornya?" tanya Shindy mendadak panik
"Aku baru saja membakar mobilku beserta Ivan di halaman rumah baru kita. Mungkin dia sudah menjadi manusia panggang yang menyedihkan." ujar Rama
Shindy menatap tak percaya ke arah Rama, bulir bening mulai membasahi matanya.
"Ivan.. Dia juga kau bunuh?" tanya Shindy, tubuhnya ambruk ke lantai.
"Bukankah suamimu ini orang baik? Aku sudah menyatukan satu keluarga yang sempat terpisah, di dalam neraka." puji Rama tanpa rasa bersalah
"Kau.. Manusia terkejam yang pernah ku temui Ram! Kau Iblis berwujud manusia!" maki Shindy dengan amarah yang tak lagi sanggup dibendungnya.
"Jika aku Iblis, lalu kau ini apa? J*l*ng neraka? Bukankah kita pasangan yang serasi Shin?" Rama masih menganggap lucu perbuatan kejinya
Shindy hanya mampu meneteskan air mata tanpa berkata apapun lagi. Jauh dalam hatinya, terpahat rasa kehilangan yang teramat sangat. Shindy harus kehilangan, satu orang baik yang ada di pihaknya. Seolah Tuhan tidak mengizinkannya bersama mereka.
"Ayo kita pergi sayang. Aku sudah menyiapkan tempat yang baru untuk kita." ujar Rama mengulurkan tangannya
"Tidak Ram. Aku tidak akan pernah ikut denganmu! Apapun alasannya." ujar Shindy geram
"Jangan memaksaku berbuat kasar padamu Shin!" ancam Rama
"Jika kau berani memaksaku, aku akan berteriak sekencang mungkin agar para warga tahu, apa yang kau lakukan." Shindy mengancam balik
"Owh silahkan. Semua orang disini bahkan sudah tahu kalau aku suamimu, tak terkecuali paman dari pria baikmu itu!" ujar Rama membanggakan diri
"Kalau begitu, aku akan melaporkanmu ke polisi, karena sudah membunuh Ivan!" ujar Shindy
Tampak Rama tak gentar dengan ancamannya, Rama menarik paksa lengan Shindy yang terus meronta untuk tidak mau ikut.
"Ikut aku atau.. " Dok.. Sebuah pisau daging yang tajam dihentakkan pada sebuah alas kayu.
"Atau, ku potong tanganmu agar tidak bisa meronta lagi." ancaman itu sukses membuat Shindy takut.
Dia yakin betul jika pria di hadapannya tidak hanya menggertak. Shindy merangkak mundur, semakin menjauhi Rama. Rama menarik lengan Shindy dan memaksanya berdiri.
"Tolong.. Tolong..." teriak Shindy sambil mencoba melepaskan diri
__ADS_1
"Diam kau!" bentak Rama
"Tolong... Tolong aku!" Suara Shindy semakin keras terdengar, beberapa tetangga keluar dari rumah mereka, termasuk paman Ivan.
"Ada apa ini?" tanya Paman Ivan
"Tolong saya Pak. Saya tidak mau ikut." pinta Shindy berusaha melepaskan cekalan Rama.
"Dia istri saya Pak. Apakah salah jika saya membawanya pulang? Lagipula keponakan bapak sudah mengajaknya hingga beberapa hari. Dia telah mengkhianati saya" ujar Rama dengan nada lembut yang dibuat-buat
"Bohong Pak. Dia bukan suami yang baik. Dia terus menindas saya." ujar Shindy
"Dia yang berbohong Pak. Dia jatuh cinta pada keponakan bapak, disaat dia masih sah jadi istri saya. Apalagi, dia sedang mengandung anak saya Pak." sela Rama mencari pembelaan
"Benar kamu sedang hamil?" tanya paman Ivan
"Be.. Benar Pak. Tapi saya takut kembali dengan suami saya Pak. Dia selalu menganiaya saya. Tolong Pak. Jangan biarkan dia membawa saya!" Shindy mempertegas kembali pengakuannya
"Ayo, kita pulang. Tidak baik merepotkan orang terus menerus begini." ujar Rama mencengkeram tangan Shindy semakin kuat
"Aaaaah.." keluh Shindy dengan lengan yang mulai kemerahan
"Jangan kasar dengan wanita. Apalagi dia sedang hamil begini." ujar salah seorang ibu berambut panjang
"Sudah Mas, biarkan saja dia disini dulu. Nanti jika dia ingin pulang, pasti kami akan mengantarnya." imbuh ibu-ibu yang lain
"Tidak! Dia harus pulang bersama saya sekarang." tegas Rama
"Diaaam! Ikut aku atau kau.." kalimat Rama terhenti. Sorot kemarahan tampak di wajah bengisnya.
Shindy terdiam takut.
"Lepaskan dia!" ujar paman Ivan menepis kasar tangan Rama.
"Jangan kasar begini, wajar istrimu tidak mau pulang. Kamu tidak bisa memperlakukan istrimu dengan baik." ujar paman Ivan menasehati
"Hah! Tau apa kamu? Ini urusan rumah tangga saya, jangan ikut campur!" maki Rama
"Sudah pergi saja! Jangan mengusik ketenangan kampung ini! Biar saja istrimu disini, kami sanggup menjaganya." Ibu berambut panjang itu memprovokasi
"Iya pergi saja!" warga yang lain menyetujui.
"Sana pergi dan jangan kembali lagi!" Teriak ketua RT setempat.
Rama terdorong menjauh dari rumah Ivan. Dengan geram dia berteriak, "Akan ku perhitungkan apa yang kalian lakukan padaku. Akan ku buat kalian menyesal!"
Sorakan warga terdengar bersahutan. Rama berlari dengan lemparan sandal dan beberapa barang dari warga.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Paman Ivan khawatir melihat bekas cakaran Rama di lengan Shindy
__ADS_1
Shindu hanya menggeleng pelan, "Pak, ayo kita tolong Ivan. Ivan dalam bahaya Pak."
"Bahaya? Motornya sudah di rumah, apa Ivan belum pulang juga?" tanya paman Ivan tampak kebingungan.
"Pak, suami saya bilang dia membakar Ivan di rumahnya dan membawa lari motornya." ujar Shindy ketakutan
"Kenapa kamu tidak bilang? Harusnya tidak kita lepaskan dia begitu saja!" ujar paman Ivan
"Maafkan saya, saya panik jadi saya tidak berpikir kesana." ujar Shindy
"Ya sudah, saya ganti baju dulu. Kita susul Ivan sekarang."
Tampak kerumunan warga mulai buyar dalam kebingungan, ada bisik-bisik tentang kasus yang Shindy alami. Shindy pun masuk kembali ke dalam rumah dan mengambil sweater rajut miliknya.
Paman Ivan sudah bersiap di atas motor. Shindy juga membonceng di belakang. Dalam arahan Shindy sepeda motor itu melaju ke arah rumah kebun yang Shindy maksudkan. Tepat di depan kebun tebu, paman Ivan berhenti sebentar.
"Apa benar ini jalannya? Kenapa lewat tengah perkebunan tebu begini?" tanya paman Ivan heran
"Betul Pak, ini arah ke rumah suami saya." ujar Shindy mengamati sekitarnya
"Ya sudah, kita kesana pelan-pelan. Jalannya masih tanah begini." balas paman Ivan menyalakan motornya kembali
Shindy berpegangan pada jok belakang. Motor itu semakin mendekati bangunan yang terletak di seberang jembatan. Kobaran api dan kepulan asap membumbung dari kejauhan.
"Kebakaran!" pekik Shindy
"Dia benar-benar membakar Ivan!" Shindy berteriak histeris.
Seonggok mobil yang hangus bersama dengan sebagian kebun durian yang ikut terbakar. Shindy meratap dengan sedih.
"Ivan.. Dia telah meninggal." Shindy menangis sambil terduduk di tanah
"Ini tindak kriminal. Ini pembunuhan, apalagi sepertinya sudah direncanakan. Suamimu harus dihukum!" ujar Paman Ivan marah.
"Kita lihat dulu di rumahmu. Apa suamimu ada di dalam?" tanya paman Ivan
Shindy hanya menggeleng, melanjutkan tangisannya. Kenapa dia harus melihat lagi, orang yang baik padanya harus berakhir di tangan suaminya. Shindy tidak bisa melihat onggokan seseorang dalam kobaran api, namun Shindy mempercayai begitu saja bahwa Ivan telah tiada.
"Kosong! Dia sudah kabur!" teriak paman Ivan dari depan pintu rumah.
"Ayo kita ke kantor polisi, kita laporkan kejadian ini!" ujar paman Ivan menghampiri Shindy
Shindy berusaha terbangun, meski sempat jatuh lagi karena lututnya terasa lemas. Shindy menatap kpbaran api itu untuk terakhir kalinya. Sebelum akhirnya meninggalkan perkebunan itu.
Sesuai perkatannya, paman Ivan membawa Shindy ke kantor polisi. Mereka mengadukan perbuatan Rama yang dengan sengaja menghilangkan nyawa seseorang.
"Kami akan menyelidikinya, terima kasih telah melaporkan hal ini. Segera akan kami kirimkan petugas untuk meninjau lokasi kejadian."
Shindy pun kembali ke rumah Ivan. Lelah. Tubuhnya tidak lagi bisa dikordinasikan. Shindy ambruk di lantai dengan lemas. Air matanya masih belum berhenti. Andai tadi, dia bersama Ivan. Mungkin ada kesempatan baginya meminta tolong untuk menyelamatkannya.
__ADS_1
"Ivan.. Maafkan aku."