DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)

DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)
Ruangan Rumah Sakit


__ADS_3

Seorang dokter muda datang bersama dua orang perawat dan paman Ivan. Melihat Shindy yang sudah tidak kesakitan, dahinya mengernyit.


"Sebentar Mbak, biar saya lihat lengannya." tukas dokter itu sambil menarik lengan Shindy


Warna kemerahan muncul di lengan dan beberapa pembuluh darah yang membiru tampak disana.


"Saya akan keluarkan jarumnya. Maaf ini sedikit sakit." tukas dokter muda itu meminta perawat menyiapkan peralatannya.


"Tahan sebentar ya Mbak." ucap dokter itu sambil mencoba menarik jarum itu perlahan


Shindy memejamkan matanya, berusaha untuk tidak berteriak dan menahan sakitnya. Sebuah jarum yang lumayan besar keluar dari lengan kirinya.


"Sakit." Shindy mengusap pelan bekas jarum itu.


"Sebaiknya Mbak jangan banyak bergerak dulu. Jika butuh sesuatu, bisa minta tolong saja pada paman yang menjaga Mbak. Ini saya harus cari pembuluh Vena yang lain untuk memasangkan infus lagi." ujar dokter mengeluarkan beberapa jarum suntik


Dokter itu mencoba menekan pergelangan tangan kanan Shindy. Setelah menemukan warna kehijauan yang tampak di kulit putihnya, sang dokter menekankan jarum itu ke dalam.


"Aduh." ringis Shindy tidak berani melihat pada tangannya.


"Sudah terpasang." dokter itu mencoba menggerakkan pelan selang infus. Setelah memastikan berfungsi dengan benar, dokter meninggalkan ruangan.


"Kamu tadi mau bangunin saya ya? Maaf, saya nggak dengar." sesal paman Ivan menatap iba ke arah Shindy


"Nggak apa-apa Pak. Terima kasih sudah membantu saya." ujar Shindy tulus


"Kamu kenapa harus kayak gini?" paman Ivan menunjuk ke pergelangan tangan Shindy yang berbalut perban


"Saya... Sedang tertekan Pak. Saya nggak bisa terima kalau Ivan harus meninggal dengan cara seperti itu." gumam Shindy, jauh dalam hatinya dia mulai menyayangi Ivan. Meski belum jelas apa arti perasaannya. Namun Shindy merasa, Ivan adalah lelaki yang baik.


"Jangan seperti ini. Nggak baik. Untungnya bayimu masih bisa selamat. Kasihan dia." ujar paman Ivan menjelaskan


Shindy hanya tersenyum tipis. Punggungnya bersandar pada bantal. Kedua matanya menerawang lurus ke atap.


"Ini saya bawakan minum." paman Ivan meletakkan sebotol air mineral di nakas.

__ADS_1


"Maaf sudah merepotkan paman." Shindy terdiam sejenak. "Boleh kan saya memanggil paman?"


"Tentu saja boleh."


"Pak Wayan, bisa bicara sebentar." tukas salah seorang perawat


"Saya tinggal dulu ya." ujar Pak Wayan mengikuti perawat itu keluar.


Shindy mengeluarkan kembali kertas yang berisi tulisan Ivan.


"Kamu dimana Van? Bagaimana keadaanmu?" gumam Shindy menatap kosong lembaran kertas di tangannya.


Meski tidak tahu keberadaan Ivan, namun mendapat kabar kalau dia masih hidup memberikan secercah harapan baginya. Shindy pun mengambil segelas air dan meneguknya perlahan.


"Aku harus cari tahu. Jika polisi tidak bisa menemukan Rama maka, aku akan mendatangi kedua rumah itu lagi. Semoga saja ada petunjuk tentang keberadaan Ivan." guman Shindy


Tak lama kemudian, Pak Wayan kembali dengan seorang perawat.


"Kamu mau dipindah ke ruang rawat inap." ujar Pak Wayan dengan seulas senyum


"Dia.. Orang itu." gumamnya pelan


Laki-laki yang dia temui kemarin saat di rumah Rama baru saja keluar dari sebuah ruangan. Lelaki itu masih menggunakan baju yang sama, topi hitam beserta masker penutup wajahnya.


"Benar, pria yang kemarin. Tapi kenapa dia keluar dari sana?" pertanyaan itu terlontar tanpa sadar.


"Pria siapa? Yang mana?" Pak Wayan mengikuti arah tatapan Shindy


"Owh, itu pria penyampai pesan. Kemarin saya juga papasan sama dia pas masuk mau masuk ke ruanganmu." tukas Pak Wayan


"Paman juga melihatnya?" tanya Shindy memastikan lagi


"Iya, kemarin pas saya balik dari kantin. Dia keluar dari ruanganmu. Saya juga sempat curiga. Tapi melihat kondisimu yang baik-baik saja. Saya rasa dia tidak berniat jahat Jadi saya membiarkannya." jelas Pak Wayan


Ranjang itu bergerak memasuki ruang mawar. Hanya ada empat ranjang yang saling berhadapan disana. Shindy menempati salah satu biliknya.

__ADS_1


"Jangan banyak gerak dulu ya Mbak. Nanti takutnya bengkak lagi." pesan sang perawat


Shindy mengangguk patuh meski dalam hatinya muncul berbagai pertanyaan yang masih menjadi teka teki.


"Jika dia masuk ke kamarku, dan aku menemukan secarik kertas dari Ivan. Berarti benar, dia hanya berniat menyampaikan pesan. Tapi kenapa dia keluar dari ruang inap itu? Siapa yang dia jenguk? Apa itu Ivan?" batin Shindy menjadi sangat penasaran.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Pak Wayan untuk ketiga kalinya


"Owh nggak apa-apa kok paman." ujar Shindy gelagapan


"Jangan banyak ngelamun, apalagi mikir yang enggak-nggak. Kamu baru sembuh soalnya." ujar Pak Wayan menasehati.


"Iya Paman." Shindy membalas singkat.


"Permisi Mbak, ini sarapannya." Seorang perawat masuk membawakan makanan untuk Shindy


Semangkuk bubur dengan taburan ayam dan kacang di atasnya. Lengkap dengan beberapa potong apel dan puding vanila. Shindy menatap makanan di hadapannya tanpa minat. Shindy mencoba sesendok lalu dimuntahkan lagi.


"Hambar paman." protes Shindy


"Memang begitu makanan untuk orang sakit, kadar gula dan garam harus dikontrol untuk mencegah komplikasi. Apalagi kamu habis operasi." ujar Pak Wajan memberi pengertian


"Bisa minta tolong belikan kecap panan? Saya nggak bisa makan beginian." ujar Shindy memelas


"Ya sudah, tunggu sebentar ya." Pak Wayan tampak meninggalkan ruangan.


Seperginya Pak Wayan, terbesit sebuah ide dalam otak Shindy.


"Aku harus melihat ke ruangan itu." Shindy menggeser meja makannya. Lalu perlahan turun dari ranjang. Setelah sedikit berjingkat untuk melepas cairan infus dari tiangnya, Shindy melangkah keluar.


Shindy berjalan dengan baju pasien melewati beberapa orang yang menatap aneh ke arahnya. Shindy tidak memperdulikannya, dia hanya fokus pada apa yang membuatnya penasaran. Ruang Jasmine. Shindy mengikuti arah yang pria tadi tunjukkan. Pelan namun pasti, Shindy tiba di depan ruang Jasmine. Di sisi kiri tampak ruang PACU yang tertutup. Shindy terfokus pada pintu cokelat tanpa jendela itu. Dengan langkah hati-hati, Shindy memutar kenop pintu.


CEKLEK.. Pintu itu terbuka perlahan. Sepasang kaki terbungkus selimut tampak di dalamnya. Shindy memberanikan diri untuk mendorong pintu itu agar bisa melihat lebih jelas. Seseorang tengah berbaring di ranjang. Mata Shindy membulat sempurna.


"Kamu..."

__ADS_1


__ADS_2