DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)

DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)
Sedikit perlawanan


__ADS_3

Tommy meninggalkan Shindy dalam keadaan mengenaskan. Tubuhnya tampak polos dengan bekas kemerahan di sekitar leher dan bahunya. Shindy menangis, masih terbaring dengan posisi yang sama, dengan kedua tangan dan kaki terikat.


"Rony, buka pintunya. Aku sudah selesai." ujar Tommy memakai kembali piyama mandinya.


Rony mempersilakan tuannya keluar dari kamar itu.


"Lepaskan ikatannya. Biarkan dia di dalam sampai malam. Aku berniat mengajaknya makan malam sebelum memulangkannya." ujar Tommy tanpa rasa bersalah.


Rony mengangguk patuh. Menatap gadis tak berdaya di hadapannya tak membuat hatinya tersentuh. Dengan kasar, Rony menarik lepas dasi yang mengikat Shindy. Juga memotong tali dari pergelangan kakinya.


"Aku sudah memperingatkanmu, jangan berusaha mencari tahu apapun dan cabut tuntutan itu! Tapi kau memilih caramu sendiri. Ku rasa aku tidak perlu merasa bersalah padamu kan soal ini." ujar Rony melempar asal tali pengikat Shindy


"Oh iya, yang dikatakan Rama tentangmu, itu ada benarnya. Kau hanya gadis bodoh yang dibalut dalam paras yang cantik." lanjut Rony dengan senyuman miring.


"Tetaplah disini dan bersihkan dirimu. Kau bisa menunggu malam, tuan Tommy berniat mengajakmu dinner. Aku akan mengantarmu pulang setelahnya." ucapan itu terdengar dingin di telinga Shindy


"Kenapa tidak kau bunuh saja aku? Aku benar-benar tak sudi melihat tuanmu itu lagi!" Shindy meluapkan kekecewaannya.


"Kau yakin ingin mati? Bukankah kemarin, kau ingin hidup? Ck.. Tapi bagiku hidup dan matimu itu sama-sama tidak berguna. Jadi, percuma kan aku mengotori tanganku untuk membunuhmu. Selamat sore Nona Shindy yang tidak terhormat." Rony mengakhiri percapakannya dengan kalimat yang menyakitkan.


Shindy mengerang frustasi. Tubuhnya bagaikan wanita malam yang dicicipi banyak pria secara gratis. Bahkan wanita malam pun masih berharga, karena dibayar untuk melayani tamunya. Sedangkan dia..


"Aaaaaaaarghhh... Aku bodoh! Kenapa aku mengambil keputusan ini? Jika pada akhirnya tubuhku kembali dinodai pria-pria br*ngsek seperti mereka! Aaaaarrgh aku kotor, aku menjadi wanita hina sekarang." tangisnya pecah. Shindy meluapkan segala perih di hatinya di kamar itu. Hancur sudah harga diri dan martabatnya sebagai seorang wanita, setelah sempat dirusak oleh Bowo dan suaminya dulu. Kini kejadian yang sama terjadi lagi pada tubuhnya.


"Sial! Kenapa hidupku seperti ini?" keluhnya menyalahkan takdir yang sudah berbuat tak adil padanya.


Shindy berusaha bangkit dari tidurnya. Nyeri masih terasa di area sensitifnya. Perlakuan kasar tidak bermoral meninggalkan banyak luka di tubuh Shindy. Terutama dalam hati dan pikirannya. Shindy tertatih masuk ke dalam kamar mandi, membiarkan guyuran air dingin dari shower membasahi tubuhnya. Sambil terus meneteskan air mata dan merutuki kebodohannya. Shindy memeluk kedua lututnya di tengah kekacauan itu, berusaha memberi kekuatan pada batinnya meskipun dia tidak yakin bisa melakukannya.


Shindy termenung, tatapannya kosong ke arah pintu kamar yang tertutup. Belum beralih dari kamar mandi, rambut panjangnya yang terurai telah basah. Shindy tidak berniat untuk bangkit dari posisinya. Meski rasa dingin mulai menyapanya. Tubuh kurus itu mulai menggigil, namun tangisnya masih terus terdengar menyedihkan. Shindy, dulu adalah anak emas bagi keluarga Raharja. Tapi sekarang, dia bukan siapa-siapa? Ada harapan besar untuk bisa kembali ke pelukan mamanya, namun seiring berjalannya waktu harapan itu terkubur dengan kenyataan pahit yang dia jalani setiap harinya.


CEKLEK..

__ADS_1


Pintu itu terbuka, menampilkan sosok pria dengan bekas luka di wajahnya. Sebuah nampan berisi dress mahal dengan jepitan rambut yang mewah, dibawa masuk olehnya.


"Pakailah ini. Tuan akan senang melihatmu tampil anggun di depannya." ujar Rony meletakkan nampan itu di ranjang.


"Aku tidak akan mengikuti permintaan tuanmu! Aku bukan bonekamu yang bisa kau atur semaumu!" teriak Shindy


"Ku beri setengah jam untuk bersiap. Jika kau masih ingin pulang dengan selamat, lakukan saja apa mau tuanku! Tapi, jika kau ingin menjadi mayat yang tidak terurus disini, terserah kau saja. Lakukan semaumu!" ancam Rony sama sekali tak menatap ke arah Shindy.


Rony berjalan keluar.


"Ke-pa-ra-t!" maki Shindy emosi


Seringaian muncul di bibir Rony. Dengan sengaja membiarkan pintu kamar itu terbuka di belakangnya.


"Dia bahkan tidak menutup pintunya." lirih Shindy merasa frustasi.


Shindy mematikan kran air, dengan tubuh gemetar. Langkahnya menuju keluar kamar mandi dan menutup pintu. Shindy meraih handuk yang masih dalam lipatan rapi di nampan. Menarik sebuah dress berwarna merah menyala dengan potongan A line yang pas di tubuhnya.


Tapi dia tak punya pilihan. Dia ingin pulang dengan selamat, tidak mau lagi menyia-nyiakan nyawanya karena ada bayi yang sedang tumbuh bersamanya.


Shindy memakai dress itu. Membiarkan rambut basahnya tergerai sampai ke punggung. Shindy lalu terduduk di ranjang. Meratapi sisa-sia perbuatan keji yang Tommy lakukan padanya.


"Keluarlah. Tuan memintamu turun gadisku yang cantik." Panggilan jelek itu Bowo lontarkan begitu dia membuka pintu


Shindy berjalan keluar tanpa sepatah kata pun. Mengabaikan ucapan vulgar Bowo yang dianggap tidak berguna itu. Kaki jenjangnya terbalut heels kaca mahal mengetuk setiap anak tangga yang dituruni. Suasana remang dengan lilin terapi di berbagai sudut mengarahkannya ke ruang makan. Aroma mawar menyeruak di penciumannya.


Tommy terduduk dengan setelan jas mahal sedang menyesap wine di tangannya.


"Shindy Paramitha, ku akui pesonamu luar biasa. Dan aku berterima kasih untuk hari yang indah ini." Tommy membuka percakapan malam itu


Shindy menatap benci ke arah Tommy. Sama sekali bukan sapaan ramah atau bahkan sekedar merespon secara baik-baik.

__ADS_1


"Kau kesini tanpa undangan, sebenarnya itu cukup mengejutkanku. Bahkan dengan berbaik hati, menyerahkan dirimu padaku dengan penuh kesadaran." lanjut Tommy menyesap kembali wine nya


"Bukan aku yang menyerahkannya, tapi kaulah yang mengambil paksa dariku!" teriak Shindy


"Kau bahkan, tidak memberi wanita hamil kesempatan untuk melindungi dirinya. Kau bi*dab!" maki Shindy dengan amarah yang memuncak


Sebuah tepuk tangan terdengar menggema di seluruh ruangan. Tommy berjalan mendekati Shindy. Suara pantofel mahalnya beradu dengan lantai keramik menebarkan aura mengerikan di sekitarnya.


"Ku ucapkan selamat atas keberanianmu. Tapi kenapa kau harus marah? Kau bahkan menikmatinya nona Shindy. Bagaimana kau bisa tidak terima dengan hal ini? Berhentilah berteriak atau janinmu akan terkejut nanti." ucapan itu terdengar lembut namun penuh ejekan di dalamnya


Shindy menggenggam erat ujung bajunya. Membiarkan kuku itu beradu kuat dengan kain indah yang menutupi tubuhnya.


"Aku punya penawaran bagus untukmu nona Shindy!" tangan Tommy memegang pundak Shindy.


"Bagaimana jika kau bekerja untukku, menjadi mata-mata wanita untuk menjebak para pesaingku. Ku rasa, wajah polosmu ini cukup pantas untuk menipu mereka." jari panjang Tommy mengangkat dagu Shindy agar menatap ke arahnya


Sinar mata Shindy tidak menunjukkan tanda setuju. Pun halnya dengan tangan kirinya yang sudah memegang sebuah garpu dari meja.


"Aku akan memberikan apapun yang kau inginkan, jika kau mau bergabung menjalankan bisnisku." sebuah kecupan mendarat di punggung tangan kanannya.


"Tidak akan pernah!"


SRING.... Garpu itu terulur ke arah Tommy. JLEB... Tepat sasaran.


Erangan kesakitan terdengar, memancing kedua anak buahnya untuk segera menghampiri sang Tuan.


"Kejar gadis itu!" perintah Tommy


Shindy terus berlari meninggalkan ruang makan. BUG.. Heels itu mempersulit langkahnya. Tubuhnya terjatuh. Sulit baginya untuk bangkit apalagi kakinya baru saja keseleo. Hingga Rony dan Bowo semakin dekat ke arahnya. Rony menodongkan sebuah benda hitam berpelatuk ke arah Shindy.


"Kali ini, kau harus benar-benar mati!"

__ADS_1


DOR...


__ADS_2