
"Sebaiknya keluarlah dari sini dan jangan pernah menemui Andrian lagi." tukas Bu Nunik
"Tapi Ma. Shindy ingin ngrawat mama." ujar Shindy
Bu Nunik hanya memalingkan wajahnya. Enggan melihat Shindy.
CEKLEK..
Pintu kamar terbuka setengahnya. Tampak Andrian melongok bersama dengan seorang laki-laki berjas putih.
"Dokter Andi sudah datang Ma." ujar Andrian
Andrian menatap Shindy yang tertunduk dengan berurai air mata. Shindy pun bangkit dari posisinya dan melangkah pergi melewati Andrian yang mematung di depan pintu. Shindy kembali ke ruang tamu bersama orang tuanya.
Tak lama berselang, dokter Andi kembali.
"Bu Nunik punya riwayat hipertensi. Jadi, tolong jaga pola makannya dan hindari stress berlebihan. Kondisinya sudah lebih baik, mungkin dia habis shock atau banyak pikiran. Makanya hipertensinya kambuh." terang dokter Andi
"Ini resepnya tolong ditebus ya! Diminumnya dua kali sehari. Sebelum tidur siang dan malam. Untuk sementara, minta Bu Nunik untuk beristirahat dulu." ujar dokter Andi menyerahkan secarik kertas.
"Baik dok. Terima kasih ya!" ujar Andrian saat dokter Andi pamit
"Andrian, maaf sudah membuat Bu Nunik jadi seperti ini. Kami mau pamit saja!" tukas Pak Anton.
"Nggak apa-apa kok Pa. Mungkin mama lagi kurang sehat." Andrian terdiam, menyadari kesalahan dalam ucapannya.
"Maaf Pak Anton, saya sudah terbiasa memanggil bapak begitu." ujar Andrian cepat.
"Tidak masalah Andrian. Saya malah senang jika punya anak laki-laki seperti kamu. Bisa diandalkan dan tidak ceroboh." puji Pak Anton tanpa menghiraukan perasaan Shindy.
Shindy pun hanya menatap Pak Anton yang menepuk-nepuk pundak Andrian.
"Kami pulang dulu ya. Sampaikan salam dan permohonan maaf kami pada mamamu." tukas Bu Wulan
"Baik Ma." balas singkat Andrian
Shindy yang masih tertinggal mengulurkan tangannya. Dengan ragu Andrian menerima jabatan tangan itu.
"Maaf untuk semua kekacauan ini An. Terima kasih untuk tidak memakiku dengan kata-kata kasar meski aku sudah menyakitimu." ujar Shindy
Andrian hanya membalasnya dengan anggukan kepala. Tautan tangan itu terlepas, Shindy berjalan ke arah pintu depan.
"Shin." panggil Andrian
Shindy berbalik ke arah Andrian.
"Jaga dirimu baik-baik ya. Kapanpun kamu butuh bantuan, kamu bisa menghubungiku." ujar Andrian
__ADS_1
Air mata Shindy meleleh. Pria yang sudah dia sakiti, masih bersedia membantunya. Shindy menganggukkan kepalanya lalu kembali menyusul kedua orang tuanya masuk ke dalam mobil. Shindy menatap Andrian yang juga menatapnya dari pintu depan rumah. Perlahan mobil hitam itu meninggalkan halaman. Sepanjang perjalanan, tidak ada percakapan yang terjadi. Hanya keheningan malam dan suara deru mesin kendaraan yang berseliweran. Shindy berusaha mengusap air matanya yang terus menetes. Ingin rasanya berhenti menangis, namun hidup terlalu pelik untuk dia jalani.
Mobil hitam Pak Anton, kembali masuk di bagasi besar miliknya. Tampak Bibi Ningsih dan suaminya Pak Parmin sedang duduk bersama dua bapak-bapak lainnya. Pak Anton yang baru datang segera menjabat tangan keduanya.
"Pak Anton, saya sudah meminta Pak RT dan Pak Mudin untuk datang. Sesuai dengan perintah Pak Anton." ujar Pak Parmin menerangkan
"Iya Pak. Terima kasih." ujar Pak Anton ikut bergabung dengan mereka
"Jadi ada perlu apa Pak Anton? Kok meminta saya datang bersama Pak Mudin? Jika mengenai pernikahan Shindy, bukankah masih beberapa minggu lagi. Lagi pula untuk berkasnya sudah diurus di kantor KUA kan?" ujar Pak Roni selaku RT di sana.
"Jadi begini Pak. Pernikahan Shindy dan Andrian akan saya batalkan." ujar Pak Anton
"Loh kenapa Pak? Apa terjadi masalah?" tanya Pak Roni keheranan
"Biasa Pak, kenakalan anak muda. Jadi, saya mau mengganti mempelai laki-lakinya untuk dinikahkan dengan Shindy." ujar Pak Anton
"Masih ada beberapa minggu Pak, mungkin Pak Mudin bisa mengusahakan?" tanya Pak Roni
"Tidak Pak RT. Saya tidak bisa menunggu selama itu. Saya ingin menikahkan anak saya besok atau lusa." terang Pak Anton
"Tapi pa!" sergah Shindy yang kemudian dihentikan Bu Wulan. Shindy menoleh protes pada ibunya, namun gelengan kepala lah yang dia dapatkan.
"Bagaimana ini Pak Mudin?" tanya Pak Roni.
Tampak lelaki berjenggot itu tengah berpikir. Sambil sesekali mengecek catatan pernikahan di ponselnya.
"Baik kalau itu yang Pak Anton mau. Tolong siapkan berkas mempelai laki-lakinya. Besok pagi saya ambil kesini dan langsung saya bawa ke KUA untuk diproses. Juga berkas yang sebelumnya sudah masuk akan saya tarik."ujar Pak Mudin menyanggupi.
"Pak Min tolong ambilkan tas saya di ruang kerja." pinta Pak Anton
"Silahkan diminum dulu kopinya." ujar Pak Anton
Pak Parmin kembali dengan tas besar berbahan kulit milik tuannya. Pak Anton merogoh beberapa lembar uang dan memasukkannya ke dalam amplop putih.
"Ini sedikit dari saya Pak. Karena bapak sudah bersedia membantu." ujar Pak Anton menyerahkan amplop itu pada Pak Mudin
"Tidak perlu Pak. Biaya pendaftaran pernikahan Shindy kan sudah masuk ke KUA jadi tidak perlu membayar lagi." tolak Pak Mudin secara halus
"Pak anggap ini sebagai uang terima kasih." ujar Pak Anton
"Tolong Pak diterima." pinta Pak Anton
Pak Mudin akhirnya mau menerima uang itu dan mereka berdua pun pamit undur diri. Pak Anton mengantar mereka sampai ke depan pagar. Sementara Shindy dan ibunya masih duduk di ruang tamu.
"Pa, apa ini nggak terlalu cepat? Shindy bahkan baru putus dari Andrian." ujar Shindy mencoba bernegosiasi dengan Pak Anton
"Tidak ada penundaan. Bayi di perutmu tidak bisa disembunyikan. Semakin lama kalian menikah maka semakin besar perutmu dan orang-orang akan tahu. Kamu, menikah karena hamil duluan!" tegas Pak Anton
__ADS_1
"Tapi gimana cara papa minta Rama untuk mengurus berkasnya? Sedangkan dia menolak untuk menikahi Shindy?" ujar Shindy cemas
Seringaian muncul di wajah Pak Anton. "Dia akan menuruti perintahku."
Pak Anton berjalan masuk meninggalkan Shindy dan Bu Wulan yang saling berpandangan.
"Pak Beno buka pintunya." titah Pak Anton.
Pintu kamar belakang terbuka. BUG.. Tubuh kekar Rama terbaring bersamaan dengan terbukanya pintu. Ya, Rama tidur dengan posisi duduk bersandar pada pintu.
"Tolong lepaskan aku!" teriaknya begitu terbangun.
Cengkeraman tangan Pak Beno dan Pak Parmin membuatnya tetap berlutut dengan kedua tangan di belakang.
"Dimana kau menaruh berkas pentingmu? Dan dimana orang tuamu tinggal!" tanya Pak Anton.
"Tidak akan ku beri tahu!" tolak Rama
PLAK..
"Dimana orang tuamu!" teriak Pak Anton
"Sudah kubilang aku tidak akan memberitahumu!" teriak Rama
PLAK..
"Sekali lagi aku tanya, dimana mereka?" tanya Pak Anton
"Mereka sudah mati! Dan kau tidak akan mendapatkan berkas itu! Aku tidak mau menikahi putrimu!" ujar Rama kukuh pada pendiriannya
Pak Anton berdiri dan melayangkan sebuah t*nd*ngan di perut Rama. Tubuh itu jatuh tersungkur sambil mengerang kesakitan memengangi perutnya. Pak Anton mendorong tubuh Rama dengan kakinya. Tubuh Rama terlentang dengan banyaknya luka lebam dan bercak darah di bajunya. Kaki kanan Pak Anton yang masih berbalut sepatu pun diangkat hendak mendarat ke kembali ke perut Rama.
"Di apartemen. Aku menaruhnya di brankas. KTP KK dan semua identitas yang kalian perlukan ada disana." ujar Rama ketakutan.
Pak Anton tersenyum. "Kalian berdua bawa b*j*ng*n ini pergi! Dan jangan kembali sebelum membawa berkas yang ku minta!"
"Baik Pak Anton."
Pak Parmin dan Pak Beno membantu Rama berdiri. Mereka berjalan menuju pintu keluar dan berpapasan dengan Shindy dan Bu Wulan yang hendak kembali ke kamar.
"Rama." panggil Shindy miris melihat keadannya
"Aku akan membalasmu Shin!" ancam Rama dengan mata melotot ke arah Shindy
"Jalan!" hardik Pak Beno memaksa Rama segera pergi
Shindy pun mengerjap. "Apa benar yang Rama katakan? Dia akan membalas Shindy Ma?"
__ADS_1
"Kita tidak punya pilihan lain. Keputusan papamu tidak bisa dibantah." ujar Bu Wulan datar sambil meninggalkan Shindy yang masih termangu
"Inikah akhir tidak bahagia, dari hidup singkatku?" gumam Shindy