
Suara tembakan terdengar bersamaan dengan pecahnya dinding kaca di belakang Rama. Timah panas menembus tepat di dada kirinya, muncratan darah terkena wajah Ivan yang ada di hadapannya.
Shindy memekik histeris, tubuhnya terduduk saking terkejutnya. Ivan hanya menatap tubuh Rama yang tertunduk kesakitan di depannya.
"Bukan.. Bukan aku Shin." ucap Ivan tiba-tiba.
Kilas balik kejadian saat kedua orang tua Rama ditembak, kembali terngiang di pikiran Ivan.
"Aku tidak membunuhmu. Aku tidak menembak siapapun." gumaman Ivan terdengar
"Ivan, menunduk." kejut Shindy
DOR.. Tembakan kedua melesat mengenai lengan kanan Ivan. Ivan memegang lengannya yang berdarah-darah. Seketika dia tersadar dari lamunannya.
"Ivan, lenganmu. Kau tertembak." Shindy melepas jaketnya dan mengikat kuat lengan Ivan yang terluka.
DOR... Tembakan ketiga dilepaskan. Kali ini tembakan itu mengenai punggung Rama. Tubuh Rama yang masih terikat dikursi pun terjatuh ke samping.
"Ramaa..." pekik Shindy
Shindy menghampiri suaminya yang terbaring dengan muntahan darah di mulutnya.
"Rama. Bertahanlah." ucap Shindy mulai kepanikan
"Tinggalkan dia Shin. Tempat ini berbahaya. Aku yakin, mereka akan terus menembaki kita." ajak Ivan
"Tapi bagaimana dengan Rama? Kita tidak bisa meninggalkannya dalam keadaan seperti ini." ujar Shindy
Ivan terdiam sesaat. Menatap ke arah Shindy yang berusaha menghentikan pendarahan di dada Rama.
"Ivan lakukan sesuatu cepat!" pinta Shindy
"Aku tidak akan melakukan apapun untuknya Shin. Dia harus merasakan sendiri, akibat dari perbuatannya. Dia membunuh banyak orang tidak bersalah, dia menyakitimu, bayimu juga diambil! Maaf Shin aku hanya akan melindungimu." balas Ivan dengan tatapan nanar
Shindy menatap ke arah pria di sebelahnya. Seketika dia menyadari kesalahannya.
"Maafkan aku Van. Aku.."
Dor.. Tembakan keempat mengenai tembok di belakang Shindy.
"Bagaimana ini Van?" Shindy memeluk erat tubuh Ivan
"Ayo kita pergi." ajak Ivan membantunya berjalan menunduk.
"Pawon.." ucapan terakhir Rama membuat Ivan menoleh.
Daerah itu, dia pernah kesana. Apa mungkin bayi Shindy ada disana?
DOR... Tembakan beruntun terus mengejar mereka. Shindy yang di dorong keluar kamar oleh Ivan berhasil masuk lebih dulu ke lorong yang tampak kacau. Penghuni apartemen yang lain juga berlarian berebut lift. Ivan menarik Shindy menuruni tangga darurat. Shindy yang baru melahirkan, tidak bisa berjalan terlalu cepat. Hingga dia terduduk di salah satu anak tangga.
DOR... Tembakan itu tertuju pada mereka. Ivan merunduk dan membiarkan tubuhnya menghimpit Shindy. Jarak antara mereka sangat dekat, hingga debaran jantung Ivan bisa Shindy rasakan.
"Kau takut?" tanya Shindy
__ADS_1
"Aku lebih takut, kehilanganmu Shin." balas Ivan jujur
Adegan romantis itu terjadi disaat gentingnya keadaan. Bibir yang saling bertaut seolah menuntut lebih keduanya. Nafas tersengal setelah terlepasnya ciuman itu, menyadarkan mereka untuk kembali berlari.
"Aku akan menggendongmu!" Ivan berjongkok di hadapan Shindy.
"Tapi.."
"Kita tidak punya waktu lagi Shin!" hardik Ivan
Shindy segera naik ke punggung Ivan, kaki panjang Ivan menuruni dua sampai tiga anak tangga sekaligus. Hingga mereka berhasil keluar dengan selamat dari apartemen. Ivan mengendarai mobil putih yang tidak lagi utuh itu memecah jalanan. Sambil meringis menahan sakit karena lengannya yang terluka terpaksa dia gunakan untuk menyetir.
"Ke rumah sakit dulu Van!" ajak Shindy
"Kenapa? Kau terluka?" tanya Ivan
"Bukan aku. Tapi kau. Luka tembakmu itu sangat parah. Kau harus segera ditangani." ujar Shindy
"Tidak, tidak ada waktu Shin. Kita harus.."
"Ke rumah sakit Ivan!" bentak Shindy dengan kedua mata memicing
"Baiklah." Ivan membelokkan arah mobilnya mengikuti kemauan Shindy.
Setelah melewati serangkaian perawatan medis, Ivan akhirnya bisa pulang. Shindy terdiam selama perjalanan pulang. Sesekali melirik ke arah Ivan yang fokus mengemudi.
"Menurutmu siapa yang menembaki kita Van? Apa itu polisi?" tanya Shindy
"Bukan. Ku rasa itu orang yang sama, dengan pembunuh orang tua Rama waktu itu." gumam Ivan tanpa menoleh
Ivan terdiam. Kenapa baru terpikir sekarang, bahwa kasus pembunuhan beberapa tahun lalu dilakukan oleh atasannya sendiri. Atau mungkin, pembunuh keluarganya juga orang yang sama.
CKITTT..
"Kenapa Van?" Tanya Shindy begitu Ivan mengerem mendadak
"Aku tahu harus melakukan apa." gumam Ivan kembali melajukan kendaraannya dengan cepat.
Mobil itu kembali ke halaman rumah Shindy yang tampak lengang. Shindy yang sedikit kelelahan, berjalan gontai ke arah pintu rumahnya. Ivan pun ikut masuk ke dalam dengan tangannya yang diperban.
Belum lama mereka masuk. GREP.. Lampu rumah dimatikan. Keadaan gelap membuat Shindy spontan memeluk tubuh tegap Ivan.
"Apa mati lampu Van?" tanya Shindy
"Ssssst... Sepertinya ada yang mengikuti kita kemari." terang Ivan
"Siapa?" bisik Shindy
"Entahlah. Ikut aku Shin. Kita keluar bersama." ujar Ivan yang hanya dibalas anggukan
Ivan menarik tubuh Shindy kembali ke arah pintu depan. Namun derap langkah terdengar mendekati pintu. Ivan mengintip dari lubang kunci dan seketika terkejut.
"Bowo."
__ADS_1
"Kita lewat pintu belakang." ujar Shindy.
Langkah mereka begitu pelan, takut menimbulkan suara ketika tidak sengaja menendang atau menabrak benda-benda di sekitarnya. Belum sampai di pintu belakang, BRAK.. Pintu belakang didorong paksa dari luar.
"Kita dikepung." gumam Ivan
"Terus gimana Van? Lewat jendela samping rumah!" usul Shindy mendorong tubuh Ivan masuk ke dalam kamar yang dulu ditempati Rama sebelum menikah.
Tubuh Ivan terbanting di ranjang yang empuk dengan Shindy yang menimpa di atasnya. Kembali mereka dalam posisi intim.
"Jika saja keadaannya tidak darurat.." batin Ivan
Shindy menarik diri dan bergegas membuka jendela samping. Sepelan mungkin. Shindy membuka jeruji jendela yang ternyata tidak dibaut dengan benar.
"Biar aku dulu Shin." ujar Ivan melangkah keluar
BRAK.. Suara dobrakan pintu terdengar keras. Shindy dengan panik, segera melompat keluar mengikuti Ivan. Shindy berjingkat lebih dulu menuju ke halaman depan. Sementara Ivan melihat keadaan sekitar mereka. Shindy berlari kencang menggapai mobil putih namun sepasang tangan mendorongnya mundur.
"Bowo!" gumam Shindy
"Ron! Mereka disini!" teriak Bowo sambil mencengkeram lengan Shindy
"Lepas! Lepaskan aku!" ronta Shindy
Ivan menendang kasar perut Bowo hingga mundur beberapa langkah.
"Masuk ke mobil Shin." titah Ivan
Shindy masuk ke dalam mobil dan mengunci pintunya. Namun sayang, jendela belakang mobil yang tidak berkaca membuat sepasang tangan bisa menjambak rambutnya dengan mudah.
"Kau tidak bisa kabur lagi!" ujar Bowo
Ivan berniat menyerang Bowo, namun sebuah pistol menodongnya. Ivan mengangkat kedua tangannya di samping telinga.
"Kau ini, sebenarnya ada di pihak siapa?" tanya Rony semakin menempelkan pistolnya di kepala Ivan
"Aku hanya ingin melindungi yang tidak bersalah!" ujar Ivan
"Sok jadi pahlawan ya?" seloroh Tommy dari arah belakang
"Lepaskan aku br*ngsek!" teriak Shindy dari dalam mobil
"Memohonlah dengan baik sayang, maka aku akan melepaskanmu. Tapi buka dulu pintu mobilnya." balas Bowo semakin menarik kasar rambut Shindy
Shindy menekan klakson dengan kakinya. TIN... Suara bel terdengar keras mengejutkan mereka semua, terutama Bowo yang segera melepaskan cengkeramannya. Shindy menarik tuasnya ke belakang dan seketika mobil itu mundur ke arah mereka. Bowo terpental beberapa meter, begitu pula dengan Rony yang nyaris terlindas ban mobil. Beruntungnya Ivan bisa naik ke kap belakang mobil dan masuk melalui jendela yang berlubang.
"Injak gasnya Shin!" perintah Ivan yang masih berusaha membenahi posisinya
Shindy menginjak pedal gas dan seketika mobil itu menabrak pagar dan terlepas di jalanan. Ketiga orang itu mengejar di belakang, dengan sigap Ivan meraih pisau lipatnya dan melemparnya tepat di tangan Rony yang memegang pistol. Pistol itu pun terjatuh.
"Tidak sia-sia aku melatih kemampuan ini beberapa tahun." bangga Ivan sambil menatap ketiga pria yang semakin jauh.
"Minggirlah Shin, biar aku yang menyetir." ujar Ivan.
__ADS_1
Shindy beralih ke kursi sampingnya. Ivan berusaha maju dan mengambil alih kemudi. Tiba-tiba. TIN...