
Suara pintu yang didobrak paksa terdengar. Tommy menoleh ke arah belakang Ivan. Tampak Michael mengacungkan pistol yang sama ke arah Tommy.
"Dasar penghianat! Rony!" teriak Tommy
"Sepertinya panggilanmu kurang keras." ujar Ivan sambil melirik ke arah pintu kamar Jane yang berderit.
Tampak Jane dengan leher berdarah-darah berjalan tertatih ke luar kamar.
"Bayi itu milikku!" gumam Jane mencoba mendekati kamar paling ujung.
"Jangan biarkan dia mendapatkan kembali bayi kita Van!" gumam Shindy dengan air mata yang menetes.
"Kita?" Dahi Tommy berkerut. Sekilas tawa mengerikan terdengar dari bibirnya.
"Jadi, ini alasan Rama berniat menjual bayinya. Ternyata anak perempuan itu bukanlah darah dagingnya. Tidak heran, jika melihat kemolekan tubuhmu. Siapapun pasti akan tergoda juga. Dan kau Made, lelaki lugu sepertimu pun, tidak luput dari pesona gadis ini!" ujar Tommy semakin mengeratkan lengannya hingga suara Shindy tercekat
"Tapi tidak lama lagi, gadis ini akan menjadi mayat." Tommy berniat menarik pelatuknya
BRAK... Lagi lagi suara gebrakan keras terdengar mengejutkan semuanya. Rony, tubuh penuh luka itu berjalan sempoyongan dengan sebilah pisau di tangannya.
"Perintahkan aku sesuatu Tuan. Maka aku akan melakukannya untukmu!" gumam Rony masih dengan wajah ganasnya
"Kuliti dia!" bisik Tommy mendorong kasar tubuh Shindy hingga tertelungkup di lantai.
Rony berjalan mendekati Shindy bersiap dengan pisau tajam di tangannya.
"Tidak akan ku biarkan." Teriak Ivan berlari menerjang kembali tubuh Rony
Kepalan tangannya menyerang Rony dengan membabi buta. Pun halnya Michael yang mengejar Tommy masuk ke dalam ruangan kamar paling ujung.
DOR.. DOR.. Suara tembakan terdengar bertubi-tubi. Namun pergulatan dua orang pria yang sama-sama kuatnya itu tidak juga berhenti.
Teriakan kesakitan pun terdengar dari balik pintu kamar. Jane. Itu suara Jane. Shindy merangkak mendekati kamar tempat bayinya berada. Masih terjadi adu tembak di dalam sana. Shindy mencoba bangun meski kakinya terasa lemas dan sempat jatuh beberapa kali. Namun, BRAK... Pintu kamar terbuka dengan keras. Tubuh Michael terlempar ke arahnya dan sempat menimpanya. Michael terkapar dengan beberapa luka menganga di tubuhnya. Satu-satunya penjaga yang tersisa kini berhadapan dengan Shindy.
"Sini kau jal*ng!" teriak penjaga itu menarik kasar rambut Shindy
"Ivaaaaan.." teriak Shindy
__ADS_1
Tubuh lemah itu diseret paksa hingga beberapa helai rambutnya berserakan di lantai.
Shindy tertunduk di lantai. Menatap bagaimana keramik itu sudah penuh dengan darah. Tampak Jane sekarat dengan leher yang berlubang. Sudah pasti Michael lah yang melakukannya. Shindy menatap bayinya yang terus menangis di genggaman Tommy.
"Bayi kecil ini, milikku nona Shindy. Dan tubuhmu adalah miliknya. Selamat bersenang-senang nona." ujar Tommy melompat keluar dari jendela
"Tidaaaaaak!" suara Shindy terdengar memekikkan telinga
PLAK.. Tamparan keras melayang di pipinya.
"Apa kau dengar itu tadi? Kau milikku!" ujar penjaga itu
Bak sudah pasrah dengan nasibnya, Shindy tak lagi melawan ketika tangan kotor pria itu mencoba menyentuhnya. Tangannya menjamah penuh nafsu ke arah Shindy. Shindy menutup kedua matanya. Menoleh ke kiri dan kanan untuk menghindari paksaan ciuman dari penjaga itu. Tiba-tiba suara erangan kuat terdengar dari arah depan. Dengan panik, Shindy mendorong tubuh sang penjaga.
"Ivaaaaaan!" teriaknya.
Shindy memaksa tubuhnya untuk berjalan. Meski tertatih dan terpaksa mengisut untuk keluar dari ruangan.
"Mau kemana kau!" penjaga itu menarik tangannya dengan kasar dan menghempaskannya ke kasur
"Jangan.. Aku mohon biarkan aku menemui Ivan." pinta Shindy dengan tangis yang semakin jadi
Dalam sekali tarikan kaos Shindy terbelah menampilkan kulit seputih susu yang mulai kotor dan terkena rembesan darah.
"Indah sekali." penjaga itu melayangkan kecupan-kecupan menjijikkan di tubuh Shindy.
Kedua tangan Shindy dipegang erat di atas kepalanya. Sulit baginya, untuk melawan. Mengingat rasa sakit di tubuhnya yang semakin menjadi. Ditambah gigitan dan hisapan kasar di beberapa bagian tubuhnya, membuat Shindy berpikir jika kematian adalah pilihan terbaik. Namun tanpa mereka sadari, Ivan sudah berdiri di ambang pintu dengan lengan yang bercucuran darah. Langkah pelan Ivan nyaris tidak menimbulkan suara.
KREK.. Dalam satu kali tarikan. Leher penjaga itu terputus dari tempatnya.
"Tidak ada yang boleh menyentuhmu Shindy. Tidak akan ku biarkan kejadian ini terulang lagi." gumam Ivan menatap nanar tubuh polos Shindy.
Shindy masih menangis, terlentang di kasur tanpa sehelai benang pun. Ivan mendekat, membantunya bangun dan merapikan serpihan kain di tubuh Shindy.
"Ivan, aku takut. Mereka membawa anakku Van. Mereka membawanya pergi!" ujar Shindy menangis sejadinya.
"Tenanglah. Mereka tidak akan bisa kabur." gumam Ivan
__ADS_1
Suara sirine polisi samar-samar terdengar. Bunyi tembakan peringatan terdengar beberapa kali. Tommy berlari menjauhi mobilnya, berniat kabur melewati hutan belakang markasnya, namun sayang. Sorot lampu senter sudah mengarah padanya. Tommy berputar, menatap kepungan petugas di sekitarnya.
"Tidak mungkin!" gumamnya
Pasalnya, Ivan hanya datang bersama Shindy dan Surya. Sama sekali tidak ada gerak gerik mencurigakan dari ketiganya. Namun, bagaimana polisi bisa tiba di tempat ini. Mengingat tempat tertutup ini bahkan tidak terdaftar di maps Tommy menelan ludahnya kasar, lalu menatap bayi yang terus menangis dalam gendongannya.
"Tidak ada pilihan." Tommy menyeringai, seolah terpintas pikiran picik di otaknya
"Kalian lihat apa yang ku bawa ini?" tanya Tommy dengan lantang
"Berikan bayi itu secara baik-baik Pak. Atau kami akan merebutnya secara paksa dengan melakukan kekerasan." ucap salah seorang petugas.
"Tidak semudah itu! Jika kalian terus mendekat atau mengejarku maka aku akan membunuh bayi ini" ujar Tommy
"Kembalikan bayi itu!" titah Ivan dari jendela kamar tempat Tommy melarikan diri tadi
Bersama Shindy yang memakai pakaiannya, Ivan tampak bertelanjang dada, dengan banyak goresan luka di tubuhnya. Shindy menatap prianya dengan miris. Prianya? Batin Shindy. Apa perempuan kotor sepertinya berhak memberikan gelar itu pada Ivan.
"Mari kita adu kecepatan Ivan! Siapapun yang lebih cepat, maka dialah yang akan berhasil mendapatkan bayi ini." ujar Tommy
Seketika dahi Ivan berkerut. Dengan mata tajamnya, Ivan berusaha mengidentifikasi rencana Tommy dari gerak geriknya.
"Celaka." gumam Ivan bergerak mendekati Tommy
DOR... Sebuah tembakan diarahkan. Bruk.. Ivan tersungkur dengan dada yang terluka.
"Ivan." Shindy menghambur ke arahnya.
Pelan namun pasti para petugas semakin merapatkan barisannya. Hingga tidak ada celah untuk Tommy keluar dari sana. Namun Tommy tampak begitu tenang, senyuman aneh mengembang di bibirnya
"Selamatkan bayimu dulu Shin. Aku tidak apa-apa." gumam Ivan dengan suara seraknya
"Tapi Van. Kau.. Tertembak." ujar Shindy sambil menangis
"Pergilah, selamatkan putri kita." ulang Ivan
Masih dengan air mata yang mengalir, Shindy mencoba bangkit dengan sekuat tenaga. DOR.. Sebuah tambakan terdengar, bersamaan bayinya yang terlempar di udara.
__ADS_1
"Tidaaaaak!"