
"Atasanmu itu, terlihat menakutkan. Seperti seorang mafia yang kejam!" komentar Shindy memecah kesunyian diantara keduanya
Ivan hanya tertawa menanggapi ocehan Shindy.
"Van, lihat. Dicari karyawati." Shindy menunjuk toko bunga di sebelah kanan jalan.
"Itu.. Terlalu jauh dari rumah. Kau hanya akan lelah di perjalanan." balas Ivan mengamati arah yang Shindy tunjukkan
"Benar juga, ini beda kota." balas Shindy
"Kita cari pekerjaan yang dekat rumah saja. Mengingat kau sedang hamil, tidak baik jika sering bepergian jauh." balas Ivan
Shindy hanya mengangguk patuh, tangannya kembali melingkar di perut Ivan. Ivan hanya tersenyum sambil sesekali melirik ke arah gadis yang diboncengnya. "Manis."
Ivan terhenti di sebuah pasar yang tak jauh dari rumahnya.
"Kenapa berhenti disini?" tanya Shindy heran.
"Aku akan belanja, kau pasti sudah lapar kan?" tanya Ivan
"Sangat! Aku ikut masuk ya!" tukas Shindy mengamit lengan kiri Ivan.
Ivan hanya tersenyum meresponnya. Mereka berdua masuk ke dalam pasar. Melewati deretan penjual daging dan ikan.
"Hoek.." Shindy berasa mual.
Ivan segera menariknya menjauh. Melewati kios pakaian yang ada disana.
"Apa yang ingin kau makan?" tanya Ivan
"Nila, aku ingin nila bakar." tukas Shindy
"Kau.. Baru saja mual mencium aromanya, tapi kau ingin makan itu?" Ivan mengernyit memastikan
"Aku sangat ingin ikan bakar. Buatkan untukku ya." Pinta Shindy dengan binaran di kedua matanya.
"Baiklah. Tunggu disini, biar aku yang membelikannya untukmu." tukas Ivan
Shindy terdiam di depan toko kain. Tampak tulisan yang sama di depan toko. Shindy mendekat untuk bertanya.
__ADS_1
"Ada lowongan untuk wanita ya?" tanya Shindy
"Iya Mbak. Jika berminat, besok Mbak bisa langsung bekerja." tukas pemilik toko itu
"Jangan, jam kerjanya 12 jam. Kau akan kelelahan. Ingat! Kau sedang hamil." ulas Ivan yang sudah kembali dengan tentengan ikan di tangannya
"Cepat sekali." guman Shindy
"Mereka sudah membungkusnya, jadi aku tinggal membayar dan pergi. Ayo!" Ivan menggandeng tangan Shindy dan menuntunnya keluar pasar.
Langkah Shindy terhenti melihat makanan dibungkus janur dengan bentuk mengerucut sedang disajikan di sebuah meja lesehan. Shindy menelan ludahnya. Bayinya menginginkan itu.
"Kau mau?" tawar Ivan
Shindy mengangguk senang. Ivan membeli beberapa potong dan kembali dengan kantong kecil cerorot.
"Aku baru menyadari." ujar Ivan
"Kau doyan makan juga!" lanjut Ivan
Shindy mencubit kecil pinggang Ivan. Yang dibalas dengan aduhan dari si empunya.
"Ivan Stop!" pekik Shindy mengejutkan Ivan
Motor itu di rem mendadak. Akibatnya motor itu terguling ke kanan dan BRUK.. Mereka terjatuh dengan koper yang menimpa Ivan.
"Awwww.." keluh Shindy mendapati pergelangan kakinya yang lecet terkena aspal.
"Kau.. Tidak apa-apa? Ayo ke rumah sakit. Kita periksa kandunganmu!" Ucap Ivan berusaha bangun dan mendirikan motornya.
"Tidak perlu. Aku hanya lecet sedikit." Shindy mengamati celana panjang Ivan yang sobek terkena postep motor. Lututnya berdarah dengan goresan luka yang cukup panjang.
"Maaf." tukas Shindy menyadari ini semua adalah salahnya.
"Tidak apa-apa. Mari ku bantu." Ivan membantu Shindy berdiri.
"Aku terlalu senang melihat itu!" Shindy menunjuk ke arah minimarket
Ivan menoleh sekilas ke arah tulisan yang dipajang di depan pintu.
__ADS_1
"Kau benar-benar ingin bekerja ya?" tanya Ivan
"Iya. Aku sudah menumpang gratis di rumahmu. Jadi.. Aku tidak mau hanya diam tanpa melakukan apapun untuk membalas kebaikanmu." terang Shindy
"Aku ingin kau segera keluar dari pekerjaanmu Van." lanjutnya
Ivan tersenyum tipis. "Bagaimana caraku keluar, jika tugas terakhirku tidak bisa ku lakukan. Aku harus membunuh papamu, jika tidak aku yang akan mati di tangan Tommy. Aku tidak bisa membiarkanmu mengalami hidup sepertiku Shin." batinnya
"Ayo pulang." balas Ivan akhirnya
Ivan kembali menyalakan motornya dan mengajak Shindy kembali.
"Darimana saja kalian?" tanya Uwa yang sudah menunggu di teras rumah
"Mengambil barang-barang Shindy. Sementara dia akan pindah kesini." jawab Ivan menurunkan koper besar itu dari motornya.
"Uwa menunggumu, ada yang harus Uwa bicarakan." ujar pamannya menoleh ke arah Shindy
Ivan yang menyadari maksud pamannya segera meminta Shindy masuk ke dalam rumah.
"Ada apa Uwa?" tanya Ivan
"Tadi ada seseorang yang menggedor rumahmu. Dia tampak marah, berteriak tanpa sopan santun dan memanggil namamu berkali-kali. Dia juga memberitahu Uwa jika kau sudah membawa lari istrinya. Sebenarnya apa yang terjadi? Apa benar gadis yang kau bawa itu sudah menikah?" tanya paman Ivan dengan cemas
Ivan terduduk di sebelah pamannya.
"Made tidak bisa menjelaskan sekarang Uwa. Benar memang gadis itu sudah menikah. Tapi suaminya tidak memperlakukannya dengan baik. Aku hanya.. Berniat membantunya saja." ujar Ivan pasrah
"Bagaimanapun, dia tetap istri orang lain Made. Kau tidak bisa ikut campur dalam rumah tangga mereka. Uwa sarankan, antar dia menyewa kos saja. Jangan tinggal bersamamu. Hanya ada kau di rumah ini, bagaimana pandangan orang lain nanti?" Uwa berusaha menasehati Ivan
"Baik Uwa."
"Ini, pria itu meninggalkan ini untukmu."
Sebuah amplop coklat berukuran sedang diberikan pada Ivan. Ivan membukanya dan melihat secarik kertas di dalamnya.
"Aku menawarkan kompetisi ini denganmu Van. Siapapun yang lebih dulu membunuh Anton Rahardja akan mendapatkan Shindy. Aku tidak peduli bahwa dia adalah ayah mertuaku. Yang aku butuhkan hanyalah, bagaimana gadisku kembali ke pelukanku. Salam pertempuran. Rama."
"Sial! B*j*ngan itu!"
__ADS_1