
Shindy mencoba bangkit dari posisinya. Namun merasakan nyeri yang teramat sangat di perutnya. Goresan bekas luka operasi bahkan masih basah, terbalut rapi dengan perban dengan bentuk melintang. Shindy kembali membaringkan diri. Memaksa pun dia tidak akan sanggup. Shindy merasakan lemah pada tubuhnya. Selain karena masih dalam posisi berpuasa, juga pengaruh obat bius yang belum sepenuhnya hilang.
“Bayiku. Aku harus melihat bayiku.” Gumamnya lirih sesaat sebelum kesadarannya kembali hilang.
Pintu kamarnya terbuka, Rama mengernyit mendapati posisi Shindy yang sudah berubah. Selang di mulutnya bahkan sudah terlepas, pun halnya dengan posisi tubuhnya yang miring sambil mendekap perutnya.
“Dia.. sudah sadar? Secepat itu?” Rama melangkah masuk membenarkan posisi tidur Shindy. Baju pasiennya sudah ternoda oleh darah dari perutnya. Wajahnya masih pucat dengan tubuh yang lemah.
“Sudah ku duga kau hanya pura-pura Shindy Paramitha. Tapi aku tidak sebodoh dirimu.” Rama menyeringai ke arah istrinya itu.
Rama menoleh sekilas ke arah nakas, menyadari secarik kertas yang Ivan tinggalkan. Amarahnya kembali memuncak.
“Jadi, kau sudah kesini? Akan ku beri kau pelajaran, karena sudah berani ikut campur urusanku.” Ujar Rama meremas kasar kertas itu.
Rama keluar dengan amarah di matanya. Tangannya mengepal menunjukkan otot-otot di sepanjang lengannya. Kakinya berjalan menyusuri lorong. Berusaha menemukan Ivan yang dia sangka belum terlalu jauh. Rama bergegas mengambil ponselnya, menghubungi seseorang.
“Tuan, sanderamu berhasil melarikan diri. Aku butuh bantuan untuk menemukannya, agar dia tidak menghalangi rencanaku.” Ujar Rama tampak serius mengarah ke parkiran
“Tenang Ram. Aku akan mengirim Bowo dan Rony kesana.” Sahut Tommy
“Segera ya tuan..” Kalimat Rama terhenti, menangkap sosok yang dia cari di depan matanya
“Sudah ku temukan.” Rama mematikan sambungan teleponnya. Dia menyusul Ivan yang baru saja melintas dari ruang administrasi.
Rama terus berlari tanpa mengeluarkan suara. Hingga GREP.. Tubuh Ivan terdorong masuk ke dalam kamar mayat.
“Apa yang kau ..” ucapan Ivan terhenti dengan sebuah bogem mentah di wajahnya
Pukulan secara membabi buta membuat memar di wajahnya semakin kentara. Belum sempat menyadari siapa yang menyerangnya tiba-tiba. Kini kedua tangannya sudah dikunci di belakang dengan wajah menghadap ke lantai.
“Hei! Apa yang kau lakukan?” pekik Ivan
“Apa yang kau lakukan di kamar Shindy? Apa kau berniat membawanya kabur?” tanya Rama dengan nada dinginnya
“Kau..” geram Ivan saat tahu orang itu adalah Rama
Ivan mengangkat kepalanya secara tiba-tiba. Hingga berbenturan langsung dengan hidung Rama.
__ADS_1
“Arrrgh. Sial!” umpat Rama memegangi hidungnya yang bocor
Ivan melepaskan diri dari cekalan tangan Rama dan berbalik mencekik Rama ke lantai.
“Kenapa kau begitu b*i*adab! Kau berniat menghabisi keluarga istrimu? Kau bahkan sudah menjual bayimu! Apa kau tak punya hati?” maki Ivan sambil mencengkeram kerah kemeja Rama
“Kau bertanya, apa aku tidak punya hati? Lalu bagaimana denganmu Made Satriasa? Apa kau punya hati? Kau bahkan membunuh orang tuaku dengan kejam. Di depan mataku!” balas Rama
Ivan tertegun. Bukan dia yang melakukannya, tanpa sadar cengkeramannya melonggar. Bug.. pukulan telak mengenai wajahnya. Ivan mundur dari posisinya, terjengkang ke lantai seraya memegangi hidungnya yang juga mengeluarkan darah.
“Kau juga seorang pembunuh!” Rama berteriak dan melayangkan beberapa pukulan meski sempat ditangkis oleh Ivan, namun tidak bisa dipungkiri dirinya kewalahan juga, menghadapi emosi Rama.
“Aku tidak pernah membunuh siapapun!” Ivan mendorong keras tubuh Rama hingga terkapar di lantai.
“Kau membunuh orang tuaku!” bentak Rama masih dengan pendapatnya
“Bukan aku yang menembaknya Ram! Ku rasa kau sudah salah paham. Akulah yang menjadi korban disini. Kau menghabisi semua keluargaku!” Ivan menginjak perut Rama hingga memuntahkan cairan bening bercampur darah di mulutnya
“Kau menyukai gadis itu kan? Hingga kau berbuat sejauh ini!” ucap Rony yang tiba-tiba masuk sambil menodongkan pistolnya
Ivan membuka matanya lebar-lebar. Bagaimana dia bisa tahu, Ivan telah melarikan diri?
“Aku, hanya ingin menyelamatkannya. Dia tidak bersalah.” Terang Ivan mulai menurunkan nada bicaranya
“Lalu, apa kau pikir orang tuaku bersalah? Kau bahkan menembaknya tanpa alasan.” Imbuh Rama
“Cobalah untuk berbuat nekad lagi, atau peluru ini akan benar-benar menembus kepalamu!” ancam Rony
“Aku tidak takut mati. Aku akan lebih menyesal jika hidup sebagai pengecut seperti kalian.” Balas Ivan mencengkeram pistol dari tangan Rony.
Rony pun berusaha mempertahankan pistolnya agar tetap mengarah ke Ivan. Namun Ivan tanpa sengaja menekan pelatuknya dan DOR.. Suara tembakan menggema di seluruh rumah sakit. Perhatian Rony teralih seketika pada suara alarm tanda bahaya yang berbunyi di seluruh ruangan. Ivan mengambil kesempatan itu untuk melarikan diri.
“Dia kabur Ron! Cepat kejar!” Perintah Rama yang kesulitan untuk bangun
Rony mengejar keluar, namun Ivan lebih dulu masuk ke dalam ruang KIA dimana sedang ada pemeriksaan di dalamnya.
“Arrrgh. Security!” panggil bidan itu
__ADS_1
“Tolong tenanglah. Aku hanya ingin bersembunyi sebentar.” Pinta Ivan memohon
“Ada apa ini?” teriak pria yang tadi Ivan temui
“Mas, Dia menerobos masuk kesini! Aku takut, dia pasti orang jahat!” ujar wanita hamil itu seraya memeluk suaminya
“Aku hanya ingin sembunyi sebentar.” Ucap Ivan melihat Rony yang berlari mendekat ke arah pintu. Ivan merosot ke bawah. Masuk ke dalam celah kecil di bawah meja pemeriksaan.
Brak.. Pintu terdorong dengan kasar.
“Apa-apan ini? Security!” teriak pria itu berusaha mengusir Rony
“Diam kau! Aku sedang mencari seseorang! Apa ada pria yang masuk kesini?” Rony berusaha bersikap tenang. Masuk ke dalam ruangan pemeriksaan sambil terus mengawasi setiap sudut ruangan.
“Yang kau cari tidak ada disini. Sedari tadi hanya ada kami bertiga. Tidak ada siapapun yang masuk.” Terang pria itu yang berdiri di depan tempat Ivan bersembunyi.
“Benarkah?” Rony menatap curiga ke arah bawah meja tempat pria itu berdiri.
“Pak! Tangkap pria itu, dia merusuh disini!” teriak bidan itu begitu security datang
Rony dibawa pergi oleh dua orang petugas keamanan. Meski masih meronta dan memaksa untuk tetap mencari Ivan disana, namun apitan kedua tangan security itu terlalu kuat. Segera setelah situasi aman, pria itu berjongkok untuk meminta Ivan keluar.
“Kamu sudah aman.” Ucap pria itu
“Terima kasih.” Balas Ivan singkat
“Siapa kau? Kenapa bisa masuk kesini. Wajahmu berdarah-darah. Masuklah ke IGD untuk merawat lukamu!” saran bidan itu
“Aku Ivan. Aku kemari untuk menjenguk seseorang, namun aku harus bertemu kembali dengan musuhku itu. Maaf jika aku sangat mengganggu kalian.” Terang Ivan menundukkan kepalanya
“Tunggu! Sepertinya kamu pria yang tadi kan?” ucap pria itu menyadari sesuatu
“Ah, benar. Kamu yang menunjukkan ruang ICU tadi. Kebetulan sekali ya! Terima kasih banyak sudah menolongku dua kali hari ini.” Ucap Ivan
“Tidak masalah, namaku Andrian. Semoga kita bisa bertemu lagi lain waktu.” Ucap pria yang ternyata adalah Andrian seraya menyodorkan tangannya
“Semoga. Aku harus kembali ke ruang ICU, aku akan memastikan temanku baik-baik saja disana.” Pamit Ivan
__ADS_1
“Disini kau rupanya!”