DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)

DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)
Harta Warisan


__ADS_3

"Kamu masih hidup?"


Seketika tangan Andrian ditepis kasar oleh perawat itu.


"Kamu Rama kan?" terka Andrian


"Bukan." perawat itu bergegas pergi


Sambil kebingungan, Andrian memanggil seorang perawat lain dan menanyakan nama perawat itu.


"Bukan Mas, namanya Fadli bukan Rama." terang perawat wanita itu


Sedikit tercengang. Lelaki yang baru saja dilihatnya benar-benar mirip dengan suami Shindy tapi kenapa namanya Fadli.


"Lagipula, Ivan dan Shindy bilang. Rama sudah meninggal. Mungkin hanya kebetulan mirip saja."


"Permisi Pak Andrian. Kamar Ivan sebelah sini Pak." panggil seorang petugas menunjukkan tempat Ivan dirawat.


Andrian memilih untuk mengabaikannya. Kini memilih mengikuti kemana langkah si petugas ini. Sebuah ruangan dingin dengan seorang petugas lain yang berjaga di depan.


"Silahkan Pak." ujarnga mempersilakan Andrian masuk


Ivan masih terbaring lemah. Dengan tatapan sayu. Memandang kosong ke arah langit-langit kamar.


"Ivan."


"Made, panggil saja aku Made. Itu nama asliku." tukas Ivan cepat


"Made, aku datang membawakan ini."


Sekantong jeruk santang yang masih segar, Andrian letakkan di nakas samping tempat tidur. Ivan meliriknya sekilas lalu meminta Andrian duduk di dekatnya.


"Terima kasih karena kau sudah datang tepat waktu." tukas Ivan


Andrian tersenyum. Menatap lelaki yang lebih muda darinya itu dengan kagum. Keberaniannya melawan penjahat sebanyak itu tanpa bantuan membuat Ivan patut diacungi jempol.


"Kamulah penyelamat yang sebenarnya Van. Aku hanya membantu sedikit." ujar Andrian merendah


"Bagaimana kabar Shindy?" tanya Ivan

__ADS_1


"Dia baik. Sedang duduk berbincang dengan istriku dan bayi kecilnya."


"Apa istrimu masih cemburu?" tanya Ivan


Andrian terkekeh. Memang kentara sekali sikap Retha kala itu.


"Setelah menyadari, putri Shindy yang tidak mirip denganku dia menjadi yakin. Kalau aku tidak macam-macam di belakangnya."


Kali ini Ivanlah yang tertawa. Receh sekali istri temannya itu.


"Sepertinya aku harus minta tolong sekali lagi pada kalian." ujar Ivan


"Apa?"


"Jaga Shindy dan putrinya selama aku tidak ada ya. Bagaimana pun, aku masih bagian dari penjahat itu. Dan aku patut dihukum atas semua tindakanku. Meski aku tak yakin hukuman apa yang akan ku terima, tapi semoga saja bukan hukuman mati." ujar Ivan


"Aku yakin kamu pasti mendapatkan keringanan. Kamu telah menyelamatkan Shindy dan juga bayinya. Aku akan menunggumu kembali Van. Dan aku berjanji akan menjaga Shindy untukmu!" jawab Andrian dengan yakin


Ivan tersenyum. Setelah menjabat tangan Andrian, kini Andrian kembali ke ruangan Shindy. Mengajak serta istri dan bayi kecil Shindy untuk pulang ke rumah.


Sebulan kemudian setelah insiden mengerikan itu. Kini tibalah masa persidangan vonis hukuman dari masing-masing penjahat. Hukuman seumur hidup untuk Tommy, 15 tahun penjara untuk kedua anak buahnya. Juga 5 tahun penjara untuk Ivan. Ketokan palu mengakhiri proses persidangan yang menegangkan itu. Pakaian tahanan telah Ivan kenakan bersama dengan borgol di tangannya.


"Shindy!" air mata pun mengalir di pipinya


"Kuatkan dirimu Made. Bertahanlah, aku akan berusaha mencari cara untuk mengeluarkanmu." ujar Shindy tersedu


"Jangan menangis Shin. Aku akan menjadi lemah jika melihat air matamu ini." Ivan mengusap pelan kedua pipi Shindy


"Jaga putri kita baik-baik ya. Aku janji setelah masa hukumanku berakhir. Aku akan menikahimu." ujar Ivan tanpa ragu sedikit pun


"Aku akan selalu menunggumu Van. Sampai kapan pun."


"Ayo pergi!" ajak seorang petugas menarik paksa Ivan untuk kembali ke dalam mobil van.nya


Shindy menatap kepergian prianya dengan perasaan terluka. Terbesit keinginan kuat dalam hatinya untuk bangkit dari segala keterpurukan yang pernah dia alami.


Shindy masih tinggal di Pulau itu. Merintis bisnis baru dalam bidang kuliner dan membuka beberapa toko oleh-oleh. Dibantu oleh Andrian dan juga Retha, usahanya nyaris tanpa kendala. Sementara pabrik konveksi yang Anton miliki kini telah diakuisisi sepenuhnya oleh Wulan, mama Shindy.


Hari itu Shindy berjalan masuk kembali ke sebuah apartemen. Kaki jenjangnya melangkah penuh percaya diri, dan masuk ke dalam lift. Bersama dengan dua orang pengawalnya, Shindy menyusuri lorong menuju kamar no 225. Setelah menekan kode pintunya. Perlahan pintu besi itu terbuka.

__ADS_1


Shindy pun masuk tanpa merasa sungkan.


"Kau sudah bangun rupanya." ujar Shindy pada seorang wanita yang tengah duduk berselimut tebal di sofa


"Aku datang untuk memberimu kabar gembira. Tanggal operasi pita suaramu sudah ditentukan." ujar Shindy menyeduh kopi di tangannya


"Sebentar lagi, kau akan bisa bicara kembali. Ya meskipun, aku tak yakin apa kau terlibat dalam penculikan bayiku atau tidak. Tapi rasanya, kau sudah tidak berdaya sekarang. Jadi tidak ada salahnya kan aku menolongmu." ejek Shindy


Tatapan marah Jane tunjukkan. Kedua tangannya mengepal dengan nail art di kukunya yang mulai mengelupas.


"Sepertinya kau suka sekali merawat tubuhmu ya!" ujar Shindy mengangkat jari-jari itu dengan kedua tangannya


"Ku rasa kita bisa menjadi teman baik. Bagaimana pun Tommy suamimu adalah saudara angkat papaku. Yang itu berarti, kau adalah bibiku."ujar Shindy


Jane menarik kasar tangannya. Jika dia bisa bicara, mungkin dia akan berteriak dan mengumpat sejadinya.


"Sudahlah, terima saja takdirmu. Aku juga tidak sepenuhnya jahat. Ku sisihkan 25% saham papaku untukmu Jane. Anggap saja sebagai penebusan, untuk kesalahan kakekku dulu." ujar Shindy


Jane melengos tak senang. Selalu bersikap tidak ramah menyambut keponakannya itu. Ditambah, dia menjadi bisu karena berurusan dengan Shindy. Rasa bencinya seolah sudah menumpuk di ubun-ubun


"Baiklah. Aku akan pergi dulu. Istirahatlah yang cukup. Aku akan kembali dengan membawa paspormu. Ku rasa sebaiknya, kau memulai hidup baru di luar negeri. Lupakan semua tentang dirimu yang lama Jane. Tidak berguna juga kau simpan dendam dan amarahmu. Pihakmu sudah kalah telak." ujar Shindy


Shindy melenggang pergi membiarkan pintu tertutup di belakangnya. Tanpa dia sadari seseorang menekan ulang tombol kuncinya dan membuka kembali pintu kamar Jane.


Shindy kembali menerima telepon bertubi-tubi dari Retha. Istri Andrian yang tengah hamil besar di rumah.


"Bagaimana keadaanmu Tha?"


"Shin perutku sakit sekali."


"Apa kau akan melahirkan? Tunggu aku segera kesana!"


Dengan panik Shindy masuk ke dalam lift dan segera kembali ke kediaman Andrian. Tampak di depan matanya, Retha sudah terduduk di lantai dengan genangan air bercampur darah.


"Sakit.."


"Cepat angkat tubuh Retha!" perintah Shindy


Dengan cepat dua bodyguardnya segera membopong tubuh mungil yang kesakitan itu.

__ADS_1


"Retha.."


__ADS_2