
"Hai gadis bodoh, kenapa kau tidak lari saja yang jauh hahaha!" ujar Rama dengan wajah meledeknya yang khas
"Dia kembali untukku Ram. Lihat dia, dia cantik sekali kan!" imbuh pria jenggot itu sambil mencolek centil dagu Shindy
"Singkirkan tangan kotormu itu!" umpat Shindy
"Sudahlah, menyerah saja. Hidupmu sudah tamat hahahaha."
"Tidaaaaak!"
"Hah.. Hah.." Shindy terbangun. "Mimpi! Semua itu hanya mimpi." Keringat dingin bercucuran dari pelipisnya. Perasaan takut kembali menyelimutinya.
"Gek, kamu nggak apa-apa?" ujar Bu Nyoman yang baru masuk kamarnya
Shindy menggeleng pelan.
"Mimpi buruk ya?" terka Bu Nyoman
Shindy hanya mengangguk.
"Ini diminum dulu." ujar Bu Nyoman menuangkan segelas air.
Shindy menghabiskan air itu dalam sekali teguk. Matanya melirik kembali ke arah jam dinding. Pukul 03.00. Baru satu jam dia tertidur, kini kantuknya telah hilang. Rasa cemas dan khawatir lebih mendominasi pikirannya.
"Gek. Kok diam saja? Ayo kembali tidur." ujar Bu Nyoman
"Buk, apa tadi ada seseorang yang mencari saya?" tanya Shindy
"Anak muda, seumuran dengan saya." lanjut Shindy
"Nggak ada Gek. Dari tadi hanya orang ngopi yang kesini. Itu pun bapak-bapak semua." terang Bu Nyoman
Shindy menghembuskan napasnya. Lega. Jika malam ini terlewat tanpa Rama mengetahui posisinya. Dia bisa sedikit tenang.
"Tidur lagi ya Gek. Besok Ibu antarkan mencari kamar kos untuk kamu." ujar Bu Nyoman
"Buk, saya mau diantar ke rumah sakit Santa saja." sergah Shindy
"Kamu mau periksa?" tanya Bu Nyoman melirik ke arah lengan Shindy yang masih di gips
"Saya.. Iya, saya harus periksa." bohong Shindy
"Ya sudah sekarang istirahat dulu nggih." ujar Bu Nyoman kembali meninggalkan Shindy
Shindy kembali berbaring berusaha memejamkan matanya walau sebentar. "Kau harus baik-baik saja Van. Besok aku akan memberitahu keluargamu, agar ada yang merawat dan mengawasimu. Aku harus pulang, menyelamatkan diriku. Jadi maaf aku tidak bisa menungguimu." gumam Shindy
Pagi itu, Shindy terbangun oleh guncangan pelan dari Bu Nyoman. Semangkuk bubur yang masih mengepulkan asap dengan sambal tomat di atasnya telah tersaji di nakas. Aroma itu, Shindy pernah menciumnya. Aroma yang sama dari bubur buatan Ivan.
"Maaf ganggu tidur kamu gek. Saya masak bubur, dimakan ya. Selagi hangat." ujar Bu Nyoman sambil menyodorkan sendok pada Shindy
"Terima kasih Buk. Maaf merepotkan ya!" balas Shindy menyeduh kuah kuning bubur itu. Rasa ini, persis seperti bubur buatan Ivan. Tidak salah lagi, Ivan adalah putra bungsu Bu Nyoman.
"Sama sekali nggak kok. Sudah lama tidak ada yang tinggal bersama Ibu. Suami saya sudah meninggal, tidak lama setelah anak perempuan saya meninggal." ujar Bu Nyoman tampak sedih
"Meninggal?" Shindy terhenyak. Jika kakak perempuan Ivan sudah meninggal, lalu dia bekerja dengan Rama untuk siapa?
"Iya Gek. Keracunan makanan rumah sakit. Dulu.."
FLASHBACK
Mitha tengah asyik merangkai bunga, bersama dengan tetangga dekatnya. Perutnya yang membuncit menandakan usia kandungannya yang lebih dari tujuh bulan.
"Bapaknya kok nggak pernah pulang sini lagi Mit?" tanya seorang Ibu dengan wajah heran
"Biasanya, ibu hamil suka manja kalau ada suami." imbuh ibu-ibu yang lain
" Suami saya sedang sibuk kok. Dia kerja keras untuk biaya saya lahiran. Sampai sekarang, dia masih suka tranfer uang untuk kebutuhan saya dan bayi kami." tukas Mitha dengan seulas senyum
"Baguslah kalau begitu. Bisa nabung juga, untuk anak kalian." ujar Ibu-ibu yang tadi
"Kerja dimana to Mit?" tanya Ibu-ibu yang lain
"Dia.."
"Kak, ini pesananmu." ujar Ivan menyodorkan sebuah kotak
"Pesanan? Kakak nggak nitip apa-apa loh." ujar Mitha sambil berusaha membuka box hampers pembelian Ivan
"Wah, satu set baju bayi. Terima kasih ya adikku sayang." ujar Mitha merengkuh bahu Ivan
__ADS_1
"Untuk keponakan tersayangku." balas Ivan mengusap pelan perut kakaknya itu
"Semoga lancar lahirannya nanti ya!" seloroh salah seorang ibu berambut panjang
"Iya. Terima kasih."
"Hari ini antar kakak USG ya. Ini sudah bulan ke delapan. Waktunya periksa kandungan." ujar Mitha meletakkan kembali box hampers di lantai
"Siap! Aku mandi dulu ya kak!" Ivan berlalu ke dalam rumah.
Sepasang tangan menutup kedua mata Mitha.
"Siapa ini?" tanyanya
"Aku." balas laki-laki itu singkat
Tangan itu beralih memeluknya. Mitha menoleh ke arah belakang.
"Gibzon!" pekiknya senang. Suami yang dia nantikan telah pulang.
"Bagaimana kondisimu? Bagaimana dengan bayi kita?" tanya Gibzon dengan senyum lebar di bibirnya
"Baik. Anak kita sehat. Dan aku pun juga sehat." ujar Mitha
"Ayo ku antar ke rumah sakit." ujar Gibzon.
"Tapi aku sudah meminta Made untuk mengantarku." tolak Mitha
"Sudahlah, biarkan aku yang mengantar. Aku kangen." ujar Gibzon manja
Seketika hati Mitha melunak, Mitha mengekor masuk ke dalam mobil Gibzon.
"Ayo kak! Kak Mitha?" panggil Ivan kebingungan mencari kakaknya.
"Dia bersama suaminya! Tadi naik mobil, suaminya bilang akan mengantar ke rumah sakit." ujar ibu berambut panjang itu
"Suami?" kedua mata Ivan membulat. Bergegas dia mengeluarkan motornya dari gudang dan menyusul kakaknya. Perasaan tidak enak mulai menggerayangi hatinya.
Mitha duduk di ruang tunggu bersama Gibzon, tiba-tiba merasakan mulas yang luar biasa.
"Sakit, tolong. Sakit." ujar Mitha memegang erat perutnya
"Sakit... " keluh Mitha
Gibzon mengangkat tubuh itu dan membawanya masuk ke ruang pemeriksaan.
"Ketubannya pecah, kita harus segera melakukan persalinan." ujar dokter itu seraya mengecek kondisi Mitha
"Bayi ini? Waktunya lahir?" tanya Gibzon
"Temani aku. Jangan pergi Gibzon." ujar Mitha
"Tentu aku ada bersamamu." ujar Gibzon dengan senyum aneh di bibirnya
Beberapa saat setelah persiapan persalinan dilakukan. Mitha mulai mengejan. Tangan Gibzon ditarik dengan kuat dalam genggamannya. Teriakan kesakitan mulai bermunculan. Dokter terhenti. Cairan merah itu berbaur dengan bayi yang baru saja keluar dari v*g*na Mitha. Tubuh bayi itu membiru. Tanpa tangisan juga tanpa pergerakan.
"Maaf Pak bayi Bapak dinyatakan meninggal." ujar dokter itu.
"Nggak mungkin dok! Bayi itu sehat-sehat saja saat usg sebelumnya." teriak Mitha tak percaya
"Maafkan kami Bu." ujar dokter itu menyerahkan bayi dalam gendongannya.
"Anakku.." pekik Mitha
Perlahan tubuh Mitha terguncang. Rasa panas menjalar di dada dan tenggorokannya. Pelan namun pasti rasa sakit mencekik lehernya. Dokter dan perawat yang kepanikan mulai melakukan beberapa penanganan, namun Gibzon justru pergi dari sana.
Ivan berlarian sepanjang koridor rumah sakit mencari ruang bersalin yang perawat itu maksudkan. Sebuah pintu putih bertuliskan Ruang Persalinan tampak di hadapannya. Ivan menangkap kegaduhan dari dalam. Ivan memaksa masuk dan mendapati seorang wanita telah tertutup selimut putih.
"Dia..." ujar Ivan mendekati jenazah itu
Selimut itu dibuka dan tampaklah Mitha yang pucat dengan bayi membiru di sebelahnya.
"Kakak.. Tidakk!"
FLASHBACK END
"Tidak lama setelahnya, suami Ibu tertabrak mobil di ujung jalan sana." kenang Bu Nyoman dengan air mata yang menetes.
"Mungkin jika Mitha dan bayinya masih hidup, Ibu tidak akan kesepian seperti ini." tukas Bu Nyoman
__ADS_1
"Lalu, dimana suami Mitha Buk?" tanya Shindy
"Sebenarnya Mitha belum menikah, dia hanya menjalani hubungan dengan seorang pria. Namanya Gibzon. Pria itu tidak pernah kemari sebelumnya. Dia hanya kesini sekali, saat sebelum Mitha meninggal." ujar Bu Nyoman
Shindy terdiam menangkap maksud lain dari cerita Bu Nyoman. Mungkin Gibzonlah yang telah membunuh Mitha dan bayinya.
"Dek, jadi meminta saya mengantar ke rumah sakit." Adik laki-laki Bu Nyoman tiba-tiba masuk
"Jadi. Antar Gek ini ke sana ya." ujar Bu Nyoman membereskan mangkuk dan gelas yang Shindy gunakan tadi.
"Saya siap-siap dulu Pak." tukas Shindy yang dibalas dengan anggukan kepala
Shindy keluar kamar dengan baju pasien yang sudah kotor dimana-mana. Meski tubuhnya sudah bersih, dia tidak punya baju ganti.
"Jangan pakai itu Gek. Kemari ikut saya." pinta Bu Nyoman sambil membuka sebuah lemari
"Ini. Mungkin muat di badan kamu."
Sebuah dress putih dengan lengan balon dan aksen pita di pinggangnya.
"Ini punya Mitha ya Buk?" ujar Shindy
"Mungkin jika dia masih hidup, usianya sama seperti kamu Gek." balas Bu Nyoman menyodorkan dress itu
Shindy hanya tersenyum simpul. Setelah mengganti pakaian dan menyisir rambutnya, Shindy naik ke sepeda motor milik adik Bu Nyoman.
"Kami pergi dulu ya Buk." pamit Shindy dengan sopan
"Jika sudah selesai, balik kesini lagi ya Gek. Tinggal sama saya." ujar Bu Nyoman
"Terima kasih banyak Buk."
Sepeda motor itu melaju dengan kecepatan sedang. Jalanan belum begitu ramai, hanya tampak beberapa mobil yang melintas ke arah kota. Shindy menutup kaca helmnya, berusaha menutup wajahnya untuk berjaga-jaga. Kalau-kalau Rama menemukannya.
"Mau diantar sampai dalam?" tanya adik Bu Nyoman setelah melepas helmnya
"Boleh Pak." jawab Shindy
Mereka berdua masuk ke ruang informasi. Shindy terdiam menatap bercak darah yang menempel di pintu kaca. Ivan tertusuk di sini karena menolongnya kemarin.
"Permisi Mbak, ada pasien atas nama Ivan?" tanya Shindy
"Ivan?" perawat itu balik bertanya.
"Maaf." Shindy mengeluarkan kartu identitas Ivan
"Owh ini laki-laki yang ditusuk di situ kemarin kan." ujar perawat seraya menunjuk ke arah pintu
Shindy mengangguk.
"Dia di rawat di ruang PACU. Setelah operasi kemarin. Mbak tinggal lurus lalu belok ke kanan. Ruangannya ada di sebelah utara. Ada tulisannya juga di atas pintu." terang perawat itu
"Terima kasih ya Mbak." ucap Shindy memasukkan kembali kartu itu ke dalam dompet Ivan
"Siapa yang mau kamu temui?" tanya adik Bu Nyoman merasa heran mendengar percakapan Shindy dan perawat tadi
"Temanku. Teman baikku." ujar Shindy menyunggingkan senyumnya
Shindy sampai di tempat dia dirawat kemarin. Shindy melongok ke arah kaca, memastikan apa benar Ivan ada di dalam sana. Ivan terbaring dengan ventilator di mulutnya. Kondisinya sama seperti kondisi Shindy kemarin. Shindy membuka pintu itu. Wajah Ivan terlihat pucat. Dengan selang darah dan infus di kedua tangannya.
"Maaf, baru sempat menengokmu sekarang. Aku.. Melewati hari yang berat. Kau terlibat banyak masalah juga karena ku kan? Kau bahkan terbaring seperti ini, karena menolongku. Maafkan aku. Aku selalu merepotkanmu." ujar Shindy seraya menangis.
Shindy mengeluarkan dompet dari sakunya dan memberikannya pada Ivan.
"Aku hanya mengambil beberapa lembar untuk membeli tiket pesawat. Aku akan kembali. Maaf tidak bisa menemanimu lebih lama lagi. Cepat sembuh ya!" ujar Shindy mengecup singkat pipi Ivan.
Shindy memanggil adik Bu Nyoman, memintanya masuk ke dalam.
"Apa benar ini Made? Anak laki-laki Bu Nyoman?" tanya Shindy setengah berbisik
"Ini.. Made.. Keponakan saya. Dia sakit apa? Kenapa bisa disini? Bagaimana kamu bisa mengenal Made?" pertanyaan beruntut itu tak sempat dijawab Shindy
"Saya harus menghubungi kakak saya. Dia harus bertemu dengan anaknya." ujar bapak itu lalu melangkah pergi untuk menelepon Bu Nyoman
"Aku bertemu ibumu, dia orang baik sama seperti dirimu. Ku harap setelah ini, kau bisa berhenti dari pekerjaanmu Van. Kau bisa hidup lebih baik nantinya." ujar Shindy mengusap pelan pipi Ivan
Pintu terbuka dan langkah kaki seseorang masuk ke dalam ruangan yang sama. Shindy yang tengah melamun, tidak menyadari kedatangan siapapun.
"Sudah ku duga kau akan kembali untuk ini, Shindy Paramitha."
__ADS_1