DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)

DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)
Awal Baru


__ADS_3

Shindy diantar ke sebuah rumah kos putri dengan dua lantai yang terletak di sebelah pura. Tukang ojek itu segera mengetuk pintu kayu besar berukir dengan warna coklet otentik di depannya. Setelah cukup lama menunggu, seorang ibu-ibu cantik keluar menyambut mereka. Setelah dijelaskan bahwa Shindy berniat menyewa salah satu kamar kos disana, ibu itu memintanya masuk.


“Mari masuk. Gek ini yang mau menyewa?” tanya ibu kos ramah


“Iya bu, saya bukan orang sini. Jadi sama minta bapak itu mencarikan kos-kosan di sekitar sini.” Jelas Shindy


“Owh begitu, mau kamu tempati sendiri atau sama temanmu?” tanya ibu kos lagi


“Saya sendirian saja. Kira-kira berapa sewanya per bulan ya?” tanya Shindy


“Kalau ditempati sendiri 600 ribu saja, kalau berdua 750 ribu Gek. Itu sudah kamar mandi dalam, dapur umum dan free wifi.” Terang ibu Kos membeberkan faisilitas yang akan Shindy dapatkan.


“Maaf Bu, apa untuk biaya kosnya bisa saya cicil dulu. Soalnya, uang saya nggak cukup. Nanti setelah saya mendapat pekerjaan, saya lunasi.” Terang Shindy.


Tampak Ibu kos itu berpikir sejenak.


“Tolong saya Bu, saya lagi hamil. Saya nggak tau lagi mau tinggal dimana? Apalagi suami saya pergi tanpa kabar Bu.” Ujar Shindy mencoba menjelaskan keadaannya


Ibu kos itu menghela napas. “Baiklah, khusus kamu saja tapi ya! Jangan beritahu yang lain ya?”


Shindy tersenyum sumringah, segera tangannya mengulur untuk menjabat tangan ibu kos.


“Panggil saya Bu Ajeng ya! Gek ini siapa namanya?” Bu Ajeng menjabat tangan Shindy dengan seulas senyum


“Shindy, nama saya Shindy bu.”


“Namanya cantik seperti orangnya, mari saya antar ke kamarnya.” Ujar Bu Ajeng berjalan lebih dulu


Setelah membayar dan berterima kasih pada bapak tukang ojek yang tadi, Shindy menyusul Bu Ajeng yang menunjukkan kamarnya. Ada dua opsi, di lantai satu ada kamar kosong yang paling ujung dekat tangga. Dua kamar lagi ada di lantai dua. Shindy memilih kamar yang di bawah, selain kamarnya lebih luas, kondisinya yang sedang hamil tidak memungkinkan jika dia harus naik turun tangga tiap hari.


“Ini kuncinya ya Gek. Kalau ada perlu sesuatu panggil saya saja.” Tukas Bu Ajeng menyerahkan kunci kamar Shindy


“Ini uang DP nya Bu.” Shindy menyodorkan tiga lembar uang ratusan

__ADS_1


“Semoga betah ya gek.”


Shindy hanya mengangguk sopan lalu membuka pintu kamarnya. Meski tidak begitu luas, namun kamar ini nyaman di tempat. Ada sebuah televisi tabung dengan meja kecil di ujung ruangan. Lemari pakaian juga Kasur busa di atas dipan. Shindy menyeret masuk kopernya lalu menutup pintu. Setelah merapikan pakaiannya, Shindy berbaring di ranjang. Kedua matanya menatap lurus ke arah plafon. Sambil terus membayangkan, kehidupannya sebelum menikah dulu. Andai dia tidak bertemu lagi dengan Rama, mungkin gelar Ny Andrianlah yang akan dia dapatkan. Hidup berkecukupan di perumahan elite tanpa harus menghadapi pahitnya hidup seperti ini. Namun, sudahlah. Menyesal tidak lagi ada gunanya. Shindy mencoba memejamkan mata, tak lama kemudian dia berhasil masuk ke alam mimpi.


Rumah kos terdengar rame tatkala pagi tiba. Suara para pekerja beraktivitas mengusik tidur seorang Shindy. Shindy terbangun dengan rasa pegal menjalari punggungnya. Tampak di bawah, kakinya sedikit membengkak. Bawaan kehamilan. Shindy berusaha mengurutnya dengan perlahan, namun beban berat di perutnya justru mempersulit gerakannya.


“Demi kamu Nak. Mama akan bertahan dan memperjuangkan segalanya.” Gumam Shindy menatap ke arah perutnya.


“Aku akan melamar bekerja di minimarket, lulusanku mungkin akan cukup dipertimbangkan.” Ujar Shindy beringsut dari kasurnya.


Shindy membersihkan diri dan memilih pakaian casual yang pantas digunakan untuk melamar pekerjaan. Setelah selesai berias, Shindy keluar kamar. Beberapa gadis menyapa ramah ke arahnya, ada juga yang menatap sinis sambal berbisik menggunjingnya. Namun dia tidak peduli. Tas jinjingnya telah menyampir rapi di bahunya, selembar amplop coklat terselip diantara jemarinya. Shindy melangkah keluar dari area kos. Melewati gang-gang kecil hingga tiba lagi di pangkalan ojek. Setelah memanggil tukang ojek yang kemarin, Shindy memintanya mengantarkan ke minimarket.


Shindy pun masuk dengan sedikit berdebar, apalagi saat itu, kasir sedang ramai pembeli. Shindy menatap ke arah pekerja wanita yang memasukkan barang belanjaan dengan cekatan.


“Ada yang bisa dibantu Mbak?” tanya kasir satunya lagi


“Itu Mbak. Apa lowongan kerjanya masih Mbak?” tanya Shindy pelan


Beberapa orang menatap aneh ke arahnya. Shindy sedikit minggir untuk memberikan jalan.


“Iya Mbak, saya mau melamar. Ini CV Saya.” Shindy menyodorkan amplop coklat yang sedari tadi digenggamnya


“Di tunggu sebentar ya Mbak.”


Kasir itu masuk sambil membawa lamaran Shindy. Shindy mematung di dekat meja kasir sambil sesekali menggerakkan kakinya karena lelah berdiri.


“Mbak, mari ikut ke dalam. Pak pimpinan ingin bertemu untuk interview.”


“Baik Mbak.”Shindy masuk ke dalam ruang kecil, tempat seseorang sibuk di depan laptop.


“Permisi Pak?” sapa Shindy


Pandangan pria tua itu beralih. Matanya menatap ke arah Shindy yang masih berdiri di depan pintu.

__ADS_1


“Silahkan duduk.” Pria yang disebut pimpinan itu sedang memeriksa CV Shindy.


“Jadi kamu belum pernah bekerja?” tanyanya


Shindy menggeleng. Jelaslah dia belum berpengalaman bekerja, sedang dia sendiri anak pemilik pabrik tekstil terbesar di kotanya. Bahkan tanpa diminta pun, dia bisa memasukkan orang untuk bekerja di pabrik ayahnya dengan sangat mudah. Tapi itu dulu. Sekarang keadaannya jauh berbeda.


“Sebenarnya lulusan kamu sesuai dengan lowongan ini. Tinggi dan berpenampilan menarik, itu juga salah satu nilai plus kamu di sini. Tapi, sayangnya kamu sudah menikah dan saya dengar dari karyawan saya, kamu sedang hamil.” Terangnya


“Iya.. saya memang sedang hamil.” Shindy tampak berpikir, perutnya belum terlalu terlihat, mungkin karena dress yang dia kenakan berbahan jatuh, jadi setiap lekuk tubuhnya jadi terlihat.


“Itu alasannya, saya belum bisa menerima kamu. Kami mencari wanita single saja. Terkait dengan jangka pekerjaan di sini. Jika kamu hamil, kan otomatis akan butuh cuti melahirkan, sedang kasir disini hanya dua orang. Mereka akan kerepotan nantinya.”lanjut bapak itu


“Emm, ya sudah Pak. Terima kasih.” Shindy tertunduk dan mengakhiri interviewnya. Dia tidak ditanyai apapun dan langsung diputuskan tidak diterima.


Shindy keluar dari minimarket itu dan berjalan kembali ke pengkolan ojek. Tiba-tiba, dua orang pengendara motor berusaha merebut tas ibu-ibu yang tengah berjalan ke trotoar.


“Tolong Copet!” Teriak wanita itu terjatuh


Shindy melepaskan, flatshoesnya dan melemparkan ke arah pencopet itu hingga mereka kehilangan keseimbangan dan jatuh. Shindy bergegas mengambil tas dan sebelah flatshoesnya.


“Ibu nggak apa-apa?” Shindy membantu ibu itu berdiri


“Terima kasih ya.” Ibu itu menggenggam tangan Shindy karena masih merasa syok.


“Sama-sama Bu. Ini tasnya bu.” Shindy menyodorkan tas itu


Dua orang pengendara tadi sudah kembali ke motornya dan hendak menyambar kembali tas ibu itu.


“Awas Bu!” pekik Shindy mendorong ibu itu ke totoar.


BRUK…


Tubuh Shindy terhempas hingga nyaris membentur trotoar. Kedua matanya terpejam, mempersiapkan diri untuk jatuh lagi karena tabrakan itu. Shindy yang merasakan tubuhnya ditangkap seseorang, bergegas membuka mata. Mata coklat itu, menatap teduh ke arahnya.

__ADS_1


"Kamu." ucap Shindy tatkala membuka kedua matanya


__ADS_2