DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)

DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)
Sebuah Ancaman


__ADS_3

Rama kembali ke rumah sakit dengan masker dan topi untuk menyembunyikan wajahnya. Langkahnya menuju ruangan tempat Ivan dirawat. Rama melihat melalui kaca kecil di pintunya. Ada seorang wanita yang dia kenali bersama bapak-bapak tadi sedang menangisi Ivan.


"Nyoman! Setelah putramu mati, kau pasti juga akan menyusulnya. Akan ku kirimkan kalian ke neraka bersama." senyum kemenangan timbul di bibir merahnya


"Ikut denganku Rama Gibzon Putra! Kita harus bicara." suara berat milik laki-laki berumur terdengar begitu familiar.


Rama menoleh ke arah suara. Antek kepercayaan Tommy telah berdiri di belakang meremas bahunya. Penampilannya tak jauh beda, dengan masker dan topi hitam.


"Apa tuan ada disini?" tanya Rama


Tubuh Rama terdorong mengikuti langkah pria itu. Pria itu masih mencengkeram bahu Rama dan membawanya naik ke rooftop rumah sakit. Tampak seorang laki-laki tampan berwajah kejam berdiri membelakanginya.


"Tu.. Tuan. Kenapa anda kemari?" tanya Rama


Antek Tommy menjegal kasar kaki Rama, hingga Rama tersungkur. "Arrrrgh."


"Berlutut!" perintah antek Tommy yang diketahui bernama Rony itu


Rony melepas kasar topi dan masker yang Rama kenakan.


"Apa yang kau jaga begitu kuat Ram, sampai dua orang kepercayaanku nyaris kau bunuh?" tanya Tommy dengan nada serius


"Aku... Aku melindungi istriku. Dia sedang mengandung. Istri Tuan menginginkan bayi kan? Jadi aku berusaha menjaga kehamilannya. Itu sebabnya... Sebenarnya... Aku.." Rama gelagapan menjawab pertanyaan tuannya. Dia bingung memberi penjelasan yang tepat agar tidak memicu pertanyaan baru bagi Tommy.


"Tetap saja kau tidak boleh membunuh Ivan. Aku masih membutuhkan pemuda kejam seperti dia untuk melancarkan misiku. Aku sudah membayarnya mahal, tapi tangan lemahmu itu sudah menghancurkan rencanaku! Kau pikir aku akan memaafkanmu?" Tommy menendang kasar tubuh Rama, Rama tergeletak dan memuntahkan darah segar dari mulutnya.


"Aku.. Akan menggantinya Tuan. Kau bisa mengambil istri dan anakku, kau... Bisa memintaku mengerjakan tugas Ivan. Tapi tolong.. Ampuni aku Tuan." pinta Rama berlutut kembali di hadapan Tommy


"Bagaimana dengan Bowo? Apa yang telah kau lakukan padanya?" tanya Tommy mengangkat dagu Rama dengan ujung sepatunya.


"Dia berusaha.. Menyelamatkan Ivan.. Aku tidak.. Berniat menembaknya.. Aku hanya ingin memberi Ivan peringatan tapi... Bowo.. Dia menghalangiku." ujar Rama tergagap


Tommy membalikkan badannya.


"Aku akan mengambil istri dan anakmu sebagai hadiah dari kemenanganku nanti, di samping itu jika aku sampai kehilangan Ivan dan Bowo, nyawamulah yang jadi penggantinya." Tawa mengerikan terlepas bersamaan dengan ucapan Tommy


Seringaian muncul dari bibirnya. Pria itu melangkah pergi menuruni tangga darurat menuju ke dalam rumah sakit bersama Rony. Sementara Rama masih terduduk menstabilkan kondisinya.


"Sial! Pria bodoh itu, tidak boleh mati. Aku harus memastikan perawatannya berjalan dengan baik. Arrrrgh! Kenapa aku tidak bisa membunuhnya. Apa yang membuatnya berharga bagi Tommy? Pria itu. Sial!" Rama tak henti-hentinya mengumpat. Dia yang berusaha mengembangkan bisnis sang majikan namun justru Ivan yang selalu mendapat pembelaan.


Sementara di ruang PACU, Bu Nyoman tengah tertidur di sisi ranjang dengan adiknya. Menunggu kesadaran Ivan kembali. Suara monitor masih terdengar menunjukkan tanda-tanda vital Ivan. Kedua matanya masih terpejam. Tangannya berada di atas perut dengan dua selang tertancap.

__ADS_1


"Made, bangunlah." sapa seorang wanita yang sangat dia sayangi


"Kak Mitha? Kakak disini?" tanya Ivan


"Kau harus bangun, ini bukan tempatmu. Kembalilah, jaga ibu." tukas Mitha yang perlahan menjauh


"Kakak mau kemana? Ayo kita pulang kak." ujar Ivan mencoba menarik tangan kakaknya.


Tangan Ivan tidak bisa menyentuh Mitha. Perlahan tubuh Mitha menjadi samar dan bayangan itu menghilang.


"Kakaaaaak!" Teriak Ivan dengan dada yang berpacu kencang. Kedua matanya terbuka sempurna. Ivan merasakan nyeri di pinggang kirinya. Ivan menatap sekeliling ruangan.


"Biyang, Biyang disini?" ucap Ivan menitikkan air mata. Tangannya mengusap pelan wajah ibunya yang terlelap


"Aku merindukanmu Biyang, bagaimana Biyang bisa tahu kalau aku disini?." Ivan menangis haru menatap wajah ibunya kembali. Setelah sekian tahun sejak meninggalnya Mitha, dia tidak melihat wajah meneduhkan itu.


Tampak sedikit pergerakan dari Bu Nyoman. Bu Nyoman terbangun menyadari tangan anaknya menyentuh pipinya.


"Made, kamu sudah sadar? Biyang takut kehilangan kamu." ujar Bu Nyoman mencoba memeluk putranya


Ivan tersenyum, disambutnya pelukan hangat ibunya itu meski dalam posisi berbaring.


"Gadis?" Ivan bertanya balik


"Iya, gadis cantik seperti model, dia datang malam-malam di warung Biyang. Pakai baju pasien, tangannya itu loh di gips, sepertinya dia habis kecelakaan." tukas Bu Nyoman


Ivan terdiam sebentar. "Shindy?"


"Dimana dia? Apa dia ada di rumah? Biyang menolongnya?" tanya Ivan


"Tadinya, Biyang menawarkan untuk tinggal sementara bersama Biyang. Tapi, kemarin waktu Uwa telepon Biyang, gadis itu sudah nggak ada. Dia hanya meninggalkan ini. Biyang juga lupa, tidak menanyakan namanya." ujar Bu Nyoman memberikan dompet Ivan


"Pasti telah terjadi sesuatu." gumam Ivan


"Aku harus pergi biyang." ujar Ivan berusaha melepaskan selang yang melekat di tangannya


"Jangan! Jangan kemana-mana. Kamu masih belum sembuh." larang Bu Nyoman


"Tapi.. Gadis itu. Shindy butuh bantuanku. Aku harus menolongnya, jika tidak akan terjadi sesuatu padanya." ujar Ivan


"Apa yang terjadi? Dia pergi begitu saja tanpa memberitahu Uwa." tukas adik Bu Nyoman

__ADS_1


"Made akan jelaskan nanti, tapi sekarang, Made harus pergi." ujar Ivan mencabut selang infus dalam sekali tarikan


"Jangan, Tolong disini saja!" pinta Bu Nyoman


"Aku akan pulang malam ini. Biyang tunggu saja aku di rumah." pamit Ivan berlari keluar ruangan.


Ivan berlari melewati koridor rumah sakit. Seseorang dengan topi hitam berpapasan dengannya hanya berbeda arah. Ivan menghentikan langkahnya. Menoleh ke arah laki-laki yang buru-buru menjauhinya.


"Apa dia? Tidak mungkin." Ivan kembali berlari keluar dari rumah sakit.


Berbekal ponsel dan dompetnya, Ivan memesan taksi online untuk kembali ke rumah Rama. Ivan menunjukkan alamat yang tertera di Maps ponselnya. Taksi pun melaju meninggalkan rumah sakit.


Tepat di belakangnya, mobil merah juga mengikuti. Ivan menatap lekat di arah pengemudinya, namun kaca hitam membuatnya tidak bisa mengenali wajah orang di dalamnya. Tepat di pertigaan mobil merah itu berbelok ke arah kanan, sedangkan Ivan ke kiri. Meski sempat curiga namun Ivan memilih mengabaikannya, keselamatan Shindy lah yang paling utama.


Ivan tiba di rumah besar itu tepat pukul 12 siang. Ivan segera membayar biaya perjalanan dan melangkah masuk. Ivan membuka pintunya.


"Tidak dikunci? Apa Rama di rumah?" Ivan mengambil sebuah batu besar untuk berjaga-jaga. Pintu rumah itu terbuka.


"Shindy! Shin! Dimana kamu?" teriak Ivan.


Lengang hanya gema dari suara Ivan yang terdengar.


"Shindy? Apa kamu di kamar?" tanya Ivan lagi.


Hening. Ivan pun melanjutkan langkahnya. Ivan membuka pintu kamar Shindy. Kosong.


"Dimana dia? Atau di kamar atas?"


Ivan berlari menuju tangga. Nyeri di pinggangnya baru terasa sekarang. Namun Ivan tidak menyerah, dia harus menemukan Shindy.


"Shin!" Ivan mengetuk kasar pintu kamar Rama.


BRAK.. Kosong. Kamar Rama tampak kacau tanpa keberadaan siapapun.


Ivan beralih ke kamarnya sendiri. Kamar itu masih sama seperti sebelum dia tinggalkan.


"Kemana mereka?" gumam Ivan


Ivan meletakkan batu itu di lantai. Ivan mengemasi pakaian dan juga peralatannya. Tak lupa menyelipkan pisau lipat kecil di kantong celananya. Ivan juga telah mengganti pakaiannya. Kini di bergegas kembali dengan koper di tangannya. Sampai di anak tangga terakhir..


"Kau tidak berniat untuk kabur kan? Ivanku sayang?"

__ADS_1


__ADS_2