DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)

DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)
Belum Selesai


__ADS_3

Shindy menarik tubuh berat suaminya itu untuk naik ke atas ranjang. Aroma alkohol yang sangat kuat membuatnya harus berkali-kali ke kamar mandi untuk muntah. Sementara Rama masih tersenyum dengan penuh kemenangan. Sengaja, menata sebuah bantal di sisinya agar Shindy mau tidur dengannya malam ini. Rama tidak menyukainya, tapi rencananyalah yang harus membuat kepercayaan Shindy kembali padanya.


"Kenapa kau tersenyum begitu Ram? Aku menurutimu bukan karena keinginanku. Melainkan karena kau sudah mengusik ketenangan semua orang yang ada disini! Juga kau telah mengganggu ketenanganku setelah beberapa hari terbebas darimu." kesal Shindy


"Ck.. Berisik sekali kau ini. Kemarilah, ayo kita tidur. Besok aku akan mengantarmu bekerja dan membantumu berkemas." ujar Rama dengan smirk khasnya


"Aku sama sekali tidak butuh bantuanmu. Pergilah besok subuh dan jemput aku sore hari setelah bekerja." ujar Shindy berbaring membelakangi suaminya


Rama menarik selimut dan menutupi tubuh Shindy. Jika saja hubungan mereka seharmonis itu sejak awal, mungkin orang-orang akan iri dengan romantisnya sosok Rama. Tapi, yang terjadi tidak demikian.


Shindy merasakan lengan Rama di pinggangnya. Dia terbangun dengan rasa lelah yang belum juga hilang. Semalam dia tidur dini hari hanya karena kejadian kemarin. Shindy menatap sekilas ke arah Rama yang masih tertidur.


"Andai kau sebaik dulu, sebelum kita putus Ram. Aku tidak akan semenderita ini." gumam Shindy beringsut dari kasurnya.


Rambut panjangnya diikat menjadi satu dan digulung ke atas. Shindy berniat membersihkan diri sebelum suaminya bangun. Dia hanya ingin bekerja lebih awal guna menghindari perdebatan yang tidak mengenakkan.


Suara guyuran air membangunkan Rama yang tengah pura-pura tertidur. Benar iblis itu melunak hanya untuk mendapat empati Shindy saja. Rama berjalan keluar, mengambil jaket jeansnya yang tersampir di gantungan belakang pintu. Entah akan kemana lagi dia, dan apa rencananya.


Shindy keluar kamar mandi dan tidak mendapati suaminya disana. Jauh dalam hatinya merasa takut jika kejadian semalam terulang kembali. Shidny berlarian ke seluruh ruangan rumah kos. Rama tidak ada dimanapun.


"Ck.. Dia keluar lagi. Aku harus bekerja pagi ini, tapi dia.. Bagaimana jika dia membuat masalah lagi? Aku akan merasa tidak enak pada ibu kos." gumam Shindy


"Gek, baru selesai mandi?" tegur Bu Ajeng yang muncul dari belakang


"Iya Bu. Saya sedang mencari suami saya. Khawatir, dia akan mengacau lagi." cemas Shindy


"Dia sudah pergi sedari pagi, saya lihat dia keluar pagar." terang Bu Ajeng


"Ya sudahlah Bu. Jika memang dia pergi, itu akan lebih baik untukku." balas Shindy berniat kembali ke kamarnya


"Tapi.. Kamu akan pergi bersamanya kan Gek?" tanya Bu Ajeng


Langkah Shindy terhenti, tampak sekali Bu Ajeng menginginkannya segera pergi dari sini. Dia tahu, ini bukan murni keinginan Bu Ajeng. Shindy berbalik menghadap ibu kosnya itu.


"Saya akan ikut dengannya, jika dia kembali lagi Bu. Jika dia tidak kembali, saya pastikan nanti malam saya akan dapat kos baru." tegas Shindy


"Ya sudah Gek. Maaf ya Gek kalau kami semua membuatmu tersinggung." ucap Bu Ajeng


"Nggak apa-apa kok Bu." balas Shindy memaksakan senyumannya


"Pagi Ibu kos yang terhormat. Ini saya bawakan sarapan untuk ibu dan kamu." teriak Rama seraya menenteng dua kantong hitam di tangannya


"Nggak usah repot-repot Mas. Oh iya, ini uang lebihan kosnya." Bu Ajeng mengembalikan uang yang Rama berikan kemarin

__ADS_1


"Makasih ya Bu Kos. Ayo sayang kita kembali ke kamar." Rama merangkul Shindy tanpa sungkan. Tatapan tak senang tampak di wajah orang-orang yang mereka jumpai. Namun Shindy memilih diam dan mengikuti saja ke dalam.


"Jangan seperti ini lagi Ram!" ujar Shindy seraya mengganti pakaiannya.


"Kenapa memangnya? Toh, kau juga istriku. Apa salahnya jika aku memperhatikanmu?" tanya Rama dengan senyum anehnya


Shindy hanya menggidikkan bahu. Shindy merapikan rambutnya. Juga sedikit berias di atas kasur. Rama hanya mengamati Shindy yang duduk di sampingnya.


"Kau tidak ingin makan dulu? Atau mau ku suapi?" tanya Rama


"Berhentilah berpura-pura baik Ram! Aku bawa saja sarapannya ke toko." ujar Shindy meraih sebungkus nasi dalam kantong


"Bekerjalah dengan baik sayang. Biar aku yang mengemasi barangmu." ujar Rama


"Jangan berulah seperti semalam! Atau aku tidak akan pernah mau ikut denganmu!" ucap Shindy sebelum pergi dari kamarnya


Rama hanya tersenyum menanggapi perkataan istrinya. Sebentar kemudian, senyum itu berubah menjadi seringaian licik.


"Memangnya siapa kau, berani mengancamku! Dasar gadis bodoh!" gumam Rama


Tampak Rama menekan-nekan ponselnya. Berusaha menghubungi seseorang.


"Tuan, dia sudah ku temukan. Hari ini aku akan membawanya pulang." Ucap Rama di telepon


"Tentu saja Tuan. Aku menanti kesepakatan kita." ujar Rama berjalan ke arah jendela


"Aku tidak pernah ingkar janji Ram. Kita bertemu sore nanti."


"Baik Tuan. Jangan lupa siapkan barangku ya." ujar Rama mengakhiri panggilannya


Shindy mengawali paginya dengan datang lebih dulu. Meski harus menunggu beberapa menit, itu lebih baik daripada terlambat seperti kemarin. Tak lama setelahnya, Imelda datang dan menyapanya seperti biasa. Mereka asyik mengobrol sambil membereskan toko sebelum Merrisa datang. Ya, lebih baik menghindari masalah daripada memancing omelan Merrisa.


Shindy memilih membersihkan etalase dan dinding kaca di depan toko kue. Sementara Imelda menyapu lantai sekaligus mengepel. Sebenarnya, pekerjaan akan dibagi secara adil sebelum Merrisa datang. Namun, tidak setelah tibanya Merrisa.


"Tumben datang awal semua? Pada mau ijin ya?" terka Merrisa yang baru masuk ke dalam toko


"Datang awal salah, telat dimarahi. Maunya apa sih Sa?" kesal Imelda sambil terus membersihkan lantai


"Kan aku cuma nanya. Yee gitu aja sewot!" Merrisa berlari masuk ke ruang karyawan


Shindy hanya melihat Merrisa sekilas lalu kembali fokus pada pekerjaannya. Jam berganti jam, waktu tak terasa beralih menjadi sore hari. Pekerjaan Shindy hari itu tidak terlalu sibuk, mengingat ini hari Senin. Dimana belum banyak pelanggan yang datang.


"Eh, nanti tutup sore ya! Aku udah bilang Bu Wiwit mau kondangan." terang Merrisa yang tengah sibuk mengepak pie susu ke dalam kardus

__ADS_1


"Beneran nih?" tanya Imelda


"Mau nggak? Apa kalian mau jaga berdua sampe jam tutup nanti?" tawar Merrisa


"Males banget!" protes Imelda


"Makanya, tinggal iyain aja susah." balas Merrisa membawa kardus pie itu ke rak bagian tengah


"Kebetulan nih kalau pulang awal, aku juga mau persiapan pindah Mel." terang Shindy menghampiri Imelda di meja kasir


"Kamu mau pindah kerja Shin? Kan baru masuk 3 hari." tanya Imelda


"Siapa yang mau resign?" teriak Merrisa dari belakang


"Aku nggak resign kok. Cuma pindah tempat tinggal aja!" terang Shindy


"Duh, sempet panik aku. Bakal kehilangan teman seasyik kamu!" ujar Imelda mempoutkan bibirnya


"Kirain, udah nyerah dengan alasan ngidam, capek, bawaan hamil jadi males dan bla bla bla." ejek Merrisa


"Kamu apaan sih Sa? Nggak jelas deh!" ujar Imelda berlalu meninggalkan mereka


"Gara-gara kamu tuh! Sejak kamu masuk disini. Suasana kerja jadi nggak kondusif tahu!" Merrisa mengikuti Imelda masuk ke ruang karyawan


Shindy hanya bisa menghela napas, dimanapun tempatnya akan selalu ada orang-orang seperti Merrisa. Shindy hanya perlu membiasakan diri saja dan tidak ambil pusing.


Shindy berjalan keluar toko kue, betapa terkejutnya melihat sosok suaminya tengah menghisap sebatang rokok di bangku panjang yang dia duduki kemarin.


"Ayo pulang." ajak Shindy ketus


Rama membuang sisa rokoknya ke trotoar dan menginjaknya. Dengan santai, Rama menggandeng lengan Shindy dan mengajaknya masuk ke dalam mobil putih mirip kepunyaan Andrian.


"Barang-barangku?" tanya Shindy begitu masuk ke dalam mobil


"Sudah ada di bagasi belakang." balas Rama menyalakan mesin mobilnya


Shindy mengangguk mengerti. Rama membawanya ke sebuah apartemen yang baru dibelinya beberapa hari setelah kasus perkelahiannya dengan Ivan. Sementara Ivan entah bagaimana kabarnya, Shindy juga tidak tahu. Terbesit keinginan untuk bertanya pada suaminya. Namun Shindy belum sepenuhnya percaya kalau Rama telah berubah.


Mobil itu berhenti di parkiran bawah sebuah bangunan bertingkat. Segera setelah mengajaknya masuk ke dalam lift, Rama mulai berceloteh apa aktivitasnya selama Shindy tidak disisinya. Tentu saja dengan membual kalimat rayuan yang sama sekali tidak membuat Shindy tersentuh. Rama menekan angka pintu masuk apartemen. KLIK..


Terbuka. Rama menekan sakelar lampu dan menarik Shindy masuk ke dalam. Shindy mematung menatap sosok yang tak asing baginya itu.


"Selamat datang nona Shindy Paramitha."

__ADS_1


__ADS_2