DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)

DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)
Sama-sama Putih


__ADS_3

Shindy menutup pekerjaan hari itu dengan mengemas beberapa kue yang hampir expired sesuai dengan pesan Bu Wiwit.


"Ini mau dikirim kemana Mel? Kok dikemas gini?" tanya Shindy memasukkan kardus kue itu ke dalam kantong plastik


"Biasanya, di bagikan ke tunawisma Shin. Bu Wiwit kan orangnya suka berbagi. Ini kamu bawa satu. Aku satu terus Merrisa satu." ujar Imelda memberikan sebungkus pada Shindy


"Makasih Mel." ucap Shindy senang. Roti dengan taburan abon dan mayonise itu selalu jadi favoritnya.


"Udah selesai belum?" tanya Merrisa menenteng tas selempangnya


"Udah kok. Nih, rotimu." balas Imelda menyodorkan sekotak kue pada Merrisa


"Okey, udah dapat semua kan? Sisanya biar aku bawa. Nanti kalau Bu Wiwit jemput sekalian aku bagi-bagikan." tukas Merrisa berjalan ke arah pintu


Shindy bergegas mengemasi barang bawaannya. Tas jinjing, juga jatah roti miliknya.


TIN.. Sebuah mobil putih terhenti di depan toko. Kepala seseorang melongok ke luar dari jendela yang terbuka setengahnya.


"Itu.. Suamimu kan?" tanya Imelda


Shindy mengangguk.


"Ya udah duluan ya Shin. Sampai jumpa besok!" ujar Imelda melambaikan tangannya ke arah Shindy


"Dah Mel." balas Shindy dengan seulas senyum


"Perasaan mobil suamimu bagus, pasti kaya kan? Tapi kok, kamu mau kerja di toko roti? Apa suamimu itu sopir, dan itu mobil majikannya?" terka Merrisa setengah berbisik


Shindy hanya terdiam. Malas menanggapi ucapan Merrisa yang akan berbuntut panjang.


"Duluan ya Sa." pamit Shindy bergegas masuk ke mobil Rama


"Kau ingin pergi ke suatu tempat? Atau mau makan sesuatu? Ku dengar, wanita hamil sering mengidam." ujar Rama begitu Shindy duduk di sebelahnya.


"Apa tujuanmu sekarang Ram? Kenapa tiba-tiba menawariku sesuatu?" tanya Shindy dengan tatapan curiga


Rama tersenyum miring. "Apa setiap ucapanku terdengar meragukan? Sehingga apapun bentuk kebaikanku padamu selalu kau artikan sebagai sebuah permintaan?"


"Karena kau terbiasa begitu. Terkadang kau baik padaku, lalu memperlakukanku dengan sangat buruk. Kau bersikap seperti penjahat dan tiba-tiba menghilang. Kau kembali dan bersikap seperti ini. Kau seperti berkepribadian ganda Ram." terang Shindy


Rama terdiam. Sorot matanya menunjukkan ketidaksetujuan atas pernyataan Shindy.


"Aku bertanya sekali lagi. Kau mau pergi ke suatu tempat atau tidak?" Kali ini pertanyaan itu terdengar begitu dingin, datar. Tanpa ekspresi yang berarti.


Shindy mendadak merasa takut jika harus menghadapi sikap Rama yang seperti itu. Shindy menarik napas dalam. Berusaha mengontrol kinerja jantungnya dengan baik.


"Aku ingin memandang langit, melihat bintang bertebaran dan menatap cahaya bulan yang menerangi sapuan ombak di pantai." Mata Shindy menerawang ke arah luar jendela.


Tanpa berkata apapun, Rama mengendarai mobilnya ke tempat yang Shindy inginkan. Rama mengajak Shindy turun menyusuri pasir putih pantai yang berkilauan terkena cahaya lampu. Tanpa sadar, tangan Rama mengamit jemari Shindy. Shindy yang terkejut sontak melepaskannya. Tatapan tajam Rama terarah pada tautannya yang terlepas.


"Maaf, aku cuma kaget tadi." Shindy melingkarkan kembali tangannya pada lengan Rama


Rama tak bergeming apapun dan mengarahkan Shindy ke sebuah rumah makan yang mirip seperti tenda kecil dengan jajaran lampu hias yang indah.



"Kita.. Makan disini?" tanya Shindy terpukau dengan pemandangan di depannya.


"Apa yang ingin kau makan? Aku pesankan, kau bisa duduk dulu disana." tukas Rama menunjuk ke arah meja kosong di tepi pantai

__ADS_1


"Crab, aku ingin makan crab asam manis dan plecing kangkung." request Shindy tanpa melihat buku menu


"Oke. Tunggu ya." pamit Rama menuju ke meja kasir untuk memesan.


Shindy berjalan perlahan mendekati meja makan yang kosong itu. Beberapa pasangan asyik bercengkerama dan mengabadikan moment kebersamaan mereka. Shindy tersenyum, sudah lama dia tidak menikmati suasana malam seperti ini. Shindy memandang ke arah langit Bali yang cerah. Seketika bayangan wajah Ivan terlintas. Senyumnya, perhatiannya, saat dia membawanya ke jembatan kuning kala itu. Membuat jantung Shindy tiba-tiba berdebar.


"Nggak, aku nggak boleh kepikiran dia lagi. Toh, dia juga diperintah untuk membunuh papa. Tapi kenapa? Apa Ivan benar-benar mau membunuh papaku?" gumam Shindy yang tanpa sadar didengar oleh Rama.


"Jika dia tidak ingin membunuh papamu, kenapa dia tidak mencarimu?" tanya Rama sambil menarik kursi di hadapan Shindy


Shindy terhenyak, suaminya telah kembali.


"Kenapa atasanmu ingin membunuh papaku Ram? Dan kenapa harus Ivan yang dia suruh?" tanya Shindy


Rama melirik sekilas ekpresi penasaran dari Shindy.


"Jika bukan Ivan yang melakukannya? Siapa lagi, tidak mungkin kan jika aku yang membunuh mertuaku sendiri. Itu sangat konyol!" Rama tertawa lepas seolah bahasan ini adalah hal lucu baginya.


"Ini tidak lucu Ram! Cepat katakan, apa alasannya?" desak Shindy


"Apa itu penting bagimu?" tanya Rama mengusap sudut matanya yang berair


"Jelas itu penting Ram! Papaku, dia akan dibunuh, aku harus tahu apa alasannya agar aku bisa mencegah itu terjadi!" ujar Shindy


"Mencegah?" tanya Rama


"Tuanku Tommy, dia tidak akan merubah pikirannya. Apa yang dia perintahkan harus terlaksana, tidak peduli jika itu harus merugikan orang lain. Atau menghilangkan nyawa seseorang. Itu adalah hal biasa baginya." ujar Rama menganggap enteng perkataannya


"Biasa? Kau pernah membunuh juga? Selain pengedar kau juga terbiasa seperti itu?" pekik Shindy


"Tutup mulutmu! Kau ingin suamimu ini berakhir di penjara?" ujar Rama membekap mulut Shindy


"Terima kasih ya." ucap Rama melepaskan bekapan di mulut Shindy


"Mungkin ada tambahan lagi?" tanya waitress yang lainnya


"Sudah cukup!" ujar Shindy


"Makanlah dulu. Habiskan semuanya, aku akan menceritakannya setelah kau selesai dengan semua ini." ujar Rama menunjuk berbagai hidangan di meja


"Kau juga bantu makan, aku tidak mungkin menghabiskan semuanya sendiri. Soal tadi, maaf aku kelepasan." ujar Shindy mengambil sesendok kuah crab untuk mencicipinya


Rama tersenyum tipis, tangannya beralih memotong lobster jumbo yang diguyur saus padang pedas.


"Papamu itu, dia bukan anak kandung kakekmu." ujar Rama sambil menikmati makanannya.


"Uhuk.." Shindy menenggak kasar minumannya


"Papaku, bukan anak kandung kakek?" tanya Shindy memastikan


"Memangnya kau belum tau ya? Pasti papamu menyembunyikannya dari kalian. Memang harta bisa membuat seseorang menjadi licik!" gumam Rama sambil terus mengunyah


Shindy menatap tajam ke arah Rama meminta penjelasan dari semua ucapannya.


"Dulunya, kakekmu punya satu anak kandung. Namanya Tommy Andrian. Pewaris tunggal dari Ferdinant Rahardja. Awalnya, kakekmu sangat menyayanginya, apalagi dia anak laki-laki satu-satunya. Lalu, seiring berjalannya waktu bakat kenakalan Tommy semakin terlihat. Dia menjadi brutal dan pembangkang. Kakekmu pun merasa khawatir, jika Tommy terus seperti itu siapa yang akan meneruskan usaha tekstilnya nanti." ujar Rama tanpa sekalipun melihat Shindy


"Jadi papaku dan atasanmu itu saudara?" tanya Shindy


"Lebih tepatnya saudara tiri. Kakekmu, mengadopsi papamu karena dia tahu. Anton Rahardja adalah anak yang cerdas, tekun dan bertanggung jawab. Dia juga ambisius dalam bisnis persis seperti kakekmu. Jadi kakekmu memutuskan memberikan seluruh assetnya untuk dikelola papamu." ujar Rama menghabiskan sisa bumbu di jarinya

__ADS_1


"Jadi, Tommy ingin papaku meninggal agar bisa mengambil alih semua asset kakekku?" tanya Shindy


"Tepat sekali. Jadi, apa keputusanmu sekarang?" tanya Rama mengakhiri makan malamnya


Shindy menggeleng. Kenyataan itu terlalu mencengangkan baginya. Masalah yang berjubel di otaknya kini bertambah satu lagi. Shindy bahkan bingung, mana dulu yang harus diselesaikan.


"Apa kau tau dimana Ivan?" tanya Shindy


BYUR... Semburan es mendarat di baju Shindy.


"Rama!" pekik Shindy terkejut.


"Pertanyaanmu membuatku terkejut Shin. Diantara semua penjelasanku, kenapa justru Ivan yang kau tanyakan?" ujar Rama beranjak dari duduknya


"Jika aku bisa menemukannya, aku akan meyakinkannya untuk tidak membunuh papaku! Harta itu bisa dibagi secara adil kan, mungkin papaku juga akan.."


"Kau tidak mengenal papamu, dia sama seperti Tommy! Keras kepala, ya sama sepertimu juga." Rama mengakhiri perbincangan itu dan melesat ke kasir.


Shindy menatap gusar ke arah pantai. Khawatir berlebihan pada keluarganya, sedang dia tidak berada diantara mereka. Shindy bahkan tidak punya cara untuk memperingatinya.


Shindy melepas blazernya yang basah. Menyampirkannya di lengan dan berjalan menuju ke parkiran mobil. Shindy berusaha membuka pintu mobil suaminya, beberapa kali dia mencoba namun tetap tidak bisa.


"Ehem.. Kenapa kamu kemari?" tanya seorang wanita yang datang dari arah belakang.


Shindy membalikkan badannya. Gadis mungil dengan dress lilac selutut tampak tak asing baginya.


"Ini mobil suamiku Mbak Shindy!" tegas Retha menatap tajam ke arah Shindy


"Maaf, tapi aku datang dengan suamiku pakai mobil ini." ujar Shindy memberi penjelasan


"Apa maksudmu suamiku adalah suamimu juga?" tanya Retha sarkastik


"Bukan begitu. Aku memang datang kesini dengan mobil putih ini. Aku bersama suamiku dan dia sedang membayar di kasir." terang Shindy


"Suamiku juga ada di kasir! Suami mana yang kau maksudkan itu Mbak?" ujar Retha memojokkan Shindy


"Sayang, Loh Shindy, kamu kesini sama siapa?" tanya Andrian yang baru saja keluar.


Retha melirik tajam ke arah suaminya. Jelas di depan Shindy, Retha menunjukkan kehadirannya mengusik keharmonisan mereka berdua


"Aku bersama suamiku." terang Shindy yang agak bingung melihat Retha masuk ke mobil itu dengan mudahnya


TIN.. Suara klakson terdengar dari arah belakang. Mobil putih yang sama persis berjalan mundur tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Itu suamiku disana, maaf sepertinya aku salah mobil. Duluan ya Aan. Mbak." pamit Shindy berlari ke arah mobil Rama


Andrian menatap lurus ke arah Shindy. Pandangannya tak beralih hingga mobil itu meninggalkan parkiran.


"Pantengin aja terus Mas, kenapa kangen sama punggung mulusnya yang terbuka itu?" seloroh Retha dari dalam mobil


Andrian mengerjapkan matanya, lalu masuk ke dalam kursi kemudi.


"Kenapa ya dunia ini sempit sekali. Dulu disayang malah disia-siakan. Sekarang sudah jadi suami orang nggak terima dianya." cibir Retha


"Udahlah sayang. Nggak baik mikir macam-macam." ujar Andrian


"Kamu sendiri yang buat aku mikir kayak gitu, gimana enggak. Mas Andrian aja melotot gitu nglihatinnya!" protes Retha


"Ngambek lagi?" goda Andrian

__ADS_1


"Nggak!"


__ADS_2