
"Dia temanku Ma. Nggak mungkin dia yang bunuh papa! Lagipula Bi Ningsih juga cerita, dia sempat lihat Rama lewat di samping rumah. Jadi kemungkinan Rama pelakunya!" sergah Shindy berusaha membela Ivan
Bu Wulan tampak mengernyit, mana mungkin menantunya berniat membunuh mertuanya sendiri. Lagi pula jika memang iya, apa untungnya?
"Mama, cuma Shindy yang tahu kebenarannya. Shindy yang mengalami semua penderitaan ini. Mama lihat, perut Shindy ini. Jahitan caesar kemarin bahkan belum kering, tapi bayi Shindy sudah diambil. Diculik sampai sekarang belum ketemu. Mama kira, siapa pelakunya kalau bukan suami Shindy sendiri? Hanya dia yang tahu pasti seluk beluk rumah ini!" terang Shindy dengan nada meninggi
"Shindy akan ke kantor polisi sekarang, penting bagi Shindy untuk segera menemukan Rama. Shindy tidak bisa tinggal diam, membiarkan Rama menghancurkan hidup kita seperti ini Ma!" Shindy bangkit dari posisinya, berniat mandi dan menyusul Ivan.
"Tapi kita tidak punya bukti." gumaman Bu Wulan terdengar lirih
"Kita punya saksi Ma! Bekas kopi kemarin juga dibawa ke kantor polisi. Jika tidak ada sidik jari Ivan disana, bukan dia pelakunya!" yakin Shindy kemudian masuk ke kamar mandi
Bu Wulan terduduk di lantai. Kenyataan yang Shindy lontarkan, menambah satu beban lagi di hidupnya. Air matanya tak kunjung mengering. Bahkan hingga Shindy sudah bersiap ke kantor polisi pun, mamanya masih ditenangkan oleh Bi Ningsih.
"Jaga mamaku Bi, Pak Parmin ayo ke kantor polisi sekarang." ajak Shindy berjalan melewati ibunya
"Shindy!" teriak Bu Wulan berlari menghampirinya. Sebuah dekapan hangat yang dia rindukan menyambutnya. Shindy tersenyum, rasa bahagia menjalar di seluruh hatinya. Sosok mamanya telah kembali, meski perlu kejadian tragis ini untuk menyatukan mereka.
"Percayakan semuanya sama Shindy Ma. Shindy dan Ivan akan menyelesaikan semuanya " ujar Shindy
Bu Wulan mengangguk setuju. Lalu Shindy beralih pada Pak Parmin yang sudah membukakan pintu mobil untuknya. Mobil itu melaju meninggalkan halaman. Tampak di balik dinding, seseorang sedang menempelkan ponselnya.
"Dia berhasil Tuan. Anton Rahardja sudah dihabisi."
Shindy bergegas menghampiri ruang interogasi begitu polisi membawanya masuk. Setelah menjelaskan cukup panjang, dan polisi setuju untuk peninjauan lebih lanjut, akhirnya Shindy bisa bertemu lagi dengan Ivan.
Ivan masih terduduk dengan posisi terikat disana. Darah yang mulai mengering tampak mengerikan di ujung bibir dan hidungnya. Nyaris babak belur seluruh mukanya karena enggan mengakui hal yang memang tidak dia lakukan. Shindy merengkuh tubuh kekar itu dari belakang. Tangisnya pecah, menyaksikan ketidakadilan yang terus menyiksa mereka berdua.
"Maafkan mama ya Van. Maafkan aku juga, kau sampai seperti ini. Aku terlambat menolongmu Van." sesal Shindy sambil memeluk erat pria itu
Seulas senyum mengembang di bibirnya. Senyum menawan yang meskipun samar, namun bisa menggetarkan hati Shindy.
"Justru aku berterima kasih pada mamamu. Berkat semua ini, akhirnya kau mempercayaiku." ujarnya lembut
Shindy menatap manik mata meneduhkan itu.
__ADS_1
"Ayo kita cari Rama bersama-sama Van. Aku yakin kau sama mendendamnya dengan diriku. Kita harus bisa menangkapnya, dan membuat dia membayar semua kesalahannya." ujar Shindy dengan amarah di kedua matanya
Ivan memandangnya sendu. Perlahan wajahnya mendekat ke arah Shindy. Bibirnya menempel pada bibir Shindy. Mengecup perlahan sambil memejamkan mata. Menyesapi kerinduan yang selama ini dia rasakan sendiri.
"Mari kita lakukan apa pun yang kau inginkan. Aku berjanji akan membantumu, meskipun aku harus kehilangan nyawa sekalipun. Aku akan melakukannya untukmu." janji Ivan dengan yakinnya
"Tidak! Tidak ada yang boleh mati diantara kita Van. Barjanjilah." ujar Shindy
Ivan mengangguk pelan. Polisi itu melepaskan ikatan di tangan dan kaki Ivan. Shindy memapah Ivan yang berjalan tertatih menuju ke mobilnya kembali.
"Kami akan mengabari, jika hasil autopsi sudah keluar. Juga jika kasus ini ada perkembangan kami akan segera melaporkannya." ujar salah seorang petugas.
"Kami juga akan memberi informasi jika menemukan sesuatu Pak. Terima kasih atas bantuannya." ujar Shindy sebelum masuk ke dalam mobilnya.
Shindy duduk di belakang. Tepat di sebelah Ivan. Entah kenapa kegugupan menerpanya, tanpa sadar jemarinya yang mulai mendingin menyatu dengan jemari Ivan.
"Jika kita akan menangkap Rama, kita harus pastikan dulu. Dimana bayimu berada Shin. Karena jika kita menyerangnya sekarang, aku takut. Bayimu akan kenapa-napa." ujar Ivan menoleh ke arah Shindy yang bersandar di bahunya
"Aku lebih mengkhawatirkannya Van, daripada nyawaku sendiri." balas Shindy mulai meneteskan air mata
Ivan terdiam, kerutan di dahinya menunjukkan jika dia sedang berpikir keras untuk menjawab pertanyaan itu.
"Tunggu!" teriak Shindy tiba-tiba
"Jika dia membunuh papa kemarin, besar kemungkinan dia sudah kabur dari kota ini. Dia tidak mungkin di apartemennya kan?" tanya Shindy pada Ivan
"Sulit menebaknya Shin. Yang harus kita lindungi sekarang adalah mamamu. Karena sebentar lagi, baik Tommy maupun anak buahnya pasti akan datang untuk merebut harta papamu." ujar Ivan
"Tidak! Apa mereka juga akan membunuh mama?" tanya Shindy yang mulai cemas.
"Ku rasa begitu, dia akan memaksamu menandatangani pemindahan asset atas nama papamu dan mengancam ibumu sebagai sandera. Kita harus cepat bergerak sebelum mereka lebih dulu bertindak." tukas Ivan yang seolah tahu apa rencana Tommy
"Soal Rama?" tanya Shindy
"Kita akan mencarinya begitu mamamu punya tempat yang aman." terang Ivan
__ADS_1
"Rumahmu?" tanya Shindy
"Aku sudah menjualnya." balas Ivan singkat
"Rumahku sudah tidak aman ya?" tanya Shindy
"Mereka sudah tahu keberadaan rumahmu." ujar Ivan
Mereka berdua tampak berpikir keras. Menemukan tempat teraman untuk Bu Wulan sebelum terjadi hal buruk lainnya.
"Rumah saya saja Non. Ada di kampung. Saya rasa, mereka tidak akan tahu." celetuk Pak Parmin yang ternyata sedari tadi mendengarkan perbincangan mereka
Shindy menoleh ke arah Ivan, meminta pendapatnya. Apa itu hal terbaik yang bisa mereka lakukan sementara ini?
"Kita pergi malam ini." tukas Ivan
"Lalu pemakaman papa?" tanya Shindy
"Kita berdua yang akan mengurusnya. Biarkan mamamu pergi bersama mereka." ujar Ivan
Shindy hanya menurut saja. Melihat keseriusan di wajah pria itu, membuatnya yakin Ivan telah mempersiapkannya matang-matang.
Mobil itu sudah kembali dengan selamat di halaman rumah Shindy. Shindy membantu Ivan berjalan mengisyaratkan Bu Wulan untuk masuk ke kamarnya. Setelah menjelaskan rencana mereka, Bu Wulan justru menolak keras permintaan Shindy. Namun dibalik pernyataan Bi Ningsih yang dengan sabar memberi pengertian akhirnya Bu Wulan menurut juga.
Malamnya, tepat pukul 01.00 dini hari. Pak Parmin, Bi Ningsih dan Bu Wulan sudah bersiap untuk meninggalkan kediaman Pak Anton. Berbekal pakaian dan uang secukupnya, Bu Wulan memberi salam perpisahan pada anaknya.
"Jaga dirimu ya Nak. Kamu juga! Jangan biarkan anakku terluka." pesan Bu Wulan sebelum pergi
"Pasti kok Ma. Kami akan segera menyusul mama, begitu semuanya selesai." ujar Shindy melambaikan tangannya ke arah mobil yang perlahan menjauh.
"Shindy! Kau beristirahatlah. Biar aku pergi sebentar." pamit Ivan kemudian
"Mau kemana?" tanya Shindy
"Aku ingin ke apartemen Rama. Dan mengecek ke rumah orang tuanya. Siapa tahu aku menemukan petunjuk."
__ADS_1