
"Jika aku berhasil membantumu, keluar dari masalah ini. Maukah kamu menikah denganku?" Pertanyaan random Ivan terdengar aneh di telinga Shindy
"Pertanyaanmu tidak salah Van. Hanya saja, waktunya tidak tepat. Mungkin lain waktu, jika aku berhasil membawa kembali anakku. Aku akan mempertimbangkan niat baikmu." ujar Shindy
"Aku akan selalu menunggu Shin." Ivan mengecup pelan jemari Shindy yang masih dalam genggamannya.
"Kita jemput Andrian dulu." ujar Ivan menyalakan mesin mobilnya
Shindy hanya terdiam selama perjalanan, berusaha mencari solusi terbaik untuk masalah ini. Andai dia bisa dengan bekerja sama dengan polisi, maka pekerjaan ini tentunya akan lebih mudah. Namun, seperti yang Ivan katakan. Tommy bukan orang sembarangan. Jika Shindy salah mengambil langkah, maka nyawa anaknya yang akan dipertaruhkan.
Mobil yang Ivan kendarai tengah masuk ke kawasan perumahan tempat Retha dan Andrian tinggal. Bangunan dua lantai dengan kolam mini di halamannya tampak lengang dari luar. Shindy menekan bel pintu yang terletak di sisi kanan dinding.
"Siapa itu Mas?" tanya Retha yang tengah menyiapkan makanan untuk suaminya
"Aku lihat dulu ya!" pamit Andrian yang sebenarnya sudah tahu siapa yang datang.
Andrian membuka pintu, menampakkan sosok Shindy dan Ivan yang tengah berdiri di hadapannya.
"Mana istrimu An?" tanya Ivan tanpa basa basi
"Masuklah dulu. Kita perlu bicara." tukas Andrian mempersilakan.
Dua orang itu duduk bersebelahan di sofa ruang tamu. Sementara Andrian tengah menguatkan mental untuk memberitahu istrinya.
"Tha, ada Ivan dan Shindy di depan." ujar Andrian cukup pelan.
"Lagi?" tanya Retha sengaja mengeraskan suaranya
"Tha, setidaknya temui mereka sebentar. Kita perlu mendengarkan apa yang ingin mereka katakan. Jangan marah dulu." ujar Andrian berusaha meredam emosi Retha
Tanpa sepatah kata pun. Retha berjalan ke depan. Menemui dua tamu penting yang sengaja datang malam-malam itu.
__ADS_1
"Tha." panggil Shindy
"Kami, ingin membicarakan sesuatu Tha." tukas Ivan
Wajah tak ramah mulai Retha tunjukkan. Kedua tangannya terlipat di depan dada. Dengan wajah datarnya, Retha menantikan apa yang hendak mereka ucapkan.
"Tha, maaf sudah mengganggu waktu kalian. Kedatangan kami kemari hanya ingin meminta tolong pada suamimu Andrian." tukas Ivan berbicara selembut mungkin
"Mas Andrian tidak akan pergi kemana pun tanpa aku!" ketus Retha tanpa menoleh sama sekali.
"Tha tolonglah, jangan kekanakan begini!" seloroh Shindy
Ivan mengedipkan sebelah matanya. Mengisyaratkan agar Shindy tidak melanjutkan kalimatnya.
"Nona Shindy yang terhormat! Bukan aku yang kekanakan, tapi wanita hamil mana yang setuju suaminya terlibat dalam misi rumitmu itu!" ujar Retha dengan nada meninggi.
"Hanya mencari anakku Retha! Bukan melakukan hal berbahaya." sergah Shindy
"Lalu, membiarkan suamiku menjadi korban empuk para penjahat itu? Aku tahu yang kamu alami Shindy, aku juga kasihan padamu. Tapi, nyawa suamiku sama pentingnya dengan nyawa anakmu. Aku tidak akan membiarkan dia ikut dalam rencana kalian, kecuali jika dia memang menginginkannya." ujar Retha mulai melunak
Retha tak bergeming. Menatap wajah tenang suaminya yang juga menoleh padanya.
"Aku hanya akan mendengarkanmu Tha. Jika kamu menginginkan aku tetap tinggal maka aku akan di sini, menemanimu." ujar Andrian dengan seulas senyum
"Kamu tidak akan pergi kan jika aku tidak mengijinkanmu?" tanya Retha mengulangi kalimat suaminya
Entah kenapa, justru Shindy yang tak sabaran dan segera berdiri dari posisinya.
"Sudah cukup Van! Jangan lagi memohon pada wanita ini. Kita selesaikan masalah ini, berdua saja!" tegas Shindy, nalurinya sebagai seorang ibu. Ingin segera mendapatkan kembali bayinya. Tidak harus membuang-buang waktu untuk drama sepasang suami istri yang menjengkelkan batinnya.
Shindy beranjak pergi. Tanpa berpamitan, dia keluar rumah lebih dulu.
__ADS_1
"Ku rasa, kami harus pergi. Terima kasih atas waktunya." ujar Ivan lalu meninggalkan mereka
Seketika suasana mendadak hening. Tidak ada percakapan yang tercipta. Kepergian Shindy dan Ivan membuat gejolak baru dalam hati Andrian. Tapi bagaimana pun, tanggung jawabnya sebagai suami dan ayah dari calon anaknya tidak boleh dia lupakan begitu saja. Saat ini, istrinyalah yang terpenting
"Aku akan berkemas. Kita kembali sekarang!" satu kalimat Retha membuat Andrian tercengang. Bagaimana bisa, istrinya berubah pikiran secepat itu.
"Shindy butuh bantuanmu Mas. Bawa aku ke rumah kita dan bergabunglah bersama mereka. Kabari Ivan jika kamu akan menyusulnya. Aku yakin mereka belum jauh." ujar Retha sembari berjalan ke dalam kamar
Senyum Andrian terbit di bibirnya. Sambil mengetikkan sebuah pesan, Andrian mengirimkannya pada Ivan. Segera dia pun bangkit untuk membantu istrinya berkemas.
"Mereka memilih ikut!" terang Ivan menunjukkan pesan singkat yang masuk di ponselnya
"Harusnya Andrian tidak perlu membawa serta istrinya yang hamil. Kandungannya sudah sebesar itu, apa tidak rentan baginya jika sering berpergian?" gumam Shindy yang sebenarnya masih menyimpan cemburu.
"Kita ambil baiknya saja Shin. Bagaimanapun istrinya masih punya hati, tidak melepaskanmu sendirian dalam hal ini." ujar Ivan
Shindy mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Jalur tol menuju ibukota mempercepat laju mereka untuk tiba di bandara. Sesuai dengan jam penerbangan, mereka kini sudah ada di dalam pesawat.
"Istirahatlah Shin. Akan ku bangunkan jika sudah sampai." tukas Ivan membiarkan Shindy bersandar padanya. Kedua mata cantik itu kini mulai terpejam.
Ivan yang masih terjaga pun mengirimkan sebuah pesan pada salah seorang temannya yang masih bekerja pada Tommy.
[Michael, kirimkan beberapa titik lokasinya sekarang. Aku sedang menuju Bali.]
Tak lama kemudian sebuah lokasi berhasil dibagikan. Senyum mengembang di bibir Ivan. Kini, jelas sudah tujuannya untuk menemukan bayi Shindy.
[Bayi itu ada bersama Jane. Tommy juga ada disini. Ku lihat dia terluka parah. Bawalah senjata yang lengkap. Keamanannya diperketat. Mungkin Tommy sudah memperhitungkan kedatanganmu.]
Michael adalah seorang bule berdarah Perancis yang sudah lama tinggal di Pulau itu. Mengabdi sebagai sopir pribadi Jane, dan sialnya dia telah lama memberontak pada bandit yang menjadi atasannya itu. Namun, ancaman kematian yang selalu Tommy layangkan membuatnya tidak bisa beralih dari profesinya. Hubungan Michael dan Ivan cukup baik. Dalam beberapa insiden mereka berusaha untuk saling membantu. Terlebih saat Ivan tidak membunuhnya meski mengetahui, dia juga ada di balik penculikan kakak perempuannya. Hutang nyawa itulah yang membuat Michael berani membocorkan lokasi mereka.
Satu jam sudah perjalanan yang mereka tempuh. Ivan membangunkan Shindy yang terlelap. Dengan perlahan, diguncangnya tubuh Shindy yang bersandar.
__ADS_1
"Andrian." Shindy mengigau sesaat sebelum akhirnya, membuka matanya.
"Aku Ivan Shin, bukan Andrian."