DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)

DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)
Tommy Andrian


__ADS_3

"Kau kejam sekali Shin." gurau Ivan menanggapi celotehan Shindy


"Aku manusia biasa Van. Sama sepertimu, aku juga bisa marah dan mendendam." tukas Shindy


Beberapa saat keduanya terdiam. Ivan menatap raut muram Shindy yang tengah melihat langit di atas sana.


"Ngomong-ngomong. Ingin makan sekarang?" Ivan mencoba memecah keheningan


"Ayo!" ajak Shindy menggenggam tangan Ivan.


"Aku tahu tempat yang nyaman untuk makan. Ada di sekitar sini juga. Mari kesana." Ivan membalas genggaman tangan Shindy


Shindy tersenyum senang. Ivan membawanya ke sebuah kedai dengan tempat duduk yang langsung menghadap pantai. Lampu kuning seperti lampion menjadi penerangan indah sepanjang garis pantai.


"Pesanlah, apa yang ingin kau makan?" tanya Ivan


"Aku mau, jagung serut original. Roti bakar keju dan susu coklat hangat." pesan Shindy


"Kopi hitam tanpa gula."


"Tanpa gula?" tanya Shindy


"Kenapa?" Ivan kembali bertanya


"Bukankah rasanya sangat pahit?" tanya Shindy


"Tidak. Rasa kopi yang khas, terasa melekat di lidah. Itu yang selalu membuatku terjaga sepanjang malam." tukas Ivan duduk di sebuah kursi kecil warna-warni yang tersedia di sekitar kedai.


"Shin, apa kau sering merasa mual? Muntah-muntah karena sesuatu?" tanya Ivan tiba-tiba


"Aku jarang mual, kecuali jika mencium aroma alkohol. Pasti aku langsung muntah." terang Shindy


"Kak Mitha dulu juga begitu, saat hamil dia manja sekali. Kemanapun minta diantar, bahkan membeli sabun di warung dekat rumah pun selalu minta ku temani. Kadang dia juga merepotkan Uwa karena permintaannya yang aneh." kenang Ivan seraya menyalakan rokoknya


"Hanya kenangan yang bisa menghidupkan mereka yang telah pergi Van. Kenangan akan selalu membekas dan kita ingat sampai kapanpun." balas Shindy


"Ck. Tenanglah. Wanita di sebelahmu ini juga sedang hamil, mungkin setelah ini aku akan sering merepotkanmu!" ujar Shindy berusaha menghibur Ivan.


Ivan tertawa. "Aku akan senang membantumu! Sekalipun kau menyusahkanku, aku menantikan moment dimana kau menjadi seorang ibu. Aku akan menggendong bayimu seperti ini." ujar Ivan memperagakan ucapannya


"Andai, bayiku punya ayah sepertimu. Dia pasti akan sangat bahagia." celetuk Shindy tiba-tiba

__ADS_1


"Ehem.. Apa rencanamu setelah ini Shin?" tanya Ivan mengalihkan pembicaraan.


"Aku ingin mencari pekerjaan. Tapi.. Semua berkas dan barangku tertinggal di rumah Rama yang lama. Bagaimana aku bisa melamar kerja?" ujar Shindy sedih


"Besok aku akan mengantarmu ke sana." balas Ivan mencoba menenangkan Shindy


"Terima kasih Van. Tapi bagaimana jika Rama berhasil menangkapku lagi?" tanya Shindy yang mulai khawatir.


"Ada aku bersamamu. Ku pastikan hal itu tidak terjadi lagi." tegas Ivan


Pesanan mereka telah diantarkan. Shindy menyendok jagung serut itu ke dalam mulutnya. Beberapa kali Shindy tampak menyuapi Ivan. Tembok tinggi yang terbangun diantara mereka runtuh seketika. Mereka saling membutuhkan dan mungkin saja cinta tumbuh diantara keduanya.


Shindy mematut diri di cermin, dress bunga milik Mitha tampak sedikit kependekan di badan Shindy. Sepuluh senti di atas lutut menampakkan kaki jenjang Shindy yang indah. Ivan yang berdiri di ambang pintu kamar Shindy menatap pemandangan di hadapannya tanpa berkedip.


"Van.. Halo! Ivan!" panggil Shindy menepuk pelan bahu Ivan


Ivan tergagap. Dia mengedip-kedipkan matanya, berusaha menghindari tatapan Shindy. Gugup. Hal yang tidak pernah dia rasakan, timbul sejak keberadaan Shindy di rumahnya.


"Kita berangkat sekarang Van?" tanya Shindy


"I.. Iya. Pakai helm ini." Ivan menyerahkan helm pink milik Mitha, kakaknya.


Motor Ivan melewati jalanan yang cukup jauh. Bisa dibilang, tempat tinggal Ivan dan rumah Rama berbeda kota. Shindy menyandarkan kepalanya di punggung Ivan. Spontan Ivan menarik lengan Shindy untuk mempererat pegangannya. Shindy menurut dalam diam. Hingga sepeda motor itu mulai memasuki perkampungan tempat rumah mewah Rama berada. Jalan masuknya hanya cukup dilewati satu mobil. Rumah itu satu-satunya yang paling besar dibandingkan kiri kanannya.


Shindy turun dari motor, melepas helm dan mengekor di belakang Ivan. Ivan membuka pintu rumah Rama yang tidak dikunci.


"Sama persis saat aku datang kemari!" ujar Ivan


"Kapan kau kesini Van?" tanya Shindy


"Saat biyang memberitahuku bahwa kau menghilang. Aku langsung berpikir, Rama telah membawamu pulang ke rumah ini." ujar Ivan


Shindy membuka pintu kamarnya. Menarik koper besar di ujung ruangan. Shindy mulai berkemas.


Sementara Ivan menunggu di luar sambil memainkan ponselnya.


"Jadi, kau memilih untuk melindungi gadis itu?" suara berat yang dikenalnya terdengar


Ivan menoleh ke arah ruang tengah. Tampak Tommy berdiri dengan cerutu di mulutnya.


"Boneka Rama, dia cantik juga! Aku tidak heran kau bisa tertarik oleh pesonanya. Aku pun juga akan merasakannya nanti." Kalimat ambigu itu disertai dengan tatapan yang sulit diartikan

__ADS_1


"Jangan lakukan apapun tuan Tommy. Dia sedang hamil!" Ivan mencoba memperingatkan atasannya


"Lalu? Apa itu berarti tidak ada yang boleh menyentuhnya selain dirimu Van?" tanya Tommy melangkah masuk ke dalam kamar.


"Si... Siapa kau?" teriak Shindy


"Perkenalkan nona, aku Tommy Andrian. Atasan suamimu tercinta." ujar Tommy berjalan mendekati Shindy


"Jangan mendekat!" bentak Shindy panik


"Tenanglah. Aku hanya ingin mengamati objek yang membuat dua orang kepercayaanku berebut untuk mendapatkannya." ujar Tommy duduk di ranjang Shindy


"Jangan mengganggunya. Dia hanya ingin mengemasi barangnya, setelah itu kami akan pergi dari sini." ujar Ivan mencoba membela Shindy


Tampak Tommy bangkit dan berjalan menghampiri Ivan.


"Apa kau berniat mengulur waktu untuk mainan kecil seperti dia?" bisik Tommy di telinga Ivan


"Dia, putri tunggal Anton Rahardja. Aku sedang berusaha mengorek informasi tentang ayahnya. Baru aku bisa bertindak untuk menghabisinya." ujar Ivan dengan pergerakan mimik bibir tanpa suara


"Pastikan, semua kalimatmu itu, bukan omong kosong belaka Ivan. Ku tunggu tindakanmu selanjutnya!" Tommy menepuk bahu Ivan lalu keluar dari kamar Shindy


"Aku takut Van." ujar Shindy


"Jangan takut, aku tidak akan membiarkanmu terluka. Selama aku di dekatmu Shin." ujar Ivan lagi


Ivan dan Shindy keluar dari kamar. Sambil membawa tas dan juga koper besar milik Shindy.


"Sudah selesai dengan urusanmu?" tanya Tommy dengan tangan bersilang


"Hmm.." Ivan hanya berdeham singkat.


"Jika kau berhasil menjalankan tugasmu dengan baik, maka aku hadiahkan dia untukmu." ujar Tommy dengan senyum aneh di bibirnya


"Dia bukan barang, yang bisa kau berikan dengan mudah pada siapapun. Dia manusia, dia yang akan memilih sendiri, ingin bersama siapa. Aku, anda atau suaminya." Ivan menyeringai lalu mengangkat koper dan menarik Shindy untuk keluar dari rumah itu.


Ivan meletakkan kopernya di bagian depan motor. Sementara Shindy ikut membonceng di belakang dengan tas kecil menyampir di pundaknya. Motor itu bergerak perlahan meninggalkan rumah Rama.


"Gadis itu seperti piala bergilir yang digunakan bersama-sama." ucapan kejam Rony terdengar dari dalam


"Ikuti mereka, awasi dan laporkan setiap hal yang mereka lakukan. Aku takut jika antek kesayanganku melupakan misi utamanya, hanya karena gadis itu."

__ADS_1


__ADS_2