DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)

DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)
Semakin Menjadi


__ADS_3

Ivan masih mencoba menenangkan Shindy yang menangis. Sementara Andrian berusaha mendekat ke arah mereka, namun tatapan tajam istrinya seolah tidak mengijinkannya.


"Ayo Van, kita mencari bayiku!" pinta Shindy tanpa menyadari keberadaan Andrian


"Biar aku yang mencarinya, kau disini saja. Kau belum pulih. Luka jahitannya bisa berdarah lagi nanti, kalau kau banyak bergerak." terang Ivan


"Tapi bayiku Van.." ujar Shindy


"Apa bayimu hilang?" tanya Andrian dari balik tirai


"Iya, dia kehilangan bayinya. Aku yakin suaminya yang melakukan ini. Aku akan mencarinya nanti." ujar Ivan


"Bolehkah aku ikut?" tanya Andrian


"Jangan, jangan ikut campur urusan orang lain Mas! Nggak baik." cegah Retha


"Kau masih belum sembuh juga. Jadi biar aku saja yang pergi. Aku titip Shindy ya, tolong jaga dia sampai aku kembali." pesan Ivan


"Pakai saja mobilku Van. Biar lebih cepat." tawar Andrian seraya melemparkan kuncinya


"Terima kasih."


Ivan berlari menuju ke parkiran, satu-satunya tempat tujuan utama pencariannya adalah rumah Rama yang lama. Ivan mengendarai mobil Andrian dengan cepat, melewati jalan tembus agar cepat sampai. Hingga akhirnya dia tiba di rumah besar itu. Hanya ada limousin milik Tommy disana. Ivan bergegas turun dan menajamkan pendengarannya. Hening. Tidak ada suara apapun dan tangisan bayi disana. Ivan mengendap ke samping rumah. Mengamati jendela mana yang terbuka dan memungkinkannya masuk. Ivan sampai pada jendela ketiga yang mengarah ke ruang tengah Tepat di depan jendela, ada yang membukanya


Ivan berjongkok di bawah jendela. Menempelkan tubuhnya di dinding. Samar terdengar suara langkah seseorang menjauh dari sana. Ivan mengintip perlahan. Tampak Rama berdiri menerima segepok uang dalam amplop.


"Bayimu sudah ku amankan. Dia dirawat dengan baik di rumah sakit lain. Aku akan membawanya pada istriku, begitu kondisinya stabil." terang Tommy


"Terima kasih tuan." ujar Rama dengan senyum lebarnya


"Tugas itu! Lakukan dengan segera, aku tidak mau menundanya lagi. Aku memberimu seminggu, hanya seminggu saja Ram!" tegas Tommy dengan suara beratnya


"Aku pasti akan segera memberimu kabar baik Tuan." tukas Rama


Tommy menyeringai. Entah kenapa kini pandangannya beralih ke jendela yang terbuka. Tanpa disadari sebuah mug kaca terlempar keluar. PRANG... Ivan yang terkejut nyaris saja mengumpat kasar. Menyadari keberaannya sudah diketahui. Ivan mengendap lagi untuk kembali ke halaman rumah.


"Ada orang disana!" gumam Tommy


Rony pun dengan sigap keluar rumah. Saat yang bersamaan, Ivan sudah berhasil menyalakan mesin mobilnya dan beranjak pergi.


"Berhenti!" teriak Rony melayangkan satu peluru ke arah mobil Ivan


CTAR.. Kaca belakang mobil itu pecah. Ivan tersentak sesaat, sebelum kembali melajukan mobilnya.

__ADS_1


"Sial, dia kabur."


Tak lama setelah kembali ke jalanan, mobil putih mendahuluinya dari arah kanan. Menukik tajam ke arah depan mobilnya. Hingga dia terpaksa berhenti. Rama keluar dengan sebatang rokok di mulutnya.


"Apa kau punya korek?" tanya Rama mengetuk jendela mobil Ivan


Ivan pun membuka kasar pintu mobil hingga Rama terdorong ke belakang.


"Berhentilah menyakiti Shindy!" ancam Ivan


"Apa urusannya denganmu?" tanya Rama seraya bergerak maju ke mobilnya


Ivan segera menariknya hingga limbung ke belakang. Ivan menyandarkan Rama pada kap mobil.


"Dimana bayinya?" tanya Ivan memanas


"Bukan urusanmu! Lagipula, setelah semuanya selesai. Gadis itu juga tidak akan jadi milikmu, berhentilah menjadi sosok pahlawan untuknya Van. Dan ayo, habisi keluarganya." ujar Rama


"Tidak akan ku biarkan." Ivan berniat memukul wajah Rama. Namun dengan sigap Rama menendang tepat di area vital Ivan hingga seketika tertunduk kesakitan.


"Assetmu itu, tidak berharga lagi sekarang." ujar Rama masuk kembali ke mobilnya.


Ivan mencoba berdiri dan masuk juga ke mobilnya, mengimbangi laju mobil Rama untuk kembali mencegahnya. Namun, mobil itu terlalu cepat. Kini Ivan berbalik, menuju rumah sakit kembali. Berniat memberi tahu Shindy dan mengganti rugi atas kerusakan mobil Andrian.


"Kau sudah menemukan bayiku?" tanya Shindy


"Belum. Tapi aku tau siapa yang membawanya, aku akan menemukannya nanti. Sekarang ada hal yang lebih penting dari itu." ucap Ivan


"Apa lagi sekarang?" tanya Shindy mulai panik


"Tenanglah. Aku akan membereskannya." ujar Ivan seraya memeluk Shindy


"Siapa yang berbuat sejahat itu? Mengambil bayi orang lain tanpa ijin." seloroh Andrian


"Apa benar dia bayimu?" ucap Ivan kembali bertanya pada Andrian


Tatapan tajam Retha mengarah pada suaminya, begitu juga Andrian yang merasa heran kenapa mereka mengira jika itu anaknya.


"Bukan!" tegas Shindy


"Dia anakku dan Rama. Andrian pria baik, dia tidak pernah merusakku."terang Shindy


Seketika wajah Retha melunak, dipeluknya Andrian dengan berurai air mata. Andrian yang menyadari itu membalas pelukan istrinya dan mengusap kepalanya perlahan.

__ADS_1


"Tapi kenapa dia terus mengelak Shin? Dia bilang, itu bukan anaknya. Bahkan dia memberikannya pada Tommy dan menerima banyak uang!" terang Ivan


"Dia benar-benar menjualnya?" gumam Shindy tak percaya


"Kau sudah tahu!" Ivan pun sama terkejutnya


"Aku mendengarnya telepon dengan atasan sampahnya itu. Van, tolong aku. Kita harus membawa bayiku kembali, sebelum terjadi sesuatu yang buruk padanya." pinta Shindy


"Carilah bayinya Van. Biar aku yang menjaganya selama disini." ujar Andrian


"Mas, tapi kamu juga baru sembuh. Kamu perlu istirahat total." sanggah Retha


"Nggak apa-apa kok. Shindy dan aku kan sama-sama dirawat disini. Jadi sekalian aku menjaga kalian." terang Andrian mengusap pipi istrinya yang basah


"Aku nggak mau terjadi sesuatu lagi pada Mas." ucap Retha menatap kedua mata coklat Andrian


"Tenanglah sayang. Tidak akan terjadi apa-apa." ujarnya


Shindy menatap kedua insan di hadapannya dengan sayu. Mungkin jika dia tidak ceroboh dulu, dialah yang ada di posisi Retha. Mendapat kasih sayang seutuhnya dari laki-laki yang mencintainya.


"Bawalah dulu mobilku Van. Segera kabari kami jika ada sesuatu." Andrian menyodorkan ponselnya


"Akan ku simpan nomormu." Ivan mengeluarkan ponselnya dan menyimpan nomor telepon Andrian


"Aku pergi dulu ya Shin. Jaga dirimu baik-baik." pinta Ivan


"Van." panggil Shindy


Shindy menarik Ivan mendekat ke arahnya. Mencium bibirnya sekilas sebelum akhirnya berkata, "Hati-hati." Ivan hanya mengangguk.


"Tunggu! Beri aku alamat lengkap rumahmu. Aku harus kesana, sebelum Rama tiba lebih dulu." ucap Ivan tatkala mengingat sesuatu


"Dia benar-benar, ingin membunuh papa?" pekik Shindy


"Aku pastikan itu tidak akan terjadi, cepatlah tulis alamatmu disini!" Ivan menyodorkan layanan lokasi di ponselnya.


"Aku pergi."


Ivan berlari kembali keluar. Menuju ke parkiran mobil. Dia berniat menyelamatkan orang tua Shindy lebih dulu, karena nyawa mereka dalam bahaya. Karena jika bayi Shindy memang diinginkan Tommy, Tommy akan menjaganya dan memastikan dia baik-baik saja.


Shindy terdiam cukup lama di kasurnya. Tangannya mengepal kuat, ingin rasanya memukul dan memaki suami laknatnya itu. Jika tidak ingat kondisinya sekarang. Shindy ingin meluapkan amarahnya saat itu juga.


"Kita akan lihat nanti Ram! Apa yang bisa ku lakukan untukmu!"

__ADS_1


__ADS_2