
Shindy mengawali paginya dengan bersolek di depan cermin rias kesayangannya. Meski hanya dalam polesan bedak tipis dan lipstik aura kecantikan memancar dari dirinya. Kulitnya yang putih bersih tampak kontras dengan dress pink tanpa lengan yang dibalut dengan jaket jeans putih membuatnya terlihat semakin menarik.
Shindy menarik flatshoesnya dari kolong kasur. Mengenakannya dengan kaos kaki pendek semata kaki. Ya, dia bersiap memulai pekerjaannya.
Shindy mengambil tas jinjingnya dan memasukkan beberapa barang disana, dia berniat berangkat lebih awal guna sarapan di toko roti sebelum buka. Shindy pun keluar kamar tepat pukul 7. Langkah jenjangnya menjadi pusat perhatian dari penghuni kos yang lain. Memang benar, tidak semua orang menyukai Shindy. Kadang meski Shindy berusaha ramah pun, diacuhkan masih jadi jawabannya.
Shindy menyusuri lorong gang itu lagi, dia seolah hafal jalan menuju toko kue yang memang baru didatanginya sekali. Rambutnya yang terurai tertiup angin. Jika dilihat dari kejauhann, Shindy memang mirip seorang model Asia. Shindy menyeberangi jalan yang tampak belum begitu ramai.
"Yah, masih tutup." Shindy melihat jam di tangannya. Masih pukul 07 lewat 5 menit.
Shindy memutuskan untuk menunggu di bangku panjang di depan toko. Sambil sesekali celingukan untuk melihat apakah Imelda atau bahkan Bu Wiwit sendiri yang datang. Hanya lalu lalang kendaraan dan beberapa orang yang lewat saja, menjadi pemandangan selama beberapa menit.
"Hai Shin. Nunggu lama ya!" pekik Imelda yang datang dari arah utara
"Ih Imel ngagetin aja!" balas Shindy melontarkan seulas senyum ke arah Imelda
"Ayo masuk, kita angetin roti di microwife buat sarapan." ajak Imelda seraya membuka pintu toko
"Pas banget nih. Aku juga belum makan hehe." cengir Shindy mengekor di belakang.
"Aku angetin rotinya, kamu sapu dulu ya! Nanti kalau sudah biar aku yang lap etalase sama kacanya." ujar Imelda melangkah masuk ke ruang karyawan.
Shindy mengangguk mengerti. Lalu menitipkan tas jinjingnya pada Imelda. Shindy berbalik dan menubruk tubuh seseorag. Karyawan wanita yang kemarin berjaga bersama Imelda tampak menatapnya tajam.
"Maaf Mbak." tukas Shindy
"Lihat-lihat dong kalau jalan!" Karyawan itu melengos dan menabrak ujung bahu Shindy lagi.
Shindy menghela napas, memang akan selalu ada tokoh antagonis di hidupnya. Terlepas mau sebaik apapun dia. Shindy memilih mengabaikannya. Segera dia mengambil sapu dan mulai membersihkan lantai toko dari dalam ke arah luar. Meski awalnya dia nampak kesulitan, karena seumur hidupnya nyaris semua pekerjaan rumah tangga dilakukan oleh Bu Ningsih. Ya Tuan putri Shindy sudah turun pangkat rupanya.
"Shin, ayo sarapan dulu." ajak Imelda membawa sepiring roti yang masih mengepulkan asap dengan beberapa cangkir teh hangat di nampan.
"Oke, sebentar aku bersihkan sekalian." Shindy menyelesaikan tugas menyapunya
"Nanti sekalian pel lantainya ya anak baru!" perintah karyawan yang satunya sambil bergabung dengan Imelda untuk sarapan
"Setidaknya biar dia sarapan dulu Sa!" tegur Imelda yang hanya dibalas dengan decakan kesal.
"Kerja di toko kue aja pakai baju bagus, dikiranya lagi jalan-jalan apa?" cibir Merrisa (karyawan itu)
"Emang apa salahnya? Yang penting kan sopan Sa. Lagipula dia sedang hamil, jadi wajar pakai dress." bela Imelda
"Ini Shin. Kamu yang coklat ya." tawar Imelda begitu Shindy selesai mencuci tangan
"Kamu yang tawar aja! Itu udah enak kok ada kejunya. Sini yang coklat buat aku aja." Merrisa merebut paksa roti coklat dari hadapan Shindy
"Itu kan buat Shindy, kamu kan tadi udah makan yang coklat Sa!" protes Imelda
"Masih lapar." Merrisa meneguk kasar minumannya dan masuk ke dapur untuk mempersiapkan bahan kue sebelum chef datang.
"Dia memang begitu. Jangan diambil hati ya Shin." ujar Imelda
__ADS_1
"Santai aja. Aku nggak baperan kok hehe." balas Shindy meski dalam hatinya dia tidak menyukai sikap Merrisa padanya.
Hari itu toko cukup sibuk, beberapa turis datang silih berganti untuk memborong pie susu khas toko Kue Bu Wiwit. Sampai beberapa kali Shindy kewalahan merestok pie susu itu. Memang lezat katanya dan menjadi andalan di toko kue tersebut.
"Shin, tolong bantu packing yang ini ya!" pinta Imelda saat menghitung belanjaan pelanggan
"Iya." Shindy mengambil papper bag besar dan menata kue yang dibeli wanita itu ke dalamnya.
"You're very beautiful." puji pembeli itu tatkala melihat Shindy
"Thank you Miss." Shindy menyodorkan papperbag itu dengan seulas senyum
"Ciyee yang dibilang cantik! Tapi emang cantik sih." goda Imelda
"Cantikan kamu lagi. Khas cewek oriental." balas Shindy dengan kekehan di mulutnya
"Gitu aja bangga!" seloroh Merissa membawa masuk nampan berisi pisang rai ke dalam dapur
"Dia kenapa sih!" keluh Imelda tak nyaman dengan sikap Merissa
"Udah biarin aja Mel! Nggak suka kali sama aku." gumam Shindy lalu melanjutkan kegiatannya melayani pembeli yang lain.
Tak terasa hari itu berlalu begitu saja, senja sore mulai menampakkan cahaya jingga yang indah. Shindy yang masih fokus menata kue tidak menyadari ada pembeli yang masuk ke toko. Shindy hendak membawa nampan kosong ke arah dapur dan BRUK..
Nampan itu menghambur ke lantai. Lagi-lagi dia menabrak seseorang.
"Shindy."
"Andrian." mereka saling menyapa dan melemparkan senyum
Kondisinya hampir sama dengannya, perutnya sedikit membuncit dengan dress selutut yang dikenakannya. Ya, sudah bisa ditebak gadis itu adalah gadis yang sama yang menunggu Andrian kemarin. Sudah pasti itu istri Andrian. Melihatnya saja, Shindy pun menyadari Andrian tidak kesulitan melupakannya. Meski tidak bisa dipungkiri hatinya terasa sakit, itu berarti dia tidak lagi berarti apa-apa untuk Andrian. Namun dia juga senang, dia tidak perlu lagi merasa bersalah pada Andrian dan ibunya.
"Iya nih lagi ngantar istriku, dia ngidam pengen pie susu." jelas Andrian
"Oalah, mau cari kue apa lagi Mbak? Biar saya bantu siapkan." tanya Shindy dengan ramahnya
"Kamu kerja disini Shin?" tanya Andrian
Tampak Retha berdeham tak nyaman.
"Oh iya sampai lupa. Kenalin ini istriku Retha. Tha ini Shindy." ujar Andrian yang terlambat memperkenalkan mereka
"Udah tahu!" jawab ketus Retha
Shindy memaksakan senyumnya.
"Oh iya Shin ada roti yang baru matang nggak ya? Yang masih hangat gitu?" tanya Andrian
"Owh ada. Roti bantal nih yang baru dibikin. Isian rasa kismis, cokelat sama kacang. Mbaknya mau?" tawar Shindy berusaha profesional
"Sama Mas Andrian aja ya! Mas, aku tunggu di mobil." ujar Retha berjalan keluar lebih dulu.
__ADS_1
"Maaf ya Shin, mungkin istriku kecapekan. Biasa kan ibu hamil suka mood swing." Andrian mencoba memberi penjelasan
"Nggak apa-apa kok. Aku juga suka gitu. Mari aku tunjukkan tester roti bantalnya." ujar Shindy mengarahkan Andrian ke arah kasir.
Setelah mencicipi ketiga rasa reccomend dari yang Shindy sodorkan. Andrian memilih seporsi roti bantal kismis yang masih hangat itu bersama beberapa kue kemasan yang sudah dipilihnya tadi.
"Shin tolong kamu layani ya! Aku mau ngitung uang penjualan hari ini." ujar Imelda
Shindy hanya mengangguk. Andrian mengamati sosok di depannya dengan sedikit kagum Dulunya Shindy hanyalah anak manja yang bergantung pada orang tuanya. Namun sekarang, setelah menjadi istri dia jauh lebih dewasa.
"Ada tambahan lagi Aan?" tanya Shindy sambil memasukkan kue pilihan Andrian ke dalam paperbag
"Nggak kok udah cukup. Berapa Shin?" tanya Andrian
"103.500 Aan." ucap Shindy menyodorkan belanjaan Andrian
"Kamu nggak apa-apa kerja dalam keadaan hamil gini?" tanya Andrian
"Nggaklah. Emangnya kenapa? Orang kerjanya nggak berat juga. " balas Shindy menyodorkan uang kembalian pada Andrian
"Ya nggak sih. Cuma kok boleh gitu loh sama suami kamu. Sedang aku aja minta istriku buat resign setelah menikah." terang Andrian
Shindy hanya tersenyum tipis.
"Tapi.. Suamimu kerja kan Shin?" tanya Andrian dengan hati-hati
" I.. Yalah. Aku kerja disini karena gabut aja sih hehe. Suka bosen kalau di rumah sendirian." bohong Shindy. Tidak mungkin jika dia bercerita tentang kisah kelamnya setelah menikah.
"Iya sih. Istriku juga suka bosen. Tapi kadang dia suka ngetik novel gitu. Buat cerita baca buku. Ya gitulah." balas Andrian
Sementara Retha yang sedari tadi mengamati keakraban suaminya dengan mantan kekasihnya tersebut merasa terganggu. TIN.. Kembali dia membunyikan klakson dengan keras.
"Owh maaf keasyikan ngobrol sih!" ujar Andrian menyadari sikap istrinya yang mulai tak sabaran
"Iya, ini aku juga mau lanjut kerja lagi!" ujar Shindy
"Duluan ya Shin." pamit Andrian berjalan keluar membawa belanjaannya
Shindy mengamati Andrian dari jauh. Dilihat dari ekspresi masam istrinya tadi, sudah dipastikan Andrian akan dalam masalah.
"Apa perasaanmu sudah kembali?" tanya Retha begitu Andrian membuka pintu mobil
"Maksudmu sayang?" tanya Andrian sambil masuk ke dalam
"Apa perasaanmu kembali lagi?" nada datar itu entah kenapa membuat Andrian tak nyaman
"Kamu kenapa sih? Aku cuma.." Andrian terdiam. Istrinya sedang tak butuh penjelasan.
"Belum. Dan tidak akan pernah." jelas Andrian sambil memutarkan mobilnya
"Kita pulang saja!" tegas Retha, hilang sudah minatnya makan kue berdua di tepi pantai sembari menatap sunset yang indah.
__ADS_1
"Tapi sayang.." sergah Andrian
"Aku bilang kita pulang saja! Aku nggak mood!"