
BRAK..
Ivan membanting pintu rumah dengan keras. Shindy yang terkejut, menjatuhkan kuenya.
“Dimana rumah baru suamimu? Antarkan aku kesana sekarang!” Ucap Ivan dengan nada meninggi
Shindy terbengong mendengar cara Ivan berbicara. Baru tadi pagi dia bersikap manis. Kenapa tiba-tiba emosi? Apa virus Rama menyebar secepat ini?
Sepersekian detik setelahnya, Ivan berkata, “Maaf. Lupakan saja!” Ivan kembali keluar rumah.
“Aneh.” Gumam Shindy kembali melanjutkan makannya
Ivan mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Tut… Tut… Setelah beberapa lama terdengar panggilannya tersambung.
“Tuan, bisakah kau mengirimkan alamat rumah Rama yang baru? Aku yakin kau pasti tahu!” ujar Ivan berbicara pada Tommy di telepon
“Akan ku minta Rony mengirimkan lokasinya. Tunggu sebentar!”
Telepon itu dimatikan, sebuah notifikasi masuk di ponsel Ivan. Take lokasi yang Rony kirimkan.
Ivan kembali memakai helmnya dan mengendarai motornya menjauh.
“Mau kemana Ivan sebenarnya? Kenapa terburu-buru.” Shindy menatap keheranan ke arah Ivan
Ivan kembali masuk ke dalam gang kecil tempat ia mengikuti mobil merah Rama. Ivan terus mengikuti jalur gang yang hanya muat satu mobil hingga tiba di sebuah perkebunan tebu. Jalanan tanah merah terbentang di hadapannya.
“Benarkah ada rumah disana?” tanya Ivan sambil mengamati arah maps di ponselnya.
“Tapi, ini mengarah kesana. Aku ikuti saja jalannya.” Ujar Ivan kembali menyalakan motornya.
Lebih dari seratus meter, Ivan hanya bertemu dengan tanaman tebu di sisi-sisi jalannya. Hingga tiba di sebuah jembatan kayu yang melewati sungai kecil penghubung kebun dan rumah di depannya. Ivan menyeberangi jembatan yang mengarah ke sebuah rumah minimalis. Rumah itu di kelilingi perkebunan buah yang luas. Ivan memarkirkan motornya di samping rumah. Seseorang berdiri di depan jendela besar yang menghadap keluar.
“Kau!” panggil Ivan berlari ke depan pintu
“Keluar kau Ram!” Teriak Ivan sambal berusaha membuka pintu. Pintu jati besar itu terkunci.
“Keluar atau ku dobrak pintumu!” teriak Ivan
BRAK.. Ivan mencoba mendobrak pintu rumah Rama. Gagal. Ivan mencoba mendobrak lagi,
BRAK.. Kali ini pintu itu terbuka. Ivan masuk ke dalam rumah. Aroma alkohol tercium menyebar ke seluruh ruangan. Ivan mengamati sekitarnya. Berbagai botol minuman tercecer di lantai bersama dengan kupasan kulit kacang yang berserakan. Ivan menengok sebentar ke arah kamar yang dulu Shindy tempati. Kamar dengan jendela besar yang dilihatnya tadi. Sebuah baju putih teronggok di lantai. Ivan mengangkat gaun itu, sedikit mengamatinya.
“Ini.. Bukankah ini gaun Kak Mitha, kenapa ada disini?” gumam Ivan
__ADS_1
BRAK.. Suara gebrakan keras terdengar dari arah belakang. Tak lama kemudian, seseorang berlari ke arah mobil merah dengan ransel hitam di punggungnya.
“Rama!” teriak Ivan begitu menyadari sosok yang baru saja keluar adalah Rama.
Ivan berlari ke depan. Berusaha mengejar laju mobil itu, Ivan naik ke bemper mobil dan berusaha masuk lewat jendela samping yang tidak tertutup. Rama memutarkan mobilnya dengan cepat, berniat melemparkan Ivan agar terjatuh. Namun jemari Ivan mencengkeram kuat di celah jendela yang terbuka.
“Berhenti kep*r*t!” teriak Ivan
“Kau yang harus berhenti!” Rama mengarahkan mobilnya ke arah pohon durian.
BRUK.. Tubuh Ivan terbentur pohon, seketika dia terjatuh. Ivan terkapar dan meringis kesakitan, benturan itu telah melukai punggung dan lengannya.
“Kau harus mati!” ujar Rama menekan gas kuat-kuat ke arah Ivan
Ivan yang menyadari pergerakan Rama pun berguling ke samping beberapa kali. Hingga Rama terlambat menginjak rem dan BRUK… Mobil merah itu menabrak pohon dengan kepulan asap dari kap mesinnya. Kucuran bahan bakar tampak keluar dari bagian bawah mobil.
“Sial!” umpat Rama segera melempar keluar ranselnya.
Rama berlari kembali ke arah belakang rumah. Ivan bergegas mengejar Rama dan berhasil menarik ranselnya. Dengan cepat, Rama melepaskan ranselnya. Rama pun membelokkan arah ke sungai dan BYUR… Tubuhnya timbul tenggelam di aliran sungai berwarna kecoklatan. Ivan melempar asal ranselnya dan ikut terjun ke bawah. Air sungai yang keruh mempersulit pencarian Ivan. Kali ini Rama berhasil lolos.
“Arrrrgh Sial!” teriak Ivan frustasi
Tanpa dia sadari, Rama datang dari arah belakang dan memukul tengkuknya. Kepala Ivan terasa berputar dan tubuhnya limbung ke depan.
Rama berusaha naik dengan memanjat batuan kali yang menjadi tanggul pembatas. Rama mengambil ransel hitamnya dan berniat kabur dengan sepeda motor Ivan.
Tarikan pada jempernya membuat Rama mundur beberapa langkah. Ivan sudah ada di belakangnya dengan aura gelap penuh kemarahan.
"Kau! Berandal sialan! Kenapa kau terus saja mengusik hidupku!" teriak Ivan
"Mengusik? Biar ku perjelas. Aku suami Shindy, kau siapa? Apakah salah jika aku mengambil hakku kembali?" ujar Rama
"Ini bukan soal Shindy! Tentang surat itu, kenapa kau mengajakku berlomba untuk membunuh seseorang?" tanya Ivan melemparkan amplop coklat yang telah basah
"Karena kau terlalu lambat."
BUG... Sebuah tendangan mengarah ke kepala Ivan. Tanpa persiapan, Ivan terhuyung beberapa meter. Tendangan itu berpengaruh besar pada keseimbangannya.
"Kau layak mati!"
Sebuah tendangan kembali melayang ke dada Ivan. Ivan tergeletak di samping mobil dengan darah yang keluar dari mulut dan hidungnya. Telinganya berdengung kuat. Perlahan-lahan sinar matanya meredup dan Ivan pun pingsan.
"Selamat tinggal pria lemah!" Rama menyalakan sebatang rokok dan melemparkannya ke samping Ivan. Tiba-tiba kobaran api muncul mengitari tubuh Ivan.
__ADS_1
Rama menaiki sepeda motor Ivan dan meninggalkan lokasi itu.
Shindy yang kelaparan mencoba membuat ikan bakar sendiri. Kepergian Ivan yang cukup lama membuat Shindy bosan menunggu. Shindy memotong ikan nila menjadi beberapa bagian dan memasukkan tusukan sate ke dalam mulut dan ekornya.
"Apa benar seperti ini caranya?" gumam Shindy
Shindy meletakkan ikan itu di atas kompor, tanpa panggangan maupun teflon lalu mengoleskan sedikit minyak goreng di atasnya. Api kompor itu meninggi, hingga Shindy melepaskan tusukan sate yang tadi di pegangnya.
"Aw.. Panas sekali." tangan Shindy melepuh.
Shindy bergegas mengambil capitan makanan yang tergantung di sebelah rak. Shindy mencoba membalik ikan itu.
"Yah gosong." gerutunya.
Shindy kembali mengoleskan minyak. Api di kompor itu semakin tinggi, Shindy mundur beberapa langkah.
"Jika terus dibiarkan maka, bisa terjadi kebakaran."
Shindy mendekat ke arah kompor dan mencoba mematikannya, namun arah putarnya keliru sehingga nyala api konpor itu semakin besar.
"Kok makin besar sih!"
Shindy berlari ke luar rumah berusaha mencari bantuan. Namun tidak ada siapapun di gang itu
"Ivan mana lagi, nggak pulang-pulang." gumam Shindy
Shindy kembali masuk dan berniat mengguyur kompor dengan seember air. Namun belum mencapai kamar mandi. Sebuah ledakan kecil menyebabkan ikan yang tadi dibakarnya berserakan kemana-mana dan mengenai Shindy.
"Aww.. " tangan Shindy kembali terluka
Shindy memberanikan diri mendekat lagi ke arah kompor dan CTEK.. Kompor iru berhasil dimatikan
"Akhirnya!" lega Shindy
Suara sepeda motor yang dikenalnya terdengar berhenti tepat di depan rumah.
"Ivan, dia sudah kembali?" Shindy masuk ke dalam rumah.
Tampak seseorang tengah membalikkan sepeda motor menghadap ke luar.
"Van, maaf. Aku mengacaukan dapurmu." teriak Shindy dari dapur.
Shindy mengambil beberapa lembar tisu untuk memungut serpihan ikan gosong di lantai. Suara langkah kaki mendekat ke arahnya. GREP.. Tangan seseorang menyentuh bahunya. Shindy menoleh, kedua matanya membulat sempurna melihat siapa yang datang.
__ADS_1
"Sudah selesai bermain rumah-rumahannya?"