
"Aku sudah memperingatkanmu, untuk tidak bermain kasar. Dasar Bodoh!" teriak Rama menarik paksa pria gondrong itu
"Shin.. Bangun Shin." teriak Rama.
"Dokter.. Dokter.." panggil Rama pada siapapun yang lewat di depan ruangan.
"Kau yang memberikannya padaku, kenapa kau harus marah?" tanya pria berjenggot itu
"Dia istriku! Dia mengandung anakku!" tukas Rama
"Hah? Kau bilang sendiri kan, dia tak lebih dari mainanmu. Sekarang apa?" bentak pria itu lagi
"Bayinya lebih mahal daripada uang yang ku dapatkan saat transaksi denganmu!" ujar Rama
"Bayi itu hanya 1, belum tentu dia masih hidup. Kau tidak lihat monitor itu? Tandanya gadis itu sudah mati!" teriak pria itu lagi
"Shindy belum mati bodoh!" Sebuah pukulan menghempaskan tubuh pria itu ke lantai.
Rama memukulinya dengan membabi buta.
"Hentikan!" Ivan menarik paksa tubuh Rama.
Ivan menerobos masuk ke dalam ruangan yang terbuka.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Ivan geram.
"Beraninya Kau!" Sebuah pukulan menumbangkan pria jenggot itu. Darah segar mengalir dari mulutnya.
"Bawa dia pergi Ram! Bawa sampahmu ini menjauh dariku!" tukas Ivan
"Beraninya kau memerintahku!" Rama berniat memukul Ivan, namun Ivan lebih dulu menghindar.
"Ku bilang bawa sampahmu pergi!"
Bruk.. Tubuh Rama ambruk setelah terguling beberapa kali karena dorongan keras Ivan.
"Kau, ingin menjadi mayat disini?"teriak Ivan beralih pada pria jenggot itu
Pria itu mencoba berdiri dan berlari menjauh.
"Kau.. Beraninya kau.. Uhuk.. Uhuk.." ujar Rama terbatuk
"Panggil dokter! Sekarang!" teriak Ivan lagi.
Rama pun berdiri, "Akan ku balas perbuatanmu setelah ini!"
Rama berlari menjauh. Ivan kembali ke ruangan Shindy. Dengan panik dilepasnya sumpalan kain di mulut Shindy. Ivan menepuk pelan pipi Shindy.
"Shin bangunlah." kedua mata itu bergerak lemah.
"To.. Long aku Van."
__ADS_1
Kedua mata Ivan membulat. Shindy sadar, tapi alat itu. Ivan melihat ke arah kabel yang tergeletak di lantai. Benar, monitor itu tidak lagi tersambung dengan tangan Shindy.
"Kau.. Ku pikir aku akan kehilanganmu!" Ivan memeluk tubuh Shindy dalam sekali rengkuhan
"Terima kasih sudah menolongku lagi Van."
"Kita harus pergi dari sini. Kau kuat berjalan?" tanya Ivan
Shindy menggeleng. Pengaruh obat bius saat operasi tadi membuat tubuhnya lemas.
"Kemarilah. Aku gendong." Tawar Ivan duduk di ranjang Shindy
Shindy menatap ragu ke arah Ivan
"Kita tidak punya waktu Shin. Ayo pergi dari sini!" ujar Ivan
Shindy merangkul leher Ivan. Tubuhnya digendong di belakang. Dengan tangan kanan yang masih dalam posisi terbalut perban dan gips. Ivan berlari melewati koridor rumah sakit.
"Mas, mau dibawa kemana pasiennya?" teriak salah seorang perawat.
"Minggir! Jangan halangi jalanku!" teriak Ivan
"Tapi pasien butuh perawatan lebih lanjut." teriak yang lainnya
"Menyingkir atau..." Ivan menatap garang pada siapapun yang menghalanginya
Ivan pun berlari kembali, tepat sampai di depan pintu rumah sakit. Dia bertemu dengan Rama.
"Kau!" teriaknya marah
Kaki panjangnya melompat menuruni 3 anak tangga sekaligus. Shindy yang ketakutan hanya memejamkan mata.
"Berhenti!" teriak Rama sambil berusaha menggapai Ivan
"Kau tunggu disini sebentar. Aku akan segera kembali." ujar Ivan mendudukkan Shindy di kursi ruang tunggu IGD
"Ivan,aku takut." ujar Shindy menarik kembali tangan Ivan
"Jika aku tidak kembali dalam 5 menit. Pergilah. Bawa ini!" Ivan meletakkan dompetnya di pangkuan Shindy
"Van.."
"Hati-hati."
Seulas senyum mengembang di bibir Ivan. Kali pertama Shindy melihat senyum itu. Jantungnya berdebar. Senyuman singkat itu membawa kekuatan baru untuk Shindy.
"Aku harus sembunyi." Shindy berlari masuk ke dalam ruang IGD.
"Mbak, pasien disini kan? Tolong kembalilah ke ruangan." pinta seorang perawat
"Tidak Mbak. Saya harus pergi. Tolong.. Pinjami saya ponsel." pinta Shindy
__ADS_1
"Tapi kondisi Mbak belum pulih. Luka pasca operasi harus dirawat secara intensif." ujar perawat itu lagi
"Tolong pesankan saya taksi. Saya harus pergi." Mohon Shindy
BRAK...
Pintu kaca itu didorong oleh Rama.
"Kau! Kemari!" titah Rama
Shindy berlari masuk kembali. Melewati beberapa tirai penyekat antar pasien.
"Berhenti gadis bodoh!" teriak Rama
Suasana menjadi kacau semenjak kehadiran mereka. Aksi kejar mengejar sepanjang koridor terjadi. Ivan yang baru masuk kembali ke dalam rumah sakit ditabrak oleh Shindy. Tubuh Ivan terhempas ke lantai. Shindy terjatuh di atasnya. Kedua bibir mereka bertemu. Tanpa sadar Ivan memeluknya dalam posisi ini. Tatapan mata dari orang di sekitarnya seolah bukan masalah yang besar.
"B*j*ng*n!" Teriak Rama dari lorong rumah sakit
Seketika Shindy tersadar dan Ivan membantunya bangun.
"Pergilah." ujar Ivan
"Tapi Van." sergah Shindy merasa khawatir
"Cepat Pergi!" ujar Ivan
Shindy memaksa kakinya kembali berlari ke halaman rumah sakit. Tubuh kurus itu ditangkap oleh seseorang.
"Mau kemana cantik?" ujar pria berjenggot yang tadi masuk ke ruangannya.
"Tidak lepaskan! Tolong.. Tolong." teriak Shindy berusaha melepaskan diri
"Jangan lepaskan!" Rama keluar dengan kaki sedikit terseret.
"Tolong.." teriakan Shindy terhenti ketika tangan kekar Rama menutupnya
"Lepaskan!" Ucap Ivan yang masih tersungkur di lantai
"Kau kalah telak!" ujar Rama dengan senyum liciknya.
Pintu geser itu tertutup otomatis. Ivan hanya bisa tengkurap tak berdaya. Darah mengalir di sela pisau yang tertancap di pinggangnya.
"Maafkan aku Shin." gumamnya
Shindy diangkat paksa oleh kedua pria itu. Rama membuka kasar pintu mobilnya dan pria itu memasukkan Shindy kembali ke dalam mobil.
"Sumpal mulutnya dengan ini!" teriak Rama melemparkan sebuah sapu tangan.
Mulut Shindy akhirnya bungkam. Tangan dan kakinya terikat oleh pakaian yang berserakan di mobil Rama.
Mobil itu akhirnya meninggalkan rumah sakit. Shindy kembali menangis. Naas sekali nasibnya. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga beserta gentengnya. Shindy benar-benar tidak habis pikir kenapa suaminya bisa seburuk ini.
__ADS_1
"Setelah ini, aku pastikan kau tidak bisa kabur lagi!" ujar Rama dengan tawa khas yang membahana
"Kau milikku malam ini."