DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)

DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)
Dinikahkan !


__ADS_3

Shindy menatap gusar ke arah jam dinding di depannya. Setengah jam lagi, akad nikah akan dimulai. Dirinya sudah berias dan mengenakan kebaya putih yang dibelinya kemarin. Shindy berjalan mondar mandir di dalam kamarnya. Shindy merasa resah, apa pernikahannya adalah pilihan yang tepat? Tidak, dia tidak punya pilihan ."


Tok tok tok..


Shindy bergegas membuka pintu.


"Maaf non saya terlambat membuatkan ini." ujar Bi Ningsih sambil menyodorkan segelas susu


"Terima kasih Bi." ujar Shindy langsung menghabiskannya saat itu juga.


"Bi, Rama dimana?" tanya Shindy


"Dia ada di kamar belakang Non. Tuan belum mengijinkan untuk membuka pintunya." tukas Bi Ningsih


"Dimana papa naruh kuncinya?" tanya Shindy


"Kuncinya dibawa Tuan, Non. Tuan, Nyonya bersama Pak RT dan Pak Parmin ada di depan." ujar Bi Ningsih


Shindy tampak berpikir sejenak. Jendela samping rumah. Hanya itu satu-satunya akses untuk menemui Rama. Shindy melewati Bi Ningsih begitu saja.


"Non, mau kemana?" selorohnya


"Ke samping rumah Bi. Shindy mau nemui Rama." ujar Shindy sambil terus berjalan


"Jangan Non! Kalau Tuan tahu, Tuan bisa marah!" larang Bi Ningsih


Shindy berbalik, "Bibi tunggu sini ya! Panggil aku kalau papa masuk."


Panggilan Bi Ningsih tak lagi dia hiraukan. Shindy ingin memastikan, yang Rama pikirkan tentang pernikahan ini. Dengan begitu dia bisa mengantisipasi apa yang terjadi setelahnya. Shindy berjingkat tanpa alas kaki. Menyusuri jalanan kecil di samping rumah hingga tiba di sebuah jendela berjeruji besi dengan kelambu putih yang menutupnya. Samar terlihat Rama sudah siap dengan tuxedonya, berdiri di depan cermin entah apa yang dia lakukan.


"Ram.. Rama." panggilnya


Rama menoleh, melihat Shindy di jendela, dia menghampirinya.


"Kenapa kau kesini!" tanya Rama dengan nada dingin


CEKLEK..

__ADS_1


Pintu terbuka. Seketika Rama menoleh ke sumber suara.


"Ngapain kamu disitu? Jangan macam-macam ya!" ancam Pak Anton


Rama berbalik ke arah Shindy, wanita itu sudah pergi.


"Cepat keluar. Pak penghulu sudah datang." ujar Pak Anton.


Rama mengikuti Pak Anton, keluar kamar. Sekilas menoleh ke arah dapur dan tampaklah Shindy datang dari sana. Seringaian kembali muncul di bibirnya. Shindy terhenti, "Pasti ada yang Rama rencanakan."


Sebuah meja dengan taplak putih sudah di persiapkan lengkap dengan empat kursi mengelilinginya. Shindy duduk di sebelah kanan Rama, berhadapan langsung dengan Pak Anton. Tanpa menunda, pak penghulu langsung menikahkan mereka dan kata sah terdengar. Tidak ada ucapan syukur terlontar dari bibir Shindy. Dia merasa bahwa ini seperti awal bencana untuknya. Entah apa yang terjadi setelahnya, dia tak tahu.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Bu Wulan seolah merasakan firasat yang sama


"Shindy takut Ma." balas Shindy, Jujur dia memang takut. Apalagi jika Rama serius membawanya pergi. Akan besar kemungkinan terjadi sesuatu padanya.


"Kamu kan pengantin baru. Nggak baik mikir berlebihan, apalagi sekarang sudah ada suamimu. Kamu nggak perlu khawatir, anakmu tumbuh tanpa ayah." terang Bu Wulan


Justru karena aku sudah menikah, aku takut Rama akan menyakitiku dan bayi ini. Batin Shindy


Tampak Rama sedang menikmati moment pernikahan ini, lebih tepatnya mengikuti alur permainan ini, Rama berbincang dengan beberapa kerabat dekat Shindy.


"Kalian kemarilah." panggil Pak Anton


Rama dan Shindy hanya menurut.


"Dimana kalian akan tinggal setelah ini? Di sini atau di apartemenmu?" tanya Pak Anton pada Rama


Rama tersenyum. Tampak aneh bagi Shindy, karena ini tidak seperti dirinya.


"Saya bawa putri anda ke tempat tinggal saya, malam ini juga!" ucapnya penuh penekanan


"Kenapa tidak menginap disini dulu? Setidaknya sampai seminggu, biar kalian beradaptasi dulu." pinta Bu Wulan


"Kami butuh privasi ibu mertua. Ya kalian tahulah, apa yang diinginkan pengantin baru seperti kami." jawaban itu tampak santai namun sarat akan makna


"Bagaimana pendapatmu Shin?" tanya Pak Anton

__ADS_1


"Shindy, masih ingin disini pa." tukasnya


Rama berdeham pelan. "Ya, kalau kamu nggak mau ikut, nggak masalah kok. Kamu bisa tinggal sama orang tuamu. Aku akan pulang sendiri."


"Tidak! Shindy harus ikut denganmu! Dia tanggung jawabmu sekarang." titah Pak Anton


"Tapi pa, Shindy masih ingin disini." ujar Shindy


"Jangan membantah!" hardik Pak Anton


Shindy mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Sekali saja salah ucap, tamparan keras bisa dia dapatkan.


"Berkemaslah, nanti malam, Pak Beno akan mengantar kalian." ujar Pak Anton meninggalkan mereka bertiga


"Ma, tolong bilang pada papa, Shindy masih pengen disini. Setidaknya satu dua hari ke depan." rengeknya pada Bu Wulan


"Mama nggak punya pilihan Shin selain menuruti papamu." ujar Bu Wulan lalu mengikuti Pak Anton


Shindy tertunduk. Hatinya merasa tak tenang. Tangannya meremas ujung kebaya berpayet yang dia kenakan. Takut, dia benar-benar takut.


"Kenapa istriku? Gugup dengan malam pertama kita?" tanya Rama


"Apa rencanamu Ram?" balas Shindy balik bertanya


Rama tersenyum menyeringai. "Kita habiskan malam ini dengan berc*nta sampai pagi."


"Kita nikmati hari pernikahan yang bahagia ini berdua saja. Setelah itu, sambutlah neraka yang aku siapkan untukmu nona Shindy." ujar Rama setengah berbisik


Napas Shindy memburu, dia takut. Belum ada sehari, bahkan mereka belum keluar dari rumah ini. Namun Rama sudah mengancamnya seperti itu.


"Kenapa? Kau takut?" tanya Rama


"Jangan berani macam-macam denganku Ram. Atau aku akan melaporkanmu pada papa!" ancam Shindy


Rama tertawa. "Silahkan saja. Kau sudah dibuang oleh mereka. Dan satu-satunya yang bisa kau andalkan hanyalah.. DIRIMU SENDIRI."


Rama meninggalkan Shindy begitu saja. Shindy hanya bisa menangis. Perasaannya campur aduk. Ingin rasanya memberitahu mamanya, namun itu tidak akan membantu. Keputusan besar ada di tangan Pak Anton. Tapi Pak Anton, dia tidak mau mendengarkan Shindy barang sekali. Shindy menangis.

__ADS_1


"Bodoh! Aku benar-benar bodoh."


__ADS_2