Duda Itu Milikku

Duda Itu Milikku
Episode 14


__ADS_3

Happy Reading gais:)


Please like, Comment, Vote And Favorite ya:)


Follow Instagram @destiichz dan @dedefff17


#


Ben tersentak kaget saat mata nya tanpa sengaja melirik ke arah Ana. Ben merasa jantung nya seakan-akan hampir saja berhenti berdetak. Ben melihat Ana yang sedang membuka pintu dan Hampir saja Akan melompat keluar. Apa dia gila hah?!, Batin Ben memaki Ana. Ben sangat takut.


Ben dengan cepat langsung menarik tangan Ana sangat kuat. Ia juga dengan refleks menekan rem secara langsung. terdengar suara mengeluh dari arah belakang mereka. Ana sedikit meringis karena kaget. Ben benar-benar emosi sekarang. Ia terus memaki Ana bodoh di dalam batin juga pikiran nya.


"Lu gila atau Ga waras hah?! bisa-bisa nya Lu beneran berpikir buat lompat padahal tadi Gw lagi nyetir dengan kecepatan tinggi kayak gitu hah?!" Teriak Ben marah pada Ana yang tersentak kaget.


"Heii kenapa Jadi Lu yang marah?! harus nya itu Gw yang marah disini. Lu dengan se-enak nya mau bawa gw kerumah orang tua Lu tanpa se izin Gw dan Gw ga berhak marah gitu? Lu pikir Lu siapa hah?!" Bentak Ana Pada Ben. Ana sudah benar-benar kehilangan kontrol emosi nya sekarang.


"Apa Lu bodoh?! Lu Paling Nggak bakal koma berbulan-bulan jika tadi Lu lompat. Gw ga perduli kalo Lu pengen mati. tapi satu, jangan melibatkan Gw dan keluarga gw" Balas Ben meneriaki Ana. Ben dan Ana sekarang sudah berbincang cukup kasar. Ana terdiam sejenak karena perkataan Ben.


"Apa-apaan sih kalian ini?" tanya Alda sembari mengusap wajah nya kesal. El sudah terbangun beberapa saat yang lalu dan hanya menatap bingung pada Ana dan Ben yang terus berdebat.


"Lepas! sakit!" teriak Ana kencang memekikan telinga Ben. Ben kaget karena ternyata ia masih memegangi tangan Ana dengan erat.


Begitu Sadar jika Ia masih memegang tangan Ana dengan erat, Ben dengan cepat langsung melepaskan tangan Ana. Ana langsung menarik tangan nya dan mengelus nya pelan. tangan putih Ana sekarang sudah berwarna sedikit kemerahan.


"Kamu mau kemana?" Tanya Ben kaget begitu melihat Ana membuka pintu mobil lagi. secara reflek, Ben langsung memegangi tangan Ana lagi.


"Lepas. Lu Ga berhak buat tanya apapun sama Gw. Sama Seperti Lu yang ga butuh pendapat gw, Maka Gw juga ga butuh pendapat Lu" Jawab Ana masih dengan nada kesal nya. Ia menatap Lekat Ben dengan nata berkaca-kaca. Ben merasa bersalah.

__ADS_1


"Maafkan Aku, Tapi Aku Ga akan melepaskanmu sebelum kamu jawab pertanyaanku" Tegas Ben sambil melonggarkan pegangan nya pada tangan Ana. Ia takut tanpa sengaja melukai Ana lagi.


"Lepas! Itu bukan urusan kamu. bahkan jika aku kenapa-napa atau sampai mati juga itu bukan urusan kamu" Jawab Ana yang sudah melembut. Ana sudah tak semarah sebelumnya. sedangkan Ben merasa jantung nya berdetak kencang tak karuan. Seperti nya aku sudah benar-benar sudah keterlaluan tadi, Pikir Ben yang merasa bersalah.


"Besok pagi kamu kuantar. malam ini kamu tidur dirumah orang tuaku aja. terlalu bahaya kalo kamu pulang sekarang" Ucap Ben pelan pada Ana.


Ben mulai melajukan mobil nya lagi. Ia tetap memegang tangan Ana sembari mengemudi. Di belakang El sudah kembali tertidur dipangkuan Alda. ia seakan mendengar cerita dongeng dari perdebatan antara Ben dan Ana. sedangkan Alda sedari tadi hanya diam mendengarkan mereka.


"Please. Aku cuma mau pulang. bisakah kamu memikirkan posisiku? apa kata orang tuamu jika aku ikut denganmu? kumohon jangan membuatku susah" Ana memohon dengan suara nya yang selembut sutra. Ben tertegun sejenak, Ia Bingung.


"Maafkan aku" ucap Ben tulus. Sungguh, Aku tak sadar berkata begitu kasar tadi, Batin Ben.


Ben menyesal karena telah Membentak Ana. Ia juga menyesal karena tanpa sengaja telah melukai tangan Ana dan berkata bahwa Ia tak peduli jika Ana mati. sekarang fakta nya, Ben benar-benar merasa sangat takut jika Ana benar-benar mati.


"Kumohon turunkan aku didepan" Mohon Ana dengan suara pelan. Bibir Ana bergetar sedih.


"Tolong maafkan aku. kumohon hanya malam ini saja" ucap Ben menolak permintaan Ana. Ben menatap Ana yang menghela nafas dengan tatapan memohon. Ia benar-benar merasa bersalah.


"Yaudah" jawab Ana setelah Menghela nafas berat. Ben secara langsung tersenyum lebar.


"Maafin Aku ya karena tadi bersikap seperti itu, dan terima kasih" Ucap Ben tenang.


"Ga perlu Minta maaf ataupun berterima kasih" jawab Ana tanpa melihat ke arah Ben.


"Karena mulai besok, aku ga akan pernah mau ketemu atau bahkan ngeliat kamu lagi" lanjut Ana setelah terdiam beberapa saat. Ben tertegun. Jantung nya berdetak kencang. Ia merasa begitu terkejut mendengar ucapan Ana. Ben merasa takut.


"Kok gitu? kenapa? sumpah, aku bener-bener ga maksud kayak gitu. maafin aku" Ucap Ben panik.

__ADS_1


Ana diam. Ia lebih memilih untuk mengalihkan pandangan nya keluar jendela. Ben benar-benar merasa takut sekarang. Ana tak menghiraukan ucapan Ben sama sekali. Ben semakin mengencang kan pegangan tangan nya pada Ana. seperti nya Ana benar-benar marah padaku, batin Ben sedih.


"Maafkan aku. kumohon!" ucap Ben sambil terus melirik kearah Ana yang mengabaikan nya.


Ben dengan cepat menginjak rem yang membuat semua orang terpental ke depan dan merasa terkejut. Tinnn.Tinnnn. Terdengar suara klakson dari mobil belakang mereka. Ben benar-benar sudah tidak focus lagi menyetir. Ia hanya memikirkan rasa takut nya untuk kehilangan lagi. Ia memberhentikan mobil nya dipinggir jalanan.


"Ngapain berenti?!" Bentak Ana kesal pada Ben yang beralih menatap mata nya dalam. Ana mengalihkan pandangan nya dari Ben karena tak ingin hati nya merasakan kelemahan karena Ben.


"aku minta maaf. kumohon jangan membenciku" Ben terus memohon maaf pada Ana.


"Berisik banget sih. Udahlah buruan jalan aja. kalo ga jalan, mendingan aku turun dan pulang naik taksi. sekarang juga belun terlalu malem banget buat aku pulang sendirian naik taksi" Ucap Ana.


Ben yang mendengar ucapan Ana seperti yu mulai menyalakan dan melajukan mobil nya lagi. dibelakang mereka, Alda hanya pura-pura tidak mendengarkan mereka. Ben terus menggenggam tangan Ana yang sedari tadi melihat kearah jalan disamping nya. Setelah meminta maaf beberapa kali dan dijawab dengan kediaman Ana. Ben pun kembali melajukan mobil sambil terus diam.


Mereka sudah tak jauh dari rumah orangtua Ben dan Alda. benar saja, beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di halaman rumah yang begitu besar. Rumah ini bahkan besar layak nya istana dan Sangat luas. Mereka turun dari mobil bersamaan. Seorang wanita paruh baya duduk seorang diri di depan pintu langsung berdiri begitu melihat mereka. Ben melampaikan tangan pada wanita itu. Ana merasa sangat gugup. Ben menggendong El sedangkan Ana digandengnya.


"Apa kabar maa?" tanya Ben begitu berada cukup dekat dengan wanita paruh baya itu.


"Baik sayang" Wanita yang di panggil Mama oleh Ben pun menciumi Ben, Alda dan El. Ana tersenyum gugup saat Wanita itu menatap nya.


"Papa mana?" tanya Ben lagi.


"Didalam. ayo masuk dulu" jawab Wanita itu sambil melirik ke arah Ben. Ben memasuki rumah sambil menarik Ana.


#


KALO ADA YANG SALAH ATAU GA SESUAI KOMEN YA BIAR BISA DI PERBAIKIN SECEPAT NYA:)

__ADS_1


MAKASIH:)


Aku mencintai kalian semua:*


__ADS_2