
aku menarik nafas pelan dan menghembuskannya berat. Aku berjalan mendekati ben yang masih menggendong el dan membawa el kepelukanku. aku memberikan el pada mama.
***
"Mama sama el pulang duluan yaa. Kak agus sama kak wanda juga pulang duluan aja" ucapku pada mereka semua.
"Tapi--" mendengar Ucapan penolakan dari kak agus, ben langsung menggeram kesal dan menarikku kembali kedalam pelukannya.
" Ki.Ta. Ha.Rus. Ber.Bi.Ca.Ra" tekan ben tepat ditelingaku. aku merinding seketika.
"Setelah ini, aku akan langsung pulang kak. lagian, itu zahra juga udah keliatan ngantuk kak" ucapku pada kak agus mencoba meyakinkannya.
"Biarkan mereka bicara dulu" ujar kak wanda mencoba membujuk kak agus juga. kak agus menghela nafas berat dan mengangguk.
"Kamu selesaikan masalahmu dengan cara baik-baik ya dek" lanjut kak wanda padaku. aku tersenyum hangat padanya. Aku bersyukur karena memiliki saudara ipar sepertinya.
"Baiklah. Kalo ada apa-apa kamu langsung telpon kakak ya" ucap kak agus yang langsung kubalas dengan anggukan kepala.
"mama sama papa mau kemana? el mau ikutt" ucap el sembari mendekat kearahku.
"Mama sama papa ada urusan sebentar. nanti mama telpon el aja yaa" balasku pada el yang sedang memeluk kakiku.
Ben masih terus membuatku berada didekatnya dengan meletakkan tangannya dipinggangku dan menarikku semakin mendekat padanya. aku berusaha melepaskan diri, tapi itu begitu sulit. pelukannya sangat erat.
"Tapi el mau ikut" rengek el yang mulai menangis sembari memeluki kakiku. aku ingin menggendong el tetapi ben terus memegangiku.
Aku menatap ben untuk meminta persetujuannya. Setelah terdengar hembusan nafas panjang, akhirnya ben menganggukkan kepalanya tanda setuju. El langsung mendongakkan kepalanya menatap ben dan Dalam sekejap ia sudah berada didalam gendongan ben.
"Kami pergi" ucap ben.
Ia langsung merangkulku berbalik dengan el yang tetap berada digendongannya. aku tersenyum kecil. Akankah jika aku benar-benar menikah dengannya, kami akan menjadi keluarga bahagia? Tapi Hatiku masih ragu.
aku mengingat hal yang terjadi hari ini. Bagaimana bisa ben tetap diam saat aku dipermalukan dan hampir diusir seperti itu? apakah dia senang melihatku seperti itu? aku langsung mengenyahkan pemikiranku itu.
Ben membawa el masuk dan mendudukkan nya dikursi belakang. Lalu, ia membuka pintu depan dan mau tak mau aku duduk disamping kemudi. aku menghembuskan nafas berat. Ben sudah melajukan mobilnya meninggalkan bandara.
"Apakah ada yang mau anda bicarakan?" tanyaku selembut mungkin. aku berbicara formal sembari menatap ben yang sedari tadi hanya diam terfocus menatap jalanan didepannya.
"Jangan gituu--please" jawab ben dengan wajah memelasnya sembari menggapai tanganku.
"Uhh, okee ada yang mau lu omongin ga?" tanyaku. tanganku sudah berada digenggamannya dan diletakkan diatas paha.
"Aku benar-benar minta maaf" ben menghela nafas berat seolah menenangkan dirinya sendiri. setelah itu, ia berucap sangat pelan namun masih dapat kudengar dengan jelas.
"untuk?" tanyaku pura-pura tak mengerti arah pembicaraannya.
"Untuk tadi siang, aku minta maaf karena aku hanya diam saja. sumpah, dari tadi aku pengen jawab, tapi, a--akuu cu-cumaa bingung harus jawab apa pas lihat kamu semarah itu" jelasnya.
aku diam sebentar mencoba menenangkan hati dan pikiranku. setelah kurasa kutenang, kuhembuskan nafas berat. kemudian, aku menatap ben tepat dimanik matanya---
__ADS_1
"Gak usah dibahas okey. Lagian, Gw Serius kok Pas bilang bakal batalin acara pernikahan kita" Ucapku pelan.
"Ga!" teriak ben cepat. aku terkejut menatapnya. tanganku masih tetap didalam genggamannya.
Wajah ben berubah drastis. apa jangan-jangan dalam diri ben ada dua orang ya? pikirku. Ben terlihat sangat marah. aku mencoba menarik tanganku, tapi yang kudapat ben semakin erat memeganginya.
aku memasrahkan tanganku yang dipeganginya. aku melirik sebentar pada el yang sedari tadi hanya diam. dia tak tertidur. aku yakin dia bingung kenapa papanya teriak.
"Ke apartemen aku aja" ucapku mencoba mengalah.
"kita bahas disana" lanjutku lagi.
Dia tak mengangguk ataupun menggeleng. tak menjawab sama sekali. dia hanya melajukan mobil dengan focus menatap jalanan. Menurut jalan, ini kearah apartemenku.
"El" panggilku pada el.
"iya ma?" jawabnya pelan.
"Kamu ga tidur?" tanyaku lagi.
"ga bisa ma" jawab el pelan. apa el takut ya sama papa nya? batinku.
tak tau, sudah berapa kali aku menghembuskan nafas berat untuk keadaan ini. setiap aku mencoba menarik tanganku, pegangan ben disana semakin kencang yang akhirnya membuatku malah kesakitan dibuatnya.
"Ben lepas bentar" Ucapku lantang walaupun aku tau masih terdapat kemarahan diwajahnya.
"Ga!" balasnya seakan membentakku.
"Dibilang nggak ya nggak. ngerti ga sih?" teriaknya kesal. aku terdiam sejenak.
"Ini yang buat gw makin yakin buat batalin pernikahan kita" ucapku pelan yang masih dapat didengarnya dengan baik.
Diam terdiam dan mulai melonggarkan pegangan tangannya padaku. aku menghela nafas berat lagi. Kemudian, kutarik tanganku dengan cepat hingga membuat pegangannya lepas.
"Sini el" ajakku pada el untuk pindah kepangkuanku.
El terlihat ragu untuk sesaat. aku sadar, dimatanya terdapat ketakutan yang terpendam. aku tersenyum padanya dan kembali mengajaknya hingga sampailah ia dipangkuanku.
"Nih" ucapku pada ben setelah el nyaman dipangkuanku sembari menyodorkan tanganku kembali. Ben melirik tanganku sebentar dan kembali menggenggamnya.
"El tidur aja yaa. nanti kalo udah sampe mama gendong" ucapku pada el sembari mengelus tangannya. pikirin yaa, kalo kalian jadi aku betapa menjengkelkannya sikap ben itu.
"El ga bisa tidur ma" jawab el.
"Nih. main game di handphone mama aja" ucapku, setelah aku mengeluarkan handphoneku yang ada didalam tas dengan susah payah lalu menyodorkannya pada el.
"Oke maa" jawab el tersenyum sambil mengambil handphoneku dan mulai memainkannya. Hening. Suasananya terasa sunyi. tak ada pembicaraan lagi diantara kami.
Beberapa menit sebelum sampai, el sudah tertidur dipangkuanku. aku segera membenarkan posisi tidurnya dan meletakkan handphoneku didekat tas.
__ADS_1
betapa susahnya hidupku jika harus dipegangi ben seperti ini secara terus menerus. aku menciumi seluruh permukaan wajah el yang sangat menggemaskan itu.
"Bilangnya ga ngantuk, tapi udah tidur nyenyak aja" ucapku pelan dengan senyum hangat dibibirku.
El sudah tertidur dengan nyaman diposisinya. Sedangkan, papanya ben tetap pada posisi awal yaitu memegangi tanganku dan focus dengan jalanan didepannya. oke fix. gw muak banget.
"bisa ga sih tangannya dilepas?" tanyaku dingin pada ben.
"ga!" jawab ben tak.kalah dinginnya.
"Ck. tangan gw sakit dipegangin trus" decakku kesal.
Ben melepaskan pegangannya pada tanganku. belum sempat aku menarik tanganku, ia sudah memeganginya lagi dan mengusap pelan pergelangan tanganku. aku menghela nafas dan mendengus kesal.
Karena bandara yang cukup jauh dari apartemenku, jadi Perjalanan kami cukup lama. Aku pun merasa seluruh badanku pegal karena keadaan ini. Aku membuang pandanganku keluar jendela. Sebentar lagi sampai, pikirku saat melihat kedepan.
"Ughh akhirnyaaa" keluhku begitu sampai diloby apartemen.
"Lepas!" sentakku keras pada ben. gilaa, tangan gw pegel banget. lagian, gimana bisa sih ben daritadi nyetir tapi masih bisa terus pegang tangan gw, batinku kesal. pake banget.
Ben melepas tanganku dan mulai menuruni mobil. dia membuka pintu disampingku dan membawa el yan tertidur kedalam gendongannya. Aku merenggangkab tubuhku sejenak lalu mengambil tasku dan keluar dari mobil.
Belum Sampai semenit aku dapat bernafas lega, ben sudah lebih dulu menarikku untuk mendekat padanya. tangan kanannya memegang erat pinggangku sedangkan tangan kirinya menggendong el yang tertidur.
aku mengdengus kesal tetapi tetap mengikuti ben berjalan menuju apartemenku. Sampai didalam, ben masih belum melepaskan rangkulannya. aku meyentak tangannya kasar.
"El nya tidurin dikamar" ucapku sembari berjalan berlalu memasuki kamar.
"Kamu mau kemana?" tanya ben memegangi tanganku begitu selesai meletakkan el dikasur.
"Ck. Mau ke WC. kenapa? mau ikut?" bentakku kesal.
"Mau kalo boleh" jawabnya sembari terkekeh geli dan menatapku dengan seringai mesumnya.
aku langsung menghentakkan tangannya dan berjalan cepat memasuki kamar mandi. BRAK. aku menutup pintu dengan kencang. oh ya tuhann---bagaimana bisa aku bertemu dengan pria seprotektif dia? batinku kesal.
Aku cukup lama dikamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah kurasa selesai dengan kegiatanku, aku mulai mencoba menstabilkan detak jantungku yang tak karuan karena emosi. Ceklek. Deg. Deg.
"Astagaaa" pekikku terkejut begitu pintu kubuka.
#
Happy reading gais:)
"Revisi dilakukan setelah karya tamat ya"
Bantu Like, Comment, Favorite And Vote okey!
Trims For All Ya:v
__ADS_1
aku mencintai kalian semua:*