
BEN POV
"beri saya alasan kenapa saya harus mau nikah sama kamu?" tanyanya begitu formal sambil menatap lekat ke bola mataku. dia kenapa sih? batinku bingung.
" Ya jelas lah harus mau. karena selain tampan, aku juga sangat kaya. jadi kamu ga perlu kerja lagi , cukup menghambur-hamburkan uangku saja" balasku lantang.
"Aku menolak" jawabnya cepat. what? aku ditolak? bahkan sebelum melamarnya?
"kenapa kamu ga mau? emang aku kurang apa hah?!" teriakku membentaknya. aku shock. aku kaget. setelah almarhumah istriku meninggal, aku tidak pernah sekalipun melamar seorsng wanita, berniat saja tidak.
" kamu sangat sempurna. hanya saja, aku belum bisa" jawabnya seraya menundukkan kepala. aku bingung. kenapa? apa dia sudah punya pasangan? jika memang, kenapa kemarin yansyah bilang nggak ada?
" Kamu ga mau jadi mama nya el?" tanya mamaku sambil menatap kearahnya. aku masih sibuk dengan pikiran yang ada dikepalaku saat ini. Aku tak tau harus apa.
"Maa, el nakal ya? el janji ga akan nakal lagii tapi mama jangan ninggalin el" Ucap el secara tiba-tiba dan cepat.
aku bahkan kaget dengan ucapannya. bagaimana dia bisa berpikir seperti itu? apakah ana memang sudah memiliki calon? apakah karena ini ana akan meninggalkan aku dan el? batinku terus bertanya.
"Bukan gitu sayang. mama akan selalu jadi mama el. cuma kalo nikah sama papa, mama belum bisa jawab sayang" jelasnya sambil mengelus kepala el lembut. dia mau jadi mama el? kenapa ga mau jadi istriku? apa dia cuma kasian sama el? batinku.
" Apa yang bikin kamu ga mau nikah sama aku hah?!" teriakku. aku bingung. aku ga bisa mengontrol emosiku.
" Tolong pikir dari sudut pandanganku. kita baru kenal kurang lebih sebulan ini, lalu tiba-tiba bilang menikah? bahkan kita ga pernah membicarakan hal yang mengarah kesitu" Jawabnya lantang. apa yang dikatakan nya benar. apa dia ragu padaku? atau apa?
" Dulu tante nikah sama om, juga baru kenal seminggu" jawab mamaku. mama mencoba meyakinkan ana lagi.
" itu kan dasar papa ganjen jadi ga sabaran" celetuk adikku menatap orang tua kami.
"Eh kok jadi papa sih" jawaban tidak terima terdengar dari papa.
"Maaf, saya permisi. masih ada yang harus saya kerjakan" ucap ana sembari mencium el dan bangkit dari kursinya. begitu mendengar suaranya, aku langsung tersadar dari ke terdiamanku. aku sedang kalut sekarang.
"Aku antar" Jawabku cepat yang juga ikut bangkit berdiri dari dudukku.
"Ga usah. aku udah pesan taksi" jawab ana. aku tau dia berbohong. pikir saja ya, kapan dia pesan? pegang handphone aja nggak.
"Aku antar. atau kamu ga usah pulang?" aku mengancamnya.
"El ikut ya?" tanya el sembari memegang tangannya. aku melirik sekilas kearah mereka.
"Ga usah ya sayang. tante kan kangen. kita main berdua dulu ya, okey?" ucap alda, adikku sambil mendekat kearah el. sepertinya dia mengerti jika aku butuh waktu berdua dengan ana.
" Yaudah deh. mama nanti el telpon ya" ucap el pada ana sembari mencium pipiku.
ana juga ikut menciumi pipi el dan mengusap kepalanya lembut. lalu dia pamit kepada kedua orang tuaku. aku berjalan mendahului ana menuju kedepan, kearah mobilku.
"Ben minggu depan jangan lupaa yaa" teriak mama saat kami berjalan kearah pintu keluar. aku mengernyitkan dahiku bingung.
" emang ada apa ma?" tanyaku sambil membalikkan badanmu kembali menatap mama.
"Siapin lamaran buat ana. jangan lupa juga ya ana nanti kasih tau orang tuanya" teriak mama lagi. doain aja maa, mungkin aja nanti anak mu ini belum sempet dateng ngelamar eh udah ditolak , batinku.
Aku kembali berjalan menuju keluar. kudengar suara hembusan nafas berat dari ana. aku berjalan memasuki mobil diikuti ana yang duduk disampingku. Aku melajukan mobil membawanya meninggalkan kediaman kedua orang tuaku ini.
Kurang lebih sudah beberapa menit waktu berlalu, dan tidak ada inisiatif dari ana ingin memulai percakapan. apakah aku akan benar-benar ditolak sebelum lamaran? batinku bertanya. aku melirik kearah ana.
"boleh aku tau rumah orang tuamu dimana?" tanyaku padanya sekalian memecahkan keheningan yang terjadi diantara kami.
__ADS_1
"palembang. kenapa?" tanyanya balik.
"Boleh nanti kirimkan alamat lengkapnya?" tanyaku lagi.
"Buat apaan sih?" tanyanya kesal. aku tuh pengen diem-diem aja rencana nya kesitu ngelamar, tapi kayaknya kalo kayak gitu ga bakal dikasih tau alamat orang tuanya.
"Minggu depan, aku mau ngelamar kamu kerumah orang tuamu" jawabku sambil menatapnya dengan senyuman hangat.
"Kamu serius mau ngelamar? tadi bukannya cuma ngerjain doang?" tanyanya cepat.
"Aku ga pernah main-main. aku akan melamarmu minggu nanti" jawabku lantang
"Hei, kita baru kenal sebentar kali. lagian , aku gamau ya kalo baru nikah, kita udah cerai. lagian kita ga kenal deket tau. belum tentu juga kita cocok nanti. pikirin baik-baik deh. intinya aku cuma mau nikah , seumur hidup itu sekali" jelasnya panjang lebar.
"Aku tau. aku yakin dengan pilihanku" ucapku
"Apakah ga ada wanita yang kamu cintai sekarang?" tanyanya pelan sambil menatap lekat kearahku.
cinta? bahkan dengan almarhum istriku saja aku tak pernah mengatakan mencintainya atau tidak. cinta itu terlalu menyulitkan untuk dirasakan. cinta bisa membuat seseorang jadi bodoh. aku seorang pemimpin, dan aku ga mau menghancurkan hidupku dan banyak orang hanya karena cinta. mungkin, batinku.
"Akuu--ga tau" jawabku setelah keheningan sebentar. aku bingung. apakah aku mencintai ana? atau hanya karena bahagia melihat el?
aku focus menyetir. focus menatap jalanan didepanku. Suasana kami Canggung. Dia diam. dia melamun. apakah aku salah? apakah dia ingin aku mencintainya? jika memang begitu, apa yang harus kukatakan dan kulakukan? batinku bertanya.
"Kalo nanti minggu depan aku datang melamarmu, apakah kamu akan menerimanya? bisakah kamu memberikanku sedikit bocoran sekarang?" tanyaku padanya.
"Hmm--gaa" jawabnya gugup. apakah aku akan benar-benar ditolak sekarang? kenapa hatiku gelisah? lagian perempuan didunia ini bukan ana saja kan? haha. aku mencoba menenangkan diriku sendiri.
"akuu--ga tau--ben" lanjutnya lagi setelah beberapa saat. aku terdiam. apakah dia menunjukkan bahwa aku memiliki kesempatan? apakah aku akan diterimanya?
Mendengar jawabannya, aku bingung. aku menepikan mobilku sebentar. menarik nafas panjangm setelah berpikir sebentar. lalu kembali menatap ana sambil menarik tangan kanannya untuk kugenggam.
aku menatap lekat matanya. Dia menunduk sejenak, lalu mulai menatapku lekat juga. kami saling pandang dimobil dengan aku yang terus menggenggam tangannya erat.
"Kau pasti lebih mengerti kehidupan pernikahan, ben. aku hanya ga ingin, karena kita menikah terlalu cepat, dikemudian hari saat kita merasa tidak cocok, lalu kita memutuskan untuk bercerai. aku hanya ingin menikah sekali seumur hidupku. aku pun tak ingin ada perceraian, karena aku sangat membenci hal itu" ucapnya.
"Yaa, aku tau. aku janjii , akuu--" ucapanku terpotong begitu tangannya menempel dibibirku.
"Tolong jangan dipotong dulu. biarkan aku berbicara sampai selesai" aku mengangguk.
"Kau sadar kan, jika kita baru kenal kurang dari sebulan?" tanya ana. aku mengangguk.
"Kau, seseorang yang baru mengenalku. tiba-tiba melamarku.aku benar-benar sangat ragu.bahkan, seseorang yang mengenalku berpuluh-puluh tahun datang melamarku, aku tidak menerimanya, karena aku masih ragu" ucapnya.
aku berpikir. dia ragu? sudah pastilah. kita kan baru banget kenal. lagian selain nama dan alamat apartemennya, apalagi yang kutau tentangnya? jadi pantas saja dia ragu akan diriku, batinku. aduh Begee banget sih.
"Apa yang harus kulakukan agar aku tidak ragu denganmu?" tanyanya menatapku.
"kau hanya cukup percaya pada janjiku. aku berjanji, akan selalu membahagiakanmu. aku akan setia sampai hari tua bersamamu. aku akan selalu ada saat kau membutuhkanku. aku berjanji , akan mencintaimu selamanya" Balasku lantang. Aku berjanji.
dia menatapku lama. aku tak tau apa yang ada dipikirannya. dia hanya diam. menatap lekat kearah mataku. dia sedang berpikir keras, kelihatan dari kerutan didahinya. Jantungku rasanya berpacu cepat. bagaimana ini? jantungkuuuu, huhuhu.
"Apakah aku boleh minta 1 hal?" tanyanya.
"Apapun itu" jawabku cepat.
"Jangan temui aku sampai hari lamaran tiba" ucapnya. aku kaget. kenapa ga boleh ketemu?
__ADS_1
"Kenapa?" tanyaku panik.
"aku hanya ingin, kita memastikan pilihan masing-masing. seminggu ini, aku kasih kamu waktu buat berpikir. aku hanya ga mau kalo ada penyesalan nantinya. aku juga perlu berpikir. gimana?" jelasnya
"Ga boleh 2 hari aja?" tanyaku pelan.
"Kalo kamu bisa lakuin permintaanku tadi, aku akan mengirimkan alamat orang tuaku Sabtu Pagi. Jika tidak, Maaf, sebaiknya sampai sini saja. aku hanya ingin kita memastikan rasa di hati masing-masing. aku ga ingin, nanti kamu menyesal" jelasnya lagi.
"Oke, aku bisa. lagian, Aku udah yakin sama keputusanku" jawabku tegas. Dia terlihat tersenyum menatapku
"Yaudah, sekarang antar aku pulang dulu" ucapnya tersenyum manis. ughh bisa diabetes nih nanti kalo udah nikah, wkwk.
"Okee sayang" jawabku kembali melajukan mobil dan tetap menggenggam tangannya.
Selama perjalanan, kami saling bercerita sedikit tentang kehidupan kami. Sekalian perkenalan lebih dekat. Tidak terasa waktu, akhirnya kami sampai di loby apartemennya.
"Kamu mau masuk apa langsung pulang?" tanyanya sembari bersiap dengan tasnya.
"Masuk dulu aja deh" jawabku sambil melepaskan tangannya dan juga seat-belt.
"Ehh, udah pulang aja sanaa. ga usah mampir" balasnya cepat.
"Lah, gimana sih kamu yang? tadi nawarin mau mampir ga" ucapku kesal.
"Kan basa-basi aja kali, hehe. yaudah sana pulang aja ya. Ohya, jangan panggil aku yang-yang ga jelas, emang kamu kira aku ini eyang-eyang apa?" ujarnya padaku. aku yang awalnya kesal, akhirna terkekeh geli mendengar ucapannya.
"Iya deh. kamu langsung istirahat ya" ucapku.
"iyaa, dahh" balasnya sembari membuka pintu mobil.
"Eh nanti dulu, kok langsung pergi sih? ga mau pamit dulu gitu? salim tangan kek, cium pipi gitu, atau--bibir juga boleh" ucapku sembari terkekeh geli.
"Ga ada kayak gitu. udah ah, bay" jawabnya keluar dari mobil
dia melambai sebentar kearahku, lalu segera berbalik menuju lift. setelah lift tertutup dan dia hilang dari pandanganku. aku pun mulai melajukan mobil untuk kembali kerumahku.
selama perjalanan, aku mendengarkan musik agar tidak mengantuk. aku juga menelpon asistenku untuk mengatur Antar-antaran untuk lamaranku nanti. aku juga memesan jas couple untukku dan el.
Hari berlalu semakin cepat. setiap hari , Aku meminta Asistenku untuk membeli bunga dan menaruhnya dimejaku setiap pagi. setelah selesai menulis kata-kata cinta pada ana, aku meminta asistenku mengirimnya keapartemen ana.
Selama 5 hari ini, aku benar-benar tidak menemui ana. aku menyibukkan diriku dengan kegiatan dikantor. El Juga setiap malam tetap telponan dengan ana, aku tau dari bibik dirumah.
malam ini, sudah 5 hari aku tidak bertemu dengan ana. saat aku menuju pulang kerumah, jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. aku melajukan mobil menuju kerumahku.
sampai dirumah sudah pukul 1 kurang. aku bergegas pergi kekamar mandi dan membersihkan seluruh tubuhku. rasanya benar-benar segar setelah mandi, batinku.
selesai mandi , aku memakai boxer ku dan kaos putih tipis, lalu menarik selimut menutupi tubuhku. Sebelum tiduran dikasur, aku mengambil handphone yang ada diatas meja samping kasur.
Kulihat ada 2 pesan belum dibaca. aku mencari posisi yang nyaman untuk tidur. aku melihat kearah jam, sudah pukul 2 kurang. Aku membuka pesan yang belum terbaca.
Ana. Ya, pesan itu dari ana. Isinya adalah alamat orang tua ana dan juga pertanyaan ana padaku. ughh, akhirnya sebentar lagi aku bisa nikah sama ana dan menjalani kehidupan yang bahagia, batinku.
#
tlng bantu like, comment,favorite and vote ya trims:)
aku lelah. aku gatau harus apa:v
__ADS_1
Keep strong:"
aku mencintai kalian semua:*