
BEN POV
"Kamu udah siap?" tanya papa begitu aku sampai diruang keluarga.
"Iyaa udah" jawabku.
sekarang aku sudah siap memakai pakaian yang kubeli kemarin. hari ini, kami memakai pakaian yang sama untuk acara lamaraku nanti. aku benar-benar nervous dan gugup sekarang.
"Pah" panggilku.
Aku dan papa sedang menunggu mama dan juga alda yang sedang bersiap. mereka sangat lama berdandan. kenapa ya cewe kalo dandan lama banget? batinku bingung.
"Kenapa?" tanya papa sambil memainkan handphonenya.
"Aku gugup nih. gimana kalo nanti keluarga ana ga nerima aku karena aku seorang duda anak satu?" tanyaku pada papa.
"Udah doa aja yang penting. Kita liat nanti disana gimana. kalo diterima ya alhamdulillah, kalo nggak berarti kamu harus sabar aja ya" jelas papa.
"Gampang banget sih papa ngomong" seru ku
"Ya iyalah. emang harus gimana lagi?" tanya papa tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya padaku. dia focus memainkan handphonenya.
"Bismillah" ucapku.
aku terus menggosok tanganku seperti seseorang yang sedang menghangatkan tangan. aku menundukkan kepalaku untuk berdoa sebentar. yaallah, lancarkanlah lamaranku hari ini, doaku.
"Papa" teriak el sembari menghampiriku. aku mengalihkan pandanganku padanya.
"Nenek sama tante alda mana sayang?" tanyaku lembut saat el didepanku.
"Masih diatas pa" jawabnya.
Dia merentangkan tangannya meminta untuk kugendong. aku langsung mengangkatnya dan memeluknya dalam gendonganku. aku menciumi pipi dan juga puncak kepalanya. tenang.
"Ayoo kita pergi" ucap mama yang baru selesai bersiap.
"Yaudah ayo" balas papa.
"Eh bentar, aku ngambil handphone dulu" aku baru sadar kalau handphoneku tidak ada disaku celanaku.
aku bergegas berlarian menaiku tangga menuju kamarku. aku mencari dimeja tapi tidak ada. aku mencari dikasur dan mendapatkannya dibawah bantal. aku berlarian turun kebawah.
"Lama banget sih" celetuk alda.
"Nggak ngaca? yang dari tadi lama siapa?" tanyaku pada adikku.
"Udahlah. ayoo buruan" ajak mama sembari menggandeng el berjalan keluar rumah.
Kami masuk kedalam mobil. papa yang mengemudikan mobil sedangkan aku duduk disebelahnya. mama, alda dan el duduk dikursi tengah. mereka juga memangku hantar-hantaran yang harus dibawa. aku juga memangku salah satunya.
"Kak, kamu udah ngasih tau ana kan kalo kita udah dijalan?" tanya mama
"Belum ma" jawabku.
"Dasar begoo, gimana sih? kabarin lah. mau lamaran apa nggak ini?" seru alda kaget.
aku tidak menanggapi ucapan adikku yang satu itu. aku membuka handphoneku dan mulai menelpon ana. tidak ada jawaban. akhirnya, aku mengirimkan Pesan yang mengatakan bahwa aku sedang dalam perjalanan sekarang untuk kesana.
Tidak sampai satu jam, kami sudah sampai dikediaman ana. Kami berjalan beriringan. Papa memencet bel rumah tersebut. beberapa saat kemudian pintu terbuka dan menampilkan wajah yansyah dan seorang pria lagi. agus mungkin , pikirku.
"Eh udah datengg" celetuk yansyah sambil tersenyum menatapku.
"Ayoo masuk" ucap agus.
"Mamahh, kak wandaa, anaa!" teriak yansyah memanggil mereka. Plak. Agus tiba-tiba saja memukul keras tangan yansyah.
"Ini rumah bukan hutan" sinis agus, eh kakak. kayaknya aku harus mulai belajar manggil kakak deh, batinku.
__ADS_1
"Sana samperin" perintah kak agus.
"Marii semuanya silakan duduk" ucap kak agus meminta kami duduk. kami pun duduk ditempat masing-masing.
Beberapa saat kemudian, Orang tua ana datang bersama dengan seorang wanita muda juga. kayaknya itu kakak ipar nya ana deh, pikirku. aku menyalimi mereka semua.
"Alan? Ratna ?" ucap seseorang. kayaknya ayahnya ana, soalnya udah tua keliatannya.
"Lah kok ada kamu disini? kamu apa kabar?" tanya papa langsung mendekati pria paruh baya itu dan memeluknya sebentar.
"Alhamdulillah baik. kalian apa kabar?" tanya Pria itu.
"Aku baik. Jangan bilang kalo ana itu anak kamu?" tanya papaku penasaran.
"Lah, jangan bilang kalo yang bakal ngelamar ana itu anak kamu?" tanya pria itu.
sedetik kemudian, mereka langsung tertawa bersama. Mama hanya terkekeh geli melihat suaminya dan teman lamanya itu bertemu. Mereka saling Memeluk dan Memukul ringan satu sama lain.
"Fatimah apa kabar?" tanya papa.
"Baik mas. Mbak Ratna sama mas alan apa kabar?" ucap seorang wanita paruh bayah. kayaknya ini mamanya ana, pikirku.
"Aku sih baik kok dek" jawab mama seraya bangkit dan memeluk tante ratna.
"Aduhh bisa ya kebetulan kayak gini" ujar papa nya ana.
"Anak kamu sama fatimah ada berapa, li?" tanya mamaku.
"Ada 3. Ini sih agus, sama sih yansyah. masa kamu ga inget sih ,lan?" seru om ali, papa ana pada papaku.
"Udah gede ya. ganteng-ganteng lagi" jawab mama.
"Haha iya mbak, mirip mas ali semua" ucap tante fatimah.
"Aduh sifat playboy nya juga mirip ya dek?" tanya mama sembari tertawa geli.
"Mama kenal sama orang tuanya ana?" tanyaku begitu tawa mereka mereda.
"Kenal lah. ini loh, calon mertua kamu ini temen kuliah papa sama mama" jelas mama.
"Ohh" jawaban serempak dariku, alda, dan kak agus serta yansyah.
"Mana nih calon mantu kami?" tanya papa
"Ada kok, haha. lagi siap-siap mungkin, wanda coba kamu panggil ana yaa" jawab om ali.
"Iya pa" balas wanita muda yang bernama wanda itu.
"Udah ayo duduk-duduk dulu" ucap tante fatimah.
"Kamu masih inget ga sih dek? dulu sih ben pernah ngompolin kamu, haha" ujar mama. aku terkejut. what? aku ngompol di calon mertuaku? batinku kaget.
"Masihlah mbak, haha. Udah lama banget ya kita ga ketemu" jawab tante fatimah. aku hanya tersenyum canggung saat dia menatapku.
"Iya nih. semenjak kami pindah ke palembang, kami ga pernah ikut reunian lagi" ucap om ali.
"kalian sih ngapain pake pindah segala. ohya, agus masih inget ga sama om?" tanya papa menatap kak agus.
"Aduh maaf ya om, agus udah lupa" jawabnya sembari tersenyum kikuk menatap kearah kak wanda, istrinya yang baru datang.
"Dulu kamu pernah muntah di baju om alan loh gus" beritahu om ali yang membuat mereka semua tertawa termasuk kak wanda yang baru datang.
"aduh maaf ya om" jawab ka agus merasa bersalah. sedangkan yansyah sudah tertawa tak henti.
"Gapapa kok gus. malah dulu papa kamu nyuruh kamu lanjutin muntah aja di baju om daripada ntar muntah di dia katanya" balas papaku sembari tertawa lebar. kami semua tertawa mendengar candaan papa.
"Mama" teriakkan terdengar dari el yang sedari tadi diam.
__ADS_1
dia kemudian langsung berlari menghampiri seseorang dan memeluknya, aku mengalihkan pandanganku padanya. aku tertegun. ana sungguh cantik , pikirku. aku menatapnya lekat.
"Eh anak mama ganteng banget" jawab ana seraya memeluk el balik dan menciumi puncuk kepalanya. ana berjalan mendekat kearah kami.
dia menyalimi kedua orang tuaku dan alda. Dia tersenyum menatapku. aku terdiam. rasanya, aku seperti sedang melihat bidadari. mungkin bagi sebagian orang aku terlalu melebihkan, tapi, ana memang benar-benar cantik hingga membuatku tak bisa mengalihkan pandanganku darinya.
"Awas tuh mata ntar copot" celetuk yansyah yang langsung membuatku tersadar dan refleks menunduk.
seluruhnya tertawa mendengar celetukan yansyah. tidak ada suara lain selain tawa mereka. aku mengangkat kepalaku dan melihat ana yang tersenyum sangat manis menatapku sembari menggandeng tangan el.
"Yaudah, karena ana udah ada disini. sekarang mari kita makan dulu" ucap om ali.
"Oke oke ayoo" jawab papaku.
Mereka semua satu persatu berjalan masuk ke meja makan. aku memperlambat langkahku agar dapat berdampingan dengan ana. Aku berdiri disamping ana yang sedang menggandeng el.
"Kamu cantik" ucapku sembari menatap ana lekat.
"Makasih. udah tau kok" jawabnya. aku terkekeh geli mendengar jawabannya.
"berhenti natap aku kayak gitu, kalo ga, jangan salahin aku kalo kucolok tuh mata" ucapnya ganas saat aku terus menatapnya.
"Ihh serem" ujarku sembari tertawa kecil.
"Itu yang dibelakang jangan bisik-bisik. sabar dulu ya" celetuk mama.
"Iyaa. kalian tuh sabar dulu. udah liat-liatan terus bisik-bisikan aja. ga malu apa ada anak kecil?" balas yansyah.
"Udah deh, yang jomblo diem aja" jawab ana yang membuat kami semua terkekeh geli.
"Ck. Tunggu aja nanti. El sinii sama om aja" ucap yansyah sembari menarik tangan el. Kami kembali tertawa kecil melihat wajah yansyah yang sedang kesal.
"Tunggu apa? Tunggu mati atau apa kak?" tanya ana yang semakin membuat yansyah kesal.
"Udah lah , Na. kasihani kakakmu yang jomblo satu itu" Jawab kak wanda diiringi tawa.
"Udah dong. kasihan alda yang juga jomblo" celetukku menggoda adikku.
"Eh iya, ada wanita cantik toh yang jomblo juga" jawab papa
"dasar kaka jahat" seru alda yang sedari tadi hanya diam mendengarkan.
"Pah, gimana kalo aku ngelamar anak om alan?" tanya yansyah seakan serius menatap om ali. aku mengernyitkan dahiku.
"Boleh. Jadi nanti kamu nikah sama alda, terus ben sama ana batal nikah, haha" jawab mama sembari tertawa. what?! nggak boleh.
"Nggak. enak aja" ucapku refleks yang membuat mereka semua kembali tertawa.
"Udah-udah, kita makan dulu ya" ujar om ali yang mengintruksi kami semua.
kami mulai duduk dan menyantap makanan yang telah disiapkan. Tidak lupa, ana juga mengambilkan makanan untuk el dan juga aku. Kami makan sambil mendengar Obrolan antara para orang tua.
Setelah semua selesai, kami pun pindah keruang keluarga dan duduk disana. Saat hening, tiba-tiba suasananya berubah menjadi mencekam. aku bahkan sampai kesusahan hanya untuk menelan salivaku.
Ana duduk Ditengah-tengah kedua orang tuanya. El duduk dipangkuan ana. kak wanda juga memangku seorang gadis manis. Agus dan yansyah duduk bersebelahan. Aku juga duduk diapit oleh mama dan papaku. alda sibuk memainkan handphonenya. aku tegang dan sangat gugup.
aku menarik nafas dalam dan menganggukkan kepalaku pada papa untuk memulai acara lamaran malam ini. bismillah. semoga niat baik juga akan menghasilkan hal yang baik juga, doaku.
#
BANTU LIKE, KOMEN, AND VOTE!
Follow Ig @dedefff17 ya
~semuanya diawali dengan niat~ destiichz
Happy reading:)
__ADS_1
aku mencintai kalian semua:*